Oleh: Dr Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)
A. Kejayaan Ekonomi Perkebunan Nusantara.
Diskusi kebudayaan berlangsung di Kecamatan Kotarih Kabupaten Serdang Bedagai Sumatra Utara. Pelaksanaan pada hari Rabu, 25 Nopember 2020. Bertempat di warung pojok Pak Saijo yang menyajikan aneka minuman dan makanan tradisional. Angkringan ini menyuguhkan teh, kopi, jahe, gedang goreng, tempe, tahu, mendowan, pecel, opak, krupuk, telur dadar.
Selaku Narasumber Ir H Soekirman, Bupati Serdang Bedagai atau Sergai. Hadir pula Sunawar Sukowati, aktivis sosial budaya Sergai.
Terlebih dahulu dilantunkan tembang dhandhanggula Laras slendro oleh Dr Purwadi M.Hum dari Yogyakarta.
Dhandhanggula Sergai.
Dulur dulur ing tlatah Kotarih, beberengan karo Pak Soekirman, suka sukur penggalihe, manunggal guyub rukun, mbangun Kabupaten Sergai, cukup sandang lan pangan, papan subur makmur, ayem tentrem bagya mulya, panjang punjung gemah ripah loh jinawi, Sergai tata raharja.
Pak Kirman paring tepa palupi, andhap asor grapyak sumanak, trampil rikat nyambut gawe, ing kutha desa gunung, daerah Serdang Bedagai, aparat sarta rakyat, mlaku bareng maju, angrampungi kewajiban, kakung putri tuwa anom tandang kardi, mrih luhuring negara.
Keplok ambal ambalan, gemuruh mbata rubuh. Untuk memeriahkan suasana Pak Kirman menampilkan adegan janturan pedalangan. Anenggih negari kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.
Kegiatan rembugan budaya berlangsung seneng nggayeng. Kebanyakan warga Kotarih dihuni keturunan Jawa, Batak dan Melayu. Hari itu mereka membaur dengan keadaan guyub rukun. Sekali tempo sama sama guyon parikena, tertawa lepas, riang gembira.
Bahasan yang menarik meliputi perjalanan sejarah orang Jawa ke Sumatera. Ternyata hubungan kerja yang harmonis ini telah dirintis oleh Kasultanan Deli, Kasultanan Serdang, Kasultanan Langkat dan Karaton Surakarta Hadiningrat. Sejarah yang agung dan anggun ini perlu dikaji dan dihayati. Demi menggali nilai kearifan lokal.
Kesadaran perekonomian yang berbasis perkebunan di kawasan Nusantara terjadi pada tahun 1802. Tokohnya bernama Raden Ajeng Sukaptinah, putri Bupati Pamekasan Madura. Beliau punya jaringan perdagangan yang berpusat
di kota Tamasek Singapura.
Pada tahun 1806 Raden Ajeng Sukaptinah berkunjung di kota Tamasek Singapura. Beliau melakukan kontrak dagang dengan raja Kasultanan Serdang. Sultan Aman Johan Pahlawan Shah ini memerintah Kerajaan Serdang pada tahun 1767-1817. Pembahasan meliputi peningkatan tanaman komoditas yang dapat membuat kesejahteraan rakyat.
Pertemuan bisnis antara Sultan Aman Johan Pahlawan Alam Shah berlanjut di kota Surabaya. Beliau membawa rombongan sebanyak 15 orang. Terdiri dari pakar agrobisnis. Konferensi dan workshop budidaya tanaman komoditas dilakukan pada tahun 1809. Raden Ajeng Sukaptinah sebagai ketua penyelenggara.
Para peserta konferensi dan workshop diajak praktek langsung di lapangan. Usaha perkebunan milik Raden Ajeng Sukaptinah berlokasi di berbagai tempat. Kebun apel di Batu Malang, Tembakau di Besuki, tebu di Lumajang, teh di Ampel Boyolali, kopi di Kembang Semarang.
Sebetulnya Raden Ajeng Sukaptinah adalah Permaisuri Sinuwun Paku Buwana IV. Raja Karaton Surakarta Hadiningrat memerintah tahun 1788-1820. Raden Ajeng Sukaptinah bergelar Gusti Kanjeng Ratu Kencono Wungu.
Sebagai wanita karier yang mumpuni, Raden Ajeng Sukaptinah menjalin hubungan diplomasi dan bisnis dengan kerajaan Ternate, Tidore, Gowa, Tallo, Bugil, Banjar, Cirebon, Siak, Langkat, Deli dan Serdang. Demi kemakmuran Nusantara Raden Ajeng Sukaptinah kerap mengundang ahli dari India, Turki, Mesir, Bagdad, Eropa dan Tionghoa.
Atas kebijakan cemerlang ini wong Jawa mempunyai ketrampilan berkebun. Tenaga trampil ini berguna sebagai bekal untuk merantau di wilayah Sumatera Utara. Terutama di daerah Kabupaten Serdang Bedagai.
