Keberagaman Budaya Di Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara

Upacara Saur Matua dihadiri Ir H Soekirman dengan penuh penghormatan. Acara Batak kerap dihadiri oleh Soekirman. Bahkan Hadiah Rancage diterima, karena dianggap peduli pada budaya Batak. Ir H Soekirman pernah menulis cerpen dalam bahasa Batak. Pidato Soekirman dengan bahasa Batak lancar sekali. Melebihi fasihnya orang Batak. Ajip Roesyidi, sastrawan nasional memberi hadiah Rancage lewat seleksi ketat. Ir H Soekirman betul betul ahli budaya Batak.

Horas. Marsiurupan. Semangat kerja sama ini didukung betul oleh Drs Joni Walker Manik MM. Ketua KERABAT, Kerukunan Rakyat Batak pernah berkunjung ke Sanggar Seni Pustaka Laras Yogyakarta. Atas saran Bupati Soekirman, Pelajar dan guru Sergai belajar tembang, kerawitan dan pedalangan.

Petatah petitih Melayu dihafal di luar kepala. Pantun Melayu dibuat untuk memeriahkan suasana. Seolah olah Ir H Soekirman guru bahasa dan sastra. Maklum Ir H Soekirman lama mengabdi sebagai dosen Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian. Dunia ilmiah akademik memang habitat awal. Budaya Melayu merupakan basis tradisi maritim.

Biar orang bertanam buluh. Kita tetap menanam padi. Biar orang menebar musuh. Kita tetap bertanam budi.

Adat bersendi sarak. Sarak bersendi kitabullah. Peribahasa Minang ini berkembang pula di Tanah Bertuah, Negeri Beradat.

Jawa digawa, Arab digarap. Budaya Jawa merupakan kebiasaan sehari hari. Di rumahnya Jl Coklat 1 Batang Terap Perbaungan Serdang Bedagai. Ada seperangkat gamelan yang digunakan untuk pengembangan, pelatihan dan pengajaran. Seni karawitan, tari, pedalangan dikelola teratur. Jadwal latihan untuk segala lapisan masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Drs Henri Suharto, lewat Paguyuban Suko Budoyo.

Paguyuban Temu Kangen yang dipimpin oleh Ki Poniman. Tiap ada acara mendukung program seni budaya Pemerintah Kabupaten Sergai. Seperti pada tanggal 1-2 Maret 2020, Paguyuban Temu Kangen diberi kesempatan tampil di kabupaten Idi Aceh. Bupati Soekirman dan Bupati Hasballah Thaib menyaksikan pentas seni tari pethilan episode Ramayana.

Pendekatan budaya memang efektif. Lelagon Jawa demi menciptakan birokrasi yang bersih dan berwibawa. Pesan simbolis lebih mengena dalam himbauan yang halus. Mrih padhanging sasmita.

Kuwi apa kuwi, e kembang melati. Sing dak puja puji, aja dha korupsi. Yen padha korupsi, negarane rugi. Piye mas kuwi, aja ngono ngona ngono kuwi.

Kuwi apa kuwi, e kembange menur. Sing dak puja puji, rakyate dha jujur. Yen rakyate jujur, negarane makmur. Piye mas kuwi, aja ngono ngona ngono kuwi.

Kuwi apa kuwi, e kembang sepatu. Sing dak puja puji, ayo dha bersatu. Yen padha bersatu, negarane maju. Piye mas kuwi, aja ngono ngona ngono kuwi.

Dengan disertai segenap peserta, diskusi tentang toleransi dan keberagaman berjalan lancar gancar. Simbol simbol budaya telah berakar kuat dalam diri masyarakat Jawa transmigrasi. Mereka merantau dan berbaur dengan masyarakat suku lain. Tercipta harmoni sejati.

Peserta sebagian berbaju adat Batak. Ir H Soekirman menggunakan bahasa Batak sebagai sarana komunikasi sosial. Tepuk tangan bergemuruh atas pidato Ir H Soekirman. Serdang Bedagai menampilkan wajah yang toleran dan damai.

Kehidupan yang guyub rukun penuh dengan kekeluargaan adalah dambaan. Kabupaten Serdang Bedagai Sumatra Utara termasuk miniatur Nusantara.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *