Sejarah Kabupaten Banjarnegara

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Berdirinya Kabupaten Banjarnegara pada Masa Kraton Pajang.

Kerajaan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Dalam sejarahnya selalu dekat dengan rakyat dan sarjana winasis. Beliau merupakan pewaris Trah Pengging, Demak dan Majapahit. Joko Tingkir atau Mas Karebet adalah raja gung binathara yang sakti mondroguno.

Kabupaten Banjarnegara berdiri atas dukungan tokoh kenamaan. Perguruan Girilangan didirikan oleh Ki Ageng Giring. Tokoh besar yang pantas dijadikan suri tauladan bagi sekalian penghayat kejawen adalah Ki Ageng Giring. Makam Ki Ageng Giring terdapat di desa Gumelem Wetan, kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah.

Padepokan Girilangan misuwur sekali. Sebelah utara adalah Desa Kedawung, sebelah selatannya yaitu kabupaten Banyumas dan Kebumen. Beliau adalah ulama yang menyebarkan agama Islam. Terdapat Masjid Agung yang dibangun atas restu Sunan Kalijaga pada tahun 1587.

Nama kecil Ki Ageng Giring yaitu Raden Mas Abdul Manan. Dilahirkan di Kabupaten Batang. Ayahnya menjabat sebagai Ketib Anom atau penghulu di Kabupaten Batang. Saat itu masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang. Beliau merupakan abdi kinasih Pangeran Benowo. Dalam bidang keagamaan Ki Ageng Giring pernah berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak Bintara.

Sepanjang hidupnya Ki Ageng Giring pernah mengabdi kepada Sultan Hadiwijaya dari Kraton Pajang. Kemudian ikut Pangeran Benowo untuk mendalami ilmu agama. Lantas berdarma bakti kepada raja Mataram. Terutama pada masa pemerintahan Sinuwun Amangkurat Agung yang memerintah sejak tahun 1645. Amangkurat Agung menikah dengan Kanjeng Ratu Wetan, putri Pangeran Benowo.

Hampir semua raja dan ulama di tanah Jawa adalah murid Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau juga menjadi guru sekalian para spiritualis kejawen, yang pernah datang di Kademangan Gumelem. Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Wilwatikta, Bupati Tuban yang masih keturunan Adipati Ronggolawe. Dalam panggung sejarah nasional, Ronggolawe merupakan orang kepercayaan Raden Wijaya, pendiri dan raja pertama Kraton Majapahit. Dari segi genelaogi, Sunan Kalijaga masih trahing kusuma rembesing madu, darah biru bangsawan besar.

Pada masa mudanya, ia bernama Joko Sahid. Karena terlibat dalam dunia gelap, Joko Sahid memakai nama samaran Brandal Lokajaya. Sehari- hari dia suka mencuri dan merampok. Pengalaman ini membentuk kepribadian yang tangguh.

Berkat didikan Kanjeng Sunan Bonang, Brandal Lokajaya bertaubat. Habis gelap terbitlah terang, maka ia menjadi murid yang saleh, zuhud, qana’ah, sabar dan tawakal. Beliau mencapai maqam makrifat tingkat tinggi, sehingga Sunan Bonang memberi gelar Syekh Malaya.

Kepribadian sang mursyid ini lantas mengantarkannya menjadi orang yang berjiwa agung. Kasultan-an Demak Bintara mengangkatnya sebagai salah satu anggota Dewan Wali Sanga yang amat dihormati. Dengan upacara yang hikmat, Syekh Malaya diwisuda dengan sebutan istimewa, Kanjeng Sunan Kalijaga. Masyarakat dari perkotaan, pedesaan dan pegunungan hingga kini menganggap beliau sebagai Guru Suci ing Tanah Jawi.

Secara historis dan sosiologis, Kanjeng Sunan Kalijaga adalah ulama besar yang aktif melakukan dakwah Islamiyah dengan pendekatan kultural, yaitu memadukan antara nilai keagamaan dengan kearifan kebudayaan.

B. Pertapan Girilangan Pewaris Peradaban Agung

Pewaris peradaban agung selalu menaburkan kebajikan. Keturunan Ki Ageng Giring menjadi pewaris ajaran luhur yang berada di sekitar kademangan Gumelem Susukan Banjarnegara. Terkait dengan hal tersebut Ki Ageng Giring wasiyat dengan pengageng Martadiwangsa benar -benar telah diikat dengan tali ikatan batin yang kuat. Keduanya merupakan ‘dwi tunggal yang selalu menjadi panutan rakyat Sembada ing karya.

Begitu besar kepercayaan petinggi Martadiwangsa kepada Ki Ageng Giring, akhrinya sang pangeran diberi kehormatan memimpin padepok-an dan mendirikan pondok pesantren. Mereka mengembangkan kawruh sangkan paraning dumadi.

Masyarakat Girilangan melestarikan ajaran luhur itu sampai sekarang. Dikisahkan Nyai Sekati palakrama dengan Kyai Karangkobar yang kemudian menurunkan penduduk Karangkobar. Ki Ageng Giring Wasiyat setelah menjadi pemimpin pondok pesantren dikenal dengan nama Ki Ageng Giring Wasiyat. Beliau berputra 14 orang. Mereka adalah Kyai Jagawedana Wirabangsa, Kyai Jagawedana Pudakwasa, Kyai Jagawedana Salingsingan, Kyai Jagawedana Dampitan, Kyai Jagawedana Pucang, Nyai Wirangin, Nyai Mantri, Nyai Wiragati, Nyai Patragati, Nyai Kalurahan, Nyai Adipati Kumitir, Nyai Andaka, Nyai Arsagati, Nyai Anggakesuma. Mereka selalu melanjutkan cita-cita luhur Ki Ageng Giring.

Generasi muda perlu memperhatikan dan mempelajari silsilah para sesepuh yang sumare di Kademangan Gumelem. Putra kedua, yaitu Kyai Jagawedana Pudakwasa berputra Nyai Sutakerta yang dinikahkan dengan putra Ki Ageng Giring Banjar dari perkawinannya dengan putri Kyai Lindungan Wanasraya. Putra Kyai Sutakerta, Nyai Sutajaya, dinikahkan dengan putra Kyai Pawelutan. Lantas menurunkan Nyai Ageng Putri Mertoyudo Banjarmetakanda.

Keluhuran budi serta kecantikan Nyai Ageng Putri menarik hati priyagung Banyumas sehingga diangkat menjadi garwa padmi Raden Tumenggung Mertoyudo. Kelak menjadi bupati Banyumas kelima bergelar Kyai Raden Adipati Yudonegoro I, dan Raden Ngabei Banyakwide yang kemudian diangkat menjadi pengageng Banyumas, bermukim di Banjar. Para leluhur tersebut suka menjalankan ilmu laku dan jangka jangkah.

Para sesepuh Girilangan menjadi konsultan spiritual bagi para penguaa Banjarnegara dan Banyumas. Kemampuan mistik mereka memang tinggi. Sampai sekarang para sesepuh Girilangan kerap melakukan tapa brata, mahas ing asepi.

Sinom Ada-ada Pelog Lima

Saben mendra saking wisma,
Lelana laladan sepi,
Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jala nidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika.

Tembang sinom Ada- ada Pelog Lima iku uga kapethik saking serat Wedhatama. Tembang iki cocok kanggo ngrenggani kahanan kang nyritakake papan sepi. Priyagung kang nembe nglakoni lara lapa tapa brata perlu nulad Panembahan Senapati kang lagi laku semedi ing samodra kidul. Megeng napas bendung swara jroning nindakake tapa brata temah pikantuk kanugrahan agung, kang sinebut wahyu jatmika. Nyatane tedhak turune Panembahan Senapati kuat drajad mengkoni tanah Jawa.

C. Bupati Banjar Patambakan

1. KRT Wiroyudo (1569-1594)

Sinom Wana Wasa

Anelasak wana wasa. Tumurun ing jurang terbis. Kang ri bandhil bebondhotan.
Ginubet penjalin cacing. Wau ta sang apekik. Gumregut sangsaya sengkut. Sayekti datan nyipta.
Pringga bayaning marga. Apan nyata satriya trah witaradya.

Kabupaten Banjar Patambakan berdiri pada jaman Kra-ton Pajang. Rajanya bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet. Nanti bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Perpindahan kekuasaan dari Kraton Demak ke tangan Kraton Pajang disertai dengan pindahnya pusaka penting.

Konsolidasi kekuasaan Pajang didukung oleh Sunan Prawoto, Pangeran Timur dan Ratu Kalinyamat. Mereka adalah putra putri Sultan Trenggana yang terancam oleh pengaruh Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Koalisi kekuatan politik ini cukup berhasil.

Kraton Pajang mengirim beberapa pejabat pusat untuk ditempatkan sebagai kepala daerah. Misalnya Ki Gedhe Sebayu ditugaskan untuk memimpin Kabupaten Tegal. Kabupaten Banjarnegara diurusi oleh Joko Kaiman. Beliau adalah pengawal Joko Tingkir saat berperang melawan bajul atau buaya.

Megatruh

Sigra milir sang gethek sinangga bajul. Kawan dasa kang njageni. Ing ngarsa miwah ing pungkur. Tanapi ing kanan kering. Sang gethek lampahnya alon.

Kecakapan dan kesetiaan Joko Kaiman sudah teruji. Ma-ka sudah sepantasnya bila Sultan Hadiwijaya mengangkat Joko Kaiman sebagai Bupati Banjarnegara. Kini bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Wiroyudo. Kabupaten Banjarnegara memiliki sejarah yang beriringan dengan Kraton Pajang, Mataram, Kartasura dan Surakarta.

Banjar Patambakan- Banjar Watu Lembu- Banjarnegara. Setelah Raden Joko Kaiman mendapat anugerah dari sultan Pajang Hadiwijaya daerah Kadipaten Wirasaba menjadi 4 daerah yaitu: Wirasaba, Merden, Banjar Patambakan dan Banyumas. KRT Wiroyudo telah melakukan babat atau meletakkan dasar- dasar birokrasi dan kepemimpinan di Kabupaten Banjar.

Berdirinya kabupaten Banjar Petambakan selalu berhubungan dengan sejarah Kademangan Gumelem.

2. KRT Wargohutomo (1594-1620)
Beliau diangkat menjadi Bupati Banjar Patambakan pada masa pemerintahan Panembahan Senopati dan Sinuwun Hadi Prabu Hanyokrowati.

Kraton Mataram memegang kendali kekuasaan. Pengganti KRT Wiroyudo (1569-1594) adalah KRT Wargohutomo (1594-1620). Kekuasaan Pajang bergeser ke Kra-ton Mataram. KRT Wargohutomo mengabdi pada Panembahan Senopati, Prabu Hanyakrawati dan Sultan Agung. Banjarnegara lantas dipimpin oleh KRT Wirokusumo (1620-1647), KRT Wirowijoyo (1647-1659), KRT Purwonagoro (1659-1680).

Ketiganya sempat membantu Sinuwun Amangkurat Agung yang membangun pelabuhan Tegal.

Panembahan Senopati sebagai atasan Bupati Banjar Petambakan, sering mengajak KRT Wargohutama melakukan meditasi di pantai Parangkusuma. Keduanya bertukar pikiran soal spiritual, terutama tentang hubungan penguasa Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul. Perlu kiranya bicara tentang sejarah penguasa laut selatan. Kanjeng Ratu Kidul sebenarnya adalah Dewi Ratna Suwida, putri Prabu Mundingsari raja Kraton Pajajaran. Ibunya bernama Dewi Suwedi, putri Sang Hyang Suranadi raja Galuh yang menguasai sekalian makhluk halus di Tanah Jawa bagian barat.

Dewi Ratna Suwida bertapa di Gunung Kombang. Berkat kesaktiannya Dewi Ratna Suwida dapat menguasai jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos). Setelah menjadi raja di Laut Selatan bergelar Kanjeng Ratu Kidul atau Kanjeng Ratu Kencono Sari.

Untuk menghormati kekuasaan penguasa laut selatan ini setiap tahun diselenggarakan upacara labuhan di pantai Parangkusumo. Kraton Kanjeng Ratu Kidul disebut Soko Domas Bale Kencono. Istana di dasar samudra yang elok indah permai, karena terbuat dari emas, intan, mutiara, berlian yang berkilauan.

Semua keturunan Panembahan Senopati yang menjadi raja di kraton Mataram menjalin kasih asmara dengan Kanjeng Ratu Kidul. Perjanjian kultural yang berlaku secara turun temurun.

3. KRT Wirokusumo (1620-1647)
Beliau lama menjadi anak buah Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo. Dilibatkan dalam penyusunan kitab Sastra Gendhing dan penyelarasan kalender Jawa.

Selama masa kepemimpinannya Kabupaten Banjar Petambakan aktif mengadakan kegiatan penghijauan atau reboisasi. KRT Wirokusumo memimpin program reboisasi di bagian selatan Kabupaten Banjar Petambakan yang terdapat pegunungan. Pegunungan Serayu yang membujur dari Kabupaten Banyumas, Kebumen, Wonosobo dan Purworejo.

Wilayah ini memberi suasana sejuk magis. Cocok untuk kon-templasi spiritual.

Dalam sejarah pemerintahan lokal, KRT Wirokusumo adalah pimpinan daerah yang ahli dalam bidang pertanian. Bahkan dari hasil pertanian ini dilanjutkan dengan produk- produk kuliner yang menarik bagi sekalian wisatawan. Aneka makanan dan minuman dihidangkan dengan cara khas. Semua penjual makanan dan minuman dibina agar selalu menjaga kebersihan dan kesehatan.

4. KRT Wirowijoyo (1647-1659)
Beliau adalah tangan kanan Sinuwun Amangkurat Agung dalam menggagas kejayaan maritim di wilayah pesisir. Pernah mengusulkan agar Kraton Mataram memiliki kantor di Banyumas dan Tegal. KRT Wirowijoyo aktif melakukan kegiatan penanaman buah -buahan di wilayah Banjar Petambakan bagian utara.

Bagian utara Kabupaten Banjarnegara terdapat gunung Prahu, gunung Pagerkandhang, gunung Pangamun-amun, gunung Gajahmungkur, gunung Patarangan, gunung Ratawu, gunung Raga Jembangan, gunung Condhong, gunung Mandala, gunung Pawinihan.

Dalam sejarahnya KRT Wirowijoyo adalah seorang bupati Banjar Petambakan yang amat menggemari bidang olah raga. Setiap hari kamis beliau mengadkan perlombaan renang di kali Serayu. Beliau kerap hadir dengan menaburkan uang recehan ke dalam kali. Kemudian para peserta berebut uang recehan dengan cara menyelam. Sudah barang tentu acara ini selalu megah, mewah dan meriah.

5. KRT Purwonagoro (1659-1671)
Beliau meneruskan gagaan maritim dengan membangun pelabuhan di Tegal, Semarang, Jepara, Rembang, Tuban, Lamong-an. Pantai Utara Jawa ramai dan makmur. Amangkurat Agung tepat mengangkat sebagai bupati Banjar Patambakan.

Bupati Banjar Patambakan yang bernama KRT Purwo-nagoro pada tahun 1670 diundang oleh Bupati Purwadadi Grobogan. Tujuannya untuk melihat proses pembuatan kecap. Sejak dulu kala Kabupaten Grobogan banyak membuat kecap. Industri kecap bertebaran di mana- mana. Bahan utama pembuatan kecap adalah kedelai. Industri kecap ini berpangkal tolak dari petani kedelai. Petani dan industri bekerja saling menguntungkan.

Bupati Banjar Petambakan berkepentingan untuk meningkatkan ketrampilan warganya. Dengan memiliki tenaga trampil, warganya akan hidup makmur.

Kegiatan berkesenian amat didukung oleh KRT Purwonegoro. Seni kerawitan, calung, lengger, jaran kepang, topeng ireng, srandil, kethoprak, wayang, berkembang dengan pesat. Setiap tahun bupati Petambakan ini mengirim tim kesenian ke daerah lain sebagai ajang pomosi wisata. Para seniman hidup makmur dan berkecukupan.

6. KRT Wiroprojo (1671-1680)
KRT Wiroprojo diangkat bupati pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Beliau merupakan bupati yang mempunyai kedekatan dengan sang raja dan permaisurinya. Bahkan menjadi penasehat utama Kanjeng Ratu Wetan.

Ketika mengikuti perjalanan dinas Amangkurat Agung dan Ratu Wetan, KRT Wiroprojo rajin melakukan pencatatan. Termasuk menyusun sejarah Amangkurat Agungan. Ingkang Sinuhun Kanjeng Susunan Prabu Mangkurat Agung Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Dinan ing Kedhaton Pleret (Mataram) ingkang sumare ing Tegal Arum kala ruwet jumeneng Nata kala ing Taun 1645 dumugi taun 1677, apeputra 22, urut sepuh kados ing ngandhap punika: Raden Mas Rachmat, peparab Raden Mas Kuning, nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Mataram, sareng jumeneng Nata jejuluk Kanjeng Susuhunan Mangkurat Amral, ingkang njumenengaken Inggris Admiral Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panata Dinan ing Kartasura.

Putri dereng nama lajeng seda, ingkang ibu nunten seda. Raden Rachmat wau lajeng kaparingaken dhateng Kanjeng Ratu Wetan, saking Kajoran, inggih ingkang kapendhet anak dening Kyai Saralathi. Raden Mas Derajad, nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Puger, jumeneng nata Mataram jejuluk Kanjeng Susuhunan Prabu Ngalaga ngrabaseng mengsah kentar ing iring redi Ngantang.

Sareng ingkang raka jumeneng Nata, teluk dhateng Kartasura nama Kanjeng Pangeran Adipati Puger malih, jumenengipun nata wonten Semarang ngasta panguwaos Kraton Kar-tasura, nama Kanjeng Susuhunan Paku Buwana sapisan Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ing Kartasuran, anggentosi ingkang putra.

Raden Ajeng Putih, nama Raden Ayu Pamot. Raden Mas Kabula, nama Pangeran Arya Mertasana. Raden Mas Pandonga, nama Pangeran Arya Singasari. Kakung, dereng nama lajeng seda. Raden Mas Subekti, nama Pangeran Arya Selarung. Kakung, dereng nama lajeng seda. Raden Mas Sasika, nama Pangeran Arya Natabrata. Raden Mas Dadi, nama Pangeran Rangga Satata. Raden Mas Sujanma, jinunjung dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Prabu Ngalaga, nama Pangeran Arya Panular. Raden Ajeng Brungut, Raden Ayu Kaleting Kuning, lajeng nama Raden Ayu Pucang, krama angsal Raden Arya Sindureja, papatih ing Kartasura.

Raden Ayu Kaleting Kuning kaping 2, kaboyong dening Trunajaya, sapejahing Trunajaya katrimakaken dhateng Kyai Tumenggung Martayuda kaping 2, Bupat ing Banyumas, jinunjung nama Tumenggung Yudanagara I, Raden Ayu Kaleting Kuning kaleng jinunjung nama Raden Ayu Bendara. Raden Ayu Kaleting Biru, kakramakaken dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Amangkurat Kartasura angsal Bagus Lembung, nama Tumenggung Mangkuyuda ing Kedhu.

Raden Ayu Kaleting Wungu, nama Raden Ayu Rangga Ka-liwungu, sareng sedaning garwa, katrimakaken dhateng Adipati Mangkupraja pepatih Kartasura. Raden Mas Satapa, jinunjung dening Ingkang raka Kanjeng Susuhunan Amangkurat Kartasura, nama Gusti Pangeran Arya Mantaram. Raden Ajeng Mulat, nama Raden Ayu Kaleting abang, katrimakaken dhateng Ki Ngabehi Kertawangsa Panjer, kaganjar nama Ngabehi Kalapa Aking ing Pananggulan Kebumen.

Raden Ajeng Siram, nama Raden Ayu Kaleting Cemeng, seda. Kakung, dereng nama lajeng seda. Raden Ajeng Tungle, nama Raden Ayu Kaleting Dadu, kakramakaken dening ingkang raka Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I angsal Raden Cakrajaya Bupati Japara. Lajeng dados patih Kartasura, nama Raden Adipati Danurejo, trah Kredhetan. Raden Ajeng Pusuh, nama Raden Ayu Kaleting Ijo, krama angsal Pangeran Adipati Wiramanggala.

7. KRT Tambakyudo (1680-1698)
KRT Tambakyudo ditugaskan Sri Amangkurat Amral untuk membangun irigasi kali Serayu. Beliau melakukan studi banding saat membangun Kali Larangan.

Ibukota Mataram pindah ke Kartasura pada tahun 1678. Rajanya Sri Amangkurat Amral. Kabupaten Banjarnegara dipimpin oleh KRT Wiroprojo, KRT Tambakyudo, KRT Reksoyudo, KRT Reksowijoyo, KRT Purwowi-joyo, KRT Wironagoro. Jadi pada masa sesudah Amangkurat Agung, para penggantinya kurang begitu semangat dengan dae-rah Mataram.

8. KRT Reksoyudo (1698-1710).
KRT Reksoyudo ditetapkan sebagai Bupati oleh Amang-kurat Emas. Beliau mempunyai usaha mebel dan pelayaran di kota Jepara. Kekayaan ini sebagai modal untuk membangun Banjar Patambakan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *