Oleh: Dr. Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)
A. Momor Momong Momot dalam Kepemimpinan.
Kabupaten Serdang Bedagai atau Sergai termasuk wilayah Propinsi Sumatera Utara. Dihuni oleh beragam suku, agama, kepercayaan, adat istiadat, tradisi, seni, budaya dan bahasa.
Total penduduk Sergai sebanyak 650 ribu jiwa. Suku Jawa berjumlah 56 %, suku Batak 27 %, Melayu 14 %, Banjar 5 %, Cina 4 %, Arab 3 %. Sisanya terdiri dari suku Sunda, Banten, Bali, Bugis. Mereka tinggal di Kabupaten Sergai dengan latar belakang profesi.
Soekirman mengabdi pada masyarakat Sergai sejak tanggal 5 Agustus 2005. Bertugas sebagai Wakil Bupati. Beliau mendampingi Bupati Dr Ir H Tengku Erry Nuradi M.Si. Pasangan kepemimpinan yang selalu kompak menjalankan tugas kenegaraan.
Pada tahun 2013 Tengku Erry Nuradi menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Ir H Soekirman otomatis melanjutkan kepemimpinan Sergai. Tanggal 5 Agustus 2016 rakyat Sergai memilih Ir H Soekirman sebagai Bupati.
Tantangan baru harus dihadapi dengan tepat cepat. Warga Sergai perlu dilayani dengan pendekatan multidimensi. Masing masing kelompok punya karakter yang berbeda. Bentuk komunikasi interaksi sewajarnya dengan cara budaya.
Kepiwaian Soekirman dalam budaya Jawa jelas mumpuni. Dia bisa berbahasa Jawa ngoko, madya, inggil. Lelagon Jawa dengan lancar dinyanyikan. Misalnya Soekirman merekam tembang aja lamis, prau layar, jamu, lumbung Desa, lesung jumenglung. Jenis jenis lagu Jawa itu bisa ditonton lewat media sosial.
Petungan Jawa dipelajari berasal dari kitab primbon Bentaljemur Adam Makna. Hari pasaran pancawara diperhatikan, yaitu Pon wage kliwon legi pahing. Hari pancawara dipedulikan, yakni Senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu. Kalender Jawa dipasang untuk mempermudah hitungan naga dina naga tahun.
Pawukon yang memberi ketentuan watak pribadi seseorang dihayati dalam kehidupan sehari hari. Soekirman menjadikan Kejawen sebagai pedoman untuk menentukan gerak langkah.
Pelestarian budaya Jawa dilakukan oleh Soekirman lewat Paguyuban Suko Budoyo. Seperangkat gamelan digelar di rumahnya yang berbentuk joglo sakembaran. Wayang sekotak siap digelar untuk pertunjukan.
Pemuda pemudi datang ke rumah Soekirman, Jl Coklat 1 Batang Terap Perbaungan Sergai. Mereka berlatih nembang, nabuh gamelan, menari, kerawitan, pedalangan. Ini namanya nguri uri budaya jawi.
Leluhur Soekirman berasal dari segiluh bagelen Purworejo, Parakan Temanggung dan Blora, Jawa Tengah. Adat istiadat Kejawen lumrah dilestarikan oleh lingkungan keluarga. Tiap kali punya hajad mantu, Soekirman mesti menggunakan adat Jawa.
Mantu Agung, Panji, Dimas menggunakan tata cara adat Jawa gaya Surakarta. Mulai dari siraman, midodareni, pasang tarub dan jenang sungsuman.
Pernah Soekirman menyelenggarakan upacara ruwatan. Dalang Ki Sugiman dari Asahan. Dalang ini asli Pacitan. Anak Soekirman berjumlah 5 orang, yaitu Agung, Panji, Dimas, Dipa, Aping. Semua laki laki. Maka pendawa lima perlu diruwat, biar keluarga mendapat selamat.
Bu Marliah adalah tipe istri ideal. Mendampingi Soekirman dengan setia. Ketulusan Bu Marliah senantiasa membawa keberuntungan. Keluarga guyub rukun bersatu padu melangkah untuk maju.
Dalam memimpin masyarakat Sergai, Soekirman menjunjung tinggi nilai budaya Jawa. Yakni momong momor momot. Momong berarti persuasif, lebih menekankan nilai perasaan. Maka ungkapan sering bersifat simbolis. Perlambang semiotis yang penuh makna. Orang merasa dihargai atau diuwongke.
Momor berarti bergaul. Interaksi sosial dilakukan dengan penuh kekeluargaan. Masing masing diperlakukan sebagai keluarga sendiri. Momot berarti akomodatif. Keragaman dihadapi dengan lapang dada. Ibarat samudra raya yang bisa menampung apa saja. Soekirman memimpin Kabupaten Sergai dengan mengutamakan kebijaksanaan.
B. Soekirman Menata Dengan Pendekatan Budaya.
