Ir H Soekirman Mewujudkan Ketahanan Pangan

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)

A. Pertanian Sebagai Sarana Terwujudnya Ketahanan Pangan.

Pelopor pertanian Sergai bernama Ir H Soekirman. Di sela sela tugasnya sebagai Bupati Serdang Bedagai Propinsi Sumatera Utara, Soekirman tetap mengerjakan sawah. Menanam padi untuk mewujudkan ketahanan pangan. Pergi berkebun untuk menanam sayur mayur bayam, kacang, kangkung.

Masa yang cerah telah tiba. Bumi kelahiran Soekirman yaitu Tualang Perbaungan Serdang Bedagai. Tanggal 6 April 1955 merupakan hari pertama kali Soekirman hadir di dunia raya. Kebahagiaan bersemayam di hati semua anggota keluarga.

Sungguh asyik kehidupan masa kecil. Suasana pedesaan terasa betul dalam kehidupan Soekirman. Desa Pagarjati Lubukpakam lantas menjadi tempat tinggal Soekirman masa kanak kanak. Desa Pagarjati bersebelahan dengan Perbaungan. Di sana warga sibuk bekerja di sawah. orang tiap hari selalu bertani, beternak, berkebun. Kegiatan produktif yang menguntungkan.

Angon menjadi pekerjaan anak petani. Lembu, kambing, ayam, itik menjadi penghasilan tambahan. Malah ayah Soekirman memiliki gerobak yang ditarik dua ekor lembu. Jiwa petani tumbuh di hati sanubari Soekirman muda. Sebuah kenangan yang manis.

Ura Ura atau nembang merupakan proses bercocok tanam. Sambil mencangkul di sawah, petanu berdendang ria. Lagu jago Kluruk berkumandang bersamaan dengan angin sumilir pagi hari. Mari perhatikan semangat petani menanam padi.

Ing wayah esuk jagone kluruk, rame swarane pating kemruyuk, adhuh senenge sedulur tani, bebarengan padha nandur pari.

Srengenge nyunar ngulon parane, manuke ngoceh ana wit witan, pating cemruwit seneng atine, tambah asri dunya saisine.

Alangkah merdunya. Pada masa kecil yang menyenangkan itu, Soekirman terbiasa dengan tanaman padi, jagung, pohung. Ayahnya bernama Pak Ngadimin, seorang petani kluthuk, yang ahli petung Kejawen. Pak Ngadimin juga berbakat dalam akting seni ketoprak. Petani dekat dengan kehidupan seni.

Alam pedesaan merupakan basis kemandirian nasional. Gagasan tentang Kemandirian masyarakat diuraikan Ir H Soekirman pada tanggal 27 Nopember 2020. Bertempat di rumah kayu, Jl Suka Tenang Medan Sumatera Utara. Acara diskusi sosial ini dalam mencari bentuk pemberdayaan demi kesejahteraan rakyat yang tinggal di kawasan pedesaan. Keluguan petani adalah etika profesi yang agung.

Semangat kerja untuk petani. Para aktivis pertanian menyempatkan untuk bergabung. Hadir pula tokoh millenial, yakni Tengku Muhammad Ryan Novandi B.Bus.M.Ib. Tokoh pemuda ini memiliki visi misi yang cemerlang atas problematika mutakhir. Pendidikan, pengalaman dan pengetahuan tokoh millenial ini memang handal. Tengku Ryan Novandi selalu tampil cerdas tangkas cermat bersahaja. Orang desa tentu jadi bersimpati. Mau untuk nyengkuyung.

Petani dan pangan adalah satu kesatuan. Pertanian di Sergai berlangsung berabad abad. Keutamaan mengalir dari leluhur. Kasultanan Serdang leluhur Tengku Muhammad Ryan Novandi. Nilai keagungan dan keanggunan yang terwariskan menjadi suri teladan. Tuanku Sultan Umar Johan Pahlawan Alam Shah mendirikan Kerajaan Serdang pada tahun 1723 disangga dengan bidang pertanian. Kesadaran ini telah tumbuh lama.

Dari desa ini, Indonesia kita bangun. Peradaban tani penting untuk dibahas. Bobot diskusi sangat menarik ketika narasumber pokok berbicara. Dr Tengku Erry Nuradi M.Si, Gubernur Sumatera Utara tahun 2013 – 2018 ini memberi paparan yang jelas tegas tuntas. Karya beliau selama menjabat Bupati Serdang Bedagai tahun 2005-2013 tertanam kuat di hati rakyat. Masyarakat desa berjumlah besar dan modal nasional yang riil.

Gumreget gumregut gumregah. Dukungan masyarakat desa amat menentukan bagi keberhasilan seorang pemimpin. Kepercayaan rakyat pada Tengku Erry Nuradi ini bertambah mantab setelah memimpin Propinsi Sumatera Utara. Wejangan Dr Tengku Erry Nuradi M.Si mencerahkan peserta. Inilah kelebihan orang yang halus berperi bijak bestari. Pantun melayu memberi nasihat keutamaan orang desa. Dulce et utile, menyenangkan dan berguna.

Ir H Soekirman semangat diskusi tentang nasib petani. Semua sepakat pedesaan menjadi soko guru atau tulang punggung perkotaan. Topik diskusi memang menarik. Usulan dan saran datang dari sesepuh Sergai. Perintis pemekaran Kabupaten Sergai bernama David Purba. Saat itu bersamaan dengan hari ulang tahunnya, 27 Nopember 2020. Kue tart pun dibagi. Sejenak acara diskusi ini pun bertambah meriah. Jiwa yang bergelora di hati David Purba selembut dengan kue hidangan. Kajian sosial ekonomi pun berlanjut. Situasi tegang memanas kembali. Tema pedesaan mendinginkan panasnya diskusi. Inilah wujud rembugan serius.

Rasa tentrem diwujudkan dengan kebutuhan pokok tersedia. Kegiatan pengabdian untuk masyarakat desa perlu program berkelanjutan. Pendukung acara dilakukan oleh Ali Amran. Aktivis dari ormas terkemuka ini lama malang melintang dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Jaringan sosial berkelas luas. Dari sentuhan tangannya muncul ragam gagasan dan tindakan yang bermutu tinggi. Lebih dari itu, mereka menyadari kelompok tani yang tidak bersuara. Hati nurani mereka perlu penyambung yang benar.

Perlu kajian yang mendalam. Desa kota perlu adanya keselarasan. Publik sudah mengetahui kiprah agung seorang Junaidi. Kini dia mengelola kegiatan yang layak diberitakan lewat media sosial. Pemberitaan media sosial kini meliputi biografi para tokoh, sejarah Kabupaten, peristiwa budaya, gelar seni, kontribusi pendidikan. Dengan tujuan berhasil mencapai sebuah peradaban yang mulia. Menurut Ir H Soekirman, hubungan harmonis desa kota memperkuat program pemberdayaan masyarakat.

Tata Krama unggah ungguh amat penting. Adat bersendikan sarak. Sarak bersendikan kitabullah. Para tokoh tersebut ada yang pernah mendapat gelar adat. Bergelar nama adat, agar dirinya beradat dan beradap. Maka pada diri penyandang gelar ada kewajiban mengembangkan keluhuran budaya adi luhung. Budaya agraris sudah mengakar kuat dalam diri pribadi.

Lesung jumenglung menggambarkan suasana desa. Tradisi agraris multi perspektif. Pendapat yang kreatif, produktif dan aktif muncul dari Wahyudi. Pemikiran yang dikemukakan senantiasa mengagumkan. Logika etika estetika yang diutarakan memenuhi konsep kebenaran kebaikan keindahan. Pastas sekali Wahyudi ini menjadi penggerak sosial ekonomi yang mumpuni. Orang desa menurut Wahyudi memang sederhana. Urip kang legawa lan prasaja.

Alam pedesaan memberi rasa keindahan. Keyakinan Wahyudi ada benarnya. Hidup mesti berguna bagi sesama. Sebagai alumni STIP, Sekolah Tinggi Ilmu Publistik tentu saja Wahyudi piawai dalam bidang komunikasi. Kecakapan ini berguna saat dirinya memimpin organisasi LSM BITRA yang tangguh di wilayah kota Medan. Tak segan segan dia terjun di pelosok lapangan. Meskipun sepi namun begitu berarti.

Desa mawa cara, negara mawa tsta. Berpikir tentang pertanian merupakan aktivitas kebaikan. Makin malam bahasan makin mendalam. Dialog sosial ekonomi berjalan, dengan penuh semangat. Suasana malam yang dingin disertai hujan gerimis, seolah olah tak dirasakan. Hangatnya topik pembahasan, mengusir rasa ngantuk, pegel, penat. Apalagi kopi, teh, camilan setia mengawani. Debat sengit disertau gelak ketawa berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari. Waktu yang panjang digunakan untuk membahas tema berbobot. Demi petani badan penat tak peduli. Tanaman yang subur membuat kerja tambah drmangat.

Pedesaan wilayah yang produktif. Penyambung lidah petani bisa siapa saja. Pemikiran yang terhimpun dalam diskusi berguna untuk melakukan pemberdayaan. Butir butir pemikiran cemerlang dari praktisi, pengamat dan pakar merupakan sumbangan yang berharga. Petani memang membutuhkan juru bicara. Supaya mereka merasa tenang ayem tentrem.

Sosialisasi ketahanan pangan kewajiban semua warga bangsa. Bidang pertanian mungkin perlu kiranya dilacak secara historis. Bagaimana pasang surut perjalanan LSM pertanian yang tumbuh di kota Medan dan sekitarnya. Agar diperoleh pemahaman yang sepuh utuh tangguh. Sebagian besar warga Serdang Bedagai bekerja sebagai petani. Diharapkan Sergai menjadi pusat lumbung padi. Perhatian lagu pertanian ini.

Lumbung Desa pra tani padha makarya, ayo dhi. Njupuk pari nata lesung nyandhak alu, ayo yu. Padha nutu yen wis rampung nuli adang, ayo kang. Dha tumandang nyosoh beras ana lumpang.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *