MEDAN – LIPUTAN68.COM – Bicara soal wali, mungkin satu topik yang sudah berjalan selama hampir 1000 tahun di Indonesia. Kisahnya menarik karena erat dengan kesaktian atau kisah kisah karomah yang bersifat magis. Sangat diyakini keberadaannya.
Nasab bagian penting dari tradisi kehidupan manusia Indonesia, sehingga banyak upaya dalam mencari silsilah untuk memperjelas siapa dirinya. Dengan cara paling mudah adalah dengan berziarah ke makam makam yang diyakini memiliki hubungan kekerabatan, seperti ayah dan kakek. Kemudian ada lagi upaya lebih luas dengan menelusuri catatan catatan dan juga melakukan napak tilas. Bertanya kesana kemari kepada para pihak yang memiliki catatan. Secara modern, upaya pencarian ini melalui uji dna untuk mengecek di dalam darahnya darimana saja dia berasal.
Penulis naskah ini, diabad lampau berusaha mengurai nasab diantara para penyebar islam yang di anggap masyarakat luas sebagai wali , walau mereka datang ke berbagai wilayah di Indonesia dan dalam waktu yang berbeda beda sebenarnya mereka adalah bersaudara. Mereka masih dzurriyat keturunan dari Rasulullah SAW.
Melalui buku ini, kita melihat jelas bagaimana sebenarnya antara orang orang di Barus, di Aceh, di Demak, di Cirebon, Jakarta dan Banten dan seterusnya sebenarnya memiliki hubungan darah kekerabatan yang kental. Bersaudara, dan pada masa itu bersatu dalam semangat iman islam. Sehingga jangan kaget, kalau orang banten misalnya punya saudara dari Makassar, punya saudara orang Aceh, karena memang begitulah jalur nasab atau kekeluargaannya. Yang lebih mudah dilihat dalam buku ini mungkin antara cirebon dan banten. Hubungan tali darahnya bisa jelas terlihat.
Menurut H. Sariat Arifia saat ditemui wartawan Sabtu (05/112020) di Medan, “sejarah itu penting karena dengan menguasai sejarah maka kita bisa mengetahui dari mana asal kita dan kemana kita harus pergi ke depan. Kalau nenek kakek kita adalah para dai di jalan allah, para pejuang penentang penjajahan, maka sebagai anak cucunya kita tidak akan berani mengkhianati nenek kakek kita sendiri. Kita hidup dalam aliran darah yang sama. Karenanya tidak akan menghancurkan apa yang telah dibangun mereka. Kita wajib meneruskan apa yang sudah mereka bangun”
“Buku ini penting dibaca, karena di dalamnya menyibak rahasia hubungan antar berbagai suku dan kerajaan islam di Indonesia pada saat itu. Dan kalau kita tau, maka bisa hilang egoisme sempit fanatisme kesukuan dan berkobar semangat seruan untuk tegak di jalan Allah, walau ada catatan catatan kritis, tidak semua yang ditulis itu benar.”
