Untuk Sergai Warga Keraton Memohon Di Pajimatan Sultan Cirebon

Sudah menjadi suratan takdir. Sergai dan Surakarta menganyam peradaban. Hari Sabtu Kliwon tanggal 6 Desember 2020 terjalin komunikasi persahabatan. Putri raja Surakarta Hadiningrat, GKR Dra Wandansari Koes Moertiyah M.Pd mengucapkan selamat kepada Ir H Soekirman. Dengan harapan Sergai selalu aman damai. Salam hangat ini diterima dengan suka gembira. Semangat membangun Sergai bertambah kuat nan bersahabat.

Dari sipispis, Kotarih, Sei Bamban, Tanjung Baringin wacana kebaikan bertaburan. Perjuangan semakin gumreget gumregut gumregah. Ir H Soekirman merasa mendapat suntikan energi. Jiwa raga selalu bersedia untuk masyarakat. Mulai dari perkotaan pedesaan pegunungan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Seia sekata, sehina semalu. Inilah wujud kebersamaan warga Sergai, agar senantiasa mawas diri.

Jadwal sudah ditentukan. Keesokan harinya pada hari Minggu 7 Nopember 2020, GKR Dra Wandansari Koes Moertiyah M.Pd memimpin upacara adat di Makam raja Imogiri. Para abdi dalem berbusana Kejawen jangkep. Megah mewah busana kejawen.

Adat Istiadat berlaku terus. Putri raja berbusana nyamping, sanggul, kebaya landung. Pendherek berbusana kemben. Pria mengenakan beskap putih, bebedan, blangkon, sabuk wala, stagen timang. Berbaris jajar rapi. Kembang diwadahi berwarna warni. Kukusing dupa kumelun memenuhi ruang Pajimatan. Melati mawar kenanga beraroma wangi sumerbak. Sesaji diurus Abdi dalem purwo kinanthi.

Beruntung sekali. KGPH Mangkubumi, Putra Mahkota Karaton Surakarta Hadiningrat mengenal nama Ir H Soekirman yang populer. Dengan segenap ketulusan hati, Putra Sinuwun Paku Buwana XIII ini berdoa secara khusus buat kesuksesan Ir H Soekirman. Masyarakat Jawa percaya bahwa doa anak raja senantiasa terkabul. Ini soal keyakinan.

Ing ngarsa sung tuladha. Ing Madya mangun karsa. Tut wuri handayani. Penampilan putra Sinuwun Paku Buwana X begitu menarik menawan. Wajah tampan, dedeg pideksa, gagah perkasa. Di pundaknya masih Karaton Surakarta Hadiningrat diharapkan. Dengan belajar terus menerus, cita cita mulia bisa terlaksana. Gagasan tentu terwujud.

Ekologi menjadi pertimbangan. Lingkungan Pajimatan Imogiri pagi itu memang cerah. Udara berhembus sumilir. Suara burung berkicau. Manuk prenjak sami ngganter. Burung burung berlompatan di pepohonan dengan kegirangan. Pertanda bahwa permohonan di Pajimatan Imogiri ini penuh berkah anugerah yang berlimpah ruah.

Sebaiknya keluarga kasultanan Cirebon napak tilas. Para pemangku adat di Karaton Surakarta Hadiningrat. Mereka titip salam buat warga Jawa perantau. Keselarasan hidup yang terbina di Sergai berlanjut terus. Sejarah peradaban agung antar suku tampak anggun. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbantu dengan kesadaran warga. Perbedaan adalah rahmat. Semua menjunjung tinggi semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berbeda beda, tetapi tetap satu.

Cirebon dan Mataram berhubungan. Leluhur Mataram memberi restu Masyarakat Serdang Bedagai. Sultan Agung mewariskan keteladanan. Sri Susuhunan Amangkurat mewariskan keutamaan, Sinuwun Paku Buwana mewariskan kejayaan. Doa restu para raja mulia ini berguna untuk seluruh masyarakat Kabupaten Sergai. Agar hidupnya sejahtera lahir batin. Pangeran Girilaya Cirebon. bersemayam di tempat tinggi.

Hormat pada leluhur. GKR Retno Dumilah, Pengageng pasiten berdoa khusuk. Desertai dengan abdi dalem ulama. Sayup sayup mereka berdzikir. Tahlil tahmid, takbir, tasbes menghiasi kompleks makam Sinuwun Paku Buwana XII yang bersebelahan dengan makam GKR Galuh Kencono, GKR Sekar Kencono dan KGPH Kusumoyudo. Suara doanya mirip kumbang yang mbrengengeng. Bunyi dzikir memecahkan keheningan. Dupa berasap tebal menuju ke angkasa raya. Permintaan tertuju pada Tuhan.

Sesepuh Cirebon dan Mataram memberi inspirasi. Ternyata hubungan budaya antara Kasultanan Serdang dengan Karaton Surakarta Hadiningrat berjalan kekal abadi. Warga berinteraksi sesuai dengan tata susila. Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semangat kultural historis, pada masa depan semakin kokoh berjaya. Dari Imogiri untuk Sergai. Dari Sergai buat ibu pertiwi.

Ahad Legi menjadi hari yang sangat berarti bagi Masyarakat Serdang Bedagai. Makam Sultan Cirebon Girilaya menjadi tempat untuk meminta. Lewat hati yang jujur, doa dipanjatkan buat leluhur. Rahayu. Rahayu. Rahayu. Sesanti menuju permohonan hakiki.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *