Sejarah Upacara Maesa Lawung Di Alas Krendha Wahana

Pada masa Pemerintahan Sinuwun Paku Buwana II berlangsung tahun 1745-1749. Upacara Maesa Lawung selalu dipimpin oleh KRT Honggowongso dari Kuto Winangun Kebumen. Ahli nujum Karaton Surakarta Hadiningrat ini berwibawa dalam pelaksanaan upacara adat. Sentana dan abdi dalem hidup aman damai sejahtera lahir batin.

Wilayah pesisir Bang Wetan menjadi panitia penyelenggara upacara wilujengan negari Maesa lawung pada tahun 1752. Abdi dalem dari Kabupaten Lamongan bersemangat untuk kegiatan ritual. Karaton Surakarta Hadiningrat dipimpin Kanjeng Sinuwun Paku Buwana III yang memerintah tahun 1759-1788.

Pemerintahan Sinuwun Paku Buwana IV tahun 1788-1820. Kanjeng Ratu Kencono Wungu berasal dari Pamekasan Madura. Pelaksanaan upacara maesa lawung kerap dibantu dari Surabaya. Terutama keturunan Kanjeng Sunan Ampel.

Begitulah para raja Surakarta selalu melakukan upacara wilujengan negari Maesa lawung. Sinuwun Paku Buwana V 1820-1823, Sinuwun Paku Buwana VI 1823-1830,Sinuwun Paku Buwana VII 1830-1858, Sinuwun Paku Buwana VIII 1858-1861,Sinuwun Paku Buwana IX 1861-1893,Sinuwun Paku Buwana X 1893-1939, Sinuwun Paku Buwana IX 1939-1945, Sinuwun Paku Buwana XII 1945-2004, Sinuwun Paku Buwana XIII 2004 sampai sekarang. Raja memimpin upacara adat.

Hari Senin Wage tanggal 14 Desember 2020 upacara wilujengan negari Maesa lawung. Sesuai dengan protokol kesehatan, kegiatan spiritual historis ini diikuti dengan peserta terbatas. Panitia patuh pada situasi pandemi. Ini bentuk dari tindakan yang bijaksana.

Terlebih dahulu sesaji diberi doa. Perpaduan doa dengan cara Hindu, Budha dan Islam. Pengageng Karaton memberi aba Aba dengan bahasa kedhatonan. Ulama segera menanggapi dengan ucapan nuwun inggih sendika dhawuh.

Keselamatan ditujukan untuk sekalian warga masyarakat. Karaton Surakarta Hadiningrat dan negara Kesatuan Republik Indonesia didoakan, supaya selalu aman damai subur makmur. Semua bencana menyingkir. Musibah hidup sirna. Warga dapat bekerja lancar.

Sesepuh Kerajaan, para raja, sentana, abdi dalem berdoa dengan mengucapkan rahayu. Busana kejawen dan tata sikap yang sempurna membawa kekhusukan. Suasana jadi hening magis. Pertanda upacara maesa lawung dilakukan terlalu serius. Dupa wangi sumerbak menambah kesungguhan dalam harapan.

Prajurit jayeng astra, prawira anom, tanantaka siap mengawal sesaji. GKR Wandansari selaku Pengageng Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat memimpin upacara sejak awal. GKR Retno Dumilah memberi perlindungan spiritual. Sentana dan abdi dalem bersama sama melakukan kegiatan kultural yang berlaku berabad abad.

Abdi dalem berasal dari Sukoharjo, Boyolali, Sragen, Klaten, Karanganyar, Wonogiri,Salatiga, Semarang, Purwodadi, Pati, Ngawi, Blora dan Ponorogo. Mereka hadir sowan dengan perwakilan. Tergabung dalam organisasi Pakasa, Paguyuban Abdi dalem Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat.

Kerja sama dengan aparat keamanan baik sekali. Polisi dan TNI bahu membahu menjaga suasana tetap kondusif. Peserta upacara maesa lawung pun merasa mendapat pengayoman. Hajad orang banyak ini demi keselamatan bersama. Iring iringan rombongan peserta wilujengan mudah bergerak. Sepanjang rute perjalanan mulai dari Baluwarti, Kepatihan, srambatan lalu ke arah Grobogan arus lalu lintas bagus sekali.

Anggota Polri dan TNI banyak yang menjadi abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat. Makanya secara sukarela mereka turut berbagai acara adat. Sebetulnya keselarasan tindakan ini amat penting. Alam demokrasi dengan tradisi bisa jalan beriringan.

Tengok saja peradaban Eropa. Berabad abad Inggris, Spanyol, Belanda menerapkan monarkhi konstitusional. Politik dan budaya berjalan saling menghormati. Saudi Arabia, Yordania, Kuwait relatif lebih tenang. Karaton Surakarta Hadiningrat dengan pemerintah selalu mesra. Kebudayaan menuntun paradaban.

Perlengkapan upacara wilujengan maesa lawung meliputi payung, sesaji kepala kerbau, jodang, tampah, songsong yang diurus abdi dalem purwo kinanthi. Lembaga ini di bawah kekuasaan departemen mandra budaya. Mereka terlebih dulu renbugan di Gondorasan.

Tiba di Alas Krendha Wahana pukul 12.30. Langit cerah, angin sumilir, hawa sejuk. Acara segera dimulai dengan prosedur baku. Sesaji tersedia lengkap. Sesaji ini persembahan untuk Sang Hyang Bathari Kala Yuwati. Jagad mendapat suasana suka basuki.

Kinanthi

Kukusing dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik, kawengku sagung jajahan, Sang Resi Kaneka Putra, kang anjog saking wiyati.

Japa mantra dibaca oleh abdi dalem ulama. Para peserta memberi salam rahayu. Tanda doa terkabul harapan terwujud. Karaton Surakarta Hadiningrat mendoakan, agar Negara Kesatuan Republik Indonesia rahayu lestari.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *