Sejarah Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara

Makan malam di hotel. Jamuan yang memberatkan lidah. Terbiasa dengan makanan tradisional, makanan yang disajikan ala hotel di mana saja, lidah ini tetap menolak. Rasa jauh dari biasa. Lebih enak kuliner di pinggir jalan. Sayuran, lauk pauk, minuman tak ada yang selera. Barangkali semua yang terbiasa dengan barang tradisional, apa-apa yang berbau modern rasanya tidak cocok, kurang pas. Lidah ini banyak kecewanya. Boleh jadi benar juga kata Clifford Geerts bahwa kaum tradisional selalu mengalami invalensi atau jalan di tempat.

Malam itu kira-kira pukul 21.30. Dinner selesai rekan-rekan dari Balai Bahasa Jakarta mengajak jalan -jalan. Kalau sekedar dalam kamar tentu sayang sekali. Jauh-jauh dari tempat asal, harus mendapat pengetahuan banyak. Diputuskan untuk menelusuri Teluk Menado. Mereka rata-rata sudah berusia 50 tahun ke atas. Tenaga mesti irit. Berjalan lebih kurang 500 m, lantas mampir di warung makan Jawa Tulen. Di sana wedangan : teh, kopi, susu hangat. Ngobrol ngalor, begitu nggayeng, sambil mencicipi gedhang goreng.

Dialog budaya memang menawarkan wawasan baru. Hari Senin 22 September 2014 siap -siap untuk memulai acara. Mandi, ibadah, sarapan dan kemas-kemas. Pertemuan seminar di Balai Kota Bitung. Jarak kota Menado – kota Bitung sekitar 60 km, sejauh Yogyakarta – Surakarta. Naik bus carteran 1 ½ jam. Panitia – peserta berangkat dari Aryaduta Hotel pukul 07.30. 2 bus dan 2 mobil dengan dikawal kendaraan polisi. Sopir bus di tengah jalan mengenalkan gedung, gunung, pabrik dan tokoh masyarakat.

Sopir bus sudah 40 bekerja menjalankan kendaraan. Mulai dari melayani pejabat, bus umum dan angkot. Istrinya orang Banyuwangi. Imajinasi tentang orang Jawa dengan sendirinya akrab. Sopir mengenalkan rumah tokoh nasional, mantan Ketua DPA, AA Baramuli. Anaknya Aryanti Baramuli menjadi Wakil Bupati Minahasa Utara. Dia punya usaha pabrik tapioka. Di bawah gunung Dua Saudara, kota Bitung dituju dari Manado, Minahasa Utara.

Tiba di Balai Kota Pemerintah Kota Bitung disambut dengan Tari Prajurit Burung. Busananya pakai paruh atau cucuk yang dipadu dengan pakaian keprajuritan, iringan 2 kendang. Merdu sekali. Satu per satu peserta masuk aula. Di sana disuguhi musik kolintang. Pemain masih muda. Seragam biru, mereka lincah memainkan musik kolintang. Dua tabuh digerakkan dengan gesit. Cantik dan tampan. Begitulah gambaran wiyaga musik kolintang.

Walikota Bitung, Hanny Sondakh dan Wakil Walikota, Max J. Lomban bersemangat membantu ATL. Bitung merupakan pintu gerbang Sulawesi Utara, baik darat maupun laut. Kota Bitung mendapat kehormatan karena peserta ATL berasal dari seluruh Indonesia ditambah utusan manca negara. Belanda, Australia, Jepang, Cina, Malaysia, Singapura, Norwegia, India. Sambutan Pemkot cukup hangat. Tak lupa memberi promosi daerah. BIMOLI : Bitung Minahasa Oil, merupakan pabrik minyak kelapa.

Sungguh beruntung Pemkot Bitung mendapat apresiasi untuk acara bertaraf internasional telah terselenggara. Presentasi makalah para pakar dunia mendapat apresiasi dan applaus. Peserta bersemangat sampai hari pertama usai. Babak demi babak dilampaui dengan gegap gempita. Makan siang dijamu Pemkot Bitung dengan lahap. Dilanjutkan lagi diskusi dengan pembicara Mantan Mendikbud Prof. Dr. Wardiman Joyonagoro. Sambil diskusi peserta disuguhi kopi, teh dan pisang goreng.

Peradaban Minahasa terkait dengan keramahan ekologi. Pukul 17.00 meninggalkan kota Bitung. Peserta menuju Kota Menado untuk melihat stand pameran. Peserta diarahkan ke stand pameran. Peserta diarahkan ke stand milik Kota Bitung. Kebetulan Kepala Dinas Kota Bitung Pak Ferdy adalah alumni Yogyakarta. Peserta ATL kopen dan kajen. Aneka makanan tradisional disajikan. Tanaman buah, sayur dipamerkan. Malam ini pesta mewah dan megah. Makan malam pun disiapkan di rumah panggung. Atraksi kesenian diselenggarakan dengan meriah. Hujan rintik -rintik yang mengguyur Kota Menado menambah semarak.

Aneka ragam kesenian dipentaskan dalam stand pameran. Tabuh -tabuhan, tari-tarian, drama, puisi lagu, musik menghiasi malam. Makan malam terasa lebih lengkap. Penonton berjubel, jalanan macet. Bus pengangkut peserta ATL berjalan nggremet. Mandi dan ganti pakaian pun berlangsung. Dalam lobby hotel penginapan berkumpul tokoh pemerintahan. Sebut saja Prof. Dr. Kacung Maridjan. Beliau Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Pukul 22.30 Bupati Wakatobi bergabung di hotel. Beliau tampak akrab dengan pengurus ATL. Tertawa lepas kerap muncul dalam percakapan. Dalam jadwal Bupati Wakatobi memang menjadi narasumber.

Sisa malam dilanjutkan dengan begadang. Diskusi mengenai peran komunitas tani, priyayi, seni dan santri. Keempatnya menjadi penyangga kehidupan masyarakat Jawa. Kelompok tani sibuk dengan bercocok tanam, berkebun, beternak, pertukangan. Kelompok seni mewajibkan diri untuk mempromosikan keindahan, cipta karya yang menarik. Kelompok santri diharapkan memberi ketenangan batin. Kelompok mantri sedapat dapatnya hadir untuk mengatur, memimpin dan mengabdi. Keempatnya berbeda idiologi, tetapi mesti harmonis. Meskipun puncak gunung banyak pemandangan asri wisma pesanggrahan untuk menghibur diri penuh pariwisata kembang -kembang menghiasi

Bagi peneliti Minahasa semua peritiwa historis adalah obyek kajian yang menarik. Hari Selasa tanggal 23 September 2014, hari kedua seminar kembali ke kota Bitung. Pola angkutan seperti sebelumnya, yaitu naik bus carteran. Semua gegap gempita, senang berbahagia. Siap-siap dengan berbaju rapi, sarapan pagi dan menempuh perjalanan 1½ jam. Sempat melihat warteg, Warung Tegal. Pecel lele Lamongan bersaing dengan warteg. Di tengah jalan dijumpai makam Walanda Maramis, pahlawan wanita dari Minahasa Utara. Anak SD semua tahu foto dan riwayat Walanda Maramis. Di situlah cara untuk menguatkan nilai kebangsaan.

Gunung Kalabat merupakan gunung tertinggi di Sulut, tapi tak aktif. Maka lebih terkenal Gunung Lokon. Di dalamnya terdapat genangan air yang berlimpah. Maka di sana terdapat bisnis mata air. Kebijakan yang perlu koreksi. Di sebelahnya terdapat makam. Tempat untuk mengubur para bangsawan Minahasa. Tak jauh dari situ ada nama jalan SBY yang menghubungkan dengan Bandara Sam Ratulangi. Pohon kelapa menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Karena penghasil kopra yang besar. Pohon kelapa tinggi- tinggi.

Kota Bitung merupakan kawasan industri. Teringat di daerah Surabaya yang dikitari kawasan industri Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan. Kalau di Jakarta mirip dengan Bekasi, Tangerang. Kehidupan di kota Bitung cukup ramai. Perdagangan, bisnis, jasa berputar cepat sejak dulu kala. Tersedia pelabuhan yang memperlancar arus barang dan jasa. Pemilik modal dari China berbondong-bondong ke Kota Bitung untuk berinvestasi.

Seminar pada hari kedua ini menghadirkan ketua KITV Belanda, Bupati Wakatobi dan Ketua ATL. Ketiga tokoh tersebut sedang menanjak karier. Malah Bupati Wakatobi layak diusulkan menjadi Menteri Maritim dan Kelautan. Ketua KITV layak menjabat sebagai duta besar Belanda. Sedang Bu Prudentia bisa diusulkan menjadi Menteri Kebudayaan. Ini usulan berdasarkan dari prestasi kerja. Oleh karena itu ATL penting. Kewibawaan forum yang diselenggarakan ATL diikuti oleh pejabat dan mantan pejabat. Sebut saja Prof. Dr. Edi Sedyawati, Prof. Dr. Wardiman Joyonagoro, Prof. Dr. Kacung Maridjan, Prof. Dr. Windu Nuryanti.

Lingkungan budaya Minasaha memberi banyak instpirasi. Selesai penutupan ATL dilanjutkan di Taman Marga Satwa Tandurusa di Kota Bitung Sulut. Pelestarian margasatwa ini dikelola oleh perorangan. Swakelola atas kesadaran untuk turut serta melestarikan anugerah Tuhan. Dana untuk pemeliharaan tentu besar. Tiap hari mesti memberi jatah makanan pada hewan- hewan yang dipelihara. Kera, burung, ular memerlukan biaya. Taman Marga Satwa Tandurusa ini didirikan pada tahun 2007. Letaknya di pinggiran bukit, tepi danau yang bersambung dengan laut. Lalu lalang perahu motor berjalan. Di antara perbukitan itu air beriak dan bergelombang mengikuti asal angin.

Lingkungan budaya Minahasa terkenal. Bu Jois Natarang, dari Dinas Pariwisata Kota Bitung setia menemani peserta ATL di Kungkungan by Resort. Tempat makan minum sekaligus penginapan. Cuma ongkosnya pakai dollar. Sudah bisa ditebak harganya agak lumayan. Pintu gerbang lalu lintas barang di Sulut, tetapi nama Bitung kenapa tak dikenal. Minahasa sesungguhnya daerah sepi. Tapi lebih populer. Bahkan lebih kondang dibanding Menado. Sebagai kawasan pabrik dari jalan sudah tercium baunya. Bila ada bau sedap, wangi jelas itu pabrik kopra. Bila ada bau apek, menusuk hidung sudah bisa dipastikan itu pabrik ikan. Taman-taman mengimbangi gunung jalan bersih merata tanaman tumbuh subur cocok untuk bercocok tanam segala pariwisata indahnya tak terkatakan.

Dua hari seminar berlangsung antara Menado, Minahasa dan Bitung. Satu yang tidak pernah dijumpai, yaitu sawah. Tidak ada tanaman padi. Untuk bisa melihat sawah kata sopir hanya berada di kampung Tondano. Mayoritas mereka adalah orang Jawa. kalau begitu orang Jawa itu identik dengan sawah. Maka sebaiknya semua generasi muda Jawa kembali saja ke tradisi sawah. Kebanggaan yang besar bila bisa menggunakan sawah. Di sana ada proses produksi. Dari membajak, ngrakel, ngluku, nggaru, macul, mopok, matun, tandur, ndangir, klacen, cemplong, gulut, ndaut. Semua aktivitas itu menuju pada kemakmuran.

Minahasa menawakan butir- butir kearifan lokal. Pukul 18.00 Selasa 23 September 2014, peserta ATL diundang makan malam oleh Gubernur Sulut, Pak Sinyo. Beliau adalah teman sekamar Pak Soetrisno, mantan Bupati Nganjuk. Keduanya sama-sama pernah belajar di Pitsburg Amerika Serikat. Sebelum datang ke Menado, Pak Tris memang titip salam buat Pak Sinyo. Malam itu terdengar suara musik kolintang. Ciri khas musik kolintang adalah kalem, melankolis, miyayeni, mirip dengan keroncong. Pemain berpakaian rapi, halus bertutur kata. Kebetulan Propinsi Sulut sedang merayakan ulang tahun ke 50. HUT Emas Sulut ini tepat pada tanggal 23 September 2014. Minahasa punya alam yang menawan.

Setiap kali perayaan kenegaraan baik tingkat kabupaten, propinsi maupun pemerintah pusat selalu teringat Kraton Surakarta Hadiningrat. Acara kraton mesti diikuti oleh ribuan abdi dalem. Kegiatan kultural tersebut berlangsung selama berabad- abad. Meski monarki, namun politik kerakyatan sudah dilalui dengan tepat. Para peserta datang sendiri, tanpa menghitung biaya. Mereka relawan yang benar-benar sukarela dalam bekerja kebudayaan.

Kajian atas kearifan lokal Minahasa menjadi rekreasi kultural. Rabu, 24 September 2014 acara bebas. Bangun tidur tak harus terburu- buru. Sarapan pagi bersama kawan yang mempersiapkan pulang. Jalan-jalan ke pasar untuk mencari jajan, sebagai bekal di kendaraan. Bila terlanjur di bandara, sulit mendapat makanan. Kalau toh ada, harganya mahal dan rasanya hambar, sepa. Lebih baik mbontot atau membawa makanan yang dibeli di warung Lamongan. Harga murah rasanya enak. Nyamleng tenan. Tidak lupa membawa kacang goreng, pokis, roti bolu dan air mineral. Bersih pangkal sehat.

Lingkungan kebudayaan Minahasa hendaklah dikaji terus menerus. Pukul 10.30 taksi menjemput dan selanjutnya meninggalkan Hotel Aryaduta. Pelan- pelan menuju bandara. Tampak gunung pegunungan yang mengitari alam Minahasa. Selama ini Kota Menado digambarkan seperti Makassar. Ternyata berbeda sekali. Ada kesamaan penduduknya dalam membangun tempat tinggal yang aman nyaman.

Rumah Minahasa terdiri dari kayu dan ijuk. Masyarakat Menado dan Minahasa masih mencintai rumah adat. Dibuat lantai dua. Arsitekturnya indah sekali. Karena berbahan baku dari kayu, bisa dipastikan harganya amat mahal. Tepat pukul 11.30 WITA pesawat Lion Air siap untuk menjemput. Segera menuju Yogyakarta dengan melewati Surabaya dan Jakarta. Selama empat hari Menado melekat dalam hati. Keramahan masyarakat Minahasa memang mengesankan.

Pengkajian atas peradaban masyarakat Minahasa berguna untuk memperkokoh nilai kebangsaan. Kesadaran hidup berbangsa dan bernegara dalam naungan Negara kesatuan Republik Indonesia disokon golehn ilai keafiran lokalyang tersbar ari Sabang sampa Merauke. Kabupaten Minahasa telah memberi sumbangan yang bermakna bagi pengembangan kepribadian nasional.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *