Sejarah Alas Roban Sebagai Tempat Pendadaran Ilmu Kanuragan

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347

A. Pendadaran Ilmu Kasakten di Alas Roban.

Ilmu jaya kawijayan guna kasantikan dibabar di tengah alas Roban. Sunan Kalijaga kerap bertapa di Alas Roban. Sunan Bonang memberi wejangan ilmu kasekten.

Syeh Jangkung dari Landoh Kayen Pati juga menjalankan lelaku di Alas Roban. Dewi Retno Jinoli tempat bersemayam makhluk halus dari Alas Roban. Kakak kandung Sultan Agung diruwat oleh Syekh Saridin atau Syekh Jangkung. Berkat Kesaktiannya lantas gangguan jin Alas Roban itu pergi dari tubuh Putri Mataram. Tak berani mengganggu lagi.

Alas Roban selalu berhubungan dengan daerah pesisir Kendal. Pembentukan Kabupaten Kendal atas Usul Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati. Raja sakti ini memberi perhatian khusus pada daerah yang angker.

Keberadaan Alas Roban dengan tata cara adat yang benar. Kabupaten Kendal mendapat perhatian istimewa dari Raja Pajang dan Raja Mataram. Sejak tahun 1578 Pangeran Benowo, putra Joko Tingkir, Raja Pajang mendirikan perguruan Al Hamid di Kaliwungu Kendal. Murid-muridnya berasal dari seluruh kawasan Nusantara. Pondok Pesantren Al Hamid memadukan pengajaran agama, umum dan ketrampilan.

Pada tahun 1582 Panembahan Senapati menjadi Raja Mataram. Hubungan Pangeran Benowo dengan Panembahan Senapati begitu akrab, dekat, bersahabat dan bersaudara. Putri Pangeran Benowo bernama Dyah Banowati, dinikahkan dengan Raden Mas Jolang, putra Panembahan Senopati. Keduanya menjalin hubungan kekerabatan lewat perkawinan. Dari per-nikahan Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang ini lahir Raden Mas Jatmiko atau Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo.

Pada tahun 1601 Raden Mas Jolang dinobatkan menjadi raja Mataram dengan gelar Kanjeng Sinuwun Hadi Prabu Hanyokrowati. Selama menjabat sebagai eksekutif Mataram, be-liau didampingi oelh Joko Bahu atau Pangeran Sosrobahu. Beliau adalah putra kedua Pangeran Benowo. Jadi kedudukannya di Mataram cukup kuat. Adik ipar raja ini cukup disegani. Pangeran Sosrobahu memiliki kecerdasan, keterampilan, kewibawaan, kemampuan, kejujuran, keutamaan, kemanusiaan, keadilan, kerohanian, kepandaian yang dapat diandalkan. Beliau merupakan satriya linuwih prajurit sinakti.

Kecapakan Joko Bahu diperoleh dari Kraton Pajang saat diasuh oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo. Sang kakek me-ngajari Joko Bahu dengan beragam ilmu kesaktian, olah gelaring prajurit, kawruh satataning panembah, tata cara sambang sam-bung, srawung, tulung- tinulung. Raja Pajang yang mengajari pengetahuan tata praja, ilmu hukum, diplomasi, birokrasi dan kepemimpinan. Ketajaman batin Joko Bahu diasah dengan cegah dhahar lawan guling.

Ilmu agama didapatkan dari Perguruan Al Hamid Kali-wungu Kendal. Joko Baku tampil sebagai generasi yang ideal. Kerajaan Mataram beruntung sekali. Tenaga dan pikiran Joko Baku siang malam dipersembahkan untuk rakyat banyak. Tugas yang diemban selalu dilaksanakan dengan sempurna. Joko Bahu tak mau kerja di Mataram hanya mengandalkan hubungan darah. Kenyataannya beliau adalah adik kandung Dyah Banowati, permaisuri Raja Mataram.

Loyalitas, dedikasi dan prestasi Joko Bahu mendapat apresiasi dari seluruh jajaran birokrasi Mataram. Namanya kondang kaonang -onang. Atas pertimbangan Patih Mandaraka, Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati mengadakan sidang kenegaraan. Kerajaan Mataram sudah tertata dengan baik. Rakyat hidup rukun aman damai. Murah sandang pangan. Kali ini rapat memabhas tentang pembinaan teritorial. Daerah pesisir harus semakin maju dan berkembang. Kegiatan rapat ini terjadi pada tanggal 25 Mei 1605.

Hasil rapat pleno kerajaan Mataram memutuskan bahwa status daerah Kendal dinaikkan menjadi kabupaten otonom. Perlu segera ditunjuk pejabat bupati yang memimpin kabupaten Kendal. Rapat istimewa itu dihadiri oleh perwakilan keluarga keturunan Demak, Pajang, Jepara, Pengging, Tegal dan Pati. Suasana sidang di Mataram berjalan lancar. Semua peserta sidang sepakat menunjuk Joko Bahu atau Pangeran Sosrobahu sebagai bupati Kendal.

Upacara pelantikan pun segera dipersiapkan. Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana, keputusan menetapkan Kendal sebagai Kabu-paten otonom membuat gembira semua kalangan. Sedangkan Joko Bahu atau Pangeran Sosrobahu segera menata diri. Mikul dhuwur mendhem jero adalah ajaran keutamaan untuk menghormati leluhur. Beliau terlebih dulu sowan ke pasareyan Sri Makurung Handoyoningrat, Bupati Pengging yang menurunkan dirinya. Di sana Joko Bahu juga minta doa kepada Eyang Ratu Pembayun, putri Sinuwun Prabu Brawijaya raja Majapahit.

Perjalanan sejarah lantas dilanjutkan ke Butuh Sragen. Joko Bahu minta doa restu kepada leluhur yang sangat berjasa. Di sinilah dimakamkan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Kebo Kenongo, Lembu Amiluhur, Ki Ageng Butuh dan para pembesar kerajaan Pajang. Dari Butuh Sragen lantas pergi ziarah ke makam Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Sela. Beliau berdua adalah leluhur raja Mataram. Dari grobogan dilanjutkan nyekar di pasareyan Ki Ageng Penjawi, Ki Ageng Ngerang dan Sunan Prawoto di Sukolilo Pati. Begitulah tata cara Joko Bahu sebelum upacara pelantikan Bupati Kendal.

Tepat pada hari Jum’at Pahing 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605 Joko Bahu atau Pangeran Sosrobahu dilantik menjadi Bupati Kendal. Upacara pelantikan langsung dipimpin oleh kanjeng Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati raja Mataram. Beliau didampingi Kanjeng Ratu Dyah Banowati. Hadir pula Patih Mandaraka, undangan dari Trah Pengging, Madiun, Pati, Demak, Jepara, Semarang, Tegal. Mereka turut ngestreni dan mangayu bagya atas dilantiknya Joko Bahu sebagai Bupati Kendal dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Bahurekso. Kawula Kendal yang tinggal di kutha ing ngakutha, desa ing ngadesa, gunung ing ngagunung padha suka parisuka.

Sebetulnya angkernya Alas Roban tetap bisa diberi syarat sarana. Sejak jaman Demak, Pajang dan Mataram Alas Roban dijaga oleh juru kunci yang sakti mumpuni.

B. Daya Linuwih Tumenggung Bahurekso dalam Menguasai Alas Roban.

Tumenggung Bahurekso terkenal sebagai pribadi yang sakti mandra guna. Menguji segala jenis ilmu pengetahuan. Kabupaten Kendal Membangun Peradaban Agung. Bisa dikatakan sebagai pemimpin yang sembada.

Tepa palupi kang utama. Segenap pikiran, tenaga dan waktu dicurahkan KRT Bahurekso buat kemajuan dan kesejahteraan rakyat Kendal. KRT Bahurekso sangat sakti mandraguna. Beliau suka menjalankan lara lapa tapa brata. Tapa ngidang, tapa ngalong, tapa ngiwak dilakukan secara periodik. Tapa ngrame, tapa kungkum, tapa ngeli, tapa pendhem, tapa gantung dilaksanakan demi kasantosan pribadi. Tak lupa tapa nggenora mbanyuara. Wajar sekali bila KRT Bahurekso dibedhil nyisil tinombak mendat jinara menter.

Makhluk halus di alas Roban tunduk kepada KRT Bahu-rekso. Beliau memiliki sifat kandel dan pusaka yang diperoleh dari kerajaan Pajang dan Mataram. Pusaka itu disimpan di pendopo kabupaten Kendal. Dulu yang menjaga kamar pusaka ini adalah Nyai Gadhung Melathi, abdi dalem Karaton Mataram. Sejak tahun 1607 Kanjeng Ratu Banowati mengangkat Nyai Gadhung Melathi untuk menjaga pusaka di Kabupaten Kendal. Terutama untuk mencegah mara bahaya yang terjadi di sekitar Alas Roban.

1. Tombak Kyai Tanggul Manik.

Pusaka Kabupaten Kendal yang berwujud Tombak. Gunanya untuk menjaga keamanan, kenyamanan dan ketentraman rakyat dari tindakan jahat musuh. Pelaku kejahatan akan jatuh, tersingkir dan tergeletak saat tombak Kyai Tanggul Manik digunakan. Barisan musuh akan lari kocar-kacir.

2. Keris Kyai Gambir Anom.

Kemampuan keris ini bisa membuat tanah Kendal menjadi subur. Tanaman tumbuh menghijau. Palawija berbuah melimpah. Padi panen dengan menggembirakan. Bahkan keris Kyai Gambir Anom mampu mengusir segala hama. Sejenis hama wereng, ulat, tikus, kala sundep akan menyingkir. Petani Kendal merasa mendapat pengayoman.

3. Bendera Kyai Bang Sumirat.

Pusaka bumi Kendal yang berwujud bendera ini berguna untuk menghalau aneka ragam pageblug mayangkara. Pe-nyakit menular, wabah berbahaya bisa diatasi. Dengan kirab bendera Kyai Bang Sumirat. Kirab ini dilakukan bupati Kendal dengan diiringi barisa prajurit Kraton Mataram. Betul juga wabah penyakit menular seger sirna, rakyat hidup aman damai.

4. Payung Kyai Tanjung Wiring.

Pusaka Kendal ini hadiah dari Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Beliau adalah putri Bupati Penjawi Pati yang menjadi permaisuri Panembahan Senapati. Diberikan kepada KRT Bahurekso, agar rakyat Kendal selalu mendapat kawibawan, kawidadan, kabagyan, kamulyan lan karaharjan. Payung Kyai Tanjung Wiring melindungi Kabupaten Kendal dari kepanasan dan kehujanan, biar rakyat selalu ayom dan ayem, agung dan anggun.

5. Bokor Gadhing Wiring.

Pusaka Nyai Gadhing Wiring berupa bokor yang digunakan untuk upacara besar. Bila tamu agung datang, maka bokor ini akan membuat peserta upacara akan tampil cerah, ceria, gemerlapan, senang, bahagia, berseri-seri. Bokor Nyai Gadhing Wiring bahkan dapat membuat tampan dan cantik seseorang. Suasana upacara bertambah luwes, dhemes, pantes merak ati. Nyai Bokor Gadhing Wiring perpaduan daya linuwih sri taman dan sri gunung, yang mencerminkan keindahan dari jarak jauh dekat. Kabupaten Kendal katon asri anglam- lami.

Kabupaten Kendal selalu aktif dalam pembangunan sega-la bidang. Pada tahun 1650 Bupati Kendal, Tumenggung Wong-sowiroprojo dilibatkan dalam pembangunan maritim di Kabupaten Tegal. Beliau dipercaya oleh Sinuwun Amangkurat Tegal Arum untuk mengurusi logistik pelabuhan, pelayaran dan perikanan. Banayk rakyat Kendal yang membantu pembangunan pelabuhan Tegal. Mereka mendapat imbalan yang tinggi, sehingga cukup untuk menghidupi anak istri.

Pada tahun 1745 Bupati Kendal Tumenggung Singo-wijoyo II mendapat kepercayaan dari Sinuwun Paku Buwono II. Perpindahan ibukota dari Kartasura ke Surakarta tak lepas dari bantuan rakyat Kendal. Pembangunan istana Karaton Surakarta selanjutnya juga atas partisipasi rakyat Kendal, terutama yang tinggal di sekitar Alas Roban. Oleh karena itu sampai sekarang rakyat kabupate Kendal memiliki hubungan yang amat erat dengan Karaton Surakarta Hadiningrat. Mereka turun-temurun bersedia menjadi abdi dalem.

Pembangunan jalan kereta api yang melintasi wilayah Kendal atas jasa Sinuwun Paku Buwono IX yang memerintah tahun 1861-1893. Bahkan Sinuwun Paku Buwono pada tahun 1883 sempat diskusi dengan Bupati Tegal Tumenggung Aryo Notohamiprojo. Dalam pertemuan itu disinggung pula pembangunan stasiun yang berada di wilayah Kaliwungu. Bagi Karaton Surakarta Hadiningrat, Kaliwungu memiliki sejarah yang penting. Karena itu Kaliwungu harus dihormati, supaya tetap sami wibawa widada rahayu lestari. Alas Roban mewajibkan seseorang untuk selalu waspada.

C. Daya Sakti Para Penguasa Pesisir.

Kesakitan para penguasa pesisir telah terbukti. Mereka mesti mampu menguasai dengan sempurna hal ikhwal ngelmu kasampurnan.

Terlebih lebih untuk mengelola alas Roban. Perlu parsiaoan lahir batin. Segala upacara dan sesaji harus diketahui.

Alas Roban selama ini bisa diperintah oleh para pemimpin yang tangguh, srpuh, utuh dan ampuh. Para Bupati Kendal dalam menganyam Peradaban Agung. Mereka berpengalaman dalam olah rasa.

1. Tumenggung Bahurekso, 1605-1629. Dilantik pada jaman pemerintahan Prabu Hadi Hanyokrowati, Raja Mataram.

2. Tumenggung Wiroseco, 1629-1641. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Sultan Agung, Raja Mataram.

3. Tumenggung Merotyudo, 1641-1649. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Sultan Agung, Raja Mataram.

4. Tumenggung Wongsodiprojo, 1649-1650.. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum, Raja Mataram.

5. Tumenggung Wongsowiroprojo, 1650-1661. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum, Raja Mataram.

6. Tumenggung Wongsowirosyoyo, 1661-1663. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum, Raja Mataram.

7. Tumenggung Singowijoyo, 1663-1668. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum, Raja Mataram.

8. Tumenggung Mertowijoyo I, 1668-1700. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, Raja Mataram.

9. Tumenggung Mertowijoyo II, 1700-1725. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, Raja Mataram.

10. Tumenggung Mertowijoyo III, 1725-1739. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Jawi, Raja Mataram.

11. Tumenggung Singowijoyo III, 1739-1755. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, Raja Mataram.

12. Tumenggung Sumonegoro I, 1755-1780. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, Raja Surakarta Hadiningrat.

13. Tumenggung Sumonegoro II, 1780-1785. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, Raja Surakarta Hadiningrat.

14. Tumenggung Surohadinegoro II, 1785-1796.. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, Raja Surakarta Hadiningrat.

15. Adipati Aryo Prawirodiningrat I, 1896-1813. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, Raja Surakarta Hadiningrat.

16. Adipati Aryo Prawirodiningrat II, 1813-1830. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, Raja Surakarta Hadiningrat.

17. Adipati Purbodiningrat I, 1832-1850. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, Raja Surakarta Hadiningrat.

18. Adipati Purbodiningrat II, 1850-1855. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, Raja Surakarta Hadiningrat.

19. Adipati Aryo Notohamiprojo, 1857-1891. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, Raja Surakarta Hadiningrat.

20. Adipati Kamal Notonagoro, 1891-1911. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, Raja Surakarta Hadiningrat.

21. Adipati Cokrohadisastro, 1911-1914. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, Raja Surakarta Hadiningrat.

22. Adipati Aryo Notohamijoyo, 1914-1938. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, Raja Surakarta Hadiningrat.

23. Adipati Noto Mudigdo, 1938-1939. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, Raja Surakarta Hadiningrat.

24. Adipati Sadin Purbonegoro, 1939-1942. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, Raja Surakarta Hadiningrat.

25. Adipati Kusumohudoyo, 1942-1945. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, Raja Surakarta Hadiningrat.

26. Sukarmo Joyonagoro, 1945-1949. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Seokarno.

27. R. Ruslan, 1949-1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Seokarno.

28. Prayitno Partodijoyo, 1950-1956

Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Seokarno.

29. Sujono, 1957-1960. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Seokarno.

30. Salatoen, 1960-1966. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Seokarno.

31. Mayor Sunardi, 1966-1967. Dilantik pada jaman pemerin-tahan Presiden Seokarno.

32. Letkol. Suryo Suseno, 1967-1972. Dilantik pada jaman pe-merintahan Presiden Seokarno.

33. Abdussaleh Ronowijoyo, 1972-1979. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

34. Drs. Herman Sumarmo, 1979-1984. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

35. Sudono Yusuf, BA, 1984-1989. Dilantik pada jaman pe-merintahan Presiden Soeharto.

36. Sumoyo Hadiwinoto, SH, 1989-1999. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

37. Drs. Jumadi, 1999-2000. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden BJ. Habibie.

38. Hendy Boedoro, SH, 2000-2008. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

39. Dra. Siti Nur Markesi, 2008-2010. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soesilo Bam-bang Yudhoyono.

40. Dr. Widya Kandhi Susanti, 2010-2015. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soesilo Bam-bang Yudhoyono.

41. Kunto Nugroho, 2015-2016. Dilantik pada jaman peme-rintahan Presiden Joko Widodo.

42. Dr. Mirna Anisa, M.Si, 2016-2021. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Semua Bupati Kendal mengakui adanya makhluk halus di alas Roban. Demi keselamatan lantas diadakan beragam upacara dengan kelengkapan sesaji. Kukusing dupa kumelun.

D. Alas Roban Pusat Penggemblengan Ilmu Kanuragan.

Jaringan Makhluk Halus yang Pernah diperintah oleh Tumenggung Bahurekso, Bupati Kendal. Para makhluk halus melakukan koordinasi antar daerah kekuasaan. Biasanya sama sama membantu adanya olah ilmu Kanuragan Jaya kawijayan.

Sinom

Apuranen sun angetang lelembut ing nusa Jawi

kang rumeksa ing nagara

para ratuning dhedhemit

agung sawabe ugi yen eling sadayanipun

pedah kinaya tulak

ginawe tunggu wong sakit

kayu neng lemah sangar dadi tawa.

 

Kang rumiyin ing bang wetan

Durganeluh Maospahit lawan Raja Bahureksa

iku ratuning dhedhemit

Blambangan kang winarni

awasta Sang Balabatu

aran Butalocaya

kang rumeksa ing Kadhiri

Prabuyeksa kang rumeksa Giripura.

 

Sidagori ing Pacitan

Kaduwang si Klenthingmungil

Endrayaksa ing Magetan

Jenggala si Tunjungputih

Prangmuka Surabanggi

Pananggulan Abur-abur

Sapujagat ing Jipang

Madiyun si Kalasekti

pan si Koreb lelembut ing Pranaraga.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *