9. Junggring Salaka
Di Junggring Salaka, daerah Gunung Lawu, ada pohon yang disebut Wit Manis Reja. Buahnya jadi makanan para bangsawan. Rasanya manis, baunya harum. Buah ini bisa membuat badan segar dan bugar.
10. Arga Sonya
Di Arga Sonya terdapat makam Sang Prabu Yudhistira, raja Amarta, dan Raden Nakula Sadewa. Ada juga kuburan anjing belang yuyang. Siapa yang mendatangi tempat tersebut pasti akan mendengar suara air bergemericik tapi tidak ada wujudnya.
11. Puncak Gunung Lawu
Di puncak Gunung Lawu terdapat candi, dinamakan Candi Pamujan. Pada jaman Kadewatan, tempat tadi digunakan untuk memupa para dewa. Sekarang digunakan untuk memuja bagi siapa saja yang punya hajat, agar bisa diterima permohonanya.
12. Sendang Kamulyan
Airnya bening sampai seperti kaca, jika disentuh sangat dingin. Siapa yang berani mandi sampai 7 kali di sana, akan tercapai keinginannya. Mandi di sana dengan menggunakan timba kecil, namun jika tidak diterima maka timba tersebut tidak kelihatan.
13. Telaga Kuning
Luasnya sekitar 360 m2. Airnya bening berwarna kuning, dalamnya 36 pecak (telapak kaki). Telaga tersebut digunakan untuk mandi dan mengetahui apakah orang tersebut mujur atau hancur. Di dasar telaga terlihat berlumut
14. Pasar Dieng
Pasarnya makhluk halus. Pasarnya hanya ada pada hari Jumat Legi, suaranya ramai seperti di pasar, tetapi tidak terlihat oleh mata. Dis ana hanya ada batu-batu berserakan. Dalam dunia makhluk halus, batu tersebut adalah meja -kursi yang digunakan untuk berdagang.
Jika ada orang yang naik ke batu tersebut dan kebetulan sedang hari pasaran, maka ia bisa membeli barang-barang di sana. Caranya dengan menjatuhkan uang di batu lajuran dan mengatakan apa yang ingin dibeli. Di sana lalu akan ada bungkusan berisi apa yang tadi dibeli, juga bisa dimakan.
15. Beringin Jodhipati
Di bagian selatan Gunung Alwu ada pohon beringin yang dinamai beringin Jodhipati. Setiap malam Jumat digunakan untuk tirakat.
Orang yang tirakatnya diterima pasti mendengar suara menggelegar dan suara menggeram seperti suara Raden Harya Werkudara dalam cerita pedalangan.
16. Bambu Pringgonaden
Pohon bambu di Pringgondani juga bisa digunakan sebagai tempat tirakat bagi orang yang ingin meminta kekuatan.
Jika diterima, mulutnya seperti diludahi orang. Setelah itu orang tersebut akan memiliki kekuatan tubuh.
17. Pertapaan Pringgodani.
Letaknya di kaki Gunung Lawu sebelah tenggara, juga digunakan untuk tirakat orang yang ingin memiliki kekuatan.
Jika diterima, seketika badannya akan tumbuh bulunya, kumis, jambang, bulu dada. Kekuatannya sangat dasyat.
18. Gunung Jabal Kanil.
Tempatnya ada di dekat pertapaan Pringgodani. Juga digunakan untuk tirakat bagi orang orang yang ingin memiliki kelebihan. Kakinya dirantai dengan gelang yang besarnya sejempol kaki.
Jika diterima, dalam 7 hari akan ada suara menggelegar yang mengagetkan, sehingga rantainya putus, hilang masuk ke dalam kaki. Kesaktian orang tersebut yaitu jika menendang batu sebesar gentong akan hancur berkeping keping.
Di sana juga ada jurang yang dalamnya tak terhingga, keluar airnya banyak sekali. Karena sangat dalam, jatuhnya air tidak kelihatan. Jika menjatuhkan batu sebesar kerbau, maka suara jatuhnya pun tidak akan terdengar.
Hanya saja ombak dari air yang dijatuhi batu tadi terlihat menjadi sungai besar, yang dinamai sunai Ngumbang umbang, mengalir ke barat. Gunung Lawu sebagai tempat pengayoman.
C. Nilai Magis dan Filosofis Gunung Lawu.
1. Ruwatan Candi Sukuh
Candi Cetho lan Sukuh sinawang katon pangkuh
Sanadyan prasaja ananging mawa prabawa
Dadi tandha yekti luhuring budaya
Wiwit kuna Nuswantara wus kaloka
Akeh sing durung ngerti papan dununge candi
Cedhak gunung Lawu winangun awujud tugu
Minangka sarana manembah Hyang Widhi
Ingkang tansah paring berkah lan rejeki
Kala jaman smana Candi Sukuh lan Cetho
Ujaring pra wredha yasan warga Majalengka
Kasor andon yuda nasak wanawasa
Urip nrima ing sukuning Lawu arga
Candi Sukuh lan Cetho saiki dadi srana
Nora mung kinarya sasana manungku puja
Nanging uga dadi papan wisata di
Sarta uga kanggo noleh jaman kuna
Makna magis dan filosofis tembang di atas bisa dijadikan sebagai bahan refleksi kehidupan. Candi Sukuh terletak di ereng-ereng Gunung Lawu. Di sini terdapat cerita Sudamala. Isinya tentang Sadewa yang meruwat Bathari Durga. Sejak dulu kala tradisi ruwatan sudah berlangsung di Tanah Jawa. Upacara ruwatan murwakala berguna untuk menentramkan hati petani.
2. Daya Magis Gunung Lawu
Kae Gunung Lawu sinawang katon biru
Sajake isih turu swarane manuk podhang
Gumontang neng epang ngoceh swarane gandhang
Sinelan unine prenjak sarta branjangan
Nanging Gunung Lawu ra rumangsa kaganggu
E e Gunung Lawu yen Minggu akeh tamu
Menyang grojogan sewu sarta nyang Balekambang
Leledhang neng taman lungguh pinggir blumbang
Sinambi mriksani endahe sesawangan
Taman Balekambang nyata endah sinawang
Gunung Lawu
Gunung Lawu katon biru
Medhunge putih memplak mayungi jurang pereng
Angrembuyung wit witane
Sumilir angin gunung manuke pating cruwit
Pancure kemricik banyune
Tlagane kebak lukir banyune kinclong-kinclong
Banyu angileni tegalan pesawahan
Gunung Lawu papan wisata Girimulya kaline tiban
Cemorokandang cemorosewu Sarangan telagane indah
Tawangmangu Grojogan Sewu Pringgondani Pancuran Pitu
Hargo Dalem neng pucuk gunung Hargo Dumilah Junggring Salaka
Makna magis dan filosofis tembang di atas bisa dijadikan sebagai bahan refleksi kehidupan. Gunung Lawu menjadi tempat sakral bagi Kraton Surakarta. Di sini dipercaya bahwa Prabu Brawijaya muksa. Setiap tahun Sinuwun Paku Buwana XIII yang bertahta tahun 2004 selalu melakukan upacara ritual di puncak Gunung Lawu. Di sana telah bertapa Sunan Lawu. Suasana Gunung Lawu memang amat magis.
3. Pedhut Ampak-Ampak.
Wancine andungkap sore Srengenge suda panase
Langit katon peteng ketutupan mendhung ireng
Angine sumiyut nyabet pang cemara
Pedhut ampak-ampak ing pucuk gunung Lawu
Hawane sangsaya gremis tipis mangsa rendheng
Wengine krasa sepi agawe mirising ati
Gununge njenggereng mbalang ulat peteng
Pucuk gunung Lawu sinawang katon biru
Ampak-ampak gunung Lawu pedhut kandel ngemu banyu
Lamun nuju ketemu aja sembrana patrapmu
Gugunen kandhaku kudu ngati-ati
Akeh sing mrangguli wong sembrana nemahi
Sing dak suwun rina wengi tansah rahayu lestari
Sanajan munggah gunung aja nganti padha bingung
Udinen prabotmu aja nganti kurang
Yen nyata pepak lagi padha tumindak
Makna magis dan filosofis tembang di atas bisa dijadikan sebagai bahan refleksi kehidupan. Suasana seram atau tegang digambarkan dengan keadaan langit yang hitam legam serta diikuti dengan suara bagai gemuruh. Perang Bratayuda digambarkan amat sedih. Suara gendhing tlutur bikin menangis. Tapi dibalut dalam suasana estetis.
Sejak tanggal 17 Maret 2020 Gunung Lawu menjadi sarana tolak balak. Wabah corona diruwat dengan ilmu laku, langkah spiritual. Dunia supaya ayem tentrem. Ayu hayu rahayu.
Pancaran Wibawa gunung Lawu bersinar terang. Cocok untuk meditasi sebagai sarana panuwunan. Jumbuh dengan alam mistik Kejawen.
(LM-01)

