Untuk mencegah terjadinya learning loss, diperlukan kebijakan pembelajaran yang terdiferensiasi. Anak-anak harus mendapatkan pembelajaran sesuai dengan kemampuannya (teaching at the right level), bukan lagi berdasarkan tingkatan kelasnya. Proses pemulihan ini dilakukan sampai kompetensi anak kembali, setelah itu anak baru dikembalikan ke kelas seharusnya.
”Kebijakan-kebijakan seperti ini yang seharusnya dipikirkan dan dibuat oleh Pemko Medan saat merencanakan pembukaan sekolah. Kebijakan terdiferensiasi seperti ini tidak akan jalan kalau diserahkan begitu saja kepada guru. Pemko harus menindaklanjuti kebijakan pembelajaran terdiferensiasi dengan pelatihan, pendampingan, dan monitoring berkala kepada guru secara intensif,” tegas Ketua Majelis Taklim PDI-P Kota Medan ini.
Fitriani mengkritik dinas pendidikan (disdik) kota Medan yang dinilai kurang transparan dalam mengelola PJJ (pembelajaran jarak jauh). Disdik tidak merespon masukan dari sejumlah dari tokoh dan organisasi masyarakat untuk melakukan pemetaan pembelajaran. Sampai sekarang tidak ada data yang pernah dipublikasikan disdik tentang angka partisipasi belajar selama 10 bulan ini.
”Faktanya pada Oktober lalu, seorang siswi kelas 2 SD di Medan ditemukan 8 bulan tidak mengikuti PJJ, hanya karena tidak memiliki hp android. Fakta ini ditemukan oleh media massa, bukan oleh disdik. Ini terjadi karena disdik tidak punya pemetaan,” tambahnya.
Fitriani mengatakan, disdik seharusnya bisa merangkul banyak pihak untuk melakukan pemetaan dan memperbaiki PJJ. Fitriani mengingatkan Pemko Medan untuk lebih transparan dan partisipatif dalam merencanakan pembukaan sekolah. Sebagai kota besar ke tiga di Indonesia, Medan seharusnya bisa menjadi contoh baik dalam pengelolaan PJJ. Medan bahkan bisa menjadi pioneer untuk mengantisipasi learning loss.
“Kita tidak menolak pembukaan sekolah, tetapi kita minta Pemko Medan untuk lebih akuntabel dan bisa lebih dipercaya. Pemko harus menunjukkan bahwa rencana pembukaan sekolah ini dilakukan dengan professional, berbasis data, dan melibatkan para ahli,” tutup Fitriani.
(LM-01)
