Oleh: Dr Purwadi, M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Asal Usul Tari Gambyong
Tari gambyong sesungguhnya berhubungan dengan bidang pertanian. Sajian tari gambyong dipersembahkan untuk menghormati kehadiran Dewi Sri. Dalam kepercayaan kejawen, Dewi Sri adalah bidadari yang mengayomi para petani. Dewi Sri dipercaya sebagai pengurus kemakmuran.
Cerita Dewi Sri yang dihormati oleh masyarakat Jawa dimulai ketika Ki Ageng Tarub akan menikahkan putrinya yang bernama Dewi Nawangsih. Pada waktu malam midodareni dewi Nawangwulan turun dari kahyangan. Dewi Nawangwulan adalah istri Ki Ageng Tarub yang berasal dari Karang Kawidodaren. Dewi Nawangsih menikah dengan Raden Kejawan atau Lembu Peteng putra Prabu Brawijaya V Raja Majapahit.
Dinasti kerajaan Jawa selalu memuliakan Ki Ageng Tarub. Semua keturunan raja Mataram menganggap Ki Ageng Tarub sebagai leluhur yang perlu dihormati. Letak makam leluhur Mataram ini bertempat di desa Tarub Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Pelaksanaan upacara dipimpin oleh KRT Hastono Adipuro pada tanggal 10 Januari 2012.
Dalam melaksanakan tugasnya, jurukunci ini dibantu oleh beberapa orang staf yang berfungsi untuk memperlancar jalannya upacara ritual. Masing-masing menggunakan busana Jawa: jarik, sabuk wala, cindhe, timang, beskap, blangkon, slop, samir dan lambang Radya Laksana.
Kompleks makam terdiri dari cungkup makam Ki Ageng Tarub dan RM Bondan Kejawan. Bangunannya mirip Masjid Demak. Unsur Islam dan budaya Jawa terpadu indah. Di sebelahnya terdapat kantor juru kunci. Di situ ketuanya KRT Hastono Adipuro dengan pelindung Pengageng Sasono Wilopo Kraton Surakarta Hadiningrat.
Dengan demikian makam ini tetap di bawah kekuasaan kraton Surakarta yang merupakan kelanjutan dari dinasti Mataram, Pajang, Demak dan Majapahit. Dengan demikian ritual tahunan di makam Ki Ageng Tarub ini menjadi alat ampuh untuk memperteguh asal-usul dari sebuah dinasti, sebab akan mendapat dukungan dari masyarakat tradisional.
Tempat wudhu berbentuk istimewa. Padasan ini berupa genthong. Airnya berasal dari sendang Widodari. Gapura masuk dengan pagar yang mengelilingi makam tidak terlalu tinggi, tetapi cukup indah dan asri. Dari luar bisa dilihat suasana makam. Karena pagar ini setinggi orang dewasa. Dalam kompleks makam ini tertata rapi dan bersih.
Pintu cungkup pertama adalah makam Raden Mas Bondan Kejawan. Beliau adalah cucu Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Cungkup kedua adalah makam Ki Ageng Tarub. Kedua-duanya seperti bangunan kembar. Sekilas seperti dua bangunan masjid. Di antara kedua makam itu dipisahkan sungai, airnya gemericik mengalir. Di tengah-tengahnya adalah pohon Sambi. Tingginya pohon Sambi yang rindang dan rimbun ini menambah wibawa makam.
Bagi kalangan kejawen Ki Ageng Tarub merupakan tokoh spiritual legendaris. Beliau adalah suami Dewi Nawangwulan. Seorang bidadari cantik yang amat dihormati oleh para petani. Konon Dewi Nawangwulan mampu mencegah masa paceklik, sehingga petani tetap kecukupan sandang dan pangan. Perkawinan antara Joko Tarub dengan Dewi Nawangwulan ini menurunkan Dewi Nawangsih. Dari tokoh-tokoh legendaris ini muncul nama populer yang bernama Ki Ageng Sela.
Beliau adalah tokoh sakti mandraguna yang mampu menangkap petir. Bila ada kilat dan petir yang menggelegar, maka diampirkan untuk bilang bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela. Ditanggung pasti selamat. Hanya saja, makam Ki Ageng Sela terpisah dengan jarak 5 km, sama-sama di wilayah Kabupaten Grobogan. Peninggalan rohani yang tetap lestari dari keturunan tokoh legendaris ini adalah berupa pepali atau petuah luhur.
Masyarakat Jawa mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan pepali, agar hidupnya mendapat dalam padang dan terang. Pepali ialah peninggalan Ki Ageng Sela, moyang Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram Kedua, yang dimaksudkan sebagai didikan kesusilaan, kebatinan dan keagamaan bagi keturunannya.
Ki Ageng Sela sendiri ialah cucu Raden Lembu Peteng atau Raden Bondan Kejawan, putera Prabu Brawijaya (Raja Majapahit yang terakhir) dari isterinya yang termuda, wanita dari Wandan atau Bandan (Pulau Bandaneira). Karena ibunya orang Bandan dan ayahnya orang Jawa, Raden Lembu Peteng itu bernama juga Bondan Kejawan, yang berarti keturunan orang Bandan yang menjadi orang Jawa. Dalam historiografi tradisional Bondan Kejawan mendapat posisi yang terhormat.
Peralihan kekuasaan dari Kraton Majapahit ke Kraton Demak Bintara diwarnai cerita folklor beraneka ragam. Masing-masing dengan sudut pandang serta kepentingan yang berlainan. Ki Ageng Sela hidup dalam jaman Kerajaan Demak, yang ketika itu di bawah pemerintahan Sultan Trenggana, jadi dalam abad ke 16. Kiranya ia dilahirkan di sekitar permulaan abad ke 16 atau akhir abad ke 15.
Dugaan ini berdasarkan cerita yang mengatakan bahwa pemuda Sela pernah ditolak menjadi anggota Korps Prajurit Tamtama (Pasukan Penggempur) Kerajaan Demak. Sebabnya dalam ujian untuk mengalahkan banteng, ia memalingkan kepalanya, ketika akibat pukulannya, darah yang menyembur dari kepala banteng, mengenai matanya.
Karena memalingkan kepalanya itu, ia dipandang tidak tahan melihat darah, dan karena itu tidak memenuhi syarat. Perannya dalam historiografi tradisional yaitu turut serta mendidik Joko Tingkir yang kelak menjadi Raja Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.
Ki Ageng Sela dianggap sebagai guru spiritual yang waskitha ngerti sakdurunge winarah. Kerajaan Demak Islam mulai berkembang di sekitar 1520. Maka kiranya tidak banyak salahnya, bila kelahiran Sela kita letakkan di sekitar akhir abad ke 15. Malu karena penolakan tadi, pemuda Sela berbulat tekad untuk mendirikan kerajaan sendiri. Bila cita-cita ini tidak dapat tercapai olehnya sendiri, maka ia mengharapkan keturunannyalah yang akan mencapainya.
Ia mengundurkan diri ke sebuah desa, di sebelah timur kecamatan Tawangharjo, kabupaten Purwodadi. Di sana ia hidup sebagai petani dan memperdalam pengetahuannya tentang agama, filsafat dan ilmu hidup untuk memperluas pengaruhnya kepada rakyat, yang sedang mengalami kegoncangan dalam pandangan hidupnya, akibat perebutan kekuasaan antara ajaran Hinduisme dan Islam. Lambat laun pengaruhnya berkembang, sehingga ia mendapat julukan Ki Ageng Sela.
Desa di mana Ki Ageng Sela bertempat tinggal kemudian dinamakan desa Sela juga. Maksudnya untuk mendirikan kerajaan sendiri baru dapat dilaksanakan oleh cicitnya, Sutawijaya, Ngabei Loring Pasar, yang kemudian sebagai raja pertama Kerajaan Mataram Kedua, memakai gelar Panembahan Senapati ing Ngalaga (Yang dipertuan Panglima Perang). “Serat Pepali” peninggalan Ki Ageng Sela, jelas mencerminkan peralihan jaman dalam keagamaan.
Filsafat hidup Ki Ageng Sela, sebagai juga filsafat hidup para Sembilan Wali, merupakan suatu synthese dari unsur-unsur keagamaan yang dibawa oleh agama Islam dan unsur-unsur agama Hindu. Bagaimana filsafat hidup Ki Ageng Sela, para pembaca dapat menyelami sendiri dengan membaca kitab Pepali ini. Serat Pepali Ki Ageng Sela ditulsi dalam bentuk metrum tembang macapat. Resitasi yang amat disukai oleh masyarakat Jawa.
Geneologi yang menghubungkan dengan Ki Ageng Tarub amat menguntungkan dinasti Kerajaan Jawa, untuk menumbuhkan kepatuhan dan kharisma. Ki Ageng Sela adalah yang menurunkan raja-raja Mataram, dan Susuhunan Paku Buwana XII di Surakarta Hadiningrat adalah keturunan beliau yang ke-17. Silsilahnya adalah sebagai berikut : Prabu Brawijaya V dengan Putri Wandan Kuning berputra Raden Bondan Kejawan.
Raden Bondan Kejawan dengan Rr. Nawangsih berputra : Kyai Ageng Getas Pendawa. Kyai Ageng Getas Pendawa dengan Nyai Ageng Getas Pendawa “sepuh” berputra : Kyai Ageng Sela (Kyai Ageng Ngabdulrahman ing Sesela), putra kedua. Kesaktian yang beliau miliki antara lain disadap dari salah seorang Wali Sanga yaitu Sunan Kalijaga. Setelah wafat beliau dimakamkan di desa Sela, kecamatan Tawangharjo, kabupaten Purwodadi-Grobogan Jawa Tengah.
Di waktu mudanya Ki Ageng Sela bernama Bagus Songgom dan merupakan seorang yang sakti mandraguna. Legitimasi politik tradisional sering digambarkan dengan turunnya wahyu, ndaru atau pulung. Untuk itu diperlukan sebuah ketajaman hati yang mengetahui tingkat-tingkat penghayatan spiritual. Mulai dari syariat, tarikat, hakikat dan makrifat.
Dalam khasanah kawruh Jawa dikenal dengan adanya sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Pengetahuan puncak dasar mistik meliputi ngelmu sangkan paraning dumadi, satataning panembah, rasa sejati, kawruh tuwa kadigdayan dan kanuragan menjadi syarat mutlak, agar seorang tokoh berkharisma dan disegani.
Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Sela dipercaya oleh masyarakat Jawa memiliki daya linuwih. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa Ki Ageng Sela termasuk figur yang turut mengasuh Joko Tingkir. Atas petunjuk Ki Ageng Sela pula, Joko Tingkir atau Mas Karebet bersedia mengabdi ke Kasultanan Demak Bintoro. Joko Tingkir akhirnya diambil menantu raja Demak Sultan Trenggono.
Surutnya kraton Demak, panggung kekuasaan di Tanah Jawa digantikan oleh Kasultanan Pajang. Rajanya adalah Joko Tingkir atau Mas Karebet dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Menurut Babad Tanah Jawi ayah Joko Tingkir bernama Ki Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging. Kawan-kawannya yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Banyubiru dan Ki Ageng Pringapus. Mereka adalah guru kebatinan yang handal dan mumpuni.
Keberadaan mereka amat berpengaruh di lingkungan masyarakat Jawa. Ki Kebo Kenanga adalah putra Bupati Pengging yaitu Adipati Handayaningrat, istrinya bernama Ratu Pembayun, putra Prabu Brawijaya yang sulung. Dengan demikian Joko Tingkir dan istrinya, Ratu Kambang merupakan pertemuan dua dinasti besar.
Putra Adipati Handayaningrat yang lain adalah Ki Kebo Kanigoro dan Lembu Amiluhur. Ceritera Joko Tarub adalah contoh yang tidak berbeda dengan peristiwa baik Ken Arok maupun Raden Paku. Pada suatu malam hari Nyai Ageng Tarub pergi ke tempat makam dan melihat ada benda bersinar.
Didekatilah benda tersebut, ternyata seorang bayi laki-laki yang bagus parasnya. Bayi tersebut dibawanya pulang dijadikan anaknya dan diberi nama Raden Joko Tarub. Ialah yang kemudian dapat memperisteri seorang bidadari bernama Dewi Nawangsih. Puteri ini kelak menjadi isteri Lembu Peteng atau Bondan Kejawan seorang putera raja Brawijaya yang dititipkan pada Ki Ageng Tarub. Joko Tarub yang kemudian juga bernama Ki Ageng Tarub.
Busana tari gambyong menggunakan nyamping atau jarik dengan motif Sidomulyo. Harapannya paska pementasan tari gambyong mendapatkan kemuliaan. Busana dilengkapi dengan kemben pinjung, sanggul, selendang. Tak ketinggalan cunduk mentul, stagen, giwang. Kesempurnaan tari gambyong juga direnggani dengan untaian bunga melati, sehingga kanan kiri semerbak harum.
B. Tari Gambyong Tayub untuk Menghormati Dewi Sri
Peranan penari gambyong amat menentukan dalam sejarah berdirinya kerajaan di Jawa. Ambil contoh kerajaan Pajang yang berdiri tahun 1456 dimulai dengan pementasa tari gambyong. Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Pringapus, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Karanglo mendapat penghormatan untuk ngibing dengan kalung sampur.
Putri Panembahan Senapati raja Mataram yang memerintah tahun 1582 – 1601 adalah penari gambyong istana. Demi keselamatan kerajaan Mataram Putri Pembayun rela mbarang keliling dari desa ke desa. Ritual tari gambyong ini mendapat pengawalan dari Ki Ageng Juru Mertani.
Kraton Pajang dan Mataram menghormati adat istiadat warisan nenek moyang. Masyarakat Jawa terutama petani yang tinggal di pedesaan amat menghormati Dewi Sri yang menjadi lambang kesuburan. Tari gambyong tayub dipercaya sebagai sarana untuk menghormati Dewi Sri. Dalam kebudayaan Jawa, Dewi Sri dipercaya dapat mendatangkan kesuburan dan kemakmuran.
Penari tayub menempati posisi penting dan mendapat pelatihan khusus sebelum mereka pentas. Kledhek adalah seniwati asal tanah Jawa yang bertugas menari dan menyanyi saat penyelenggaraan pentas seni beksa langen tayub. Masyarakat Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Kebumen menyebut kledhek dengan istilah Ronggeng.
Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo memberi nama Lengger. Orang Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo mengenal dengan sebutan Ledhek. Nama Tandhak populer di wilayah Jombang, Mojokerto, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Kledhek mempunyai sinonim dengan ledhek, ronggeng, lengger dan tandhak.
Upacara nyadran, bersih desa, sepasaran bayi, pernikahan, tetakan, merti dhusun, merti bumi, slup-slupan rumah, panen, wiwit dan boyongan selalu mengundang kledhek untuk berjoged. Kehadiran kledhek demi laku ritual yang dapat menolak bala, bebas dari bencana dan rintangan hidup. Semua slamet wilujeng, tenteram lahir batin.
Oleh karena itu penyelenggaraan seni tayub itu harus mengikuti kaidah, norma, pakem, tradisi, adat-istiadat aturan yang baku. Ketentuan ini telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam tata cara langen tayub, kledhek mendapat gelar kehormatan waranggana.
Kata waranggana berasal dari bahasa Sansekerta yaitu wara dan anggana. Wara berarti wanita yang mulia, agung dan anggun. Sedangkan anggana mempunyai makna indah, adi luhung dan edi peni. Dalam pandangan masyarakat Jawa seorang kledhek, pesindhen atau warang-gana sungguh-sungguh diperlukan, disegani, dihormati, dimuliakan, dielu-elukan dan kajen keringan. Kledhek menjadi sumber kemakmuran.
Pertunjukan Tari Masih erat terkait dengan kepercayaan. Bagi para petani yang rajin menanam padi di sawah tentu meyakini kledhek sebagai kekasih Dewi Sri. Kepercayaan Jawa bahwa Dewi Sri merupakan widodari yang mengurusi pangan. Pari bisa tumbuh subur manakala diemong oleh Dewi Sri.
Perlindungan, pengayoman serta perhatian Dewi Sri pada petani menyebabkan pangan berlimpah ruah. Murah sandang, pangan dan papan menjadi cita-cita utama para among tani. Sembada dan sempulur kehidupan itu manakala tersedianya sandang, pangan, papan. Para kadang among tani begitu tinggi harapannya pada Dewi Sri.
Kadang tani mengerti cara menghormati Dewi Sri, yaitu dengan nanggap kledhek. Tiap kali kledhek njoged di rumahnya, berarti tanah sawahnya subur. Gerak tari kledhek menjadi pupuk, rabuk dan humus. Alunan suara kledhek menyebabkan tegalan gembur. Tanduranijo royo-royo memberikan harapan datangnya rejeki yang berlipat ganda. Seolah-olah kledhek penyambung hubungan antara Dewi Sri dengan para tani di sawah.
Dewi Sri sebagai istri Bathara Wisnu menjelma di Tanah Jawa memang menjadi penyelaras kehidupan. Dalam cerita pewayangan Dewi Sri pernah nitis pada Dewi Citrawati, permaisuri Prabu Harjuna Sasrabahu raja di kraton Mahespati. Kemudian nitis pada diri Dewi Sinta, permaisuri Prabu Rama Wijaya, raja Pancawati. Lantas nitis pada diri Dewi Wara Sembadra, istri Raden Arjuna di Kasatriyan Madukara.
