Dia gemar belajar tekun dan bekerja keras, dengan dilambari prinsip ngelmu laku, lara lapa, tapa brata dan cegah dhahar lawan guling. Sebuah asketisme keagamaan yang intinya mengutamakan keselarasan pikir dan dzikir, dengan mengurangi kenikmatan jasmaniah.
Pada masa pemerintahan Kraton Pajang mulai terjadi intrik-intrik politik antar berbagai kekuatan yang ingin berkuasa, Joko Tingkir berusaha untuk mendidik putra-putrinya agar selalu menekuni ilmu pengetahuan dan keagamaan. Dalam hal suksesi kepemimpinan, Joko Tingkir lebih mengedepankan asas meritokrasi, demokrasi, kredibilitas dan kapabilitas seseorang.
Bahkan Joko Tingkir dapat mengarahkan putra sulungnya yang bernama Pangeran Benowo untuk menjadi ulama besar. Gagasan Pangeran Benowo ini pula yang menjadi cikal bakal tradisi pendidikan pesantren di Jawa.
C. Lakon Damarwulan Ngenger
1. Adegan Ratu Kencana Wungu
Ratu Ayu atau Dewi Kencana Wungu sedang dihadap oleh para pemuka Majapahit. Yang paling dekat dengan sri baginda ialah Patih Dalam Dewi Rarasati, dan Patih Luar Logender. Yang dibica¬rakan ialah masalah peperangan yang terjadi antara Majapahit dengan Blambangan. Sudah agak lama tidak ada beritanya. Dewi Rarasati menduga bahwa pasukan Majapahit berhasil mengatasi musuh.
Alasannya, jika pasukan Majapahit terdesak tentu telah ada utusan ke Majapahit menyampaikan laporan atau minta bantuan. Tiba-tiba datanglah Layangseta dan Layangkumitir dari medan perang. Kedua anak Patih Logender itu bukannya turut bertem¬pur, melainkan hanya sebagai pengawas belaka. Kedua satria itu melaporkan bahwa dalam medan pertempuran di Prabalingga telah terjadi pertempuran sengit.
Adipati Kediri dan Adipati Tuban telah gugur di medan perang melawan Urubisma. Berita tersebut tentu saja sangat mengejutkan, dan sekaligus membuat Dewi Rarasati sangat sedih karena ayahnya, yakni Adipati Ranggalawe dan Tuban telah gugur pula dalam peperangan.
Dewi Rarasati hampir-hampir tidak dapat menahan kesedihan¬nya, dan berniat masuk ke dalam api tumangan. Untunglah setelah dinasihati oleh Dewi Kencana Wungu hati Dewi Rarasati menjadi tenang dan akhirnya pasrah atas segala ketentuan Yang Maha¬agung.
Negara Majapahit sudah kehilangan semua pahlawannya yang dapat dipercaya membela negara. Dewi Kencana Wungu sangat bingung dan prihatin, lebih-lebih jika melihat Dewi Rarasati, yang sangat dicintainya. Siapa gerangan yang bisa mengemban tugas mempertahankan negara Majapahit dan sekaligus menghancurkan Menakjingga?
Dewi Kencana Wungu memutuskan untuk mengada¬kan sayembara. Tak perduli orang hina dina, cacat ataupun orang yang teramat pelit, asal saja mampu mempertahankan negara Majapahit dan menghancurkan Menakjingga, maka orang itu akan dinobatkan menjadi raja menduduki takhta Majapahit.
Sehabis mengucapkan sayembara dan memberi perintah kepada Patih Logender untuk menyebarluaskan sayembara itu, Dewi Kencanawungu masih membicarakan gugurnya Adipati Ranggalawe Tuban dengan Dewi Rarasati.
Selanjutnya Dewi Kencana Wungu akan berusaha memohon pertolongan dewata, dengan harapan akan datangnya sarana yang dapat menghindarkan keruntuhan kerajaan Majapahit. Ratu Ayu atau Dewi Kencana Wungu lalu masuk ke dalam sanggarnya untuk bersamadi.
2. Patih Logender Menyebarluaskan Sayembara
Di paseban luar Patih Logender, Tumenggung Arya Sisimping, Raden Layangseta, Raden Layangkumitir, Tumenggung Arya Tiron, Tumenggung Menak Giyanti, Tumenggung Rangga Minangsraya tengah membicarakan sayembara yang baru saja diucapkan oleh Ratu Ayu Dewi Kencana Wungu.
Layangseta Layangkumitir menyatakan kesanggupannya membunuh Prabu Urubisma. Kemudian sayembara itu diumumkan dan disebarluaskan kepada seluruh bala tentara Majapahit. Sedangkan diantara para punggawa tidak seorang pun menyatakan kesanggupannya.
Dalam pada itu Dewi Kencana Wungu mengutus seorang parekan ke paseban luar untuk memberi tahu Patih Logender bahwa Sri Ratu berkehendak memanggil istri Adipati Ranggalawe beserta para putranya supaya berkumpul di Majapahit. Parekan berangkat ke Tuban dikawal oleh Tumenggung Menak Giyanti, dan Tumenggung Rangga Minangsraya.
3. Damarwulan Berperang Dengan Layangseta Layangkumitir
Sudah beberapa waktu lamanya Damarwulan, putra Patih Mandura yang digantikan oleh Logender, mengabdi ke Kepatihan Majapahit. Oleh pamannya, Damarwulan diberi tugas menjaga gapura, mengawasi orang yang keluar masuk ke Kepatihan, dan mengurus taman. Adanya Damarwulan di Kepatihan belum diketahui oleh Layangseta Layangkumitir, demikian pula sebaliknya Damarwulan pun belum mengenal kedua putra Patih Logender itu.
Mereka baru saling mengenal setelah terjadi perkelahian antara mereka karena kesombongan Layangseta Layangkumitir. Kedua putra Patih Logender itu ternyata tidak mampu melawan kekuatan Damarwulan. Mereka lalu menggunakan senjata keris. Akan tetapi keris pun tak dapat melukai Damarwulan. Perkelahian itu berakhir dengan keluarnya Patih Logender yang memperkenalkan satu sama lain.
Sejak saat itu tugas Damarwulan tidak lagi di gapura dan sebagai juru taman, melainkan menjadi pemelihara kuda dan penyabit rumput. Pakaiannya yang bagus diganti dengan pakaian penyabit rumput. Tinggalnya juga di kandang kuda bersama dengan dua orang abdinya, Sabdapalon dan Nayagenggong. Keadaan Damarwulan sangat menyedihkan. Ia sangat prihatin. Untunglah kedua orang abdinya selalu menghiburnya.
4. Gugurnya Adipati Ranggalawe
Istri Adipati Tuban Dyah Banowati dihadap oleh ketiga pu¬tranya ialah Dewi Sekati, Raden Buntaran, dan Raden Watangan. Mereka juga sedang membicarakan perang yang terjadi antara Majapahit dan Blambangan. Menurut dugaan mereka Adipati Menakjingga pasti dapat dikalahkan oleh junjungan mereka Adi¬pati Ranggalawe. Bahkan mereka sudah membayang-bayangkan apa yang akan diminta jika ayahnya pulang dengan membawa ke¬menangan.
Pembicaraan mereka belum selesai ketika tiba-tiba abdi pemba¬wa payung Wangsapati datang sambil memegangi lukanya. Wangsa¬pati membawa kabar tentang tewasnya Adipati Ranggalawe dalam peperangan melawan Prabu Urubisma. Setelah selesai melapor, Wangsapati jatuh terkulai, mati di hadapan Dyah Banowati. Seke¬tika Kadipaten Tuban hujan tangis.
Melihat kesedihan ibunya serta kakaknya, Raden Buntaran dan Watangan mohon diri pergi ke medan perang untuk menuntut balas. Kedua putra Adipati Tuban itu sudah tidak dapat dicegah lagi. Melihat kedua putranya berangkat, Dyah Banowati ingin mengikutinya ke medan perang. Akan tetapi tiba-tiba datanglah utusan dan Majapahit yang terdiri dari Nyai Lurah Sepetmadu Nyai Lurah Wilaja, Rangga Minangsraya, dan. Menak Giyanti.
Atas saran Nyai Lurah Sepetmadu, Tumenggung Rangga Minangsraya dan Menak Giyanti diperintahkan menyusul dan menghalang-halangi kepergian Raden Watangan dan Buntaran ke medan perang. Namun usaha mereka tidak berhasil. Kedua tumenggung terpaksa mengiringkan kedua satria Tuban ke medan perang
5. Buntaran Dan Watangan Berhadapan Dengan Angkatbuta Ongkotbuta
Raden Buntaran dan Watangan yang bermaksud menyerang Probolinggo, ketika tiba di Pasuruhan terhalang oleh barisan Patih Angkatbuta Ongkotbuta. Tak ada pilihan lain bagi kedua satria Tuban itu kecuali menggempur musuh yang menghalangi perjalanannya. Raden Watangan dan Buntaran mengamuk dengan gagah berani.
Banyak satria Blambangan yang terbunuh, antara lain Menak Wirubraja, Basukenta, Brajapati, Linduparang, Linduwulung, Bimakendra dan Destapati. Baratkatiga yang mencoba menghalang-halangi amukan Raden Watangan juga tidak berhasil. Ia terpaksa lari menyelamatkan diri.
Patih Angkatbuta yang melihat bala tentaranya porak poranda segera maju ke medan perang. Mula-mula ia berhadapan dengan Raden Watangan, yang dapat ditangkapnya hidup-hidup. Raden Buntaran pun akhirnya dapat ditawan oleh Patih Angkatbuta. Pengiring setia Raden Buntaran dan Watangan, yakni Demang Ga¬tul sengaja menyerah agar dapat terus mendampingi kedua tuan¬nya. Ketiga tawanan itu kemudian dibawa ke Probolinggo. Semen¬tara itu Rangga Minangsraya beserta beberapa orang pengiringnya segera meninggalkan medan pertempuran dan kembali Majapahit.
6. Raden Watangan Dan Buntaran Di Penjara
Di Kadipaten Probolinggo Prabu Urubisma sedang mabuk kepayang karena rindunya kepada Ratu Ayu Kencana Wungu. Prabu Urubisma tidak sadar bahwa pada waktu itu ia sedang di hadap oleh para raja dan punggawa. Setelah sadar mereka merencanakan untuk segera langsung menyerang ibukota Majapahit.
Tiba-tiba datanglah utusan Patih Angkatbuta, yakni Udanprahara dan Baratkatiga membawa tiga orang tawanan perang. Di hadapan Prabu Urubisma kedua satria Tuban menantang minta dibunuh saja agar segera dapat menyusul mendiang ayahnya yang telah gugur di medan perang.
Akan tetapi Prabu Urubisma memutuskan lain. Raden Buntaran, Raden Watangan dan Demang Gacul dimasukkan ke dalam penjara besi yang terletak di lereng Gunung Semeru.
7. Damarwulan Menjadi Penyabit Rumput
Raden Damarwulan yang mendapat tugas sebagai pemelihara kuda dan sekaligus sebagai penyabit rumput, pada suatu hari sedang berada di tengah-tengah hutan duduk di bawah pohon dihadap kedua punakawannya Sabdapalon dan Nayagenggoni Mereka kebingungan mencari rumput karena hutannya telah banyak yang dibakar sehingga rumputnya menjadi kering. Akhirnya mereka sepakat untuk pulang saja, dengan harapan di tengah perjalanan dapat memperoleh rumput.
Di sepanjang jalan Damarwulan selalu menjadi perhatian orang-orang perempuan yang sangat terpesona melihat ketampanannya. Bahkan ada di antara orang perempuan itu yang mencoba menggodanya. Namun Damarwulan tak mau melayaninya. Sementara itu ada dua orang bekas abdi Ki Patih Maudara yang telah menjai pedagang.
Teringat akan kebaikan Patih Maudara semasa hidupnya, kedua pedagang yang bernama Biyang Parunjang dan Puspalaya ingin sekali membalas kebajikan tuannya. Kebetulan mereka berpapasan dengan Raden Damarwulan. Dengan takjimnya mereka mendekat.
Dalam pembicaraan yang terjadi Damarwulan hanya minta bantuan agar kedua bekas abdi ayahnya itu menyumbang rumput setiap harinya untuk kuda-kuda milik Ki Patih Logender. Biyang Parunjang dan Puspalaya menyatakan kesanggupannya.
8. Dewi Anjasmara Bertemu Dengan Damarwulan
Dewi Anjasmara adalah putra bungsu Patih Logender. Cantik dan baik hati. Berbeda dengan ayah dan kedua kakaknya, Anjas¬mara sangat kasihan melihat Damarwulan. Di hati Anjasmara sudah tumbuh perasaan cinta terhadap Damarwulan. Bahkan ia bertekad lebih baik mati jika tidak dapat bersanding dengan Damarwulan.
Sementara itu Raden Damarwulan dengan kedua panakawannya sedang memperbincangkan nasib mereka, terutama nasib Damarwulan. Walaupun demikian kedua panakawannya mengingatkan Damarwulan akan pesan eyangnya di Paluamba agar Damarwulan tetap tabah menghadapi segala keadaan dan penderitaan yang sedang dialaminya.
Tengah mereka berbincang-bincang tampak oleh mereka Anjasmara dengan dua orang emban datang. Damarwulan kebingungan menanggapinya. Lalu atas nasihat kedua panakawannya ia bersemadi mengungsikan diri dan mohon perlindungan dewa. Ia sudah seperti mati. Akan tetapi karena terus-menerus dibangunkan oleh Anjasmara akhirnya Damarwulan kembali sadar.
Damarwulan dan Anjasmara sudah berjanji sehidup semati, lalu mereka meninggalkan istal kuda pindah ke dalam taman diiringkan oleh para emban dan panakawan. Kemudian kedua remaja itu berkasih-kasihan. Hal itu akhirnya diketahui oleh Layangseta Layangkumitir. Layangseta Layangkumitir menyerang Damarwulan tetapi selalu dihalang-halangi oleh Anjasmara.
Anjasmara ditikam, akan tetapi tidak mempan. Kemudian Damarwulan turun tangan melawan Layangseta Layangkumitir dan ternyata keduanya tidak mampu melawan Damarwulan. Layangseta Layangkumitir lalu lapor kepada ayahnya. Dewi Anjasmara dan Raden Damarwulan akhirnya dipenjara.
Pentas kethoprak terjadi pada tanggal 28 Juni 1987. Siswa SMP Negeri Rejoso I Kabupaten Nganjuk memberi hiburan kepada masyarakat dengan mengambil tokoh kerajaan. Pementasan Kethoprak yang dilakukan oleh siswa siswi ini cukup memberi rasa kebanggaan. Oleh karena di sana terdapat kolaborasi seni antara iringan gamelan, olah vokal sindenan, tata busana dan gladhen akting. Sajian ini bisa ditiru oleh artis kethoprak generasi selanjutnya.
Kethoprak juga dipentaskan pada tanggal 2 Mei 2019 di aula RRI Semarang. Turut menjadi pemain yakni Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah. Lakonnya bersumber dari kisah Wali Sanga pada masa Kasultanan Demak Bintoro. Pentas kethoprak kali ini melibatkan banyak unsur seniman yang terdiri dari mahasiswa, praktisi, LSM, dan pegiat budaya. Ternyata kethoprak masih digemari oleh masyarakat.
Pementasan seni kethoprak perlu dukungan masyarakat dan pemerintah. Gedung, kostum, literatur, manajemen, peralatan serta personil memerlukan perhatian yang seksama. Pembinaan kethoprak yang bermutu diharapkan bisa memberi hiburan pada masyarakat. Unsur pendidikan dan hiburan diselipkan dalam pentas kethoprak secara seimbang.
(LM-01)
