Sejarah Dewi Sri Sebagai Widodari Kemakmuran Negeri

Semua Widhadari merasakan kebenaran kata-kata Sri itu. Ada seorang Widhadari yang bernama Dewi Nariti, membisiki Dewi Sri bahwa oleh karena anak perempuan Kyai Wrigu tersebut sebagai penjelmaan Tiksnawati, maka besarlah gangguannya, dan sebab cara penjelmaannya tanpa memberi tahu hingga menjadikan murka Hyang Giri.

Jawab Dewi Sri, ”Hyang Jagadnata sesungguhnya bersifat kasih lagi pemurah, juga berkuasa-wenang menghukum, namun demikian tiada suka menyiksa seluruh umat yang tanpa dosa. Apa guna bermurah hari jika tidak disertai kasih sayang? Perilaku penguasa macam apa jika tega memperkosa hukum karena kekuasaannya, atau menganiaya? Kalau Hyang Guru demikian itu, ialah bersifat dengki, pastilah umatnya tidak menentu, hina, dan kacau.” Karena luhurnya sabda Sri tersebut, para Widhadarya pun segera tak kelihatan. Tan kasat mripat.

C. Pecut Naga Serang.

Kraton Surakarta yang berdiri sejak tahun 1745 selalu menjalankan adat. Sepeninggal Widadara, Kyai Wrigu dan istrinya berniat membersihkan tempat ular. Pada waktu membuka semir tirai, alangkah terkejuit hatinya karena ular telah lenyap, yang ada seorang putri teramat elok parasnya. Kata wrigu sekalian, ”Dewi Sri sudah terlepas dari purwa madya wasana.” Wrigu sungguh-sungguh gembira hatinya dan berbicara banyak, juga ingin sekali menyediakan jamuan. Sri tidak bersedia dan hanya minta kinang ayu serta kembang, pisang ayu dan pedupaan.

Segera para Widdhadarya turun menemui Sri untuk menyampaikan berita. “Hyang Daruna dan adik perempuanya Hyang Daruni, telah berbuat senonoh di Kahyangan, berbuat zina. Keduanya saat ini diusir turun ke dunia. Hyang Daruna menitis kepada anak Ki Subandha yang baru saja lahir, sedang Dewi Daruni menjelma menjadi anak Kyai Wrigu si Raketan sebagai pengganti Dewi Tiksnawati.

Kelak jika sudah dewasa, oleh kehendak Dewa, keduanya akan menjadi padangan jodoh. Nantinya akan mempunyai anak perempuan yang akan menjadi istri seorang raja di Wiratha serta akan menurunkan raja-rajanya serta menyatakan siap menjalani perintah Hyang Manon. Untuk itu ia minta dijemut oleh pedhati sinang pedati yang bersinar yang ditarik oleh Lembu Gumarang dan cambuknya Naga Serang.

Para widadari segera menghilang dan sesampai di hadapan Sang Hyang Guru segera menyampaikan permohonan Dewi Sri ke hadapan Hyang Guru. Sepeninggal para bidadari, Wrigu sekalian mempersembahkan sirih dan pedupaan ke hadapan Dwi Sri. Sementara sedang makan sirih, Ki Wrigu berkata pelan, ”Raketan kini badannya panas.”

Sri menjawab, ”Hal itu karena perbawa dari penjelmaan yang berganti, karena sebelumnya bukan tempatnya. Tiksnawati diganti Dyah Daruni, sedang Tiksnawati kini sedang berada di sisiku.” Kyai Wrigu dan Niken Sangki setelah menyaksikan menjadi terheran-heran, ternganga-terbeliak demi dilihatnya Sri kembar tiada berbeda. Sri berkata, ”Jilatlah dengan segera ubun-ubun anakmu si genduk, begitu pula pusar, telapak tangan, dan telapak kakinya, masing-masing tiga kali dari arah kiri mulainya.

Cara menjilati anakmu dengan telanjang bulat, tentu anakmu akan menjadi utama. Kalau anakmu sedang tidur, nasehatku jangan sekali-kali dicium. Lagi pula, sebelum selesai pergantian giginya jangan sekali-kali mencubit pipinya. Demikian juga Wrigu, jangan kau membandingkan dengan anak yang sudah meninggal dunia, cara itu tidak baik.

Tidak ada buruknya jika nasehat ini kau jalani agar anak itu selamat dan kekalah kau dalam merawatnya. Kuberitahu sesungguhnya, bahwa kelak anakmu itu ikut menurunkan raja-raja di tanah Jawa melebihi yang lain.

Wrigu-l Sangki amat bersyukur dan berterima kasih, lalu berpamitan keluar dan kemudian menjilati anaknya hingga sembuh dan berbinar. Tiada lama kemudian, para bidadari datang dengan kesiapan jemputan seperti permintaan sang Sri.

Sri dan Tiksnawati cepat naik diiringi para bidadari, berikutnya lalu terbang dengan pedati. Si Wrigu-Sangki memasuki senthong Patanen Kamar tengah, tampak sepi dan kosong. Sungguh sedih hatinya, namun akhirnya dapat menerima keadaan itu bahwa semuanya merupakan kehendak Dewa Adi.

Itulah awal penyebab kenapa hingga sekarang masih dipertahankan oleh para orang yang memperhatikan: bahwa lumbung, lesung, padaringan, patanen, serta semua pintu, setiap malam Jumat diberi sesaji kembang dan konyoh bedak basah, serta didupai. Demikian pula patanen dipasangi bantal kepala yang bagus yang disebut pasren ruang yang dihias, dan ditutup dengan kelambu; disajikan pula lantyingan kendi berisi air diletakkan di atas bokor.

Sebelum petani menuai padi, bersesaji lebih dahulu dengan rupa kembang boreh wangi, pisang-sirih segar, tikar baru dan kain putih, dengan harapan agar Sri datang berkunjung. Awal mula masakan untuk sesaji lahirnya jabang bayi adalah sayur menir, pecel santen pitik. Paripurna sudah cerita tentang Sang Dewi Sri, yang diyakini sebagai widodari kesuburan.

Kerajaan Mataram yang berdiri pada tahun 1582 sesungguhnya manifestasi dari negara agraris. Demi menghormati Dewi Sri para raja Mataram selalu menyelenggarakan upacara pertanian. Raja menjadi pengayom bagi petani melalui kegiatan ritual magis.

D. Sajen Dan Pancen

Sesaji bagi Dewi Sri dilakukan oleh para petani menjelang panen. Mereka bersuka ria dengan menanggap langen tayub gambyong. Misalnya pada tanggal 15 Oktober 2016. Tempatnya di desa Mojorembun Rejoso Nganjuk. Pukul 18.30 kledhek tiba di tempat tanggapan. Utusan tuan rumah menjemput kledhek dari Ngrajek. Antara penjemput dengan kledhek terjalin hubungan yang akrab. Keduanya ibarat saudara yang saling membutuhkan.

Kledhek merasa lancar, terbantu dan tidak usah susah-susah mencari alamat yang dituju. Sementara penjemput diberi uang lelah untuk sekedar sangu, jajan, bensin. Terlebih-lebih mendapat rasa dipakai dan dihormati, maka hatinya pun senang. Tukang jemput tadi dianggap penting dan pasti kledheknya cocok. Profesi penjemput ini kerap dinamakan juru parak.

Fungsi juru parak bisa dobel. Tugasnya antar jemput sekaligus promosi serta marketing bagi tayuban. Juru parak tentu punya tugas luar yang meliputi sewa tenda, alat pesta, meja kursi, gamelan, wiyaga dan kledhek. Dengan menggunakan jasa juru parak biaya dapat ditekan, urusan lancar, tidak ada masalah yang rumit. Dalam pentas tayuban mirip majelis informal. Sentuhan hati dan jaringan sosial juru parak telah menolong orang banyak.

Kedatangan kledhek di tempat tuan rumah disambut dengan suka cita. Peniti atau asisten pertunjukan gegap gempita menyalami kledhek. Tas dibawakan, apa saja keperluan kledhek dilayani sebaik-baiknya. Tuan rumah mengajak ramah tamah sebentar. Diajak makan minum seperlunya. Kamar atau senthong sudah disediakan. Di sana dilengkapi sajen dan pancen. Tak ketinggalan dupa kumelun, kemenyan wangi, garu, ratus, rasamala.

Senthong atau kamar kledhek bernilai mistis, magis. Juru peniti serta juru parak terlebih dulu diajak mengheningkan cipta, nenuwun, yoga, semedi. Tujuannya supaya perhelatan lancar, tidak ada halangan apapun. Waranggana, kledhek, tandhak, ronggeng, lengger, punya mantra sakti yang telah diajarkan guru.

Rutinitas ritual selesai. Tas dan semua perlengkapan segera dibuka. Ruangan itu menjadi serba wangi, terbuka, ramah, semua orang boleh masuk. Tidak ada larangan asal tenang dan tidak membuat onar. Anak-anak muda dengan tertib ikut berpartisipasi.

Sebagian ikut miru jarik, menata kancing, benik, turut pula menjaga hiasan, gelang, kalung, ali-ali, suweng. Para pandhemen tayub kelihatan akrab dengan kledhek. Terbukti komunikasi antar mereka berjalan lancar. Bermacam-macam yang dibicarakan mulai dari keluarga sampai jadwal pentas.

Senthong atau kamar kledhek pusat perhatian tersendiri. Hilir mudik orang berdatangan. Sambil ngemil, mencicipi hidangan yang tersedia, para relawan ini siap diperintah kledhek. Mengembalikan gelung, selendang, sampur. Semua dilakukan demi lancarnya pertunjukan.

Terlebih juru peniti dan juru parak, apa saja perintah kledhek merupakan tindakan yang harus dilaksanakan. Pelayanan yang prima mesti ada imbalan. Juru peniti dan juru parak tentu diciprati, diberi sangu oleh kledhek. Rembesan ekonomi yang cukup lumayan.

Kledhek macak, dandan, berhias selama 1,5 jam, barangkali menjadi panggung tersendiri. Orang-orang tertarik untuk mendatangi, membantu dan belajar dalam hal ngadi salira ngadi busana. Bagaimana berbusana yang indah dan mempercantik diri yang bisa mempesona.

Pelan tapi pasti, setelah dandan lengkap kledhek pasti memancarkan aura pribadi yang berkilauan. Semua mata akan menatap diri kledhek dengan penuh takjub. Jalan kaki, lekuk tubuh, senyum simpul, sanggul gelungan serba memikat. Ditambah lagi kemampuan para kledhek yang berkomunikasi secara alami.

Sudah sewajarnya petani dan orang desa akrab dengan kledhek. Penari tayub ini memastikan diri bahwa kledhek menjadi sahabat para petani. Meskipun dandanannya serba cantik, tapi semua dipersembahkan buat konsumen.

Petani dan orang desa dengan segala tradisi, adat, tata cara, budaya adalah konsumen seni tayub. Hidup mati kledhek tergantung tanggapan para petani. Selama ini yang bisa menghargai dan menghidupi kledhek adalah petani. Terjalin simbiosis mutualisme antara kledhek dengan petani pedesaan.

Sajen, pancen, dupa, ratus, rasamala, kembang, kemenyan, yang digunakan untuk ritual tayuban mirip benar dengan prosesi bercocok tanam. Keduanya ibarat suruh lumah lan kurepe,yen didulu seje rupane, yen digigit tunggal rasane. Selembar sirih memang atas bawahnya tampak berbeda. Tetapi kalau dikunyah sama rasanya. Kledhek dan petani merupakan satu kesatuan dalam melengkapi peradaban.

Waranggana, kledhek, tandhak, ronggeng, lengger melakukan profesi tayub dengan penuh kebanggaan, kerelaan, kesungguhan lahir batin. Petani sebagai produsen pangan, padi, jagung, ketela, kedelai, brambang, sayur mayur, terong, bayem, kangkung, lombok, mempunyai kelebihan penghasil.

Wajib bagi petani untuk nanggap kledhek. Upah dari petani diberikan kledhek untuk bekal hidup. Hubungan tersebut berlangsung berabad-abad. Keluarga petani merasa terhibur, nyaman, aman atas jasa kesenian yang diberikan kledhek tayub.

Hubungan kledhek dengan petani berdasarkan kerelaan dan kenyataan sejarah. Betapa sedihnya hati petani bila tak ada kesempatan ngibing, njoged, mbeksa, menari. Setelah bekerja keras di sawah, berada di bawah terik matahari yang panas, para petani membutuhkan hiburan.

Tentu saja hiburan itu harus benar-benar sesuai dengan kehendak nurani petani. Banyak kesenian yang ada, tetapi hanya sedikit yang cocok dengan selera petani. Tayuban dianggap mendarah mendaging, satu jiwa, satu rasa. Keberadaan tayub dengan segala pernak-pernik adalah fakta kultural, fakta sosial, fakta ritual dan fakta spiritual.

Pertanian sangat memerlukan keseimbangan. Alam petani sejiwa dengan alam tayuban. Tanya tayub, kledhek, niyaga, kehidupan petani menjadi gersang, tandus, kering, hampa, kosong dan tidak menarik. Petani krasan bekerja di sawah karena ada kledhek yang menjaga adat istiadat, tradisi dan budaya pertanian. Keberadaan petani dengan sejarah Dewi Sri adalah soko guru ekonomi masyarakat nusantara.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *