B. Ki Ageng Tarub Mantu Menikahkan Dewi Nawangsih dengan Raden Bodan Kejawan Putra Prabu Brawijaya V
Kerajaan Majapahit besar dan berwibawa. Pada waktu itu kerajaan Majapahit diperintah oleh Sinuwun Prabu Brawijaya V. Setelah ditinggal istrinya wafat, sang raja sakit dan tidak mau menduduki kursi kerajaan. Suatu malam beliau bermimpi bila ingin sakitnya sembuh, harus mengawini Putri Wiring Kuning, putri Prabu Selasuwela dari negeri Purwacarita.
Tidak begitu lama pernikahannya dengan Dewi Wiring Kuning sudah ada tanda-tanda bahwa istrinya telah hamil. Beberapa waktu kemudian setelah waktunya tiba lahirlah si ponang jabang bayi. Kemudian Sang Prabu memanggil Resi Dana Pratapa untuk memelihara dan mengasuh bayi tersebut. Bayi yang diserahkan Sinuwun Prabu Brawijaya V kepada Resi Dana Pratapa adalah laki-laki diberi nama Bondan Kejawan. Di masa kanak-kanak Bondan Kejawan tahu bahwa ayah asuhnya akan membayar pajak ke kerajaan.
Tidak begitu lama kejadian itu kemudian datanglah Dana Pratapa dengan membawa padi untuk membayar pajak. Selesai membayar pajak dia menghadap raja dan menanyakan anak kecil yang membunyikan bende kerajaan. Diberitahukan pada sang raja bahwa putra sang raja sendiri. Raja Brawijaya V memanggil anak kecil itu sambil membawa kaca untuk melihat wajahnya sendiri ternyata mirip dengan wajah anak tersebut. Selanjutnya Resi Dana Pratapa disuruh sang raja untuk mengantarkan ingkang putra kepada saudaranya yaitu Ki Ageng Tarub agar ingkang putra diasuh dan dididik agama Islam.
Dengan pendidikan ilmu agama dan budi pekerti dari Ki Ageng Tarub, Bondan Kejawan tumbuh sebagai anak dewasa yang menguasai banyak hal termasuk ajaran agama Islam. Dengan tingkah laku yang baik, pengetahuan yang luas serta kepribadian yang matang, timbullah niat Bondan Kejawan untuk berumah tangga. Kemudian Bondan Kejawan dijodohkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih. Oleh Ki Ageng Tarub, Bondan Kejawan disuruh untuk melanjutkan perjuangannya. Para leluhur Mataram itu sungguh berjasa membangun peradaban agung.
Tata cara adat istiadat pernikahan Jawa sesungguhnya tradisi yang diwariskan oleh Ki Ageng Tarub. Beliau adalah leluhur Kraton Mataram yang meninggalkan wejangan wedharan dan wulangan bagi sekalian masyarakat Jawa. Pernikahan menjadi sarana untuk melestarikan wiji sejati. Konsep bibit bebet bobot terkait dengan asal-usul, prestasi dan kualitas diri.
Oleh karena itu pernikahan merupakan peristiwa kultural yang amat sakral. Dalam Babab Ila-ila yang disusun oleh Ki Ageng Tarub pada tahun 1521 memberi deskripsi tentang ilmu laku, jangka jangkah, kudrat wiradat yang berhubungan dengan tata bale wisma. Membangun bahtera rumah tangga mesti berlandas-kan paugeran turun temurun.
Doa puji pangastuti Ki Ageng Tarub saat menikahkan Dewi Nawangsih dengan Raden Bondhan Kejawan mbabar trah kusuma rembesing madu. Artinya mereka melahirkan generasi unggul, agung, anggun. Dalam sejarah peradaban Jawa mereka mampu tampil sebagai insan ber budi bawa laksana, yang berjiwa besar bijak bestari. Sebagai sarjana martapi, cendekia-wan ulung tampillah Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Penjawi, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Peng-ging, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Banyubiru.
Pendidikan humaniora yang ditaburkan para murid Ki Ageng Tarub memberi pencerahan buat Panembahan Senopati dan raja-raja Jawa selanjutnya. Kunci sukses mereka dalam menghiasi peradaban Jawa terletak pada perpaduan agama dan budaya. Demikian pula dalam penyelenggaraan pernikahan, pakem kebudayaan selalu dipegang teguh. Eloknya lagi tuntunan budaya itu tetap relevan di era globalisasi. Ilir Ilir tandure wis sumilir.
Asmaradana Pepali
Poma sira aja drengki
Dahwen marang ing sasama
Sama den arah harjane
Harjane wong aneng dunya
Dunya tekeng akerat
Akerate amrih lulus
Lulus dennya mengku nikmat.
Ki Ageng Selo dikenal sebagai leluhur petani Jawa. Dengan rahmat Allah, Ki Ageng Selo mampu menangkap petir. Semua petani merasa mendapat pengayoman.
C. Ki Ageng Selo Tokoh Sakti Mandraguna yang bisa Menangkap Petir
Pernikahan Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih pada tahun 1360 mempunyai anak Ki Ageng Getas Pendowo. Selanjutnya pada 1380 Ki Ageng Getas Pendowo mempunyai anak Ki Ageng Selo atau Syekh Abdurrohman. Dari beliaulah terlahir raja-raja di Tanah Jawa Mataram Islam sampai menurunkan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Makam Ki Ageng Tarub terletak di desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Haul Ki Ageng Tarub setiap tanggal 15 Sapar, istighosah dan solawat nariyah setiap malam 14 purnama. Sampai sekarang makam tersebut banyak dikun-jungi para peziarah dari berbagai daerah.
Dari segi silsilah, Ki Ageng Selo masih keturunan raja Majapahit, Sinuwun Prabu Brawijaya V. Sinuwun Prabu Brawi-jaya V menurunkan Raden Bondan Kejawen atau Lembu Peteng. Lembu Peteng menurunkan Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa menurunkan Ki Ageng Sela. Ki Ageng Selo menurunkan Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis menurunkan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan menurunkan Panembahan Senapati. Panem-bahan Senapati menurunkan para raja Mataram.
Ki Ageng Selo tinggal di Sela, Tawangharjo, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Beliau dikenal sebagai tokoh yang dapat menangkap petir. Nama lain Ki Ageng Selo adalah Bagus Song-gom atau Ki Ageng Ngabdurrahman ing Sela. Dinasti Ki Ageng Selo adalah sebagai berikut:
1. Sinuwun Prabu Brawijaya berputra Raden Bondan Kejawen.
2. Raden Bondan Kejawen berputra Ki Ageng Getas Pandawa.
3. Ki Ageng Getas Pandawa berputra Ki Ageng Sela, Ki Ageng Wonosobo dan Nyi Ageng Ngerang.
Bagi kalangan bangsawan, Ki Ageng Selo adalah guru Mas Karebet, Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja Pajang 1546-1582. Ajarannya yaitu Pepali Ki Ageng Selo atau Serat Pepali yang berisi ajaran budi pekerti luhur. Pusakanya adalah Bendhe Ki Becak. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1584 Adipati Sutawijaya menggeser kekuasaan Pajang beralih ke Mataram. Ki Ageng Selo yang dianggap sebagai nenek moyang Dinasti Mataram mengungkapkan prinsip etis filosofis.
Warisan Ki Ageng Tarub adalah tradisi memasang tarub pada saat perhelatan pernikahan orang Jawa. Tarub dapat berarti atap yang tersusun dari bleketepe. Bleketepe berasal dari kata ketepe yang berarti anyaman daun kelapa satu tangkai. Ketepe ditata mengelilingi rumah secara penuh atau dalam bahasa Jawa di’blek’, kemudian disebut bleketepe. Jadi tarub adalah bleketepe yang ditata dan disusun secara beraturan utamanya dipakai sebagai atap, dan juga dipakai sebagai pagar maupun dinding pembatas.
Di Karaton Surakarta Hadiningrat, tradisi pasang Tarub ini dilakukan untuk menghormati, meneladani, sekaligus melestarikan apa yang pernah dilakukan oleh salah satu leluhur karaton jaman dahulu, yakni Ki Ageng Tarub, ketika ingin menikahkan puterinya. Menyadari rumah beliau yang kecil, maka beliau membuat bleketepe kemudian disusun dan ditata sedemikian rupa dipasang di sekeliling atap rumah dan juga dijadikan pagar.
Rumah Ki Ageng Tarub yang tadinya kecil kemudian kelihatan menjadi lebih luas karena tambahan atapnya, sekalgus kelihatan lebih indah sehingga menjadi wahanan untuk menghormati para tamu. Hal inilah yang secara turun-temurun dilestarikan.
Jadi makna dari tradisi pasang tarub ini pertama, tarub yang dipasang sebagai atap atau tambahan atap di depan rumah sebagai tanda penghormatan sekaligus penanda tempat duduknya para tamu. Kedua, tarub yang dipasang di belakang rumah (biasanya untuk perluasan area memasak) merupakan penanda bahwa pemangku hajat secara atika memenuhi kewajiban dalam menjamu tamu.
Tekad suci menjadi modal utama membangun rumah tangga. Orang menikah harus mempelajari seluk beluk kepri-badian. Garwa berarti sigaraning nyawa, berarti belahan jiwa yang saling melengkapi. Nilai etis filosofis tata cara pernikahan Jawi baik kiranya sebagai bahan refleksi. Butir-butir kearifan lokal yang tak pernah lekang oleh segala perubahan jaman. Ajaran simbolis dalam Babad Ila-ila dapat digunakan sebagai kaca benggala buat para mempelai yang mengawali hidup baru.
Dhandhanggula
Padha sira titirua kaki,
jalma patrap iku kasihana,
iku arahen sawabe,
ambrekati wong iku,
nora kena sira wadani,
tiniru iku kena,
pambegane alus,
yen angucap ngarah-arah,
yen alungguh nora pegat ngati-ati,
nora gelem gumampang.
Sapa sapa wong kang gawe becik,
nora wurung mbenjang manggih arja,
tekeng saturun-turune,
yen sira dadi agung,
amarintah marang wong cilik,
aja sedaya-daya,
mundhak ora tulus,
nggonmu dadi pangauban,
aja nacah, marentaha kang patitis,
nganggoa tepa-tepa.
Terjemahan:
Hendaklah meniru kaki,
janma susila, itu sayangilah,
caharilah sawabnya !
memberi berkah orang itu,
tidak boleh kau mencelanya,
lebih baik menirunya,
pendiriannya halus,
jika mengucap hati-hati,
jika duduk tiada putus-putusnya berhati-hati,
tidak suka serampangan
Barang siapa yang berbuat baik,
tiada urung kelak menemui bahagia,
sampai kepada keturunannya,
jika kamu menjadi orang besar, memerintah
orang kecil,
jangan keras-keras,
nantinya tak akan tetap,
kamu menjadi pelindung,
jangan sembarangan perintahlah yang tepat,
pakailah kira-kira, dengan menggunakan perasaan.
Ki Ageng Selo dianggap leluhur Kraton Mataram yang sakti mandraguna. Masyarakat Jawa percaya bahwa beliau dapat menangkap petir. Para petani merasa terlindungi dari bahaya petir manakala menyebut nama Ki Ageng Sela. Makamnya di Purwodadi Jawa Tengah. Salah satu warisan Ki Ageng Tarub adalah tradisi memasang tarub pada saat perhelatan pernikahan orang Jawa.
Tarub dapat berarti atap yang tersusun dari bleketepe. Bleketepe berasal dari kata ketepe yang berarti anyaman daun kelapa satu tangkai. Ketepe ditata mengelilingi rumah secara penuh atau dalam bahasa Jawa di’blek’, kemudian disebut bleketepe. Jadi tarub adalah bleketepe yang ditata dan disusun secara beraturan utamanya dipakai sebagai atap, dan juga dipakai sebagai pagar maupun dinding pembatas.
Pada tanggal 12 Desember 2015, tepatnya pada hari Sab-tu Kliwon segenap mahasiswa Yogyakarta melakukan kunjungan di makam Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Selo di Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Mereka diasuh oleh dosen pembimbing yang diterima langsung oleh juru kunci KRT Hastono Hadipuro, abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.
Dengan melakukan sarasehan mereka membahas sejarah dan warisan Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Selo. Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa generasi muda tetap melestarikan sejarah leluhur nya. Eling marang bibit kawite.
D. Daftar Bupati Grobogan yang Menjaga Peradaban Agung Jawa
1. Adipati Martapura 1725–1746.
Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangku-rat Jawi, raja Mataram Kartasura.
2. KRT Suryonegoro 1746-1761. Dilantik pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Paku Buwono II, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
3. KRT Kartodirjo 1761-1768. Dilantik pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
4. KRT Yudonegoro 1768-1775. Dilantik pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
5. KRT Surokerto 1775-1787. Dilantik pada masa pemerintah-an Sri Susuhunan Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
6. KRT Yudokerto 1787-1795. Dilantik pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
7. KRT Sutoyudo 1795-1801. Dilantik pada masa pemerintah-an Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
8. KRT Kartoyudo 1801-1815. Dilantik pada masa pemerintah-an Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
9. KRT Sosronagoro I 1815-1840. Dilantik pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Paku Bu-wono IV, raja kraton Sura-karta Hadiningrat.
10. KRT Sosronagoro II 1840-1864. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
11. KRT Martonagoro 1864-1875. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
12. KRT Yudohadinagoro 1875-1902. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
13. KRT Haryo Kusumo 1902-1908. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
14. KRT Haryo Sunarto 1908-1933. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
15. KRT Sukarman Martonagoro 1933-1944. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
16. KRT Sugeng Hadinagoro 1944-1946. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
17. Raden Kaseno 1946-1948. Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soekarno.
18. Raden Prawoto Sudibyo 1948-1949. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
19. R Subroto 1949-1950. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
20. R Sadono 1950-1954. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
21. Haji Andi Patokohi 1954-1957. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
22. H Abdul Hamid 1957-1958. Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soekarno.
23. R Upoyo Prawirodilogo 1958-1964. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
24. Supangat 1964-1967. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
25. R Marjaban 1967-1970. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
26. R Umar Khasan 1970-1974. Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soeharto.
27. Kolonel Soegiri 1974-1986. Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soeharto.
28. Kolonel Mulyono 1986-1996. Dilantik pada masa peme-rintahan Presiden Soeharto.
29. Kolonel Suwito 1996-2001. Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soeharto.
30. Agus Supriyanto, SE 2001-2011. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati.
31. Bambang Pudjiyono, SH 2011-2016. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
32. Sri Sumarni 2016-2021. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Kabupaten Grobogan yang beribukota di Purwodadi sesungguhnya memiliki sejarah yang sangat panjang. Leluhur masyarakat Grobogan telah melakukan pembukaan atas peradaban tanah Jawa. Semua leluhur raja Jawa berasal dari kabupaten Grobogan, sebagai wilayah yang mendapat julukan panjang punjung pasir wukir.
Panjang dawa pocapane, punjung dhuwur kawibawane, pasir samodra wukir gunung. Pratandha yen negara kang ngungkurake pegunungan, nengenaken pasabinan, ngiringaken benawi, mangku bandaran agung.
Petani merasa mendapat perlindungan dari Ki Ageng Selo yang sakti mandraguna. Mereka menanam padi di sawah supaya tercukupi sandang pangan papan.
(LM-01)

