22. Adipati Cokronagoro 1908 – 1937
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
23. Adipati Cokrosudirjo 1937 – 1945
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.
24. Sukadji 1945 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
25. Abdul Hamid 1950 – 1960
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
26. Waskitho 1960 – 1963
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
27. Soepardan 1963 – 1965
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
28. Ali Afandi 1965 – 1967
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
29. Ismail 1967 – 1968
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
30. Soeparngadi 1968 – 1969
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
31. Kol Chasinoe 1969 – 1979
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
32. Kol Sutrisno Sudirjo 1979 – 1984
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
33. Dr. Moch Syafii Asy’ari 1984 – 1989
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
34. Moch Faried, SH 1989 – 1999
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
35. Agus Syamsudin, SH 1999 – 2000
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie.
36. Masfuk, SH 2000 – 2010
Dilantik pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid
37. Fadeli, SH 2010 – 2020
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko widodo.
Dhandhanggula Boyong Kedhaton
Wanakarta dadya sepen sepi
Putra wayah buyut canggah nata
Wareng tumresat padhane
Kasapta drastha ratu
Tarah kaping runawa ugi
dalasan pra sunindra
Habdining sang prabu
kalebet para nayaka
Sapangandhap lawan kawula sanagri
Gumregut bawa praja
Kyai pangulu miwah para ketip
Alim kaji pra abdi ngulama
Samya hunjuk pepujine
Kang badhe tampi dhawuh
Hanancepken waringin kalih
Hing lun-alun utara
Pringgoloyo tuhu
Miwah patih Sindureja
Waringin kidul dening Bekel mancanegari
Toyomas Ponorogo
Nata lenggah hing bangsal pangrawit
Para opsir kalawan kumendan
Samya ngadeg neng kirine
Bangsal lenggahan prabu
Pra prajurit banjeng habaris
Wong manca miwah Jawa
Haneng alun-alun
Sri Narindra lon ngandika
Dhusun Sala hingalih nama Nagari
Surakarta Diningrat.
Sigra jengkar saking Kartawarni
Ngalih kadhaton mring dhusun Sala
Kebut sawadya balane
Busekan sapraja gung
Pinengetan hangkate huni
Hanuju hari Buda
henjing wancinipun
Wimbaning lek ping Sapta Wlas
Sura He je kombuling Pudya Kapyarsi
Hing Nata kang sangkala
Kutipan dhandhanggula di atas melukiskan perpindahan ibukota Mataram dari Kartasura ke Surakarta. Proses perpindahan ini digagas oleh Gusti Kanjeng Ratu Emas, permaisuri Sinuwun Paku Buwono II.
Gusti Kanjeng Ratu Emas adalah putri Bupati Lamongan. Saat perpindahan itu para pejabat kabupaten Lamongan diundang untuk melakukan penelitian, pengkajian, dan pelaksanaan pembangunan istana. Bahkan Bupati Lamongan memberi sumbangan yang berupa kayu jati, semen, minyak tanah dan batu marmer.
Hubungan kabupaten Lamongan dengan kraton Surakarta Hadiningrat memang selalu harmonis berdasarkan trah geneologis. Itulah fakta historis yang diperingati generasi muda. Segenap sentana dan abdi dalem Kraton Surakarta Hadiningrat. Peristiwa sejarah ini terjadi pada masa Paku Buwana II.
Dipilihnya desa Sala sebagai tempat pembangunan istana sudah melampaui hitungan yang matang. Para sesepuh diajak musyawarah. Maka kraton tetap lestari sampai sekarang. sewajarnya peristiwa historis besar ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Lamongan. Kawruh luhur ini diwariskan secara turun tumurun.
(LM-01)
