Wilayah Kediri memiliki pemimpin yang unggul. Pada tanggal 25 Maret 1832 Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Cakraningrat I ditetapkan sebagai Bupati Kediri. Beliau diangkat oleh Sinuwun Paku Buwono VII, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Patihnya bernama KRA Sasradiningrat I. Saat pelantikan berkumandang gendhing Carabalen dan gendhing monggang.
Hubungan erat dengan Karaton Surakarta Hadiningrat diperkokoh dengan tali pernikahan. Adipati Cakraningrat I memiliki putri cantik. Namanya Raden Ajeng Gombak. Beliau istri pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita. Keduanya dimakamkan di Palar Trucuk Klaten. Pujangga agung Karaton Surakarta Hadiningrat ini menulis serat kalatidha, crmporet, witaradya dan Pustaka Raja Purwa.
Kabupaten Kediri tampil ramah, murah, mudah bagi sekalian warga. Berkat kepemimpinan yang ayem ayom, guyub rukun. Bupati yang memimpin Kediri sampai tahun 2020 adalah dr Hj Haryanti Soetrisno. Wakil Bupati adalah Drs H. Masykuri MM.
Sejarah Kediri yang gemilang itu sudah berlangsung berabad abad. Keselarasan hidup diutamakan, demi tertibnya jagad gumelar lan jagad gumulung. Orang Kediri menjunjung tinggi prinsip desa mawa cara, negara mawa tata.
B. Prabu Gendrayana Leluhur Raja Kediri
Prabu Gendrayana memerintah kerajaan Kediri sejak tahun 325. Kerajaan Kediri tampil sebagai negara panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.
Etike kepemimpinan yang dipegang teguh oleh Prabu Gendrayana berdasarkan paugeran. Prabu Gendrayana adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Rakyat Kediri yang tinggal di sekitar Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Klothok merasa ayem tentrem lahir batin.
Keluhuran kerajaan Kediri terkenal di mana-mana. Pada tahun 357 Prabu Gendrayana lengser keprabon madeg pandhita. Tahta diserahkan kepada ingkang putra Prabu Yudhayana. Seperti sang ayah, Prabu Yudhayana memimpin kerajaan Kediri dengan penuh kebijaksanaan.
Jumenengan Prabu Yudhayana di kerajaan Kediri dihadiri oleh abdi dalem. Mereka berasal dari Ngawi, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Blitar, Jombang, Tulungagung, Mojokerto. Hadir pula segenap bupati pesisir, Bang Wetan dan Bang Kulon.
Semakin hari kerajaan Kediri bertambah arum kuncara ngejayeng jagat raya. Negeri manca sampai kayungyun pepoyaning kautaman. Bebasan kang cerak menglung, kang tebih mentiung. Sami pasok glondhong pengareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.
Puncak kejayaan itu membuat bahagia semua pihak. Pada tahun 386 tahta kerajaan Kediri diserahkan kepada putra Yudhayaa. Dia bernama Prabu Jaya Purusa. Sejak muda prabu Jaya Purusa gemar tapa brata ditengah alas gung liwang liwung. Prabu Jaya Purusa sering tapa ngebleng, tapa mutih, tapa ngidang, tapa ngalong, tapa nggantung, tapa pendhem, tapa ngrame.
Prabu Jaya Purusa menjadi raja yang sakti mandraguna. Perlindungan pada seluruh rakyat diwujudkan dengan laku prihatin, cegah dhahar lawan guling. Pada tingkat tertentu Prabu Jaya Purusa boleh dikatakan sebagai jalma sulaksana. Waskitha ngerti sakdurunge winarah.
Kediri benar-benar negeri aman damai. Padi, jagung, ketela pohung panen berlimpah ruah. Bahan makanan disimpan di lumbung kerajaan. Kedelai, kacang merupakan tanaman palawija. Sayur kubis, kentang, bayam, kangkung, terong, buncis, godhe, loncang tumbuh di sembarang tempat. Bahan makanan disimpan untuk menghadapi masa paceklik.
Hama menyingkir jauh, penyakit tak berani menyerang, pageblug hilang sendiri. Itu akibat kesaktian Prabu Jaya Purusa yang bijak bestari. Kawula dan punggawa manunggal cipta rasa karsa. Semua mendukung kepemimpinan Prabu Jaya Purusa. Keamanan dan ketentramant terwujud.
Kesaktian Prabu Jaya Purusa dipuji warga. Para abdi nujum dan pujangga istana memberi gelar kehormatan kepada Prabu Jaya Purusa. Dengan sebutan gelar Sinuwun Prabu Jayabaya. Bahkan gelar Jayabaya jauh lebih tenar.
Lara lapa tapa brata sarana pembinaan untuk mengasah ketajaman spiritual. Prabu Jayabaya mendidik tiga putra kinasih. Ketiganya yaitu Raden Jaya Amijaya, Raden Jaya Amisena, Raden Jaya Aminata. Putra raja Kediri ini menjalankan ilmu laku, gentur tapane, mateng semadine.
Raden Jaya Amijaya menikah dengan Dewi Pramesthi. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Jenggala. Raden Jaya Amisena menikah dengan Dewi Pramoni. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Daha. Raden Jaya Aminata menikah dengan Dewi Susenti. Dinobatkan menjadi raja di Kraton Pengging, bergelar Prabu Kusuma Wicitra tahun 423.
Keturunan Prabu Jayabaya senantiasa menjalankan lelaku. Yakni unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.
C. Jangka Ramalan Prabu Jayabaya
Kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange. Begitu ramalan Prabu Jayabaya dalam membaca owah gingsire jaman. Sang Prabu adalah raja Kraton Kediri yang waskitho ngerti sakdurunge winarah. Prabu Jayabaya memang narendro agung binathoro mbahu dhendho nyokrowati, ambeg adil paramarta, memayu hayune bawana.
Dalam memerintah kerajaan Kediri yang beribukota di Dahono Puro, Sang Prabu selalu menjunjung tinggi etika ber budi bowo laksono. Wilayah kerajaan Kediri sangat luas, maka diperlukan sikap konsekwen dan konsisten. Satunya kata dan perbuatan. Dapat diibaratkan sebagai pemimpin yang kinasih ing dewa, kinawula ing widodari.
Pujangga kerajaan Kediri dijadikan pandam pandom panduming dumadi. Prabu Jayabaya memperhatikan nasihat Empu Sedah, Empu Panuluh dan Empu Darmojo. Empu Sedah mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi. Empu Panuluh memberi kawruh joyo kawijayan guno kasantikan. Empu Darmojo memberi wedharan tata praja. Wulangan wejangan wedharan sarjono winasis itu dihayati oleh Sri Baginda. Prabu Jayabaya bisa tampil sebagai pemimpin yang ambeg adil poromarto.
Leluhur raja Kediri senantiasa amemangun karyenak tyasing sesama. Seperti eyangnya Prabu Jayabaya yang bernama Sinuwun Prabu Kamesworo. Sang kakek memberi contoh diplomasi dengan negeri di Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Timur. Bahkan pada tahun 1105 Prabu Kamesworo mendatangkan guru agama dari Negeri Mesir. Namanya Haji Syekh Syamsujen. Kelak menjadi guru spiritual Prabu Jayabaya. Agomo ageming aji sebagai landasan ajaran memayu hayuning bawono. Artinya membuat dunia selalu adil aman damai.
Prabu Jayabaya raja Kediri yang terkenal memiliki doyo linuwih. Haji Syekh Syamsujen mengajari loro lopo topo broto. Sang Prabu biasa topo kungkum, topo pendhem, topo gantung, topo ngrowot, topo mutih. Kadang kadang juga menjalankan lelaku mirip sato kewan. Yakni topo ngalong, topo ngidang, topo ngiwak. Pada bulan Suro Sri Baginda tak lupa lelaku nggenioro mbanyuoro.
Pada bulan ruwah Prabu Jayabaya melakukan topo ngrawe, yaitu berusaha menyenangkan orang banyak. Berkat didikan Haji Syekh Syamsujen itu pula, Prabu Jayabaya menjadi raja yang putus ing reh saniskoro. Sang Prabu tahu unggah ungguhing boso, kasar alusing roso, jugar genturing topo. Poro kawulo yang tinggal di kutho ngakutho, deso ngadeso, gunung ngagunung sangat hormat dan berbakti. Kraton Kahuripan, Kraton Jenggolo, Kraton Singosari menjalin persahabatan lahir batin.
Demi eratnya kekeluargaan, Retno Sedhah Mirah, putri Prabu Jayabaya dijodohkan. Cucu Sekartaji yang cantik jelita ini dinikahkan dengan Prabu Ronggowuni raja Singosari. Kerajaan Kediri dan Singosari terikat oleh tali perkawinan. Usaha demikian dalam rangka untuk mewujudkan kumpule balung pisah. Kepribadian Prabu Jayabaya sungguh paripurna. Kebijakan raja Kediri ini Khalifah Bagdad mengirim delegasi untuk berkunjung ke Kraton Kediri.
Tim dari Bani Umyyah Irak ini belajar sistem irigasi Kali Brantas. Keluhuran budi Prabu Jayabaya membikin bangsa manca mau bersahabat erat. Tiap saat mereka pasok bulu bekti yang berupa glondhong pangareng areng. Sebagian lagi caos peni peni rojo peni, guru bakal guru dadi, emas picis rojobrono. Bebasane kang cerak mangklung, kang adoh mentiyung. Karana kayungyun marang pepoyane kautaman.
Kanjeng Sinuwun Prabu Jayabaya memberi ramalan tentang jenis jenis jaman. Ramalan Prabu Jayabaya selalu tepat. Ada empat jaman, yaitu jaman Kartoyugo, jaman Partoyugo, jaman Kaliyugo, kali Sengoro.
1. Jaman Kartoyugo
Pada jaman Kartoyugo ini bumi nusantara adil makmur, murah sandang pangan papan. Sawah luas, sungai mengalir, hutan hijau, gunung biru.
Terjadi pada masa kerajaan Medang, Kahuripan, Singosari, Jenggolo, Doho, Kediri dan Majapahit. Pemimpin dan rakyat bersatu padu. Tanah Jawa bisa mewujudkan prinsip manunggaling kawulo Gusti.
2. Jaman Partoyugo
Pada jaman Partoyugo ini tanah Jawa semakin moncer. Terjadi pada masa kerajaan Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman. Tanah Jawa memiliki budaya adi luhung, seni edi peni. Budaya adi luhung berhubungan dengan nilai filosofis atau pemikiran. Seni edi peni berhubungan dengan nilai estetis atau keindahan.
Tokohnya Kyai Yosodipuro, Ronggowarsito, Paku Buwono dan Mangkunagoro. Mereka adalah pujangga besar yang mewariskan peradaban. Rum kuncaraning bongso, dumunung ing luhuring budoyo.
3. Jaman Kaliyugo
Pada jaman ini bumi nusantara diganggu oleh pemimpin palsu. Tiap menjelang pemilihan umum, mereka mendekati rakyat. Ngalor ngidul mau membela rakyat. Sekolah akan gratis, berobat akan gratis. Demi ambisi kekuasaan, tak segan segan sogok sana sini. Setelah berhasil menjabat, mereka lupa laut darat.
JamanPemimpin gadungan ini biasa omong mencla mencle. Usuk omong dhele, sore dadi tempe. Jaman Kaliyugo orang suka melanggar tata krama.
4. Jaman Kalisengoro
Pada jaman Kalisengoro ini banyak sekali berita hoax seliweran. Orang berbohong dengan media sosial. Informasi dan teknologi jadi alat tipu tipu. Hp, Internet, email, radio, televisi digunakan untuk saling serang. Ujung ujungnya banyak korban.
Apalagi saat ada bencana dunia. Wabah penyakit menular. Lantas diolah untuk membuat gaduh dan kisruh. Ketika masyarakat panik, para penipu ini mengambil keuntungan. Pembohong ini mengail di air keruh. Oleh karena itu, Prabu Jayabaya bersabda dengan bijaksana. Sing bener ketenger, sing salah seleh. Becik ketitik, olo ketoro. Sapa kang mbibiti olo, wahyune bakal sirno. Inilah ajaran Prabu Jayabaya. Agar kita selalu eling lan waspodo.
Kawicaksanan Prabu Jayabaya bersamaan dengan tapa kungkum di Grojogan Sedudo. Lereng Gunung Wilis cocok untuk mengasah ketajaman spiritual. Ilmu iku kelakone kanthi laku.
(LM)

