10. Prabu Kalana Jayengsari 697 – 725
11. Prabu Dhawuk Marma 725 – 753
12. Prabu Maesa Tandreman 753 – 784
13. Prabu Suryo Hamiluhur 784 – 809
14. Prabu Banjaransari 809 – 840
15. Prabu Lembu Pangarsa 840 – 873
16. Prabu Gondo Kusumo 873 – 897
17. Prabu Jaka Saputra 897 – 926
18. Prabu Candra Kusuma 926 – 935
19. Prabu Darma Kusuma 935 – 948
20. Prabu Darmajaya 948 – 988
21. Prabu Darmawangsa 988 – 1010
22. Prabu Airlangga 1010 – 1042
23. Prabu Samara Wijaya 1042 – 1071
24. Prabu Samara Dahana 1071 – 1098
25. Prabu Samara Wangsa 1098 – 1121
26. Prabu Samara Kusuma 1121 – 1140
27. Prabu Kameswara Jaya 1140 – 1168
28. Prabu Kameswara Citra 1168 – 1187
29. Prabu Kameswara Sigit 1187 – 1199
30. Prabu Kameswara Jajar 1199 – 1220.
31. Prabu Kameswara Dhandhang 1220 – 1236.
32. Prabu Kameswara Susuruh 1236 – 1264
33. Prabu Kameswara Kusuma 1264 – 1293.
Tradisi bersemedi di tengah alas yang sepi tetap lestari. Semangat Kerajaan Jenggala terus berlanjut. Kali Brantas untuk tapa ngeli buat sang narapati.
Kali Brantas sarana meditasi demi ketenangan hati. Kali Brantas juga berguna untuk memutar roda ekonomi. Lalulintas berjalan lancar tuntas karena kenyamanan Kali Brantas.
Sandang pangan lancar karena kali Brantas digunakan untuk sarana transportasi.
Kerajaan Jenggala memang hebat. Putra Prabu Kameswara Kusuma bernama Raden Wijaya. Sejak tahun 1293 mendirikan kerajaan Majapahit. Dari Jenggala berubah menjadi Majapahit. Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit tahun 1293 – 1309. Penerus kerajaan Jenggala ini bergelar Prabu Kertarajasa atau Sinuwun Prabu Brawijaya I.
Tapa ngeli bagi raja Majapahit adalah sebuah keharusan. Berturut-turut narendra agung kerajaan Majapahit yang berbudi luhur. Mereka adalah pemimpin besar, yang berhasil mengangkat harkat martabat rakyat.
1. Raden Wijaya atau Brawijaya I 1293 – 1309.
2. Jayanegara atau Brawijaya II 1309 – 1328.
3. Tri Buana Tungga Dewi 1328 – 1350.
4. Hayamwuruk atau Brawijaya III 1350 – 1389.
5. Kusuma Wardhani Wikrama Wardana 1389 – 1400.
6. Dewi Suhita 1400 – 1427.
7. Kertawijaya atau Brawijaya IV 1427 – 1438 .
8. Ratu Kencono Wungu 1438 – 1457.
9. Kertabumi atau Brawijaya V 1457 – 1478.
Kesadaran mengelola daerah aliran sungai Brantas ini diwariskan untuk mengelola bengawan Solo. Saat Demak, Pajang Mataram berkuasa ilmu kali Brantas ternyata sangat berguna.
Sinuwun Prabu Brawijaya V raja yang sakti mandraguna. Putranya adalah para penguasa kerajaan di Jawa selanjutnya. Permaisuri berjumlah 3 orang yakni Ratu Cempa, Ratu Dworowati dan Ratu Wandan Kuning.
Ratu Cempa melahirkan Raden Patah yang menjadi raja Demak Bintara. Ratu Dworowati nanti menurunkan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Ratu Wandan Kuning kelak memunculkan Panembahan Senapati raja Mataram. Ketiga garwa prameswari Prabu Brawijaya V memang trahing kusuma rembesing madu.
Kraton Jenggala menurunkan raja-raja Jawa. Dari Majapahit ke Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman. Dinasti kerajaan membawa visi misi peradaban. Kraton Jenggala Manik mengalirkan nilai keutamaan, keteladanan, keluhuran, kebajikan, kepahlawanan, keagungan, kebangsaan.
Dalam sejarahnya Karaton Jenggala memberi inspirasi bagi para raja Jawa. Agar selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur. Yakni ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.
Air kali Brantas dikelola dengan baik. Pada tahun 1298 Raden Wijaya datang di sekitar Gunung Kelut. Bendungan dibangun di daerah Blitar untuk mengairi persawahan. Padi tela jagung tumbuh ngrembuyung.
Tahun 1318 Prabu Jayanegara raja Majapahit datang di Kediri. Beliau meresmikan jembatan daha. Jembatan ini memperlancar sistem transportasi dari daerah Kediri ke daerah Tulungagung.
Jembatan Kali Brantas Kertosono dibangun tahun 1342 oleh Prabu Putri Tri Buana Tungga Dewi Jaya Wisnu Murti. Raja Majapahit ini peduli pada kebutuhan warga Nganjuk dan Jombang. Maka ada humor Pak Kerto tuku kertu lewat kertek mudhun Kertosono.
Prabu Hayamwuruk membangun sarana irigasi untuk daerah Mojokerto tahun 1357. Pengairan Kali Brantas diatur dengan rapi. Maka raja Majapahit mengangkat pejabat Jogotirto.
Demikian pula Prabu Brawijaya V amat perhatian pada daerah aliran sungai Brantas. Pada tahun 1468 Kerajaan Majapahit membangun sendang patirtan. Air kali Brantas untuk budidaya perikanan darat.
Ikan mujahir, nila, tawes, tumbra, bader, lele, kocolan, welut, tengiri, gabus dipelihara rakyat Majapahit. Penghasilan masyarakat maju berlipat ganda. Kali Brantas dikelola oleh Kerajaan Majapahit untuk meningkatkan kesejahteraan.
(LM-01)
