Permintaan terakhir dengan dalih Kanjeng Sultan gerah, tetapi Pangeran Adipati Mangkunagara juga tidak kunjung sowan Kanjeng Ratu Bandara kepada ayahandanya. Hal tersebut akhirnya terlaksana dengan jasa baik tuan Oprup di Yogyakarta yang bersama Kanjeng Pangeran Adipati Anom mengantarkan Kanjeng Ratu Bendara sowan ayahandanya Kanjeng Sultan di Yogyakarta.
Kepada Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara tuan Oprup di Surakarta menanggung kembalinya Kanjeng Ratu Bendara, manakala sesudah sowan Kanjeng Sultan tidak dipalilahkan kembali ke Mangkunagaran. Dengan demikian Kanjeng Ratu Bendara dilepaskan oleh sang Pangeran untuk sowan ayahandanya. Agak lama Kanjeng Ratu Bendara tidak kembali ke Mangkunagaran.
Kanjeng Pangeran Mangkunagara mengadu kepada tuan Oprup di Surakarta yang semula menanggung kembalinya Kanjeng Ratu Bendara kepada suaminya. Hal tersebut menemui jalan buntu sehingga Gubernur di Betawi turun tangan karena hal itu dianggap memungkinkan kerenggangan antara Kanjeng Sultan dan Pangeran Adipati Mangkunagara, akhirnya dapat mengganggu keakraban, bahkan keamanan. Atas nasehat Anggota Dewan Investor di Semarang, wakilnya di Yogyakarta bertemu dengan Kanjeng Ratu Bendara dihadapan Kanjeng Sultan di Kraton Yogyakarta.
Kanjeng Ratu Bendara memberi kepastian kepada wakil tentara Investor, tidak bersedia kembali kepada suaminya. Bila dipaksa, lebih baik mati. Karena ketegangan itu tak dapat diredakan, maka wakil tentara Investor di Semarang memerintahkan agar Kanjeng Ratu Bendara datang di Semarang bersama dengan Patih Danureja dan Pengulu hakim di Yogyakarta. Dari Surakarta didatangkan Penghulu hakim.
Pengulu-pengulu hakim itu akan dipertemukan dengan para pengulu di pesisir untuk mengupayakan menyele-saikan menurut adat Jawa dan agama Islam. Kanjeng Ratu Bendara datang ke Semarang diiringi Pangeran Pakuningrat, Patih Danureja dan Pengulu hakim. Dari Surakarta datang wakil tentara Investor, Pengulu hakim dan Pangeran Mangkuyuda.
Pertemuan di kediaman wakil Tentara Investor di Semarang dihadiri oleh Kanjeng Ratu Bendara, para pengiringnya dari Yogyakarta termasuk Pengulu hakim, dari Surakarta Tumenggung Mangkuyuda dan Pengulu hakim, dan dari pesisir beberapa orang Ulama.
Pembicaraannya tentang hukum; bilamana seorang garwa menolak kembali kepada suaminya. Sesuai dengan hukum adat dan agama, sang garwa berhak meminta cerai yang disebut ‘rapak’, tetapi diharuskan memberi ‘pemancal’ ganti rugi atau ganti kehormatan. Akhirnya terjadi perceraian sah Kanjeng Ratu Bendara dari Pangeran Adipati Mangku-nagara dengan jalan ‘rapak’, sedang sebagai ‘pemancal’ Kanjeng Sultan memberikan tanah di Pajang. Dalam keputusan itu ditambahkan oleh Pangeran Adipati Mangkunagara, bahwa Kanjeng Ratu Bendara tidak boleh dinikahkan selama suaminya masih hidup.
Peristiwa itu terjadi pada tanggal 15 Jumadilawal 1869 Jawa atau 1763 Masehi. Ternyata kemudian bahwa Kanjeng Ratu Bendara dinikahkan dengan Pangeran Dipanagara. Pangeran Adipati Mangkunagara akan mengusik hal itu, tetapi disabarkan oleh wakil tentara Investor dan dihibur dengan kepastian bahwa tanah di Yogyakarta dan Surakarta yang dikuasai sang Pangeran tetap menjadi miliknya.
Pada saat hubungan Kasultanan dan Mangkunagaran meruncing, terjadilah seorang abdi Mangkunagaran berasal dari Yogyakarta bernama Ngabei Matangrasa nyidra milik Mangkunagara dengan jalan memanjat pagar. Sang Panyaran kuciwa ing galih sekali dan berpendapat kejadian itu karena parintah Adipati Anom Yogyakarta. Hal itu sampai diadukan kepada wakil Tentara Investor yang berhasil menyabarkan sang Pangeran.
Kanjeng Sunan menderita gerah yang makin lama makin parah dan akhirnya mangkat. Sebagai penggantinya diangkat Adipati Anom dengan gelar: Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono kaping IV Senapati Ing Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah ing Surakarta. Peristiwa itu terjadi pada hari Senen Paing tanggal 29 Besar, tahun Jimakir, 1714 Jawa atau 1787 Masehi.
Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV mengadakan banyak perubahan, antara lain: Pakaian prajurit kraton semula berpakaian Investor barat, diganti berpakaian Jawa; Tiap hari Jumaat tidak pernah terlampaui Kanjeng Sunan mesti salat Jumaat di mesjid besar. Kanjeng Susuhunan sangat patuh kepada agama Islam.
Tiap hari Sabtu pada waktu Kanjeng Sinuhun berkenan watangan main tombak kecil di atas kuda, semua abdi¬dalem diharuskan memakai sorban putih. Kanjeng Sinuhun sama sekali tidak mau meneguk minuman keras. Yang diminumnya air panas atau teh.
Kanjeng Susuhunan mempunyai 6 orang abdi yang amat dikasihinya, yakni: 1. Raden Santri; 2. Pangeran Pane-ngah; 3. Rade Wiradigda; 4. Raden Kanduruwan; 5. Kyai Bahman; 6. Kyai Nursaleh. Mereka diangkat sebagai pinisepuh dan penasehat Raja. Tiap malam 6 orang abdi dalem itu tentu sowan Ingkang Sinuwun.
Percikan air kali Serang menyejukkan hati. Maka proses Penandatanganan berdirinya Pura Mangkunegaran ini menjadi awal untuk melakukan pemberdayaan sastra budaya yang adiluhung di wilayah Wonogiri, Pacitan dan Karanganyar. Dari perjanjian Salatiga inilah kebangkitan sastra budaya berkembang dengan sangat baik. Rasa optimis terhadap masa depan kerajaan Mataram menemukan kesempatan.
Hubungan gunung dengan diplomasi kenegaraan amat erat. Sejak Joko Tingkir gunung Merbabu dijadikan sarana refleksi kepemimpinan.
Pangeran Sambernyawa sebelum dilantik menjadi penguasa di wilayah Pura Mangkunegaran. Terlebih dulu siram jamas di Kali Serang.
Lara lapa tapa brata seperti Joko Tingkir. Kejernihan air Kali Serang, lantas memantabkan diri sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.
Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa memberi prasapa, ajaran tri darma. Rumangsa melu handarbeni. Rumangsa wajib hangrungkebi. Mulat sarira hangrasa wani.
C. Air Kali Serang Menjernihkan Diplomasi Pura Paku Alaman.
Tanggal 17 Maret 18 13 Pura Paku Alaman resmi berdiri. Pangeran Notokusumo bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.
Kontrak politik diresmikan oleh Gubernur Jenderal Raffles. Selaku wakil pemerintah Kerajaan Inggris Raya. Sejak pagi gendhing Monggang berkumandang. Tanda penobatan Pangarsa istana pura.
Malam sebelumnya Pangeran Notokusumo tapa kungkum di Kali Serang. Dengan dikawal abdi dalem purwo kinanthi. Layaknya lelaku yang dijalankan oleh Joko Tingkir.
Siram jamas untuk sesuci diri di kali serang. Pangeran Notokusumo mulai mantab untuk memimpin pura Paku Alaman. Sejenak peristiwa historis perlu ditinjau ulang.
Berdirinya Pura Paku Alaman tanggal 17 Maret 1813. Bermula dari diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan oleh Trah Mataram. Berada di bawah kaki Gunung Merbabu yang berhawa sejuk.
Perjanjian Tuntang Salatiga menjadi tanda berdirinya Puro Pakualaman Yogyakarta. Pengesahan ini dilakukan oleh Gubernur Jendral Raffles pada tanggal 17 Maret 1811. Pangeran Notokusumo dinobatkan menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.
Keindahan gunung Merbabu memikat hati. Raffess adalah tokoh hebat. Akrab dengan masyarakat Salatiga. Pernah melakukan wisata berkuda. Rute tengaran Susukan, Karanggede. Saat istirahat di Pasar Susukan sempat kuliner sego jagung dengan lawuh bothok teri. Suguhan sayur adas dan kikil jamu. Disantap di pinggir kali Serang sambil mancing. Rasanya serba nyamleng.
Aliran Kali Serang berair kinclong. Adanya prestasi gemilang kota Salatiga lereng gunung Merbabu amat penting. Keberadaan Kadipaten Pakualaman dalam sejarah Kerajaan kerajaan di Jawa tampaknya tidak dapat dipisahkan adanya persaingan elite politik atau bangsawan. Dalam perjalanannya Kadipaten Paku alaman telah mengalami dinamika perkembangan yang ditandai adanya pergantian pemerintahan mulai dari Paku Alam I sampai dengan Paku Alam VIII.
Salatiga lereng gunung Merbabu perlu dikenang oleh Dinasti Mataram. Untuk mendapatkan gambaran tentang Kepala Dinasti Kadipaten Pakualaman, maka uraian akan dijelaskan secara rinci dan singkat mulai dari Paku Alam I sampai dengan Paku Alam VIII, serta profil Paku Alam IX. Yeeldijk yang pernah menjadi Residen Yogyakarta, mengatakan bahwa permasalahan yang dihadapi Pangeran Notokusumo dan RT Notodiningrat masih kurang jelas baginya. Ditambahkan, bahwa Pangeran Notokusumo dan RT Notodiningrat dituduh berkomplot dengan R. Rangga yang memberontak. Tuduhan ini sebenarnya hanya dipergunakan sebagai alasan yang tidak wajar untuk mengelabui mata orang.
Dengan demikian wilayah Salatiga menjadi tempat penting bagi dinasti Mataram. Alasan yang sebenarnya, Pangeran Notokusumo dituduh ingin menjatuhkan Pangeran Adipati Anom dan RT Notodiningrat dituduh akan mendongkel Patih Danurejo. Sementara itu hubungan tidak baik antara GKR Kencono Wulan dengan Pangeran Adipati Anom merupakan latar belakang yang ikut memperburuk situasi politik pada waktu itu.
Semua itu adalah karena Pangeran Adipati Anom mendapat hasutan dari provokator yang ingin menjatuhkan eksekutif. Melalui penderitaan dan perjuangan yang panjang. Beliau dipindah dari satu kota ke kota lain, akhirnya sesudah Pangeran Adipati Anom dinobatkan oleh Gubernur Inggris sebagai Sultan Hamengku Buwono III di Loji, tempat kediaman Minister Residen Inggris. Orang internasional sudah biasa interaksi di kota Salatiga, kaki gunung Merbabu.
Sebaiknya trah Mataram belajar atas sejarah kota Salatiga dan sekitarnya maka pada esok harinya, Senin 29 Juni 1812 Pangeran Notokusumo dinobatkan oleh Gubernur Jenderal Raffles sebagai Pangeran Merdiko di dalam kraton, dengan gelar KGP Adipati Paku Alam, sedangkan RT Notodiningrat berganti nama menjadi KP Ario Suryaningprang dan RM Salyo, adinda RT Notodiningrat menjadi KP Ario Suryaningprang. Mengenai berdirinya Kadipaten Pakualaman sekalipun Pangeran Notokusumo secara resmi telah dinobatkan menjadi Sri Paku Alam I pada hari Senin 29 Juni 1812, akan tetapi Politik Kontrak antara Gubernur Inggris dengan Sri Paku Alam baru dibuat dalam bulan Maret 1813.
Politik Kontrak ini dibuat pada tanggal 17 Maret 1813. Anehnya ialah bahwa berdirinya Kadipaten Pura Mangkunegaran pun terjadi pada tanggal 17 Maret, sebab perjanjian Salatiga antara investor dengan Sri Mangkunegara dibuat pada tanggal 17 Maret 1757. Berita tu tersebut dalam Gedenkschrift 25 jarig bestuurjubileum Paku Alam VII. Tokoh Salatiga yang mewarisi semangat juang leluhur yakni Matori Abdul Jalil. Ketua partai ini pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Trah Mataram mewarisi budaya Pajang. Gunung Merbabu dianggap wingit wigati. Dengan demikian maka pada tanggal 17 Maret 1813 Pangeran Notokusumo menerima jabatannya sebagai Sri Paku Alam I dari gubernur Inggris, dan dengan demikian pula nama bagi dinasti Pakualaman diletakkan dasar dasarnya.
Dalam bukunya tentang Verhouding der Vorsten terdapat ulasan menarik. Raffles mengingat jasa jasa Pangeran Notokusumo, mengangkat beliau sebagai Pangeran Merdiko, dengan gelar Pangeran Adipati Paku Alam. Sumbangan wilayah Salatiga bagi perkembangan kerajaan Jawa sungguh besar. Raffles meninggalkan jejak manis di sepanjang aliran Kali Tuntang Tengaran.
Kesadaran historis ini hendaknya diresapi dengan sepenuh hati. Lara lapa tapa brata. Sejarah menawarkan keutamaan. Komunitas seni budaya sekitar Gunung Merbabu telah menyumbang penulisan Kesusasteraan bermutu tinggi.
Hulu Merbabu menawarkan kejernihan. Pangeran Notokusumo mengikuti jejak Joko Tingkir. Leluhurnya menjalankan lelaku di gunung Merbabu dan Kali Serang.
Pangeran Notokusumo pendiri dinasti Pura Paku Alaman. Pewaris Trah Mataram ini memiliki peristiwa historis di Kali Tuntang dan Kali Serang.
D. Manekung di Merbabu Ngeli di Kali Serang.
Guru Joko Tingkir bernama Ki Ageng Banyubiru. Seorang pertapa di Rawa Pening yang sakti mandraguna.
Bertapa di gunung Merbabu dilakukan Joko Tingkir atas perintah Ki Ageng Banyubiru. Ndaru keprabon cumlorot dalam diri pribadi. Segera Joko Tingkir disuruh sowan ke Demak Bintara dengan tapa ngeli. Di situlah jalan kemuliaan terbentang luas.
Masyarakat yang tinggal di lereng gunung Merbabu punya tradisi literasi. Mereka menulis Sastra puja mantra. Dari generasi ke generasi japa mantra ditulis dalam metrum tembang macapat. Contohnya di daerah Cepogo, Selo, Ampel.
Kebudayaan Salatiga bersumber dari nilai historis yang sudah berkembang selama berabad abad. Nilai kearifan lokal ditulis dalam wujud Sastra piwulang. Tradisi Sastra Merbabu berlangsung sejak jaman kerajaan Kahuripan.
Misalnya penyalinan kitab Arjuna Wiwaha, karya Empu Kanwa.
Pada tahun 1749 Sinuwun Paku Buwana III menyalin dalam bentuk tembang macapat, dengan judul serat Wiwaha Jarwa.
Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Berikut adalah daftar Walikota Salatiga yang selalu berdarma bakti bagi ibu pertiwi. Gunung Merbabu dengan pemandangan indah amat memukau. Hal ini memberi inspirasi bagi sekalian pemimpin.
1. R. Patah, 1950-1950
– MS Handjojo (penjabat),
1950-1950
2. M. Soedijono, 1950-1957
3. Soewandi Martosoewojo, 1957-1961
4. Bakri Wahab, 1961-1966
5. Letkol S. Soegiman, 1966-1976
6. Kol. Pol. S. Ragil Pudjiono, 1976-1981
7. Djoko Santoso BA, 1981-1986
8. Doelrachman Prawiro Soediro, 19896-1991
9. Drs. Indra Suparno, 1991-1996
10. Drs. Soewarso, 1996-2001
11. H. Totok Mintarto, 2001-2007
12. John Manuel Manoppo, 2007-2011
13. H. Yulianto S.E., M.M., 2011-2016 dengan wakil Drs Muh Haris M.Si.
– Drs. Agus Rudianto, M.M.(Penjabat), 2016
– Drs. Achmad Rofai M.Si (Penjabat), 2017
14. H. Yulianto S.E., M.M, 2017. Dengan wakil Walikota Drs Muh. Haris M.Si.
Kota Salatiga terdiri dari empat kecamatan. Yakni Argomulyo, Sidomukti, Sidorejo, Tingkir. Legalitas kota Salatiga berdiri sejak tahun 1917. Tepat di bawah kaki gunung Merbabu yang menjulang tinggi.
Tempat bersejarah berada di kawasan Gunung Merbabu, Gunung Ungaran, Gunung Telamaya, Gunung kendhali Sada. Generasi muda bisa belajar sejarah keagungan masa lampau yang gemilang. Joko Tingkir belajar olah rasa.
Lingkungan pegunungan Merbabu mencatat peristiwa historis. Gunung Merbabu tempat bersemedi Raden Kebo Kanigoro, putra Kanjeng Adipati Handayaningrat atau Sri Makurung Bupati Pengging. Ibunya adalah Ratu Pembayun putri Prabu Brawijaya V raja Majapahit.
Kelak Raden Kebo Kanigoro menjadi pengasuh Joko Tingkir. Tanggal 1 Juli 1546 Joko Tingkir dinobatkan sebagai raja Kraton Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama.
Joko Tingkir pernah bertapa di Gunung Telamaya, bermimpi kejatuhan bulan, bersamaan dengan bergetarnya gunung, bergemuruh suaranya sehingga aku kaget. Mimpi itu sangat baik, itulah raja mimpi. Ki Ageng Sela menyuruhnya untuk mengabdi pada Kanjeng Sultan Demak, disitulah tabir mimpi akan terkuak. Ki Ageng Sela meminta agar keturunannya besok diperbolehkan meneruskan wahyu.
Joko Tingkir kemudian pergi ke Demak.
Saat itu yang memerintah negara Demak adalah Putra Raden Trenggana, bernama Kanjeng Kanjeng Sultan Jimbun Pameksa. Joko Tingkir telah lama mengabdi disana, dikasihi oleh raja serta diserahi tugas sebagai lurah tamtama. Joko Tingkir diambil sebagi anak oleh raja serta diperbolehkan masuk istana.
Raja berkehendak menambah perwira tamtama, tapi harus melalui pendadaran dengan menempeleng kepala kerbau hingga remuk.
Ada seorang dari Kedu Pingit, bernama Dadungawuk. Wajahnya kaku, jelek dan dia sering menyombongkan kesaktiannya. Dia hendak mengabdi ke Demak sebagai tamtama. Dia sudah melapor kepada lurah Tamtama. Dadungawuk ditanya, apakah dia sangup dicoba untuk ditusuk. Dia menyanggupinya. Joko Tingkir mendekatinya serta memasukkan sadak di dada Dadungawuk dada pecah dan mati. Perwira tamtama yang ada di depan diperintahkan menusuknya dengan keris. Mayat Dadungawuk luka berat disekujur tubuhnya. Hal itu didengar oleh raja. Beliau marah sekali. Joko Tingkir diusir dari negara Demak.
Midering rat angelangut, lelana njajah negari. Joko Tingkir sangat kecewa mengingat kelakuan sendiri. Di Gunung Kendeng, Joko Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Butuh. Beliau lantas mengajarkan pendadaran dengan mawas diri.
Pusaka Ki Ageng Mangir bernama Tombak Kyai Baru Klinthing. Naga Baru Klinthing menjulurkan lidah mengintari gunung Telamaya, sebelah gunung Merbabu. Potongan lidah berubah menjadi pusaka tombak Kyai Baru Klinthing.
Tapa ngeli dilakukan Joko Tingkir. Dari hulu gunung Merbabu Joko Tingkir mesu budi. Kali Serang mengalir dari Hulu gunung merbabu melewati Tengaran, Sudukan, Karanggede, Wonosegoro, Purwodadi, Kudus, Demak, Jepara. Berakhir di hilir pantai Kedung malang Jepara. Perjalanan Joko Tingkir lewat Kali Serang atas saran Ki Ageng Banyubiru.
Lereng gunung Merbabu Kota Salatiga menjadi tempat gemblengan pribadi Joko Tingkir. Dengan tujuan mendapat drajat pangkat semat, wirya arta winasis, guna kaya purun.
Gunung Merbabu dianggap sebagai ibu yang menaungi bumi pertiwi. Gunung Merapi dipercaya sebagai bapak yang menjunjung derajat. Kedua gunung ini diasuh oleh gunung bibi.
Kepercayaan Jawa itu diwujudkan dalam bentuk bangunan Pesanggrahan. Maka Karaton Surakarta Hadiningrat menghormati dengan membangun Pesanggrahan di kawasan pegunungan.
Pesanggrahan Deles di Kemalang Klaten, selatan Merapi. Pesanggrahan Pracimaharja di Paras Boyolali, sebelah timur gunung Bibi. Gunung Merbabu mendapat pengawalan Pesanggrahan Ngeksipura, Madisita dan Indramarta.
Dengan membangun Pesanggrahan itu, gagasan besar Joko Tingkir untuk mewujudkan peradaban besar. berlanjut terus. Kraton Pajang, Mataram dan Surakarta Hadiningrat selalu mewariskan seni edi peni, budaya adi luhung.
Kali Serang berhulu dari Gunung Merbabu. Setelah leleku di puncak gunung Merbabu, Joko Tingkir mendapat dhawuh dari Ki Ageng Banyubiru. Sepanjang aliran Kali Serayu, Joko Tingkir melakukan tapa ngeli.
Dari Tengaran Joko Tingkir tapa ngeli sampai Kerajaan Demak Bintara. Kali Serang menjadi tempat penggemblengan diri, agar menjadi manusia unggul ulung. Sebagai sarana pengabdian buat sesama.
(LM-01)
