Sementara Ketua Dewan UKM Labura Mukhlis Ritonga memaparkan, bahwa tanaman Porang ini sudah dikenal sejak tahun 80 an hingga sekarang. Namun kebutuhan Porang bagi pasar luar negeri masa itu belum besar sekarang ini. Sekarang ini baru 20 persen saja pasar luar negeri yang bisa kita penuhi, dan masih kurang 80 persen saja. Sehingga kebutuhan pasar untuk 10 sampai 15 tahun mendatang masih aman, katanya.
Dan beliau sudah menggeluti bidang ekspor ini sekitar 3 tahunan lalu, sebelumnya beliau melalui pelabuhan Tanjung Balai melakukan ekspor asam gelugur ke Malaysia, akan tetapi tidak bertahan lama.
Akhirnya saat bertemu dengan mitranya di Surabaya dia melakukan ekspor Porang ini dan sejak menggeluti Porang ini pasarnya sangat bagus, sebut Mukhlis.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar Porang ini, pihaknya sudah menjajaki di tujuh Kabupaten, yakni Kabupaten Batubara, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu, Labusel, Labura dan kini di Labura mereka sudah memiliki home industri pengolahan Porang dalam bentuk gaplek yang siap untuk diekspor. Kapasitas home industri ini mampu menghasilkan 8 Ton/hari.
“Kebutuhan Pasar Porang sekarang ini diperlukan 70 Ton/hari untuk memenuhi Pasar luar negeri, sehingga kita membutuhkan lahan seluas 200 hektar”, ungkap Ketua Dewan UKM Labura.
(Dipa)

