Oleh: Dr. Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA, Hp 087864404347)
A. Berdirinya Kabupaten Deli Serdang.
Wilayah Deli Serdang berdiri sejak tanggal 1 Juli 1632. Yakni bersamaan dengan Tuanku Panglima Gocah Pahlawan bertahta di Kerajaan Deli.
Berturut turut Bupati Deli Serdang yang berdarma bakti buat ibu pertiwi.
1. MS Hamidjoyo 1945-1946.
2. Sampurno Kolopaking 1946-1951.
3. Wan Omaroddin Baros 1951-1958.
4. Abdullah Eteng 1958-1963.
5. Abdul Kadir Kendal 1963-1970.
6. Baharoeddin Siregar 1970-1978.
7. Abdul Muis Lubis 1978-1979.
8. Tenteng Ginting 1979-1984.
9. H Wariman 1984-1989.
10. Ruslan Manyur 1989-1994.
11. Maymaran NS. Wakil Bupati Rayo Usman 1994-1999.
12. Abdul Hafid. Wabup Rayo Usman 1999-2004.
13. Amri Tambunan. Wabup Zainuudin Mars 2004-2014.
14. Azhari Tambunan wabup Zainuudin Mars 2014
Perlu ditelusuri sejarah masa silam yang berhubungan dengan kasultanan Deli dan Kasultanan Serdang. Contohnya Pelabuhan Belawan terletak 24 km dari kota Medan. Tempat lalulintas barang dan jasa kebanggaan warga Sumatera Utara.
Belawan sebagai pelabuhan dibangun oleh Sultan Deli. Dulunya berada di Sungai Deli. Sesuai dengan perkembangan situasi, pada tahun 1915 dari Sungai Deli pindah ke Sungai Belawan hingga kini.
Tuanku Panglima Gocah Pahlawan membangun palabuhan demi lancarnya roda ekonomi. Raja Deli yang memerintah tahun 1632 – 1668 ini ahli kelautan dan pelayaran.
Dari masa ke masa peran Sultan Deli sungguh penting dalam memajukan kehidupan maritim. Angkatan laut dibangun demi mewujudkan kejayaan maritim.
Sultan Makmun Al Rasyid berkuasa tahun 1873-1924. Pelabuhan semakin jaya. Perdagangan membuat rakyat sejahtera. Masyarakat cukup sandang pangan papan.
Pada tahun 1915 Sultan Makmun Al Rasyid memindahkan pelabuhan dari Sungai Deli menuju Sungai Balawan. Maka pelabuhan ini dinamakan pelabuhan Belawan.
Jasa Kasultanan Deli amat besar bagi terwujudnya pelabuhan Belawan. Perlu kiranya diketahui seluk beluk terjadinya kasultanan Deli yang terkenal agung dan anggun.
Istana Maimun dibangun pada tanggal 26 Agustus 1887. Kasultanan Deli saat itu diperintah oleh Sultan Makmoen Al Rasyid. Seorang raja yang terkenal pandai bijak bestari. Termasyur karena wibawa pribadi nan mempesona.
Lantai istana Maimun yang dibuat oleh Sultan Makmoen Al Rasyid terdiri dari dua tingkat. Terbagi menjadi tiga bagian. Yakni bagian induk, balai samping kiri dan balai samping kanan. Berdiri kokoh indah megah mewah meriah. Berwibawa sepanjang sejarah yang terarah.
Resmi sudah proses pembangunan istana Kasultanan Deli. Bentuk bangunan memadukan unsur Melayu, Mughal India dan Romawi Eropa. Benar benar bikin bangga. Mulai dari rakyat pedesaan perkotaan dan pegunungan.
Tanggal 18 Mei 1891 Istana Maimun resmi digunakan untuk melakukan pelayanan publik. Tata kelola pemerintahan dilaksanakan dengan rapi tertib. Rakyat Kasultanan Deli mengalami masa jaya makmur.
Undangan peresmian disebarkan ke seluruh kerabat kerajaan Nusantara. Antar Kraton terjalin persahabatan yang akrab. Karaton Surakarta Hadiningrat mengutus putra mahkota. Beliau adalah Gusti Raden Mas Malikul Khusna.
Kedatangan beliau di Istana Maimun pada tanggal 15 Mei 1891. Selama jadi tamu kerajaan, sempat pula berkunjung ke Kasultanan Langkat dan Kasultanan Serdang. Pisowanan sesama raja untuk menjaga kharisma utama.
Kunjungan ini diulangi lagi tahun 1915. Beliau sudah jadi raja Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwana X. Tradisi ini merupakan kelanjutan yang telah dirintis oleh para leluhur. Misalnya sejarah pertemuan Tamasek tahun 1819.
Orang Jawa merantau ke pulau Sumatera atas undangan Kasultanan Deli. Warga transmigrasi diberi tugas yang terhormat dan bermartabat.
Termasuk pembangunan istana Maimun tahun 1887. Asal usul hubungan ini terjadi saat Raffles mendirikan kota Tamasek Singapura yang terkenal.
Pada tanggal 6 Pebruari 1819 diselenggarakan pertemuan Kraton Nusantara. Bertempat di kota Tamasek Singapura. Hari tanda ulang tahun negeri Singapura sampai kini.
Hadir perwakilan kerajaan dari Ternate, Tidore, Goa, Tallo, Buton, Banjar, Cirebon, Surakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Paku Alaman, Langkat, Deli, Serdang, Mangkunegaran. Mereka diundang dalam rangka peresmian Singapura sebagai sentral bisnis.
Wakil dari Karaton Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh GKR Kencono Wungu. Beliau adalah garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV yang memerintah tahun 1788-1820. Delegasi Surakarta berjumlah 67 orang.
Utusan ini terdiri dari unsur kepatihan, mandra budaya, purwa kinanthi, pengrawit dan penari. Rombongan berangkat dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang menuju Tamasek Singapura.
Diskusi antar raja menghasilkan beberapa informasi penting. Kasultanan Serdang, Deli dan Langkat membuka perkebunan kelapa sawit, karet, coklat, tembakau. Dibutuhkan tenaga dari Pulau Jawa, setelah diadakan pelatihan.
Tenaga dari Jawa meliputi administrasi, transportasi, koki, tukang kayu, seniman. Sebagian tenaga manual yang bisa bekerja di sawah dan kebun. Malah sebagian mendapat kehormatan untuk bekerja di istana Kasultanan Deli.
Ahli yang datang berasal dari Blitar, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Wonogiri, Boyolali, Blora, Pati, Banyumas, Purworejo. Program transmigrasi berjalan lancar gancar.
Tempat yang dituju yaitu Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Galang yang menjadi wilayah kekuasaan Sultan Deli. Lantas daerah Tebing Tinggi, Perbaungan dan Sei Rampah. Daerah ini dalam ranah kekuasaan Sultan Serdang.
Kordinasi dilakukan dengan teliti cermat tepat. Sultan Langkat juga menyediakan tempat serta fasilitas yang sangat layak. Pendatang dari Jawa bisa bekerja dengan aman nyaman.
Transmigrasi pada awalnya memang jasa diplomasi GKR Kencono Wungu atau Raden Ajeng Sukaptinah. Beliau bisa meyakinkan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat. Bahkan tenaga pikiran dan keahlian kerap dipakai Sultan Makmoen Al Rasyid.
Warga transmigrasi betah tinggal di tanah Sumatera. Mereka hidup makmur sejahtera bahagia lahir batin. Kehormatan dan keberuntungan diwariskan secara turun tumurun.
Cemerlang sekali prestasi warga transmigrasi. Pada tahun 1870 tenaga ahli dari Salatiga datang. Atas bantuan Sinuwun Paku Buwana IX yang memerintah tahun 1861-1893. Beliau berhubungan baik dengan istana Maimun.
Pendatang dari Jawa terjadi lagi pada tahun 1915 atas bantuan Sinuwun Paku Buwana X. Beliau malah mengantar sampai tanah Sumatera. Raja Deli, Serdang dan Langkat menyambut dengan penuh rasa hormat.
Tahun 1958 transmigrasi dilakukan dengan beda tempat. Umumnya tertuju daerah Metro Lampung.
Daerah Jambi dijadikan tujuan transmigrasi tahun 1974. Mereka berasal dari Boyolali, Purwodadi dan Sragen.
Bengkulu jadi tujuan transmigrasi tahun 1981. Mereka datang di daerah Muko Muko.
Untuk kawasan Sumatera Utara terjadi kemajuan pola pikir. Transmigrasi dilakukan dengan swakarsa. Datang transmigrasi dengan kemampuan ketrampilan dan jaringan yang luas.
Umumnya warga transmigrasi berhasil membangun hubungan baik dengan penguasa kerajaan. Terjadilah hubungan kerja yang saling menguntungkan.
Dalam hubungan kerja ini warga transmigrasi mengedepankan prinsip kayungyun dening pepoyaning kautaman.
Tenaga warga transmigrasi digunakan terus. Ini bentuk kehormatan dari istana.
Hendaknya generasi muda belajar sejarah Pelabuhan Belawan. Agar mengenal strategi mengembangkan bidang maritim yang dirintis oleh raja Kasultanan. Jasa ini diingat sepanjang masa.
B. Jasa Para Sultan Deli dan Sultan Serdang.
Pemuda belajar sejarah. Tiap ksli dalam membangun selalu berpangkal tolak pada masa silam. Termasuk jasa Kasultanan Deli dan Kasultanan Serdang.
Misalnya Pelabuhan Belawan. Raja yang pernah berjasa membangun pelabuhan Belawan harus dihormati. Yakni para raja kasultanan Deli, Kasultanan Serdang dan Kasultanan Langkat.
Istana Maimun dibangun dengan pola kerja sama. Warga transmigrasi dengan sukarela membantu tenaga sukarela. Mereka punya sikap rumangsa melu handarbeni.
Transmigrasi didukung oleh Sulltan Deli, Serdang dan Langkat. Inilah yang membuat warga transmigrasi tersanjung. Mereka ingin berbalas budi.
Kemurahan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat bagi warga transmigrasi dicatat dengan tinta emas. Hutang budi ini dikenang sepanjang masa.
Kerajaan Serdang Darul Arif membangun peradaban berdasarkan keutamaan. Bagi warga transmigrasi, Sultan Serdang berbudi luhur yang mengagumkan.
Peradaban besar dilakukan oleh Kerajaan masa silam. Sejarah berdirinya kerajaan Serdang berhubungan erat dengan Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat. Warga transmigrasi mengenang prestasi gemilang yang diukir dengan penuh pesona.
Transmigrasi berhasil dengan gemilang. Berturut turut raja yang memerintah Kesultanan Deli, yaitu:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632-1668.
2. Tuanku Panglima Parungit, tahun 1668-1698.
3. Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698-1728.
4. Tuanku Panglima Pasutan tahun, 1728-1761.
5. Tuanku Panglima Gandar Wahid, tahun 1761-1805.
6. Sultan Awaluddin Mangendar, tahun 1805-1850.
7. Sultan Osman Alam Shah, tahun 1850-1858.
8. Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858-1873.
9. Sultan Makmun Al Rasyid, tahun 1873-1824.
10. Sultan Osman Al Sani, tahun 1924-1945.
11. Sultan Perkasa Alam Shah, tahun 1945-1967.
12. Sultan Azmy Perkasa Alam Al Haj, tahun 1967-1998.
13. Sultan Osmab Perkasa Alam, tahun 1998-2005.
14. Sultan Mahmud Lamanjiji Perkara Alam, tahun 2005-2020.
Dalam kekerabatan Kesultanan Melayu, para raja masih ada hubungan famili. Antara sultan Serdang dengan Para Sultan Langkat pun berhubungan erat. Warga transmigrasi peduli istana. Adapun para Sultan Langkat yakni:
1. Panglima Dewa Shahdan, tahun 1568-1580.
2. Panglima Dewa Sakti, tahun 1580-1612.
3. Raja Kahar, tahun 1612-1673.
4. Bendahara Raja Badiuzzaman, tahun 1673-1754.
5. Raja Kejuruhan Hitam, tahun 1754-1818.
6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, tahun 1818-1840.
7. Tuanku Sultan Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah, tahun 1840-1893.
8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1893-1927.
9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1927-1948.
10. Tengku Athaar, tahun 1948-1990.
11. Tengku Mustafa Kamal Pasha, tahun 1990-1999.
12. Tengku Herman Shah, tahun 1999-2001.
13. Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2001-2003.
14. Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2003-2020.
Program transmigrasi sukses selalu berhubungan dengan jasa kerajaan. Penulisan urutan raja berguna untuk memahami sistem kerajaan. Pewarisan nilai pun mudah dipetakan.
Keluarga transmigrasi senang hati pada istana. Sedangkan para raja kasultanan Serdang Darul Arif yakni:
1. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1723-1767.
2. Sultan Amab Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1767-1817.
3. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah 1817-1850.
4. Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah, tahun 1850-1879.
5. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah, tahun 1879-1946.
6. Tuanku Rajih Anwar, tahun 1946-1960.
7. Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifaullah Alam Shah Al Haj, tahun 1960-2001.
8. Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah, tahun 2001-2011.
9. Sri Sultan Tuanku Ahmad Thalla Syariful Alam Shah, tahun 2011-2020.
Dukungan pada warga transmigrasi sangat berarti. Kerajaan Serdang masih berlangsung hingga kini. Kehidupan kerajaan dalam rangka keseimbangan jiwa raga.
