Babad Tanah Pasundan

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp: 0878 6440 4347)

A. Kerajaan Pajajaran.

Babad Tanah Pasundan memang agung. Pajajaran adalah payung besar bagi tumbuh kembangnya budaya Pasundan. Harkat martabat warga Sunda berderajat terhormat.

Babad Tanah Pasundan perlu dilacak. Termasuk asal usul nama kota Bandung. Nama Bandung berasal dari dua kata, Bantuan dan Mendung. Bantuan terkait dengan pertolongan dari Tuhan. Mendung merupakan suasana yang sedang gelap gulita. Tidak selamanya langit mendung, berarti suasana duka suatu saat pasti berganti.

Ada harapan untuk menanti keadaan yang lebih gemilang. Bandung berarti keyakinan masyarakat terhadap bantuan Tuhan untuk mendapati cuaca mendung. Inilah butir butir kearifan lokal.

Sesungguhnya di balik kesempitan pasti beserta dengan kesempatan.
Anugerah yang berlimpah ruah ini betul betul dihayati oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Siliwangi pada tanggal 9 Muharam atau 20 April 1333. Nasihat luhur ini diungkapkan oleh Prabu Siliwangi ketika dinobatkan sebagai raja agung di kerajaan Pajajaran.

Pidato pengukuhan sebagai pimpinan tertinggi kraton Siliwangi sungguh menggetarkan hati. Segenap hadirin tak kuasa menahan air mata. Raja Pajajaran ibarat Batara Wisnu yang menjelma di madyapada untuk menaburkan kesejahteraan pada alam.

Berkenan hadir dalam upacara penobatan Prabu Siliwangi, yaitu para raja di kawasan Nusantara, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Barat. Sultan Al Malik Azh Zhahir mewakili kerajaan Samudra Pasai. Ratu Putri Tribhuana Tungga Dewi Jaya Wisnumurti mewakili kerajaan Majapahit. Panji Asmarabangun mewakili kerajaan Daha. Sekartaji Galuh Candrakirana mewakili kerajaan Jenggala. Prabu Indrajaya Balaputradewa mewakili kerajaan Sriwijaya. Prabu Maharaja Bonisora mewakili kerajaan Galuh. Komala Pulu mewakili kerajaan Ternate.

Sultan kolano Syahjati mewakili kerajaan Tidore. Maharaja Indera Mulia mewakili kerajaan Kutai Martapura. Srimat Sri Suruaso Udaya Adityawarman mewakili kerajaan Pagaruyung.

Selain raja sahabat Nusantara, hadir pula Sultan Alaeddin Pasha. Kehadirannya mewakili Kasultanan Utsmaniyah Turki yang memerintah sejak tahun 1320. Raja diraja yang berpusat di Konstatinopel ini memang termashur di se-luruh dunia. Kehadiran Sultan Alaeddin Pasha membanggakan warga Pasundan. Tentu pengawalan super ketat. Sejak tiba di pelabuhan Tanjung Priok, raja Turki mendapat pengawalan khusus dari Bregada Prajurit Langen Astra, Prajurit Surageni, Prajurit Jayeng Astra dan Prajurit Jagasura.

Upacara penobatan Prabu Siliwangi berlangsung megah, mewah, meriah, indah. Lantas dilakukan kirab keliling kota Bandung.

Sepanjang jalan berkibar bendera gula klapa, rontek, umbul-umbul. Rakyat berduyun duyun dari segala penjuru. Penjual peuyeum laris manis. Para raja turut kirab dengan naik kereta Paksi Kencana, kereta Paksi Kumala, kereta Paksi Retna, kereta Jati Nugraha, kereta Jati Wiwaha. Semua kereta ditarik delapan kuda pilihan dari Sumbawa.

Gagah benar penampilan Prabu Siliwangi. Beliau menggunakan busana kebesaran tedak loji dengan selempang tanda-tanda kebesaran. Yakni berupa bintang bintang kerajaan, nganggar pusaka warangka gayaman.

Raja Pajajaran berbusana sikepan ageng, kuluk panunggul, atela hitam, dasi model kupu-kupu, sikepan tritis bersulam benang emas, nyamping parang curiga latar putih, jarik ngumbar kunca, kampuh blenggen rumbai dua. Para pegawai istana menggunakan busana makutha, matak, kastur, destar, celana, pasikon, kepuh, dan ukup.

Putra-putri Pajajaran menggunakan aneka ragam perhiasan. Ada kalung, subang, tusuk konde, gelang, bros, cincin, semyok, sengkang, susuk.

Busana keputren meliputi: sabuk-wala, pinjung kencong, ukel sanggul, kampuhan gendalagiren, dodotan, klembrehan, sengkelat, janur slepe, jungkat, kukar, limaran, cinde, cunduk jungkat, kebaya, rasukan janggan, jarik wiron, gendala giri, peserta kirab berbusana serba gemerlap.

Dua tahun kemudian yaitu tanggal 20 April 1335 istana Pajajaran dibangun lebih cantik. Prabu Siliwangi mendatangkan kayu jati dari Cepu, semen dari Gresik, marmer dari Tulungagung. Juru ukir terpilih didatangkan dari Jepara.

Tukang pahat batu dari Muntilan, ahli relief dari Prambanan. Pakar bangunan terpilih diundang ke Priangan Bandung. Hari ulang tahun kerajaan Pajajaran, ini dilakukan secara istimewa.

Bangunan karaton Pajajaran terdiri dari gladag, pamurakan, alun-alun, ringin kurung, pagelaran, sasana sumewa, sitinggil, kori mangu, kori brajanala, kori kamandungan, sri manganti, dalem ageng, kedaton, prabasuyasa, bala angun-angun.

Tampak indah megah yaitu bangunan untarasana, paningrat, smarakata, bale marcukunda, gondorasan, bangsal pengrawit, singgasana, manguntur tangkil, talangpati, banoncinawi, keputren, tratak rambat, kepatihan, sasana handrawina, langen boga, sasana mulya, sasana krida dan bangsal manis.

B. Peninggalan Prabu Siliwangi.

Bandung sebagai lautan peradaban di Pasundan nyata dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Maka masyarakat Bandung sungguh berbahagia mendapat warisan mulia dari Prabu Siliwangi. Kerajaan Pajajaran berkembang menjadi negeri aman damai, makmur sejahtera, termashur wibawa, murah sandang pangan papan.

Prabu Siliwangi memerintah dengan arif bijaksana. Keadilan dan hukum dijunjung tinggi. Birokrasi dibina demi mengutamakan pelayanan.

Pada ulang tahun yang kelima, yakni pada tanggal 20 April 1338 Kerajaan Pajajaran memberi hadiah seni Jajar Agung kepada para budayawan. Prestasi para seniman dan budayawan dihargai oleh Prabu Siliwangi. Mereka diundang ke istana.

Penghargaan seni Jajar Agung tentu mendorong para seniman budayawan untuk terus berkarya. Penetapan seniman berprestasi melalui seleksi yang ketat. Prabu Siliwangi menghendaki unsur obyektivitas dalam seleksi. Tidak ada rekayasa. Itulah keteladanan Prabu Siliwangi yang mulia dan agung.

Bandung adalah bantuan untuk mengatasi suasana mendung. Prinsip ini diterapkan semasa kepemimpinan Prabu Siliwangi. Kerajaan Pajajaran mampu mewujudkan rasa bangga di kalangan warga Pasundan.

Rakyat Pajajaran yang tinggal di pegunungan, pedesaan dan perkotaan amat memuja keluhuran budi Prabu Siliwangi. Terlebih-lebih bagi warga jelata yang serba kekurangan, senantiasa mendapat bantuan dan pertolongan dari raja Pajajaran. Prabu Siliwangi tidak pernah pilih kasih.

Raja Pajajaran memang sakti mandraguna. Beliau per-nah bertapa di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Perlengkapan semedi dibawa oleh pegawai istana yang tergabung dalam lembaga sasana padupan. Mereka membawa dupa, kemenyan, ratus, minyak wangi srimpi, kembang telon, kembang piton.

Prabu Siliwangi duduk bersila memuja kepada Tuhan. Meditasi Prabu Siliwangi juga dilakukan di puncak gunung Malabar setiap bulan Sura. Raja Siliwangi ini juga tapa kidang, tapa kalong, tapa api dan tapa air.

Ibukota Pajajaran pindah ke Bogor pada tanggal 3 Juni 1482. Raja Pajajaran dipegang oleh Sri Baduga Maharaja. Sedangkan kota Priangan Bandung dikelola oleh Dipati Ukur. Wilayahnya lantas disebut dengan Kadipaten Tatar Ukur.

Kerajaan Pajajaran tetap membawahi kadipaten Tatar Ukur. Para penguasa baru juga gemar semedi dengan tapa ngeli di sungai Citarum.

Dalam perjalanannya kerajaan Pajajaran berganti nama menjadi kerajaan Sumedang Larang pada tahun 1580. Rajanya bernama Kanjeng Sinuwun Prabu Geusan Ulun.

Pemimpin kerajaan Sumedang Larang ini bersahabat erat dengan Panembahan Senopati raja Mataram yang memiliki istri Kanjeng Ratu Kidul. Penguasa Laut Selatan ini membantu kerajaan Sumedang Larang.

Hubungan kerajaan Mataram dengan kerajaan Sumedang Larang berjalan sangat harmonis. Pada tahun 1620 Sul-tan Agung berkunjung ke Sumedang Larang. Kedatangan raja Mataram disambut hangat oleh Prabu Suriadiwangsa, pimpinan Sumedang Larang.

Sultan Agung memberi gelar Raden Suriadiwangsa dengan sebutan Pangeran Rangga Kusuma-dinata. Pada tahun 1624 Pangeran Rangga Kusumadinata berkunjung ke Sampang Madura.

Pada tahun 1632 Priangan Bandung dipimpin oleh Pangeran Dipati Rangga Gede.
Pelantikan Bupati Bandung pada tanggal 20 April 1632, melanjutkan tradisi luhur yang diwariskan oleh Prabu Siliwangi.

Hari bersejarah ini juga bersamaan dengan ulang tahun kabupaten Bandung, kabupaten Parakan Muncang dan kabupaten Sukapura.

Kabupaten Bandung pada tahun 1641 dipimpin oleh Tumenggung Wira Angu Angun. Beliau menjabat Bupati Bandung tahun 1641 – 1681.

Penggantinya bernama Tumenggung Ardi Kusumah tahun 1681 – 1704. Beliau bersahabat erat dengan Sinuwun Amangkurat Amral yang menjadi raja Mataram Kartasura. Raden Ardinata menjabat Bupati Ban-dung tahun 1704 – 1747. Lantas dilanjutkan oleh Adipati Ha-tapraja tahun 1707 – 1763. Pangeran Anggadireja menjabat Bupati tahun 1763 – 1794.

Selanjutnya para penguasa Bandung menjalin kekerabatan dengan kerajaan Mataram. Bandung bertambah jaya, makmur dan tersohor. Warisan budaya Sunda perlu dilestarikan.

C. Pelestari Warisan Budaya Sunda.

Para Bupati Bandung mengabdi demi kemuliaan warga Pasundan. Mereka adalah pewaris budaya besar.

1. Tumenggung Wiraangunangun 1632 – 1681

2. Tumenggung Ardikusumah 1681 – 1704

3. Tumenggung Anggadireja I 1704 – 1747

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *