Mengenang 75 Tahun Bandung Lautan Api, Heroisme dan Pengorbanan yang Sesungguhnya

BANDUNG — LIPUTAN68.com — Pada masa pandemi saat ini, aktivitas warga memang masih dibatasi. Pembatasan aktivitas ini merupakan bagian upaya pencegahan virus Covid-19 yang telah menjangkit sejak Maret 2020 lalu.

Sedikit mengerem aktivitas dan beradaptasi terhadap pola hidup merupakan salah satu bentuk pengorbanan agar pandemi Covid-19 bisa terkendali penyebarannya.

Soal pengorbanan, pada 75 tahun silam, tepatnya pada tanggal 23 Maret 1946, rakyat Bandung membakar rumah dan bangunannya agar tidak dikuasai oleh sekutu. Peristiwa itulah yang kini dikenal sebagai Bandung Lautan Api (BLA).

Dirangkum dari berbagai sumber, peristiwa Bandung Lautan Api bermula ketika Belanda dan Sekutu datang ke Bandung tanggal 12 Oktober 1945.

Mereka ingin merebut kembali wilayah-wilayah Indonesia dengan cara melucuti senjata Tentara Keamanan Rakyat (TKR), laskar-laskar pejuang, milisi Indonesia, tentara Jepang dan membebaskan tawanan Eropa Belanda.

Kehadiran sekutu di Kota Kembang ini mendapat sambutan kurang ramah dari para pejuang. Sejumlah pertempuran sempat terjadi, diantaranya pertempuran Cihaurgeulis, Sukajadi, Pasirkaliki, Viaduct (jembatan di atas jalan), dan Balai Kereta Api.

Geram dengan sikap rakyat Bandung yang enggan meletakan senjata, Tentara Sekutu di bawah komando Kolonel McDonald memberi ultimatumnya yang kedua pada tanggal 23 Maret 1946, agar Bandung selatan segera dikosongkan oleh milisi serta rakyat sipil.

Sebetulnya seruan itu telah jauh-jauh hari digembar-gemborkan oleh Belanda dan Sekutu melaui selebaran kertas yang jatuhkan oleh pesawat Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris), yang berbunyi: “Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 24.00 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer nol”.

Mendapat ultimatum tersebut, para pejuang Bandung yang tergabung dalam TRI (Tentara Republik Indonesia), laskar-laskar, dan ribuan rakyat lainnya geram dan dengan tegas menolak menyerahkan tanah tumpah darah kepada Belanda.

Terkait ultimatum itu, Pemerintah Republik Indonesia melaui Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Komandan Divisi III TRI, Kolonel A.H. Nasution, menyarankan agar para pejuang Bandung memenuhi ultimatum Sekutu.

A.H. Nasution sempat bicara soal opsi mempertahankan atau menyerahkan kota Bandung pada Perdana Menteri Sutan Syahrir.

Syahrir begitu pesimistis akan kekuatan TKR yang baru berganti nama menjadi TRI pada 26 Januari 1945. Bagi Syahrir, TRI tak akan bisa menghadapi Tentara Sekutu. Senjata TRI sangat sedikit.

Syahrir yang tak suka kekerasan dan tak suka melihat darah, menekan Nasution untuk menerima ultimatum agar Bandung dikosongkan.

Syahrir berusaha membebaskan Indonesia dari tekanan militer negara Inggris dengan menampilkan wajah Republik Indonesia sebagai pemerintahan yang beradab dan cinta damai.

Ia pun ikut melobi agar Jenderal Inggris mau meminjamkan 100 truk untuk mengeluarkan orang-orang Indonesia dari Bandung. Tawaran truk itu ditolak Kolonel Nasution.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *