BITRA Kembangkan Pertanian Permakultur Yang Ramah Lingkungan dan Iklim

MEDAN – LIPUTAN68.COM – Meski memproduksi pangan sebagai element asupan yang paling penting bagi kehidupan manusia, namun dunia pertanian konvensional berkontribusi cukup besar bagi pemanasan gobal (global warming), menurut Food and Agriculture Organization (FAO) badan pangan dan pertanian PBB (UN), pertanian dan aktivitas pengelolaan lahannya menyumbang 20,4% terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), di urutan pertama adalah listrik dan sumber panas lain (25%), sedang di bawah dunia pertanian ada aktivitas industri (17,9%), selanjutnya aktivitas transportasi (14%), energi lainnya, sampah makanan, bangunnan dan yang lainnya.

Jadi pertanian konvensional, selain merusak lingkungan juga menyumbang besar (pada urutan ke 2) terhadap global warming. Belakangan waktu muncul konsep pertanian polikultur/wanatani/tumpangsari dan instilah lainnya, terhadap pertanian yang menganut tanaman beragam sebagai koreksi pertanian monokultur (tanaman sejenis dalam hamparan yang luas) dan polikultur dianggap pertanian yang sangat ramah lingkungan. Konsep dan praktik pertanian yang paling baru adalah pertanian model permakultur.

Permakultur merupakan kata serapan yang disadur dari bahasa Inggris, yaitu permaculture, sebagai singkatan dari permanent agriculture. Artinya, pertanian dengan tatanan kehidupan yang lestari, terus menerus, dan permanen. Maka dari itu, permakultur memegang erat prinsip keseimbangan dan berkelanjutan.

Pertanian permakultur mulai dipelajari BITRA Indonesia sekitar 3 tahun yang lalu dari salah satu lembaga pengembang permakultur di Indonesia, yakni IDEF Foundation di Bali. Kini BITRA menerapkannya pada basis-basis dampingan di pedesaan. Seperti aktifitas yang dilakukan di desa Sukamandi Hulu, Pagar Merbau, Deli Serdang, kemarin, Sabtu 27 Maret 2021. BITRA Bersama kelompok tani dampingan membuat pakan ikan organik, “pembuatan pakan ikan dilakukan karena di desa ini banyak petani memelihara ikan di kolam, saluran irigasi depan rumah dan lahan sawah, dengan maksud agar petani dapat memanfaatkan limbah kehidupan sekitar, menghasilkan ikan yang sehat untuk asupan gizi bagi keluarga petani dan konsumsi orang lain secara umum, jika ikan yang diproduksi surplus bagi kebutuhan keluarga petani.” Demikian penjelasan panjang Berliana Siregar, Manager Program Community Development (ComDev) BITRA Indonesia pada bitraorid.

“Aktifitas pertanian permakultur selain sangat baik bagi lingkungan, selaras dengan alam, secara ekonomi juga akan meningkatkan pendapatan petani dan yang paling penting adalah juga mengurangi ketergantungan keluarga petani pada asupan ikan yang terkontaminasi residu bahan kimia dari pasar luar.” tambah Berliana.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *