Sejarah Ki Ageng Giring

C. Trah Ki Ageng Giring.

Anak keturunan Ki Ageng Giring selalu setia pada kepemimpinan raja Mataram. Takdir Tuhan bahwa mereka bertugas untuk menjaga dhampar keprabon.

Tiap peristiwa historis diperhatikan dengan saksama. Anak cucu Ki Ageng Giring lahir batin mengabdi pada Kraton Mataram.

Misalnya adanya peristiwa historis pada pertengahan abad 18. Tanda tangan perjanjian Giyanti terjadi pada tanggal 13 Pebruari 1755. Kotagedhe, Ngawen dan Imogiri sepenuhnya menjadi hak Karaton Surakarta Hadiningrat.

Wilayah ini secara historis dan kultural berkiblat pada budaya Karaton Surakarta Hadiningrat. Terutama untuk daerah Imogiri dan Kotagedhe.

Perkembangan selanjutnya untuk wilayah Ngawen Gunung Kidul menjadi hak kelola Pura Mangkunegaran. Sesuai dengan perjanjian Salatiga pada tangga 17 Maret 1757.

Kedua perjanjian ini selalu menyertakan pembesar Pati. Tentu sesuai dengan tradisi sejarah.
Ki Ageng Penjawi berjuang keras dalam mendirikan Kerajaan Mataram. Sanak kadang pawong mitra bergiliran membangun kotagede.

Kayu jati terpilih dari Cepu disumbangkan. Sebagian membawa minyak tanah dari Bojonegoro. Semen dari Tuban digunakan untuk bahan bangunan.

Untuk kebutuhan logistik konsumen ada yang membaca bumbu kecap Purwodadi. Trasi dibawa dari Lasem Rembang. Semua dikoordinir oleh Ki Ageng Penjawi.

Andil warga Pati pada Mataram untuk mendukung Raden Ajeng Waskitha Jawi. Putri Ki Ageng Penjawi ini sungguh wanita tangguh ampuh utuh.

Kotagedhe wilayah strategis dalam sejarah peradaban Jawa. Perjanjian Giyanti ditanda tangani di desa Giyantiharjo Karanganyar Jawa Tengah pada tanggal 13 Pebruari 1755.

Terjadi pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono lll yang memerintah tahun 1749 sampai 1788.. Beliau mendapat julukan Sinuwun Suwarga. Artinya raja yang ikhlas lahir batin.

Pelopor perdamaian di tanah Jawa. Tidak cuma itu, Sinuwun Paku Buwono lll pada tanggal 17 Maret 1757 menanda tangani perjanjian Salatiga. Perjanjian Giyanti mengesankan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta dengan gelar Sultan hamengku Buwono l. Perjanjian Salatiga meresmikan Raden Mas Said berkuasa dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya mangkunegara l. Semua itu terjadi atas kemurahan hati Kanjeng Sinuwun Paku Buwono lll. Beliau raja besar yang ahli sejarah, teater, sosiologi, sastra budaya. Semasa mudanya bernama Gusti Raden Mas Suryadi kerap berperan sebagai sutradara teater keliling.

Karya Sinuwun Paku buwono lll yang terkenal adalah Serat Wiwaha Jarwa. Dalam seni pedalangan digubah menjadi lakon Begawan Mintaraga. Sebagian menyebut cerita Begawan Ciptowening. Pada tahun 1966 RS Subalinata dari Fakultas Sastra UGM meneliti Reriptan Sinuwun Paku Buwono lll dalam bentuk skripsi.

Karya ilmiah menkaji budaya. Dr Kuntara Wiryamartana pada tahun 1987 membahas karya Paku Buwono lll dalam disertasi yang diterbitkan menjadi buku oleh Duta Wacana University Press. Disertasi itu diajukan di hadapan wibawa Senat UGM dengan promotor utama Prof Dr A Teuuw dari Universitas Leiden.

Sebelum tanda tangan soal kenegaraan, Sinuwun Paku Buwono lll selalu sowan ke Puroloyo Kotagedhe. Minta lilah dan petunjuk pada leluhur Mataram. Beliau juga mahas ing ngasepi di gunung Lawu, tempat muksanya Prabu Brawijaya V. Tiap bulan ruwah tak lupa siram jamas di Umbul Ngabehan Pengging. Sekali tempo melakukan tapa kungkum di kahyangan Dlepih Tirtamaya Wonogiri. Kadang kadang lek lekan, cegah dhahar lawan guling di Gunung Danaraja. Untuk kontemplasi beliau memilih tempat ing tepis wiringing gisik Bekah.

Menurut isi perjanjian Giyanti, wilayah Kotagedhe, Imogiri dan Ngawen milik sepenuhnya Karaton Surakarta Hadiningrat. Kotagedhe, Imogiri Ngawen dijadikan wilayah setingkat Kabupaten. Pimpinan yang mengelola ketiga wilayah ini mendapat status Bupati. Mereka bertugas atas perintah dan bertanggung jawab kepada Karaton Surakarta Hadiningrat.

Alangkah indahnya bila hubungan kultural itu tetap dilestarikan sampai sekarang, demi menggali kearifan lokal. Kata Bung Karno, jasmerah jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Wawasan kebangsaan bisa dianyam dengan pelestarian budaya.

Masjid agung Kotagedhe dibangun oleh Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta yang memerintahkan tahun 1893 sampai 1939. Beliau raja kaya raya. Punya saham di perusahaan pabrik gula sebanyak 176 buah.

Perkebunan teh di Ampel Boyolali, perkebunan tembakau di Tegalgondo Klaten dan perkebunan kopi di Kembang Semarang. Kejayaan dan kemakmuran digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Masjid Kotagedhe sebagai benda cagar alam dibangun megah mewah tahun 1926. Priyagung yang hendak sumare di Puroloyo Kotagedhe, terlebih dulu dilakukan tata cara. Bertempat di Masjid Puroloyo yang dipimpin oleh abdi dalem pamethakan. Pusaka kerajaan Mataram dirawat oleh abdi dalem.

Proses turunnya wahyu kerajaan Mataram, terjadi setelah laku Ki Ageng Giring. Namun yang mendapat keberuntungan supra natural justru Ki Ageng Pemanahan. Ilmu memanah lebih tajam daripada ilmu nggiring.

D. Wahyu Jatmika.

Dhampar keprabon Kraton Mataram atas dasar turunnya wahyu Jatmika. Sruning brata ketaman wahyu Jatmika, berarti mendapat anugerah tahta kerajaan karena mesu budi.

Ki Ageng Giring menjadi jalaran Panembahan Senapati mendapat tahta kerajaan. Tentu setelah menjalankan lara lapa tapa brata, nahas ing ngasepi. Bertapa di pinggir samudra, tengah hutan belantara.

Raja Pajang memberi bekal pusaka kepada Danang Sutawijaya. Namanya Tombak Kyai Plered. Pusaka ini sangat tinggi daya tuah.

Arya Penangsang bisa takluk. Makanya Tombak Kyai Plered dijadikan pusaka sipat kandel kerajaan Mataram. Disimpan di gedong pusaka Kotagedhe.

Puroloyo Kotagedhe sebagai Pajimatan Mataram. Makam kotagede dibangun tahun 1584. Dua tahun setelah babad Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan yang lebih dulu sumare.

Puroloyo Kotagedhe tempat sumare Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani, Panembahan Senapati dan Prabu Hadi Hanyakrawati. Puroloyo Mataram ini dibangun dengan begitu agung dan anggun. Upacara nyadran dilaksanakan setiap bulan ruwah oleh Karaton Surakarta Hadiningrat dengan segala kesungguhan.

Tata cara ini wujud mikul dhuwur mendhem jero. Segenap abdi dalem Kotagedhe dan Imogiri sowan ke Karaton Surakarta Hadiningrat tiap ada acara tingalan jumenengan dalem dan upacara Grebeg Mulud. Sebelah makam dibangun Masjid Puroloyo yang asri.

Untuk kepengurusan Masjid Kotagedhe diserahkan pada takmir secara otonom. Tapi semua biaya disediakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat. Umumnya takmir masjid Agung Kotagedhe pernah mengenyam pendidikan agama Islam di Mambaul Ulum. Letak kantornya di kompleks Masjid agung Karaton Surakarta Hadiningrat. Kegiatan belajar mengajar di Mambaul Ulum menempati beberapa lokasi yang menyebar sampai kawasan Sri Wedari.

Takmir Masjid di Pajimatan Imogiri dan Puroloyo Kotagedhe sejak masa pemerintahan Patih Sosrodiningrat selalu dibekali pendidikan yang cukup. Mambaul Ulum adalah lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikelola dengan kurikulum modern. Alumni pendidikan Mambaul Ulum misalnya Prof Dr HM Rasyidi Atmosudigdo, Prof Dr Mukti Ali dan Munawir Zadzali MA, pernah menjabat Menteri Agama RI.

Tokoh Kotagedhe alumni Mambaul Ulum yaitu Zubair Muhsin yang aktif dalam bidang sosial keagamaan. Pahlawan nasional Prof Dr Abdul Kahar Muzakkir adalah alumni Mambaul ulum Surakarta yang melanjutkan belajar di Perancis, Mesir dan Nederland. Mambaul Ulum telah memberi pencerahan pada putra bangsa.

Patih Sasradiningrat sebagai Perdana Menteri Karaton Surakarta Hadiningrat amat peduli pada pergerakan islam. Bahkan beliau juga menjabat ketua PDM Muhamadyah Surakarta. Bersama dengan KGPH Hangabehi turut membantu organisasi Budi Utomo dan Sarikat Islam.

Pada tahun 1945 Drs Sasradiningrat juga, alumni Universitas Leiden menjadi anggota BPUPKI. Utusan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam BPUPKI lainnya yaitu Dr Radjiman Wedyadiningrat, KGPH Surya Hamijaya, RMAA Drs Wuryaningrat, RP Singgih. Presiden Soekarno diberi kursus oleh Drs RMAA Sasradiningrat tentang sistem protokol kenegaraan.

Karaton Mataram memberi warisan kultural. Sejarah sebagai piranti kaca benggala untuk membaca owah gingsire jaman. Hubungan historis Karaton Surakarta Hadiningrat dengan Kotagedhe sampai sekarang tetap semangat dan hangat. Daerah Laweyan Solo, Kotagedhe dan Pekajangan Pekalongan adalah contoh koneksi historis dan bisnis. Jaringan ini bisa digunakan untuk merajut nilai kebangsaan. Generasi muda perlu belajar sejarah peradaban masa lampau.

Kedudukan Kotagedhe mendapat perhatian khusus dari kalangan akademis. Prof Dr Notonagoro adalah guru besar dan ahli filsafat Pancasila UGM. Beliau merup menantu Sinuwun Paku Buwono X. Saat sembahyang di Masjid Kotagedhe, beliau selalu berdoa untuk para pendiri Mataram. Dalam kehidupan sehari hari Prof Dr Notonagoro menghayati kebudayaan leluhur dengan sepenuh hati.

Guru besar UGM ini tahun 1983 wafat dan dimakamkan di pajimatan Imogiri. Satu kompleks dengan makam raja Surakarta. Kesadaran kultural ini dilanjutkan oleh murid muridnya yang mendapat nama sesebutan dari Karaton Surakarta dengan pangkat Bupati Riya Inggil.

Kotagedhe memang telah menjadi monumen sejarah kebesaran Karaton Mataram. Sungguh besar jasa Panembahan Senapati yang dibantu oleh Kanjeng Ratu Waskitha Jawi.

Putri Penjawi dari bumi Pati adalah wanita sembada wiratama. Prameswari Mataram yang tampil sebagai mustikane putri, tetunggule widodari.
Lukisan tentang pengembaraan spiritual Panembahan Senopati tercantum dalam Serat Wedhatama berikut ini.

Sinom

Saben mendra saking wisma,
Lelana laladan sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jala nidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.

Tata laku ini didukung oleh para ahli nujum Pati. Pengembaraan spiritual Panembahan Senopati di atas memberi inspirasi bagi generasi selanjutnya, agar mau melakukan refleksi dan kontemplasi. Kata Jalanidhi yang biasanya diterjemahkan sebagai samudera atau laut, juga merupakan kata kiasan bagi kehidupan. Menyepi atau menyendiri di tepi laut berarti, melihat kehidupan ini secara objektif dan seutuhnya.

Untuk itu Panembahan Senopati sering sekali melakukan meditasi di pinggir laut, memisahkan diri dari keramaian dunia dan memandang kehidupan ini, sebagai seorang saksi. Menjadi seorang saksi berarti tidak menganggap diri kita sebagai pelaku.

Nyata sekali bahwa sulit sulit gampang dan gampang gampang sulit. Selama kita menganggap diri kita sebagai pelaku, selama itu pula keangkuhan kita masih utuh. Kita tidak akan pernah bisa melihat kehidupan ini secara objektif. Demikian Anand Krisna memberi wejangan tentang spiritualitas raja Mataram.

Putri Pati berjasa besar. Kotagedhe tiap hari ramai oleh pengunjung yang cinta sejarah. Mereka berharap ngalap berkah dari leluhur. Biar menemukan kedamaian dan ketentraman.

Berdirinya Karaton Mataram berhubungan erat dengan Kabupaten Pati. Ki Ageng Penjawi Bupati Pati berjasa besar atas kokohnya Kraton Mataram. Putrinya bernama Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah garwa prameswari Penembahan Senapati.

Putri Pati yang menjadi Permaisuri raja Mataram merupakan pengusaha kaya raya. Harta benda ini untuk membangun infrastruktur Kerajaan Mataram yang berdiri tahun 1582.

Raden Ajeng Waskitha Jawi, Permaisuri Panembahan Senapati dikenang sepanjang masa. Warga Pati begitu bangga, karena telah memberi sumbangan besar atas tegaknya peradaban yang agung dan anggun.

Pendiri Mataram selalu ingat jasa Ki Ageng Giring. Hubungan antara Pati dengan Mataram amat dekat. Pembangunan istana Mataram didukung penuh oleh pangageng Pati. Urunan itu berupa berang dan jasa. Terbentuklah ibukota Kraton Mataram yang megah mewah indah gagah meriah.

Ki Ageng Giring tokoh sentral sebelum Mataram berdiri. Babad Kotagedhe memuat keteladanan. Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Orang hidup harus mau prihatin untuk mengejar cita cita. Sebagai mana yang dicontohkan oleh Panembahan Senapati.

Murid Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar kompak dalam memerintah Pajang dan Mataram. Bisa untuk suri teladan bagi generasi muda.

Alas Mentaok hadiah dari Sultan Hadiwijaya raja Pajang tahun 1546 – 1582. Ki Ageng Pamanahan membuka Alas Mentaok menjadi Ngeksiganda. Sejak tahun 1582 Panembahan Senapati menata Ngeksiganda menjadi Kerajaan Mataram.

Berdirinya Kraton Mataram berkaitan dengan figur Ki Ageng Giring. Bersama dengan Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Juru Martani Kerajaan Mataram berdiri kokoh, arum kuncara ngejayeng jagad raya.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *