Babad Kartasura

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Sinuwun Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya.

Mataram punya ibukota baru. Berdirinya Kartasura sebagai Ibukota Kraton Mataram atas jasa Sinuwun Amangkurat Amral.
Kartasura kota yang sangat penting. Sejarah Kabupaten Sukoharjo berhubungan dengan pembukaan wilayah Kartasura pada tahun 1677.

Pelopor pindahan ibukota adalah Gusti Raden Mas Rahmat. Beliau adalah cucu Pangeran Pekik, Bupati Surabaya. Gusti Raden Mas Rahmat merupakan putra Sinuwun Amangkurat Tegal Arum yang menikah dengan Kanjeng Ratu Wetan atau Ratu Mas.

Kelak Gusti Raden Mas Rahmat menjadi raja Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya . Pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya ini, kraton Mataram beribukota di Kartasura. Kartasura dipilih sebagai ibukota Mataram oleh Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya tahun 1677. Letak Kartasura amat strategis. Terhubung langsung dengan jalur penting kota di pesisir dan pedalaman.

Umbul Cakra dan Pengging mengalir ke Kartasura dan bertemu di Kali Larangan. Wilayah Sukoharjo ini punya sistem pengairan maju yang dipimpin oleh KRT Tirtonegoro.

Wilayah Sukoharjo sungguh menawan hati. Tanah subur di bawah kaki Gunung Merapi Merbabu. Mata air Bengawan Solo dari Gunung Sewu Wonogiri mengalir sampai selat Madura. Pada masa kejayaan Kraton Mataram Kartasura, berkembang pesat kesusasteraan, kesenian dan kerajinan. Daerah Bekonang Sukoharjo menjadi sentra industri gamelan.

Kitab kitab Jawa klasik diolah menjadi sastra dengan metrum macapat. Babad Tanah Jawi, Serat Menak, Serat Kandha dan Serat Panji diproduksi besar besaran. Kurun waktu antara tahun 1677- 1745 Kartasura menjadi pusat pembelajaran seni kerawitan, tari dan pedalangan.

Kerajinan gamelan dan wayang diekspor sampai ke Asia Timur, Selatan, Barat, dan Tengah. Sebagian dipasarkan di negeri Eropa. Puncak puncak kebudayaan gagrag Kartasura berkontribusi besar terhadap peradaban global. Busana wayang wong yang amat indah banyak dibuat di Sukoharjo.

Dunia berhutang budi pada produktivitas, kreativitas dan aktivitas kebudayaan Kartasura. Warisan luhur yang mendapat apresiasi. Ibukota Mataram Kartasura dibangun oleh Sri Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya pada tahun 1677. Kartasura dipilih sebagai ibukota Mataram karena letaknya sangat strategis. Jalur utama yang menghubungkan kawasan penting di Pulau Jawa. Arah utara menuju kota Semarang.

Arah barat menuju ke daerah Yogyakarta. Arah timur menuju kota Surabaya. Ahli bangunan dari Surabaya dan Makasar itu dulu yang mengembangkan Sukoharjo menjadi kota modern.

Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.

Itulah alasan Sinuwun Amangkurat II atau Sri Susuhunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya menjadikan Kartasura sebagai pusat pemerintahan Mataram. Studi kelayakan melibatkan pakar tata kota dari negeri Tamasek Singapura. Diundang pula arsitektur India yang pernah membangun Taj Mahal. Jadilah struktur perkotaan yang amat indah.

Sukoharjo diganjar alam yang menawan. Bila mata memandang ke arah barat, tampak megah gunung Merapi dan gunung Merbabu. Dua gunung kembar ini berdiri kokoh seolah olah gapura jagad.

Waktu orang bangun tidur pada pagi hari gunung Merapi dan gunung Merbabu begitu indahnya. Ganjaran Tuhan yang besar dan mengagumkan. Seolah olah gunung Merapi dan Gunung Merbabu adalah gapura, pintu gerbang wilayah barat.

Dari Sukoharjo bila memandang jagad wetan. Tatapan mata ke arah timur kelihatan begitu agung anggunnya gunung Lawu. Berbeda dengan gunung Merapi dan gunung Merbabu, suasana gunung Lawu tampak lebih angker, magis, mistis. Di sinilah Raden Gugur putra Prabu Brawijaya bertapa dan muksa. Maka orang banyak menjalankan tapa brata, semedi dan meditasi di Gunung Lawu.

Sri Susuhunan Amangkurat Surabaya tiap bulan Sura memimpin upacara ritual di Gunung Lawu. Beliau bermeditasi beserta para pengawal kerajaan. Sukoharjo dataran yang dikelilingi gunung dan bukit. Daerah perbukitan Selatan Barat, terdapat industri jamu di Tawangsari dan Nguter. Mereka menjadi apoteker tradisional yang handal. Terkenal dari Sabang sampai Merauke.

Gunung Sewu sebagai mata air Bengawan Solo tampak dari arah selatan. Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya berkunjung ke Kahyangan Dlepih Tirtomoyo Wonogiri. Beliau lelaku tapa brata untuk meneruskan tradisi yang dijalankan Panembahan Senapati. Orang Sukoharjo kerap menjalankan laku spiritual, cegah dhahar lawan guling.

Masyarakat Sukoharjo terbiasa dengan ngelmu ghaib. Penghayat kebatinan tumbuh semarak. Semua makhluk halus yang ada di sepanjang gunung Sewu tunduk para raja Mataram.

Bahkan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa pantai selatan pun dan bala tentaranya berserah diri pada raja Mataram beserta keturunannya. Bagi Penghayat Kejawen amat percaya dengan sepenuh hati. Termasuk kepercayaan kepada Ki Ageng Balakan, putra raja Majapahit yang dimakamkan di Sukoharjo. Beliau tokoh yang sangat dihormati.

Mata memandang dari Sukoharjo. Saat menghadap ke utara terlihat pegunungan Kendheng. Di sini tokoh Mataram banyak dijumpai.

Misalnya Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Penjawi. Makam tokoh mulia ini sangat dihormati oleh keluarga Mataram. Betapa kayanya gunung Kendheng. Ada kayu jati, batu kapur, minyak tanah, gas bumi, pari gaga dan burung perkutut. Semua berkualitas ekspor. Dunia berebut untuk menguasai gunung Kendheng. Kekayaan dunia yang berlimpah ruah.

Kerajaan Kartasura turut membangun Gunung Kendheng. Masyarakat Sukoharjo percaya bahwa gunung Kendheng menjadi piranti tolak balak. Berikut kutipan perjuangan Sunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya dalam Babad Tanah Jawi.

Dhandhanggula

Kang cinatur sejarah Matawis,
Wusnya Nata Agung Hamangkurat,
Surut haneng Galwangine,
Kuthagara Kedhatun,
Pleret dinulu risak sami,
Marma tan pantes dadya,
Pusering praja gung,
Sigra Sang Baginda arsa,
Ngalih amrih lumastariya kang negri,
Rinembak lan pra Patya.

Tan tinulis panitiking siti,
Kang pinangka hangalih nagara,
Padene dhatulayane,
Pindahnya wus tinamtu,
Hawit dene hanguciwani.
Titi sajumenengnya,
Amral kang Sinuwun,
Mapan wus wineceng jangka,
Tamat babad Pleret bawa boyong wukir,
Tilar tilas tan kocap.

Yen sinungging pra bebedra sami,
Sengkut bikut genya nambut karya,
Datan ngungak reriwene,
Hamangkurat jejuluk,
Ping dwi wus purna hangyasani,
Kadhaton wana karta,
Tuhu sinengkuyung,
Sing pra hangadhep Jeng Sunan,
Kukuh bakuh tanggap cobaning Hyang Widi,
Hagal halus dhumawah.

Jasa besar Sinuwun Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya dalam membangun Sukoharjo perlu dikenang. Perpindahan ibukota kerajaan Mataram dari Plered ke Kartasura berjalan lancar. Sri Susuhunan Amangkurat Surabaya menjadi tokoh sejarah sebagai bapak Kartasura. Beliau pantas diusulkan menjadi pahlawan Nasional.

2. Lingkungan Kota Kartasura.

Mijil

Sang patih sigra mranata baris.
Nyawiji gumolong.
Dhampyak Dhampyak gumregut swarane.
Binarung krapyak watang agathik.
Gumelar ngebaki.
Suraknya gumuruh.

Patih atau perdana menteri bekerja sepenuh hati. Perencanaan pembangunan Sukoharjo sebagai kawasan sentral Mataram dilakukan dengan saksama. Ahli Mataram berkumpul untuk menentukan langkah yang tepat.

Cakra Pengging.

Gumrojog banyu bening
tuking gunung umbul Cakra Pengging
mili ngetan tumuju Kali Larangan
Kartasura Surakarta sakbanjure
mili neng bengawan gedhe

Lagu ini cukup jelas menggambarkan lingkungan wilayah Sukoharjo. Daratan luas yang subur terbentang dari wilayah Prambanan, tepat sebelah timur Kali Opak.

Dari hulu Gunung Merapi mengalir Kali Dengkeng yang bergabung dengan Bengawan Solo. Sawah dengan kualitas terbaik menjadikan kanan kiri Kartasura sebagai lumbung beras. Hal ini mengingatkan pengusaha Baki Sukoharjo yang berjualan sego liwet.

Sepanjang sejarah padi terus menerus berbuah. Kebun tembakau, teh, duren, palawija beraneka rupa. Lumrah sekali Kabupaten Sukoharjo memiliki slogan Sukoharjo Makmur.

Aliran bengawan Solo menjadi sistem irigasi yang cocok untuk budidaya pertanian. Aliran sungai Dengkeng dan kaliworo merupakan pasokan air dari gunung Merapi, Gunung pegat dan Gunung Ijo.

Sego liwet adalah produk kuliner unggulan Sukoharjo. Ciri khas orang Kartasura adalah pandai masak. Kuliner dari yang murah sampai paling mahal jelas tersedia. Jajanan memanjakan lidah. Lauk pauk berjenis-jenis. Ragam minuman berkelas pasti ada.

Dalam hal makanan orang Kartasura terlalu sensitif. Harus enak, gurih dan nyamleng. Dari dulu sampai sekarang prinsip itu dipegang teguh. Biar orang mlarat sekalipun, soal makan tetap harus enak. Justru karena miskin, maka harus pintar bikin bumbu. Supaya bahan sederhana pun tetap enak gurih.

Sepanjang jalan Kartasura ramai jualan makanan. Nasi liwet, timlo, bebek goreng, jenang, jadah, wajik, wedang, cemoe, rondhe siap untuk dihidangkan.

Raja Amangkurat Surabaya mengundang koki dari seluruh pelosok dunia. Usaha kuliner dibina oleh Sinuwun Amangkurat Surabaya , dengan mendatangkan juru masak dari Tiongkok.

Tiap tahun diselenggarakan festival dhaharan nyamleng yang diikuti dari utusan Kabupaten Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Orang Baki Sukoharjo kerap dilibatkan dalam pelatihan bumbu. Juru masak istana dilatih untuk meningkatkan mutu bumbu.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *