Dewi Sekardadu dan Maulana Ishaq pada tahun 1487 datang ke Lumajang. Tujuanya untuk membagi lenga tala. Minyak ini berkhasiat untuk mencegah penyakit gudig. Wabah pageblug mayangkara sedang terjadi di sepanjang kali Asem, kali Winong, kali Sumbergebang, kali Banter.
Dewi Sekardadu yang kaya raya ini segera turun tangan. Bersama dengan anak buahnya yang tinggal di Lamongan, Dewi Sekardadu memberi pertolongan kepada sesama. Masyarakat Lumajang pun bebas dari penyakit menular. Hidup kembali aman nyaman.
Pengalaman Dewi Sekardadu cukup luas. Beliau tinggal di Lamongan. Di sana beliau menjadi suadagar kaya raya. Hasil bumi mendatangkan keuntungan besar. Dewi Sekardadu pernah berkunjung di kawasan kebun teh Merbabu.
Dari pengalaman ini, lantas beliau mengajak ahli agrobis untuk datang ke desa binaan maka diajaklah pembesar, Kertowono. Usaha ini berhasil sekali. Penduduk bergembira bukan main.
Kebun teh Kertowono berada di daerah Gucialit Lumajang. Pemandangan sungguh asri indah. Cocok untuk wisata alam. Hawanya sejuk, di bawah kaki Gunung Bromo, Dewi Sekardadu amat berjasa. Sudah selayaknya putri Adipati Menak Sembuyu ini dihormati oleh penduduk Lumajang sepanjang masa.
Perkebunan karet dan coklat dipelopori oleh raja Mataram, Sri Amangkurat Amral tahun 1688. Beliau adalah cucu Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Nama kecilnya yaitu Raden Rahmat.
Beliau sering diajak keliling wilayah bang wetan bersama kakeknya. Pangeran Pekik Bupati Surabaya dan Ratu Wandansari merupakan pasangan yang suka budidaya agrobisnis. Wilayah Lumajang loh subur kang sarwa tinandur.
Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IV juga pernah datang ke wilayah Lumajang pada tahun 1812. Beliau bersama dengan Kanjeng Ratu Mas, putri Bupati Lamongan yang menjadi permaisurinya.
Raja karaton Surakarta Hadiningrat ini sedang melakukan program kerja di wilayah Bang Wetan. Ibu-ibu dari Lumajang lantas diajak untuk datang ke Surakarta. Mereka kursus batik di Laweyan. Kemudian dilanjutkan dengan belajar meracik jamu di Tawangsari.
Hubungan Lumajang dengan karaton Surakarta Hadiningrat selalu akrab. Pada tanggal 16 Mei 1896 Sinuwun Paku Buwono X melakukan kunjungan di Lumajang. Beliau turut meresmikan stasiun kereta api. Bersamaan dengan itu dilakukan pula peresmian stasiun Klakah, stasiun Pasisiran, stasiun Balung, stasiun Rambipuji.
Stasiun di Lumajang ini sangat berguna sekali untuk kelancaran lalu lintas barang dan jasa. Ini cita cita yang pernah digagas Prabu Hayamwuruk.
Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X ini Lumajang mendapat status kabupaten otonom pada tahun 1928. Raja karaton Surakarta melantik Kanjeng Raden Tumenggung Kertodirejo sebagai Bupati Lumajang.
Beliau menjabat bupati Lumajang tahun 1928 – 1941. Surat keputusan diserahkan oleh Patih Sosrodiningrat. Bupati Lumajang tahun 1941 dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono XI. Raden Abu Bakar menjabat Bupati Lumajang tahun 1941 – 1948. Kabupaten Lumajang semakin ayem tentrem, murah sandang pangan papan.
Kaca benggala atau cermin masa silam bisa untuk memandang masa depan. Warisan Prabu Hayamwuruk raja Majapahit merupakan cahaya terang benderang.
C. Penerus Kepemimpinan Prabu Hayamwuruk.
Tata pemerintahan yang baik menjadi inspirasi bagi sekalian pemimpin.
Para Bupati Lumajang berjasa pada nusa bangsa. Keteladanan raja Hayamwuruk menjadi kaca benggala utama.
1. Adipati Kertodirojo 1928 – 1941
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
2. Raden Abu Bakar 1941 – 1948
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
3. Raden Sastrodikoro 1048 – 1959
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
4. Raden Sukardjono 1949 – 1966
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
5. Subowo 1966 – 1973
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
6. Suwandi Rustam 1973 – 1983
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
7. Karsid 1983 – 1988
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
8. Samsi Ridwan 1988 – 1993
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
9. Tarmin Haryadi 1993 – 1998
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
10. Achmad Fauzi 1998 – 2008
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
11. Sjahrazad Masdar 2008 – 2015
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
12. As’at Malik 2015 – 2018
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
13. Thoriqul Haq 2018 – 2023
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Dhandhanggula Sholawat Rukun Islam
Rukun Islam kang lima puniki.
Katindakna mring para sasama.
Aja padha ditinggalke.
Rukun lima puniku
Sahadate kang angka siji.
Kang angka loro sholat.
Dene kang katelu.
Rhomadhon nindakna pasa.
Kapat zakat ping lima ngibadah haji.
Rukun Islam sampurna.
Yen wancine tansah dielingke.
Yen wancine padha nindakake.
Adzan wus ngumandhang wayahe sembahyang.
Netepi wajib dhawuhe Pangeran.
Sholat dadi cagake agama.
Limang wektu kudu tansah dijaga.
Kanthi istiqomah lan sing tumakninah.
Luwih sempurna yen berjamaah.
Subuh luhur lan ashar.
Sholat sayekti ngedohke tindak mungkar.
Magrib lan isyak jangkepe.
Prayogane ditambah sholat sunate.
Jo sembrana iku prentah agama.
Ngelingana neng donya mung sadhela.
Sabar lan tawakal pasrah sing kuwasa.
Yen kepareng besuk munggah suwarga.
Masyarakat Lumajang selalu melakukan kegiatan yang menuju pada keselarasan hidup. Aspek jasmani dan rohani dilaksanakan dengan penuh keseimbangan. Dhandhanggula ini cocok untuk dakwah Islamiyah. Rukun Islam menjadi saka guru yang utama.
Perlu diperhatikan tiap hari. Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji sedapat-dapatnya dilaksanakan dengan tertib. Rukun Islam itu menuju keselamatan dunia akhirat.
Dengan berbekal ajaran yang luhur, masyarakat Lumajang senantiasa mendapatkan ketentaman lahir batin sepanjang masa. Lumajang benar benar melu majune jangkah kang panjang.
Prabu Hayamwuruk raja Majapahit tahun 1350 – 1386 memberi teladan utama. Tata praja berdasarkan nilai kebudayaan dan kebangsaan.
(LM-01)
