Raja Karaton Surakarta Hadiningrat memegang kekuasaan kultural. Jauh dari aspek politik praktis. Urusan keuangan dipegang oleh lembaga bandha lumaksa. Dengan demikian raja tak punya beban politik dan finansial. Marwah raja terjaga dengan wibawa yang sempurna.
Kebijakan ini dirasa sesuai dengan arah perkembangan jaman. Menejemen pemerintahan monarkhi konstitusional telah berkembang baik di benua Eropa. Terutama di Negeri Inggris, Belanda dan Spanyol.
Sistem kerajaan yang memadukan dengan politik modern menjadi jalan tengah. Kompromi bentuk pemerintahan menghasilkan kebudayaan unggul. Selama menggunakan sistem campuran itu, Karaton Surakarta Hadiningrat mengalami jaman kencana rukmi.
B. Prestasi Lembaga Kepatihan.
Perdana Menteri Karaton Surakarta Hadiningrat selalu dijabat oleh insan bermutu tinggi. Proses pemilihan berdasarkan unsur loyalitas dedikasi dan prestasi. Jalan meritokrasi berlangsung tertib aman nyaman.
Keberhasilan lembaga kepatihan bisa diwujudkan dalam tiga unsur atau trisakti. Meliputi bidang ekonomi politik dan budaya. Dalam sejarahnya tiga hal itu selalu tampak terang.
Bidang ekonomi dicapai dengan kemakmuran negeri. Karaton Surakarta Hadiningrat memiliki kebun teh, cengkeh, kopi. Hasil produksi berlimpah ruah. Rakyat makmur sejahtera.
Pabrik gula Manisharja mendatangkan keuntungan finansial. Karaton Surakarta Hadiningrat punya devisa surplus sepanjang masa. Tanaman tembakau di Tegalganda terkenal sebagai komoditas ekspor. Produksi cerutu dikonsumsi oleh elit dunia. Sukses gemilang ekonomi memancarkan nilai kemandirian.
Berdikari mandiri dalam bidang ekonomi, berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Raja Surakarta Hadiningrat tampil sebagai narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.
Dalam bidang kebudayaan tercermin dengan ungkapan sesanti Sinuwun Paku Buwana X raja Surakarta tahun 1893-1939. Yakni rum kuncaraning bangsa, dumunung ing luhuring budaya. Serat Wulangreh, Centhini, Wira Iswara menembus batas waktu dan geografis. Bacaan bermutu yang selalu mencerahkan.
Majalah Retna Dumilah terbit sejak tahun 1839. Dibiayai langsung oleh kepatihan. Bertindak selaku pimpinan dewan redaksi yakni Raden Ngabehi Ranggawarsita. Kalawarti Retna Dumilah sarana penyebaran berita dengan metode jurnalistik.
Kepatihan Surakarta Hadiningrat mewariskan prestasi gemilang. Hotel Madusita di Candi Ampel Boyolali dibangun tahun 1867. Bisnis perhotelan ini misuwur sekali. Kamar kelas eksekutif tersedia dengan memuaskan. Para pegawai hotel Madusita terdiri dari pekerja profesional handal.
Tahun 1890 Patih Sasradiningrat III mendirikan paheman Radya Pustaka. Kesadaran literasi muncul dengan beraneka ragam buku bacaan. Paheman Radya Pustaka pusat dokumentasi peradaban. Kegiatan yang meliputi pengajaran dan pelatihan.
Perguruan Mambaul Ulum didirikan oleh kepatihan pada tahun 1905. Alumni Mambaul ulum tampil sebagai pemimpin masa depan. Contoh Kahar Muzakir, Mukti Ali, Munawir Zadzali.
Kepatihan Surakarta membantu organisasi Budi Utomo tahun 1908. Sarikat Islam pun juga mendapat dukungan finansial. Malah KGPH Hangabehi Paku Buwana XI bertindak sebagai ketua dewan penasihat.
Persarikatan Muhammadyah berdiri tahun 1912. KH Ahmad Dahlan melantik Patih Sasradiningrat IV sebagai ketua Daerah Muhammadyah Surakarta.
Taman siswa yang berdiri tahun 1923 diberi tanah oleh kepatihan. Agar pendidikan berjalan lancar, demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Juga KH Hasyim Asyari bersahabat erat dengan kepatihan Surakarta. Tahun 1927 Patih Sasradiningrat V datang ke Pesantren Tebu Ireng. Kebetulan sedang kunjungan kerja di Kabupaten Jombang dan Kediri.
Pengabdian Patih Sasradiningrat V dalam pergerakan nasional terukir amat mulia. Patih Sasradiningrat anggota BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tercatat 20 persen anggota BPUPKI berasal dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Bahkan dipercaya sebagai ketua BPUPKI. Yakni KRT Dr Radjiman Wedyadingrat.
Pengabdian berlangsung terus. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Patih Sasradiningrat V menjadi konsoltan Presiden Soekarno. Tata cara protokoler kenegaraan diajarkan buat seluruh pegawai istana negara.
Kepatihan lambang anggunnya peradaban. Gelaring praja kang sarwa tumata.
(LM-01)
