oleh

Sejarah Sunan Lawu

Oleh Dr. Purwadi, M.Hum; 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Penjaga Gunung Lawu.

Gunung Lawu dikenal sebagai tempat sakral bagi orang Jawa. Dalam Babad Tanah Jawi gunung Lawu disebut sebagai gunung Mahendra.

Begitu magis mistis, maka Karaton Surakarta Hadiningrat tiap menyelenggarakan tata cara adat. Diikuti oleh segenap abdi dalem.

Tata cara ini berlangsung turun tumurun. Agar tanah Jawa tetap rahayu lestari. Nir bita nir baya nir sambikala.

Diceritakan di peguron Jayengan Surakarta, ada seorang pemuda yang sudah yatim piatu bernama Jaka Wiyaga.

Adapun sifatnya sesuai dengan namanya, yaitu senang berkelana dan menyepi. Pada suatu hari mendekati tanggal satu bulan Sura, Jaka Wiyaga timbul keinginannya untuk mendaki Gunung Lawu. Selain untuk melihat keadaan puncak gunung, juga ingin bertapa memohon kepada Sang Pencipta supaya keinginannya segera terkabul.

Ketika ayahnya masih hidup sering menceritakan tentang tempat tempat petilasan di gunung-gunung, makam atau tempat-tempat yang sering diziarahi. Jadi tidak aneh kalau Jaka Wiyaga mengetahui apa saja larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar ataupun tata cara serta sesaji yang harus dilakukan. Misalnya jika ingin mendaki puncak gunung Lawu, harus teguh, kuat serta suci lahir dan batinnya.

Adapun larangannya adalah tidak boleh memakai serba hijau. Setelah dirasa cukup persiapan yang akan dibawa, Jaka Wiyaga berangkat sendirian. Sebelum berangkat, membaca mantra wasiat dari ayahnya supaya selamat dalam perjalanan.

Adapun bunyi mantranya adalah : Sengkala, sengkala, padha suminggaha, durga mandheg, gajah mungkur rahayu slamet saka kersaning Allah Sang Hyang Ibu Bantala, Sang Hyang Bapa Hanantaboga, niyatingsun lumau rina kalawan wengi. Ana sangkala enggal balia saking karsaning Allah. Setelah membaca mantra lalu menjejakkan kaki ke tanah tiga kali, dan segera berangkat.

Kira-kira tepat tengah hari, perjalanan Jaka Wiyaga sampai di Tawangmangu, kemudian beristirahat sebentar. Setelah beberapa saat Jaka Wiyaga melanjutkan perjalanannya lagi.

Dari Tawangmangu jalannya mulai menanjak, arahnya ke tenggara. Kira kira waktu Ashar perjalanan Jaka Lelana sampai di dusun Tara, wilayah Kalurahan Blumbang. Di dusun Tara udaranya sudah terasa dingin.

Karena hari sudah menjelang petang maka Jaka Wiyaga mencari penginapan.
Kebetulan yang dituju adalah rumah juru petunjuk jalan ke gunung Lawu, namanya Ngabehi Kartasentana. Jaka Wiyaga setelah mengucapkan salam, pemilik rumah pun keluar. Selanjutnya Jaka Wiyaga mengutarakan maksudnya hendak menginap semalam saja.

Sebelum memberikan jawaban Ngabehi Kartasentana, menanyakan identitas, hendak kemana dan keperluannya apa. Jaka Wiyaga menjawab seperlunya. Pak Kartasentana pun mengijinkan Jaka Wiyaga menginap di rumahnya.

Setelah membersihkan badan Jaka Wiyaga dan Ngabehi Kartasentana berbincang bincang sambil minum teh dan makan singkong bakar.

Ngabehi Karta : “Gus, kamu kok tidak membawa teman, sudah berapa kali kamu mendaki gunung Lawu ?”

Jaka Ngabehi : ” Ngabehi , saya belum pernah naik, baru sekali ini, jadi hanya bermodalkan tekad saja. Saya juga tidak membawa teman, karena saya ini sudah yatim piatu dan anak tunggal. Jadi pergi kemana pun hanya sendirian”.

Ngabehi Karta : “Wah, ternyata tekadmu besar. Apa tidak takut jika di jalan mendapatkan halangan ?”

Jaka Wiyaga : “Saya tidak punya rasa takut dan khawatir. Sebab untung atau celaka, semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Saya hanya sekedar menjalankan.”

Ngabehi Karta : “Iya Gus, saya ikut saja.”
Jaka Wiyaga : “Pak, karena saya belum tahu jalannya, jika bapak tidak keberatan, saya minta diberi petunjuk urut-urutan jalannya sampai di puncak.

Ngabehi Karta : “Baiklah kalau begitu, tetapi yang akan saya sampaikan ini jalan yang sering saya lalui.

Cemara Sewu.

Dari dusun Tara ini jalan ke arah tenggara melewati dusun Blumbang, dusun Tlaga dlingo berhenti di Cemara Sewu. Dari Cemara Sewu ke arah timur laut jalannya berkelok-kelok ; ke arah selatan terus naik ke timur. Jika sudah sampai di tempat yang sering disebut Tamansari, di situ jangan kaget dan takut.

Sebab di sisi barat daya Tamansari merupakan kawah gunung Lawu. Suara kawahnya menggelegak, membuat miris hati. Bau belerangnya sangat tajam. Dari Tamansari jalannya mulai menanjak kearah timur laut, sampai di Jurang Pangarib-arib.

Di situ kamu juga harus berhenti untuk memberi sesaji. Sebab jurangnya sangat dalam dan gawat. Mulai dari sini sering kedatangan ampuhan, yang dinamakan ampuhan yaitu kondisi gelap seperti kabut tebal, bersuara keras menakutkan, dan berhawa dingin sekali. ”

Jurang Pangarib Arib

Dari Jurang Pangarib-arib jalannya mulai menanjak terus, arahnya ke timur sampai di Punthuk Papon. Dari Punthuk Papon jalan ke selatan sampai Penggik, terus ke Ondharante ; berhenti di Cakra srengenge. Di situ kamu harus berhenti dan memberi sesaji.

Jika mendengar suara burung crat cret, kamu harus mendengarkan dari mana arah suaranya. Jika sudah jelas arah suaranya, kamu ikuti saja sebagai penunjuk jalan supaya tidak tersesat. Menurut kepercayaan orang-orang sekitar, burung ini dinamakan Jalak Gadhing.

Bulunya berwarna hijau, paruhnya kuning, ada jamang kuning seperti burung menco. Burung ini adalah utusan Sinuhun Lawu, yang diperintah memberi petunjuk jalan kepada siapa saja yang akan menghadap.

Cakra Srengenge

Dari Cakra
srengenge jalannya ke barat daya, naik lagi sampai di Harga Dalem, tempat inilah yang dinamakan singgasana Sinuwun Lawu. Di tempat ini kamu harus memusatkan pikiran dan membuat api unggun, sebab udaranya sangat dingin. Di sini kamu juga harus memberi sesaji.”

Jaka Wiyaga : “Terima kasih pak Ngabehi , keterangannya jelas sekali. Meskipun saya belum pernah mendaki, tetapi jika berpegang pada keterangan bapak tadi, pasti akan sampai di puncak dengan selamat.”
Pak Karta : “Ya, semoga bisa terkabul permohonanmu, Gus.”

Liputan JUGA  Sejarah Kanjeng Ratu Kidul

Jaka Wiyaga : “Apakah di sekitar puncak juga ada tempat lain yang keramat ?”
Pak Karta : “O, tempat pemujaan itu di sekitar puncak banyak sekali. Selain itu ada juga beberapa gua.”

Setahu saya, tempat pemujaan itu : Argadumilah, Argapurusa, Argadumeling, Argakembang, Tlagakuning, Pasar Diyeng, Sendang Drajat, Kahyangan, Selapundutan dan Cakapawenang. Sedangkan jumlah gua kurang lebih tujuh buah : Setupa, Segala-gala, Sitlorang, Lumbung Siliyur, Siteplok, Mangling, Sumur Jalatunda.

Jaka Wiyaga : “Saya rasa sudah cukup jelas keterangan dari bapak. Saya mengucapkan terima kasih dan mohon doa restu semoga keinginannya saya terkabul. Karena sudah mengantuk, saya minta ijin untuk tidur.”

Ngabehi Karta : “Ya, silahkan, anggap saja seperti di rumah sendiri.”
Pada esok paginya, Jaka Wiyaga berpamitan pada Ngabehi Karta untuk meneruskan perjalanan dan mengucapkan terima kasih karena sudah diterima dengan baik dan diberi keterangan bermacam-macam yang sangat berguna dalam perjalanannya.

Ringkas cerita, perjalanannya sudah sampai di Cakra srengenge kira-kira pukul 17.00 dengan selamat. Sejak berangkat dari dusun Tara sampai di Cakrasrengenge tidak bertemu dengan ampuhan. Tetapi dari kejauhan dia melihat jalannya ampuhan.

Bentuk dan suaranya persis seperti yang diceritakan Pak Kartasentana. Memang benar-benar menakutkan. Di Cakra srengenge Jaka Lelana berhenti dan memberi sesaji. Keadaannya sunyi sepi, apalagi saat itu hujan gerimis. Tetapi tidak lama kemudian langit kembali terang benderang.

Sepengetahuan Jaka Wiyaga , jika ada pertanda keinginannya bakal terkabul. Selama memberi sesaji terdengar suara crat cret lalu diperhatikan dengan seksama. Arahnya dari barat daya.

Setelah selesai memberi sesaji Jaka Wiyaga melanjutkan perjalanan, menuju ke arah suara burung tadi. Jalannya menanjak, setelah beberapa saat jalan, di depan kurang lebih lima meteran terlihat burung jalak meloncat-loncat, berjalan sambil menoleh kiri kanan dan bersuara crat cret. Jaka Wiyaga memperhatikan warna bulu burung tersebut. Bulunya berwarna hijau, paruh kuning, berjaman kuning.

Jalak Gadhing

Dia pun teringat dengan dongeng Ngabehi Kartasentana di dusun Tara. Jadi sudah jelas bahwa burung ini adalah Jalak Gadhing, peliharaan Sinuwun Lawu, yang diutus untuk menuntun perjalanannya.

Burung jalak terbang ke barat. Jaka Lelana mengucap puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Lalu mengikuti terbangnya burung Jalak Gadhing menuju ke barat. Ringkasnya, kira-kira jam 18.30 Jaka Lelana sudah sampai di Arga Dalem, langsung menuju ke bangsalan, yaitu rumah yang atap dan dindingnya dari seng.

Keadaan di Arga Dalem sudah gelap. Maka Jaka Lelana bergegas membuat obor.

Kebetulan di sekitar bangsalan banyak kayu bakar berserakan, lalu dikumpulkan untuk membuat api unggun. Sambil membawa obor Jaka Lelana naik ke atas untuk membuat sesaji di Arga Dalem. Sampai di atas, Jaka Lelana agak terkejut, sebab melihat seorang kakek-kakek sedang duduk.

Cara duduknya seperti orang yang sedang bersemadi. Jaka Wiyaga berhenti sebentar untuk memperhatikan kakek tersebut, apakah manusia atau sebangsa mahluk halus. Setelah dia berkedip sampai tiga kali orang tersebut masih ada maka Jaka Wiyaga pun yakin jika dia adalah manusia sungguhan.

Maka dengan tegar Jaka Wiyaga melanjutkan perjalanannya, sampai di rumah kecil seperti patrolan.

Jaka Wiyaga berhenti lalu duduk. Selanjutnya memberi sesaji dan membakar dupa. Setelah selesai lalu kembali ke bangsalan di bawah dan mendekat ke api unggun sambil menambahkan kayu bakar. Sedangkan sang kakek tetap dalam posisi semula. Jaka Wiyaga kemudian duduk dan memulai semadinya, dengan niat memohon kemurahan dari Sang Pencipta supaya keinginannya segera terkabul.

Pada pagi harinya Jaka Wiyaga bangun, namun tidak berani beranjak dari tempat duduknya. Selain kabutnya masih tebal, udara dinginnya menusuk tulang.

Arga Dalem

Setelah matahari bersinar, Jaka Lelana baru beranjak dari tempatnya dan naik lagi ke Arga Dalem, untuk memberi sesaji kemudian bersemadi. Setelah selesai semadinya Jaka Lelana berdiri, hendak kembali ke bawah lagi. Namun baru saja mau beranjak, terdengar suara orang memanggil-manggil. Jaka Lelana menoleh kesana kemari mencari asal suara. Suara yang memanggil-manggil itu tidak lain adalah suara kakek yang dilihatnya kemarin. Jaka Lelana lalu mendekatinya.

Kakek itu kemudian berkata : “Nak, jangan diambil hati, ya, jika aku tidak hormat padamu. Aku berbuat demikian bukan berarti aku meremehkanmu, tetapi supaya lebih dekat.”
Jaka Wiyaga menjawab : “Iya, tidak apa-apa pak.”

Kakek : “Namamu siapa, nak ? Dan dari mana asalmu ?”
Jaka Wiyaga : “Nama saya Jaka Wiyaga . Asalnya dari padepokan Jayengan. Sebaliknya nama bapak siapa, dan tinggalnya di mana ?”

Kakek : “Namaku Kyai Wangsadirya, asalnya dari dusun Bangsri, dari Timur. Apakah kedatanganmu ke sini tidak membawa teman ?”
Jaka Wiyaga : “Tidak Kyai . Saya hanya sendirian saja.”

Kyai Wangsadriya : “Sudah berapa kali kamu mendaki ke sini kok berani sendirian.”

Jaka Wiyaga : “Baru sekali ini, pak.”
Kyai Wangsadriya : “Wah, termasuk pemberani juga kamu, nak. Untungnya tidak tersesat.”
Jaka Wiyaga : “Iya, atas restu bapak, perjalanan saya selamat, tidak mendapatkan halangan apapun.”

Kyai Wangsa : “Kalau aku sudah berkali-kali datang ke sini. Jadi tempat ini sudah seperti rumahku sendiri.”
Jaka Wiyaga : “Saya ingin tahu, pak. Rumah kecil yang bangunannya seperti patrolan dengan atap dan dinding dari kayu itu dipakai untuk apa ?

Kyai Wangsa : “O, ketahuilah nak.

B. Upacara Labuhan di Gunung Lawu.

Pada jaman dahulu jika ada penobatan raja. Kanjeng Sinuwun mengutus abdi dalem untuk melabuh busana dan sesaji ke sini. Busana serta sesajinya ditaruh dalam rumah kecil itu.

Kemudian utusan Dalem memberitahukan keperluannya, tata caranya lengkap, perkataannya sopan dan jelas, seperti ketika sedang berbicara di depan Kanjeng Sinuwun. Setelah itu abdi dalem Juru Suranata dan mutihan mendoakan hajad Dalem. Doanya dua macam, Budha dan Arab. Untuk saat ini rumah kecil tersebut dipakai untuk meletakkan sesaji dari orang-orang yang sudah terkabul permohonannya. Setelah disajikan sebentar, lalu diberikan kepada orang-orang yang sedang berziarah di tempat ini.

Liputan JUGA  Labuhan Sura di Samudra Kidul

Jaka Wiyaga : “Jika tidak keberatan, saya mohon bapak mau menceritakan, siapakah yang pertama kali bertapa di gunung Lawu ini.”

Kyai Wangsa : “Ya baiklah. Namun sebelumnya akan kuajak berkeliling dahulu, melihat keadaan puncak dan sekitarnya. Supaya pengetahuanmu tambah. Nanti jika sudah puas melihat-lihat, aku akan menceritakan riwayat orang yang pertama kali bertapa di sini.

Sekarang lihatlah keempat penjuru angin, betapa indahnya alam di sini, yang sudah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jaka Wiyaga pun mengikuti perintah dari Kyai Wangsa. Keadaan di sekeliling puncak yang terlihat memang benar-benar mengagumkan. Sehingga semakin yakin kepercayaannya, bahwa hanya Allah lah yang menguasai langit, bumi dan seisinya.

Kyai Wangsadriya menunjuk ke bawah sambil berkata :

“Nak, lihatlah mega yang sedang berjalan berurutan di bawah gunung itu. Selain indah dipandang, aku dan kamu seperti Raden Gatutkaca dalam cerita wayang purwa. Karena bisa merasakan tidur di atas mega malang.”

Jaka Wiyaga : “Iya, benar perkataan bapak.”
Kyai Wangsa : “Ayo sekarang ikutlah denganku, akan kutunjukkan petilasan-petilasan yang ada di sekitar Arga Dalem sini.”

Jaka Lelana : “Nanti dulu, Pak. Rasa takjub saya belum juga hilang, melihat keadaan Arga Dalem kok lain sekali kalau dilihat dari bawah. Kelihatannya kalau dilihat dari bawah mengerucut seperti tumpeng, tetapi ternyata keadaan yang sebenarnya lain”

Kyai Wangsa : “Memang benar ucapanmu itu. Keadaan Arga Dalem jika dilihat-lihat wujudnya seperti Sitihinggil di Surakarta.

Coba perhatikanlah. Pembatas yang mengelilinginya dibuat dari batu yang ditata rapi. Dari tempat itu jalannya ke bawah lewat tangga dari batu sampai di tempat bangsal yang diberi atap dan dinding dari seng. Yang lebih mengherankan lagi, ternyata di bawah Arga Dalem tidak ada pohon yang tinggi dan besar. Rata-rata hanya pendek dan tidak ada daunnya.

Hanya di Arga Dalem saja yang tumbuh pohon-pohon yang tinggi dan besar. Anehnya lagi pohon-pohon di sini meskipun masih terlihat segar namun jika dipotong untuk membuat perapian, kayunya mudah terbakar seperti kayu yang sudah kering.”

Jaka Wiyaga : “Apakah di atas Arga Dalem masih ada tempat pemujaan, pak ?”
Kyai Wangsa : “O, masih ada nak.

Di atas Arga Dalem masih ada dua puncak lagi. Yang paling tinggi namanya Arga Gumiling, di bawahnya disebut Arga Dumilah, baru Arga Dalem sini, yang biasanya menjadi tempat tujuan dari orang-orang yang menginginkan berkah dari Sinuwun Lawu.”

Jaka Wiyaga : “Sekarang saya sudah merasa jelas dengan keadaan di Arga Dalem sini. Marilah Kyai, saya antar berkeliling untuk melihat-lihat di tempat lainnya. ”

Pasar Diyeng

Kyai Wangsadriya berjalan ke arah barat laut (turun) diikuti oleh Jaka Lelana, sampai di tempat yang luas dan tidak ada tumbuhan satupun di tempat itu kecuali hanya batu-batu yang berserakan. Tempat ini dinamakan Pasar Diyeng, yaitu pasarnya para mahluk halus. Sebab jika kebetulan hari pasarannya akan terdengar suara bermacam-macam, tetapi tidak ada wujudnya. Di dekat pasar ada tumpukan batu, yang dibuat mirip kuburan. Menurut cerita, ini adalah makam Kyai Sapujagad.

Dari Pasar Diyeng perjalanan Kyai Wangsadriya dan Jaka Wiyaga ke arah timur laut sampai di tempat yang diberi pagar dari batu, melingkar setinggi kurang lebih satu meter. Di depan ada pintunya tetapi terbuka. Di dalamnya terdapat batu yang dibentuk seperti meja. Di atas meja ada batunya lagi yang dibuat seperti tumpeng. Di sebelah utara meja ada rumah-rumahan kecil seperti patrolan, terbuat dari kayu. Tempat itu dinamakan Sela Tumpeng atau Sela pundhutan.

Menurut kepercayaan, siapa saja yang sanggup membawa sela tumpeng dengan tangan kiri (caranya disangga dengan telapak tangan) berjalan mengeliling meja batu, maka keinginannya bakal terkabul. Sedangkan rumah kecil seperti patrolan digunakan untuk meletakkan sesaji beserta seluruh perlengkapannya dari para peziarah yang sudah dikabulkan permohonannya.

Kyai Wangsadriya dan Jaka Wiyaga kembali lagi ke Arga Dalem, beristirahat di bangsalan. Selesai beristirahat Kyai Wangsadriya cerita kepada Jaka Wiyaga , jika akan ditunjukkan tempatnya Sendang Drajat. Dari Arga Dalem jalannya ke arah timur kemudian ke utara. Sesampainya di tempat yang dituju, Jaka Wiyaga terheran-heran, sebab yang dinamakan Sendang Drajat itu airnya hanya sedikit sekali.

Tetapi yang lebih mengherankan lagi meskipun airnya diambil sampai berember-ember, airnya tidak akan habis.

Kyai Wangsadriya cerita kepada Jaka Wiyaga , katanya ; ‘Nak menurut kepercayaan orang-orang, siapa yang kuat mandi diguyur air Sendang Drajat sampai tujuh kali, akan dikabulkan permohonannya. Apakah kiranya kamu mampu aku guyur sampai tujuh kali ?’

Jawaban Jaka Wiyaga : “Iya pak, akan saya ikuti keinginan bapak”. Selanjutnya Jaka Lelana, diguyur dengan air dari Sendang Drajat sampai tujuh kali. Meskipun hanya tujuh ember, tetapi di badan rasanya dingin sekali. Akan tetapi karena sudah bertekad bulat maka Jaka Wiyaga tidak merasakan dingin. Selesai mandi Jaka Lelana diajak kembali lagi ke Arga Dalem.

C. Asal Usul Sinuwun Lawu.

Kyai Wangsadriya memulai pembicaraan, katanya : “Nak, aku akan menceritakan asal usul Kanjeng Sinuwun Lawu, serta asal mulanya memimpin di kratonnya mahluk halus di gunung Lawu ini. Dengarkanlah, akan aku mulai dari Raja Majapahit yang terakhir.

Sang Prabu Brawijaya V, yaitu Raja dari Majapahit yang terakhir bergelar Sang Prabu Kertabumi, mempunyai anak laki-laki dan perempuan jumlahnya 101. Pada saat itu sang raja dan rakyatnya di Majapahit memeluk agama Budha.

Liputan JUGA  Sejarah Kesultanan Demak Bintara

Meskipun Sang Brawijaya memeluk agama Budha, tetapi hatinya tetap longgar. Artinya tidak melarang jika ada rakyatnya yang memeluk agama lain. Selain itu juga memberi ijin kepada Sunan Ampel Denta, untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Dan selanjutnya diberi tanah perdikan, sebagai padepokan.

Sunan Ampel Denta adalah keponakan permaisuri Raja.
Setelah kraton Majapahit diserang oleh Raden Patah, Sultan dari Demak.
Menurut peringatan rusaknya kraton Majapahit pada tahun 1470 M.

Tahun Jawa dengan sengkalan berbunyi Sirna = 0 ; Ilang = 0 ; Kerta (ning) = 4 ; Bumi = 1. Jadi jelasnya : Sirna Ilang Kertaning Bumi taun Jawa = 1400. Sang Prabu Brawijaya menderita sakit di padepokan Sunan Ampel Denta (Surabaya). Pada saat itu putra Sang Prabu nomor 23 bernama Raden Gugur menghadap pada ayahandanya yang sedang sakit.

Setelah Raden Gugur mendapat wejangan dari Sang Prabu, kemudian Sang Prabu wafat. Selesai menguburkan jenazah, Raden Gugur lalu tinggal di lereng gunung Lawu hingga muksanya, dan selanjutnya menjadi Sinuwun Lawu.

Ada lagi yang disebut Sinuwun Lawu. Ceritanya begini : Ketika Sinuwun Paku Buwana VI dari Surakarta diasingkan ke Ambon, permaisurinya yaitu Kanjeng Ratu Ageng tidak ikut, sebab sedang hamil tua.

Setelah datang saatnya melahirkan, kakaknya yaitu Gusti Kanjeng Pangeran Arya Mangkubumi Surakarta III menunggui. Di situ Gusti Kanjeng Pangeran mendengar suara tangisan bayi. Namun tidak ada wujudnya. Dalam hati Gusti Pangeran merasa malu.

Tidak lama kemudian terdengar lagi suara tangisan bayi, dilihat, bayinya ada. Dia yang kelak bergelar Sinuwun Paku Buwana IX. Jadi jelasnya Kanjeng Ratu Ageng melahirkan kembar, tetapi yang lahir lebih dulu tidak ada atau hilang. Biasanya anak kembar yang lahir lebih dulu, dianggap yang lebih muda. Sedang yang lahir belakangan dianggap yang lebih tua.

Tersebutlah, pada suatu hari, ketika Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IX masih kecil, mendekati khitan, beliau sakit membuat prihatin Kanjeng Ratu Ageng dan keluarga kraton. Maka dari itu di kraton siang dan malam dijaga terus.

Pada saat itu ada pemuda tampan yang wajahnya mirip dengan Kanjeng Sinuwun IX, menghadap kepada Kanjeng Ratu di tempat tidur. Kanjeng Ratu kemudian menanyai pemuda itu. ‘Nak, kamu ini siapa dan dari mana asalmu dan apa keperluanmu, karena kedatanganmu tidak ada yang mengantarkan ?’

Sang pemuda lalu menjawab : ‘Ibu, apakah ibu lupa, jika saya adalah putra ibu sendiri. Menurut perkataan eyang Sinuwun Lawu, setelah saya lahir, saya langsung diambil oleh eyang Sinuwun Lawu dan dibawa pergi kemudian diangkat menjadi putranya. Adapun keperluannya saya datang, selain menghadap juga untuk memberikan obat bagi sakit kakanda.

Ringkas cerita, Kanjeng Sinuwun lalu diobati dan sembuh seketika. Setelah itu pemuda tersebut pamit pulang ke gunung Lawu. Kanjeng Ratu mengijinkan dan berterima kasih, karena putranya sudah sembuh. Adapun pulangnya pemuda tersebut setelah keluar dari kamar langsung menghilang.

Padepokan Wangsandriya

Menurut cerita pemuda itulah yang disebut Sunan Lawu. Ada juga cerita yang pernah kudengar dari abdidalem kraton Surakarta yang sudah tua usianya, menerangkan : pada saat kraton Surakarta dipimpin oleh Ingkang Sinuwun Ingkang Minulya saha Ingkang Wicaksana Paku Buwana X, jika di kraton ada tamu orang manca yang akan membicarakan masalah penting di sebelah Ingkang Sinuwun ada yang duduk mendampingi, wajahnya mirip dengan mendiang Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IX.

Hanya saja yang bisa melihat kedatangannya adalah abdi dalem yang bersih hatinya. Jadi tidak sembarang abdi dalem dapat melihatnya.

Kyai Wangsadriya melanjutkan pembicaraannya : “Nak, coba lihatlah keadaan di sekitarmu. Bumi ini bermacam-macam isinya dan menyenangkan bagi orang yang melihatnya. Tanaman terlihat menghijau. Gunung-gunung tinggi menjulang berwarna biru. Sungai-sungai dan bengawan terlihat berkelok kelok.

Adapun gunung gunung itu menurut cerita terbentuk dari air yang dinamakan tirta kamandhanu, yang tidak terkena sinar matahari kemudian menggumpal, lama kelamaan menjadi tanah. Oleh karena keadaan yang terdapat di alam semesta dan isinya diciptakan hidup, maka perlu kiranya aku ceritakan sebab musabab terjadinya alam semesta dan seisinya.

D. Wedharan Serat Darmasonya

Diambilkan dari serat Darmasonya karya Sang Bagawan Yogiswara di Mamenang. Jelasnya seperti di bawah ini.

Penciptaan Alam Semesta
Terciptanya alam semesta atau jagad raya. Alam semesta yang pertama kali disebut Sunyaruri.

Artinya kosong atau hampa. Kenapa begitu, sebab Tuhan belum menciptakan mahluk hidup. Yang baru dicipta adalah surya, candra, kartika dan swasana. Swasana merupakan bagian dari matahari, bulan dan bintang.

Surya candra kartika

Sedangkan matahari, bulan dan bintang di dalamnya juga penuh dengan swasana, empat macam. Langgeng dan tidak terkena perubahan untuk selama-lamanya maupun tetap bentuknya ialah kodrat Tuhan yang pertama. Keempatnya dianugerahi kemampuan memberi kehidupan untuk mahluk hidup. Sedangkan keempat kodrat yang sudah diterangkan di atas, wujud atau besar kecilnya, ataupun kemampuannya lain-lain, seperti di bawah ini.

1. Bulan bentuknya bulat, warna agak kekuning-kuningan. Kemampuannya kelak dapat menerangi seluruh jagad.

2. Bintang letaknya di atas bulan jaraknya kira-kira 300 tahun cahaya. Kemampuannya kelak juga menerangi seluruh jagad.

3. Matahari, berwarna merah menyala. Ukurannya lebih besar dari bintang. Terletak di atas bintang, jaraknya kira-kira 300 tahun cahaya. Kemampuannya kelak memberi kehidupan bagi alam semesta dan seisinya.

4. Angin itu sebesar matahari. Warnanya hitam legam. Kemampuannya bisa berinteraksi dengan seluruh isi alam semesta. Kemampuannya itu karena lembut dan luasnya, serta pasti adanya.

Diibaratkan kodhok ngemuli lenge, atau rangka manjing curiga, curiga manjing warangka. Di alam sunyaruri jagad ini masih diam tenang, angin belum berhembus, air laut belum ada.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.