Pangeran Urip Wong Desa Nganjuk

Tiap hari Embok memandang Gunung Wilis yang menjulang tinggi. Di sebelah utara gunung Wilis ini Embok menggerakkan bahtera kehidupan.

Pukul 13.00-16.00 biasanya Embok mencari dagangan. Beliau pergi ke sawah-sawah untuk memborong sayur mayur milik para tetangga. Bila sudah dapat 1 rinjing penuh, barulah beliau pulang.

Sore sehabis Maghrib dagangan sayur mulai ditata. Bayem diuntingi, diikat dengan tali debog. Waktu itu belum ada listrik, penerangan cukup dengan lampu cublik. Lampu teplok pun sudah terasa mewah. Kalau ada angin seringkali padam. Itu sudah biasa. Saya baru bisa menikmati lampu petromaks atau strong king, tahun 1980.

Lampu listrik baru masuk ke desa saya tahun 1986. Tetapi keluarga saya belum mampu memasang karena dari segi finansial tidak memungkinkan. Namun saya menyiasati dengan cara belajar di pinggir jalan yang terang. Kadang-kadang saya lama tinggal di masjid untuk segera dapat nunut penerangan.

Meskipun amat sibuk, Embok tidak mau mengganggu saya belajar. Sudah menjadi tradisi, Embok tak pernah memberi perintah apa pun ketika saya sedang belajar. Apalagi saat ujian tiba, Embok pasti paham. Ora kersa paring dhawuh.

Kira-kira tahun 1981, usia Embok ngancik 30 tahun. Saya baru masuk kelas 3 SD. Embok mencoba melakukan ekspansi bisnis. Saya diajak Embok bakul janganan ke luar desa. Embok nggendhong rinjing dan saya mikul. Di tengah persawahan yang saya lalui, Embok membuat analisa.

“Le, nanti hidup itu penuh saingan. Kita harus kerja keras. Kalau tidak, akan tersingkir.”

Setibanya di desa Bangsri yang jauhnya 5 km, saya dibelikan satu pincuk sego pecel. Embok cuma melihat saya makan, tidak ikut sarapan. Ternyata Embok amat ngirit. Karena untung belum didapatkan, maka pengeluaran harus ditekan. Tapi ya kebangeten! Terlalu menerapkan prinsip ekonomi.

Prinsip dasar ekonomi, yaitu pengeluaran yang sedikit-dikitnya dan pemasukan yang sebesar-besarnya itu dipegang oleh Embok. Beliau benar-benar orang yang hemat dan gemi nastiti.

Cermat dalam keuangan dibuktikan oleh Embok Yatinem yang tidak sampai dililit dan dibilit hutang. Semua orang yang terlibat hubungan hutang piutang dengan Embok Yatinem ditanggung pasti lancar dan beres.

5. Bakul Kacang di Ludrukan.

Ludruk adalah seni khas Jawa Timur. Ada rombongan ludruk yang amat populer.

Namanya Ludruk Kopasgat Trisula Dharma. Di tempat tempat pertunjukan itu saya dan Embok Yatinem melakukan bisnis eceran kacang, jeruk, krupuk. Embok Yatinem berjualan di dasaran, dengan menggelar plastik. Saya bakulan dengan cara ider. Tiap penonton saya tawari.

“Opak tombo ngelak, krupuk tombo ngantuk.”
Demikian strategi marketing saya pada penonton ludruk.
Bila dagangan habis, saya wajib lapor keuangan pada Embok.

Kemudian ambil barang dagangan lagi. Embok sangat teliti menghitung. Saya masih ingat ketika ada pembukaan pentas ludruk untuk pertama kalinya, Embok menghafalkan lagu Tandhuk Majeng dari Madura :

Ngapote waklajere etangale,
Reng majeng tantonala pade mole,
Mateguk deri ombak pajelena,
Omon ajeling odik nao reng majengan
Abental ombak sapo angin salanjengan
Ole olang paraona alajere
Ole olang alajere ka Madura

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira demikian : tampak putih layar perahu. Para nelayan sedang sama pulang.

Bersinggungan ombak perjalanannya. Demikianlah kehidupan para nelayan. Berbantal ombak berselimut angin. Berlayar setiap hari. Kini sedang menuju Tanah Madura.

Ludruk Kopasgat Trisula Darma terkenal sekali di Jawa Timur sekitar tahun 1970-1980-an. Markas ludruk ini di Kabupaten Madiun. Sebulan sekali siaran di RRI. Rombongan Ludruk ini di bawah binaan kesatuan TNI AU yang berdomisili di Maespati. Kopasgat singkatan dari Komando Pasukan Gerak Tepat.

Memang para personil yang ikut mendukung pentas Ludruk Kopasgat kebanyakan berasal dari artis-artis sekaligus tentara. Saat itu tentara memang bisa jaya dan sukses di segala bidang. Di samping itu juga karena semangat korp militer yang sangat solid. Dalam bidang seni pun kiprahnya juga cukup meyakinkan dan mengagumkan masyarakat.

Embok Yatinem pun juga sangat tertarik atas penampilan rombongan Ludruk Kopasgat. Pemainnya serba terpilih, iringan karawitan juga sangat bagus disertai dengan teknik pemanggungan modern.

Saat jaya jayanya Ludruk Kopasgat di pelosok desa belum ada lampu penerangan listrik. Di mana saja ketika Ludruk Kopasgat pentas, dari segala penjuru akan berduyun duyun menonton. Orang akan berebut tempat. Hampir bisa dipastikan semua penonton akan puas. Maka, meskipun jauh tempatnya, orang juga tidak malas menyaksikan. Pulang ke rumah ditanggung senang, nggayeng dan terpenuhi kebutuhan batinnya. Ludruk Kopasgat memang jadi idola masyarakat.

6. Konsultasi Sesepuh.

Sesepuh kejawen dianggap juru penerang.

Gandane kang kembang gadhung,
Lawan sekar-sekar menur,
Kang esmu arum,
Winor lan oyot-oyotan,
Kadi kusuma kang mangambar-ambar,
Wor kukusing dupa kang kumelun,
Kadi kusuma memba bathara.

Suluk pedhalangan di atas digunakan sebagai ater-ater ngobong dupa di sanggar pamelengan.

Suasana magis yang menggambarkan orang semedi. Kehidupan yang bernapaskan kejawen masih subur di daerah saya. Meskipun masjid dan mushola ada dimana-mana, falsafah kejawen masih mendominasi cara berpikirnya. Sebagian lagi mendalami aliran kebatinan.

Ajaran Sapto Darmo juga tumbuh dan ada pengikutnya. Pemimpinnya bernama Pak Tawar, seorang mantri polisi yang mempunyai sifat sabar drana. Beliau tak pernah marah sekalipun. Pendapa rumah Pak Tawar merupakan bale pengrawit yang dihiasi dengan seperangkat gamelan dan wayang purwa. Pak Tawar juga mempunyai Paguyuban Seni Puspito Laras yang manajemennya diserahkan kepada Pak Karen.

Lama sekali saya belajar seni kerawitan dan pedhalangan kepada Beliau. Setiap bulan Sura di rumahnya diadakan pagelaran wayang. Banyak orang yang berkonsultasi kepada Pak Tawar ketika punya hajat.

Hajat apa pun menurut Embok itu sangat penting. Maka persiapan harus matang lahir batin. Tak boleh diselenggarakan secara asal asalan, takut kualat. Konsultasi dengan Embah Dukun atau para sesepuh dianggap sangat perlu.

Demi keselamatan dan kebaikan bersama, Embok tak segan-segan bertanya, sampai pada hal hal yang sangat kecil tak boleh ketinggalan. Embok menghormati sekali proses konsultasi spiritual ini. Pantang sekali untuk melanggar.

Boleh jadi apa yang dilakukan Embok ini merupakan perilaku konstitusional secara adat. Embok tak pernah menentang tradisi. Demi tradisi kadang-kadang Embok bersedia untuk mengeluarkan dana yang banyak. Tak ada rasa eman pada biaya.

Kalau ada anak tidak diberi upacara tradisional saat kelahirannya, Embok lantas bereaksi.

“Sapi saja diberi sedekah, apalagi anak manusia. Harus diberi perhatian yang lebih. Ini tak dapat ditawar tawar, sudah harga mati.”

kata Embok.
Sikap yang patuh pada tradisi leluhur ini membuat Embok tak pernah konflik dengan adat.

Bahkan beliau merupakan pendukung yang handal. Waktu, tempat dan biaya sedapat-dapatnya diusahakan. Tak main-main, Mbah Dardjo mesti diajak rembugan dan dimintai doa restu.

“Mbah Dardjo, sowan kula ngriki badhe nyuwun puji pangestu. Anggen kula badhe gadhah damel mantu, sedaya uba rampe sakjangkepipun sumangga kersa. Kula namung ndherek kemawon.”

Begitulah penghormatan Embok pada Mbah Dardjo sesepuh desa dengan sikap yang penuh kesopanan. Jika mendapat musibah Embok biasanya nyekar ke makam. Buat orang Jawa tanpa tahu makam leluhurnya berarti kehilangan kiblat.

Kuburan dianggap tempat suci yang perlu diuri uri. Di sini tetap terpelihara antara arwah roh nenek moyang dengan ahli warisnya. Orientasi batiniah terjaga secara harmonis.

Saya termasuk keluarga abangan tradisional. Kakek moyang saya kurang begitu akrab dengan pelajaran kaum santri.

Beruntunglah, karena proses sejarah para generasi cucu cucu ini sudah mulai belajar nilai-nilai keislaman. Meskipun minim, saya cukup mendapat pengetahuan dasar agama.

Akhirnya saya sekeluarga menjadi muslim yang memenuhi syarat. Bapak dan Embok saya juga mulai menjalankan syariat Islam lebih dari cukup.

Namun untuk urusan tradisi, beliau berdua masih kokoh dipegang. Termasuk upacara nyadran, beliau selalu terlihat aktif. Selama ini Bapak dan Embok rajin mengikuti upacara nyadran.

Saya sendiri sangat peduli terhadap upacara nyadran. Asal tidak ada keperluan yang sangat penting, saya akan hadir.

Kalau absen, rasanya menyesal sekali. Ini sarana agar saya bisa berkomunikasi dengan para leluhur saya. Saya masih membayangkan arwah nenek moyang itu menyertai kunjungan saya di makam. Begitulah, upacara nyadran sudah menjadi kebutuhan rohani yang perlu saya penuhi.

Entahlah, kepercayaan ini semakin mengental saja di hati saya. Seolah olah tidak ada saat yang membahagiakan bagi saya, selain bisa berkomunikasi dengan nenek moyang yang sudah masuk surga, manjing ing tepet suci.

Makam para leluhur memang mempunyai hubungan batin dengan diri saya. Maka setiap pulang ke kampung Nganjuk, saya pasti nyekar ke pasarehan leluhur ini.

Mungkin karena sebagai orang Jawa, sehingga saya masih percaya bahwa dengan nyekar saya bisa berhubungan batin dengan para leluhur yang sudah swargi.

Cinandhi ing ngawiyat berarti arwah yang dimuliakan. Kehidupan abadi dikatakan sebagai jaman kelanggengan. Urip kang sejati.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *