MEDAN – LIPUTAN68.COM – Perkembangan populasi dan aktivitas manusia sejak revolusi industri pertengahan abad 19 telah memicu laju peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). GRK terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil di sektor energi, transportasi, industri, penebangan pohon, penggundulan hutan, kebakaran hutan, dan lahan basah. Jenis GRK yang terbanyak memberikan sumbangan pada peningkatan emisi GRK adalah CO2, CH4, dan N2O.
Akumulasi GRK di atmosfer menyebabkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Perubahan iklim mengakibatkan pergeseran musim yang menciptakan anomali iklim dan peningkatan badai cuaca seperti El-Nino yang menyebabkan musim kemarau (kekeringan) berkepanjangan, sementara musim hujan menjadi lebih pendek dengan intensitas curah hujan tinggi.
Bahkan, El-Nino yang terjadi tahun 1997 – 1998 tercatat sebagai El-Nino terburuk sepanjang 50 tahun terakhir, membuat tahun 1998 sebagai tahun paling panas sepanjang abad. Sumatera Bagian Selatan, Kalimantan, Jawa dan Bagian Timur Indonesia mengalami kekeringan di luar musim kemarau. Kekeringan yang berkepanjangan berdampak terhadap penurunan produksi atau kegagalan panen tanaman pangan terutama padi dan palawija, dan krisis air bersih.
Ingin berkontribusi terhadap perbaikan kondisi di atas, pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) yang merupakan instrumen penting yang digunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia.
Hari peringatan ini dipandang sebagai kesempatan bagi semua orang untuk menjadi bagian aksi global dalam menyuarakan perlindungan terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang arif, berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan. HLHS ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau United Nation (UN) tahun 1972 untuk menandai pembukaan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia yang berlangsung tanggal 5 – 16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia.
Dalam rangka HLHS tanggal 5 Juni 2021, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara (Sumut), Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia dan Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) melakukan upaya penghijauan/reboisasi dan pengendalian ekosistem dengan penanaman 100 batang jenis Multi Purpose Trees Spesies (MPTS) di Lahan Adat BPRPI, Kampung Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan HLHS dengan penanaman pohon ini mengusung tema, “Pulihkan Indonesia dengan Memperluas Gerakan Ruang Hijau di Perkotaan”.
Dalam sambutannya pada kegiatan HLHS tersebut, Rusdiana, Direktur BITRA Indonesia menyampaikan, “gerakan penghijauan ini adalah salah satu bentuk kegiatan untuk memulihkan kondisi iklim yang semakin hari semakin buruk. Selain itu BITRA juga berupaya turut berkontribusi dalam pengendalian iklim dalam bentuk program perluasan dan memasyarakatkan pertanian organik selaras alam di Sumatera Utara. Juga membumikan faham pengelolaan pekarangan rumah dengan pola pertanian ramah lingkungan permakultur dan memasyarakatkan pemanfaatan tanaman herbal berkhasiat obat, serta penyehatan tradisional kepada masyarakat. Upaya itu semua dalam rangka kehidupan yang ramah lingkungan menuju keadilan iklim.” Terang Rusdiana.
“Sebab, hanya dengan ekosistem yang baik dan sehat kita dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengendalikan perubahan iklim, dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati di Indonesia. Kini giliran, wilayah urban dan pinggiran perkotaan menjadi penting untuk didorong agar bisa melakukan penghijauan secara masif. Minimal menanam tumbuhan atau tanaman pohon besar yang juga menambah asupan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan masyarakat, juga menghasilkan secara ekonomis, seperti pohon buah-buahan, minimal satu rumah satu pohon. Kami kira itu sudah sangat membantu dalam mendorong keseimbangan iklim dan perubahan ke arah perbaikan lingkungan.” Imbuh Rusdiana.
