Sejarah Organisasi Wanita Keraton Surakarta

Oleh: Dr. Purwadi M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Kesadaran untuk Berorganisasi.

Lagu Mars Putri Narpa.

Putri narpa wandawa Karaton Surakarta,
Lima Juni seribu sembilan tiga satu,
Bangkitlah putri bersama Kowani,
Berjuang untuk negri,
Sambutlah sinar tuk menerangi jiwa putri sejati,
Wahai generasi penerus trah suci bersinarlah bagai matahari,
Para tokoh putri harumkanlah negri pendidikan tak pernah terhenti.

Mars putri narpa itu mengandung semangat juang. Mudah dihafal dan enak didengar. Berkumandang tiap kali pertemuan.

Wadah pengabdian pejuang wanita bernaung di bawah Karaton Surakarta Hadiningrat. Bernama Putri Narpa Wandawa. Organisasi ini dirintis oleh tokoh wanita pada jaman Sinuwun Paku Buwana X. Raja Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939.

Pada tanggal 5 Juni 1931 telah berdiri organisasi Putri Narpa Wandawa. Sebagai pimpinan yaitu Bendara Raden Ajeng Sumarti. Kelak bergelar Kanjeng Ratu Paku Buwana. Garwa permaisuri Sinuwun Paku Buwana X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat, adalah putri Sri Mangkunegara IV yang terkenal kaya raya.

Bendara Raden Ajeng Sumarti atau Kanjeng Ratu Paku Buwana mewarisi darah pengusaha, penguasa dan pujangga. Sebagai pengusaha beliau menjalankan lajunya pabrik gula, kebun teh, kebun kopi dan perhotelan. Sebagai penguasa beliau aktif membantu Sinuwun Paku Buwana X yang memerintah tahun 1893-1939. Sebagai pujangga beliau turut menyusun kitab Panitibaya.

Turut membantu kelancaran organisasi putri narpa yaitu GRAy Koestimah Notonagoro, putri Sinuwun Paku Buwana X. Beliau juga garwa Prof Dr Notonagoro ahli Pancasila dan pendiri Fakultas Filsafat UGM.

Dalam pergerakan nasional, Putri Narpa Wandawa punya kontribusi pada perjuangan bangsa. Anggota anggotanya menjadi pendukung Budi Utomo yang dipimpin oleh Dr Soetomo. Warga Putri Narpa Wandawa juga menulis artikel majalah Bahasa Jawa Penyebar Semangat. Kebetulan sekali KRMH Wuryaningrat, Pengageng Karaton Surakarta menjabat wakil ketua Budi Utomo.

Mulai tahun 1939 kepemimpinan organisasi Putri Narpa Wandawa dipegang oleh KRAy Koes Sapariyah. Nanti bergelar Kanjeng Ratu Paku Buwana. Beliau mendampingi Sinuwun Paku Buwana XI, yang aktif dalam organisasi pergerakan nasional. Selama memimpin organisasi Putri Narpa Wandawa, KRAy Koes Sapariyah mendukung KRT Dr Radjiman Wedyadiningrat untuk memimpin BPUPKI, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Peranan Karaton Surakarta Hadiningrat pada pergerakan nasional cukup menonjol. Baik dalam bidang pendidikab, sosial, agama dan budaya. Utusan Karaton Surakarta Hadiningrat yang menjadi anggota BPUPKI sebanyak 12 orang. Misalnya KGPH Suryahamijaya, KRMH Sosrodingrat, KRMH Wuryaningrat, KPH Singgih, KPH Soepomo, KRT Dr Radjiman wedyadiningrat, Mr Susanto Tirtoprodjo. Mereka diutus atas usul GKR Paku Buwana.

Hubungan organisasi Putri Narpa Wandawa dengan pemerintah RI sangat harmonis. Menteri Sosial RI Maria Ulfah Santoso pada tahun 1946 diundang untuk memberi ceramah tentang peranan wanita. Bertempat di gedung Sasana Mulya, para pengurus Putri Narpa Wandawa diajak membina kuliner sega liwet di Baki Sukoharjo. Usaha kuliner rakyat ini amat menguntungkan dan berkembang lestari.

Organisasi Putri Narpa Wandawa mendapat perhatian dari Ibu Tien Soeharto. Istri Presiden Soeharto ini pada tahun 1971 mengajak GRAy Koes Sapariyam atau GKR Kedaton untuk mengembangkan industri batik di Laweyan Solo, Karangkajen Yogyakarta, Pejangan Pekalongan. Harap maklum GRAy Koes Sapariyam atau GKR Kedaton adalah putri Sinuwun Paku Buwana XI atau adik kandung Sinuwun Paku Buwana XII. Batik merupakan warisan Kraton yang diakui karya unggulan dunia.

Kepemimpinan Putri Narpa Wandawa sejak tahun 2004 hingga 2020 dipegang oleh GRAy Koes Handariyah atau GKR Sekar Kencono. Organisasi Putri Narpa Wandawa semakin berkembang pesat. Anggota bertambah banyak. Kegiatan meliputi ngadi sarira ngadi busana. Seminar, sarasehan, , pelatihan dan kunjungan budaya dilakukan di Wonogiri, Klaten, Sragen, Karanganyar, Surabaya, Boyolali, Semarang dan Jakarta. Pertemuan rutin diadakan tiap tanggal 17. Peserta selalu bersinar terang suka gembira.

Kegiatan Putri Narpa Wandawa malahan sampai lereng gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Lawu. PAKASA atau Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat bercabang cabang tiap Kabupaten. Otomatis mereka juga mendukung putri narpa wandawa. Inilah wujud sesanti manunggaling Kawula Gusti.

Masa keemasan ini pantas dikenang. Majunya putri narpa berkat dukungan GKR Galuh Kencono, GKR Retno Dumilah, GKR Wandansari, GKR Ayu Koes Indriyah, GKR Timur. Para sentana dan abdi dalem senantiasa mendukung program perkumpulan. Siyaga ing gati, sawega ing dhiri. Cancut gumregut gumreget gumregah.

GKR Sekar Kencono atau GRAy Koes Handariyah aktif dalam kegiatan sosial budaya. Beliau menjabat Pangageng Mandra Budaya. Bersama KPH Himbokusumo, sang suami, GRAy Koes Handariyah memberi bantuan pada beberapa organisasi sosial keagamaan.

Siji garising pesthi, loro temune jodho, telu tumurune wahyu, papat mundhake pangkat, lima tumibane nugraha. Manungsa datan wenang angawruhi. GRAy Koes Handariyah atau GKR Sekar Kencono wafat surut ing kasedan jati, manjing ing suwarga loka tanggal 5 Nopember 2020. Beliau adalah putri Sinuwun Paku Buwana XII yang ramah tamah, murah hati dan luhur ing budi.

Setahun sebelumnya yakni tanggal 31 Oktober GKR Galuh Kencono kondur ing tepet suci. Tokoh organisasi Putri Narpo Wandowo ini banyak berperan dalam soal kewanitaan. Ilmunya sangat dalam.

Pimpinan organisasi Putri Narpo Wandowo sementara dipegang oleh GKR Retno Dumilah. Roda organisasi berjalan sesuai dengan rencana program kerja.

Putri Narpa Wandawa sebagai wadah perjuangan berjalan sesuai dengan angger angger. Untuk melanjutkan roda organisasi pada hari Selasa, 17 Nopember 2020 diadakan pertemuan pengurus dan anggota. Acara ini
diawali dengan menyanyikan lagu mars putri narpa wandawa. Dipimpin oleh KMT Suci Marhaeningsih, pangrsa Putri narpa wandawa pang Klaten. Turut mendampingi Nyi Behi Sukinah Puspaningtyas serta Nyi Behi Suprihatiningtyas.

Pada tanggal 26 Mei 2021 GKR Retno Dumilah surut ing kasedan jati. Pejabat ketua Putri Narpa ini mendadak wafat. Maka perlu pemilihan ketua umum yang baru.

Kesepakatan diadakan pertemuan pada tanggal 5 Juni 2021. Sekaligus sebagai peringatan 90 tahun putri Narpa. Bertempat di pendapa Kayonan Karaton Surakarta Hadiningrat. Acara dimulai pukul 9.30 pagi.

GKR Wandansari selaku ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat tetap memberi dorongan. Organisasi Putri Narpa Wandawa berkiprah.

B. Gagasan Kebangsaan Putri Narpa.

Nilai kebangsaan digagas demi keselarasan sosial. Prof Dr Notonagoro ahli Pancasila Karaton Surakarta. Beliau juga pendiri Fakultas Filsafat UGM. Sejarah berdirinya Fakultas Filsafat UGM pada tanggal 18 Agustus 1967.

Prestasi gemilang selalu diukir buat persembahan pada nusa bangsa. Butir butir kearifan lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dikaji. Fakultas Filsafat UGM terus menerus mengkaji pemikiran nusantara. Sebagai sumbangan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yaitu dengan menghayati dan mengamalkan dasar negara Pancasila.

Untuk itu dilakukan kajian historis sosiologis dan kultural. Fakultas Filsafat UGM berprisip jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Lantas perkembangan pemikiran filosofis dilacak dari masa ke masa.

Pemikiran yang bercorak Hindu terdiri dari kama arta darma muksa. Pada tahun 1042 Empu Kanwa menyusun Kakawin Arjuna Wiwaha. Nanti diwujudkan dengan pentas wayang lakon Begawan Ciptoning.

Nilai filsafat Budha tertuang dalam kitab Negara Kertagama karya Empu Prapanca tahun 1352. Konsep kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana, sebagaimana struktur simbolis. Misalnya diwujudkan dalam sesanti kenegaraan. Yakni Bhinneka Tunggal Ika.

Wali Sanga sejak tahun 1478 melengkapi kefilsafatan Nusantara. Syariat tarikat hakikat makrifat menjadi pedoman kenegaraan. Kasultanan Demak Bintara memadukan unsur keagamaan dan kebudayaan.

Gagasan untuk mengembangkan filsafat makin maju. Pada tahun 1851 Sri Mangkunegara IV menyusun serat Wedhatama. Pemikiran kefilsafatan dimulai dari sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa.

Bibit kawit berdirinya Fakultas Filsafat UGM berhubungan dengan sejarah Paheman Radya Pustaka. Gedung Paheman Radya Pustaka lahir pada tanggal 28 Oktober 1890 di Kepatihan Karaton Surakarta Hadiningrat.

Pendiri Paheman Radya Pustaka adalah Kanjeng Raden Adipati Arya Sasradinigrat. Atas perintah Sinuwun Paku Buwana IX yang memerintah Karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1861 – 1893. Raja Surakarta ini menyusun Serat Warni Warni dan Serat Kedokteran. Gagasan kefilsafatan makin dalam.

Wacana penyebaran gagasan kefilsafatan dilakukan secara sistematis integral dan komprehensif. Misalnya pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X tanggal 1 Januari 1913 ada kemajuan pesat. Paheman Radya Pustaka menempati gedung baru yang terletak di kebon raja jalan Sri Wedari. Koleksi buku makin lengkap dengan fasilitas yang memadai.

Kajian pemikiran kefilsafatan meliputi penelitian, pengajaran, pelatihan, penyalinan dan penerjemahan. Alumni Paheman Radya Pustaka tersebar dalam beragam profesi. Seperti administratur, guru, pamong praja dan pengelola yayasan.

Bidang filsafat agama diperhatikan dengan saksama.

Untuk pegawai yang menguturi bidang keagamaan diberi tempat khusus. Patih Sasradinigrat IV mendirikan Perguruan Mambaul Ulum. Contoh alumni yakni Kahar Muzakir tokoh pendidikan UII, Mukti Ali tokoh perbandingan agama, Munawir Zadzali tokoh Menteri Agama. Perguruan Mambaul Ulum ini cikal bakal lahirnya IAIN di Indonesia.

Pemikiran filsafat agama mendapat porsi yang cukup. Perguruan Mambaul Ulum berpengaruh atas praktek agama jaman mutakhir. Kesadaran hidup beragama, berbangsa dan bernegara tertata rapi.

Pegawai Paheman Radya Pustaka yang ternama adalah Prof Dr Poebatjaraka. Lahir dengan nama kecil Lesya, pada tanggal 1 Januari 1884. Belajar di Rijtsuniversitet Leiden. Orang tuanya pengageng Karaton Surakarta Hadiningrat, KRT Poerbadipura dan RAy Semu Prawirancana. Bakat dan bekal budaya sebagai sarana pengabdian.

Kelancaran studi nilai kefilsafatan di Paheman Radya Pustaka atas dukungan Prof Dr Notonagoro SH. Menantu Sinuwun Paku Buwana X ini pengageng Bandha Lumaksa. Bertugas sebagai kepala keuangan negeri tahun 1932 – 1938. Menikah dengan GKR Koestimah Notonagoro. Sambil menata pamulangan, putri raja kerap ura ura.

Lagu witing klapa.

Witing klapa jawata ing ngarcapada. Salugune wong wanita. Dhasar nyata kula sampun njajah praja. Ing Ngayogya Surakarta.

Nadyan akeh wong ayu dhasar priyayi. Nanging datan merak ati. Adhuh Gusti dak rewangi pati geni. Pitung dina pitung wengi.

GKR Koestimah Notonagoro mengatur jadwal pengajaran di Paheman Radya Pustaka. Sejarah, Sastra, gendhing, tari, karawitan, batik, dhahar nyamleng, busana, bale wiswa, bebrayan diajarkan pada siswa. Materi kurikulum disusun oleh tim kasusastran yang dipimpin oleh Ki Padmasusastra.

Umumnya pengajar Paheman Radya Pustaka diambil dari abdi dalem Mandra Budaya dan Purwa Kinanthi. Mereka pernah bertugas sebagai jurnalis Majalah Retna Dumilah yang dirintis oleh Pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita sejak tahun 1843. Para dwija ini ahli sastra bahasa seni budaya Jawa yang mumpuni.

Notonagoro mendapat gelar Mister de Rechten dan Rechthugeschool dari Universitet Leiden Netherland. Antara tahun 1933 – 1929 mengajar di Particuliaere Algeme Middebare. Bersama dengan garwa kinasih, beliau mengembangkan seni edi peni, budaya adi luhung. Sesuai dengan prasapa Sinuwun Paku Buwana X dalam Serat Panitibaya.

Rum kuncaraning bangsa, dumunung ing luhuring budaya. Inilah pangkal dasar yang menjadi titik tolak pengkajian nilai kefilsafatan nusantara.

Universitas Gadjah Mada berdiri pada tanggal 19 Desember 1949. Perlu dijelaskan latar belakang sosio kultural yang sedang terjadi. Menurut owah gingsiring jaman.

Tanggal 1 September 1949 bertemu tokoh tokoh pendidikan. Pimpinan dari berbagai lembaga merancang berdirinya perguruan tinggi. Ada lima lembaga pendidikan yang hendak bergabung.

1. Paheman Radya Laksana.
2. Perguruan Tinggi Kedokteran Kadipala Surakarta.
3. Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan Surakarta.
4. Sekolah Tinggi Farmasi Surakarta.
5. Sekolah Tinggi Pertanian Surakarta.

Pengelola pendidikan tinggi sepakat membuat universitas. Bersamaan itu pula ada usulan dari Institut Pasteur Bandung. Dipimpin oleh Prof Dr M Sardjito. Beliau tokoh intelektual dari Kabupaten Magetan Jawa Timur. Masih berhubungan kerabat dekat dengan Gubernur Suryo.

Pertemuan ilmiah ini mendapat dukungan penuh Drs Moh Hatta, Wakil Presiden RI. Koordinator acara dilakukan oleh Prof Ir Rooseno, mewakili Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Sedangkan ilmu humaniora diwakili oleh Prof Dr Priyono. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Jadilah Universitas Gadjah Mada.

Tanggal 3 Maret 1949 Prof Dr Priyono berjasa meletakkan dasar dasar pengajaran sastra Jawa UGM. Disertasi Prof Dr Priyono membahas tentang cerita Sri Tanjung. Pria kelahiran 20 Juli 1905 ini punya pemikiran cemerlang. Pernah mendapat penghargaan Perdamaian Stalin Rusia. Presiden Soekarno mengangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 1957 – 1966.

Dies Natalis Fakultet Sastra Pedagogik Filsafat dan Kebudayaan diperingati tiap tanggal 3 Maret. Peringatan hari kelahiran fakultas sastra budaya ini diselenggarakan dengan acara temu ilmiah. Para alumni dengan bangga ikut serta.

Jurusan sastra Jawa untuk pertama kali dipegang oleh Prof Dr Poebatjaraka. Sekretaris jurusan dipegang oleh Prof Dr PJ Zoetmulder. Nama begawan sastra Jawa ini boleh dibilang mendunia, arum kuncara ngejayeng jagad raya.

Adapun Prof Dr Abdullah Sigit selaku Dekan Fakultet Sastra Pedagogik Filsafat dan Kebudayaan. Jurusan Sastra Jawa UGM berkembang pesat. Boleh disebut alumni handalan. Misalnya Prof Dr Endang Daruni Asdi, Prof Dr Damardjati Supadjar, Drs Soejono Soemargono. Dwija agung ini kelak melanjutkan perjuangan luhur Fakultas Filsafat.

Nama Fakultas yang menaungi jurusan filsafat pada tanggal 15 September 1955 mengalami perubahan. Jadilah Fakultas Sastra pedagogik Filsafat dan kebudayaan.

Prof Dr Poebatjaraka mendapat sebutan Empu Jawa Kuna. Atas jasanya beliau diberi penghargaan Koninklijk Institut voor Taal, Land en. Prestasi bergengsi dan prestisius.

Dalam lapangan kebegaraan dan pemerintahan jasa Prof Dr Poebatjaraka amat besar. Di bawah kepemimpinan Sultan Hamid II bertugas sebagai Panitia Lambang Negara. Selaku anggota yaitu Prof Dr Poebatjaraka, Ki Hajar Dewantara, Prof Dr Muhammad Yamin SH, Muhammad Natsir.

Keluarga Prof Dr PoePoebatjaraka cinta seni budaya. Istrinya bernama BRay Roosinah Poeger. Anak yang meneruskan perjuangan yaitu Prof Dr Purnadi Poebatjaraka. Beliau guru besar Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. Pendekatan studi hukum dianjurkan untuk berdasarkan aspek nilai budaya lokal.

Murid Prof Purnadi Poerbatjaraka yaitu Dr Amir Syarifudin SH. Beliau dosen Universitas Sriwijaya Palembang. Tahun 1996 menempuh program pasca sarjana jurusan ilmu filsafat.

Dukungan dari Prof Dr Notonagoro untuk pengembangan pemikiran kefilsafatan Nusantara begitu tinggi. Pada tahun 1952 Notonagoro menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum UGM. Pada kesempatan ini Prof Dr Notonagoro bertindak sebagai promotor bagi Presiden Soekarno dan Ki Hajar Dewantara. Pejuang hebat inu mendapat gelar Doktor Honiris Causa.

Masa pemerintahan Presiden Soeharto, guru besar UGM ini mendapat tugas menyusun program pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila. Populer disebut P4. Dalam kacamata budaya disebut dengan Eka Prasetya Panca Karsa.

Anjuran Prof Dr Notonagoro agar sastra Jawa berkembang terus. Maka dilakukan usaha penerjemahan Serat Wulangreh, Centhini, Wedhatama, Pustaka Raja Purwa. Nilai filsafat dengan studi sastra memang berhubungan erat. Ibarat suruh, lumah lan kurepe. Yen disawang seje rupane. Yen digigit tunggal rasane.

Pengajaran ilmu filsafat mendapat pengakuan layak. SK Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan no 5375 tanggal 15 September 1955. Pemerintah memberi wadah resmi, Gabungan Fakultas Umum dan Filsafat. Prof Dr Notonagoro bertindak selaku Dekan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *