7. Panembahan Senopati (1587 – 1601)
8. Prabu Hanyakrawati (1601 – 1613)
9. Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613 – 1645)
10. Sunan Amangkuat I (1645 – 1677)
11. Sunan Amangkuat II (1677– 1703)
12. Sunan Amangkuat III (1703 – 1708)
13. Sunan Paku Buwono I (1708 – 1719)
14. Sunan Amangkuat IV (1719 – 1726)
15. Sunan Paku Buwono II (1726 – 1749)
16. Sunan Paku Buwono III (1749 – 1788)
17. Sunan Paku Buwono IV (1788 – 1820)
18. Sunan Paku Buwono V (1820 – 1823)
19. Sunan Paku Buwono VI (1823 – 1830)
20. Sunan Paku Buwono VII (1830 – 1858)
21. Sunan Paku Buwono VIII (1858 – 1861)
22. Sunan Paku Buwono IX (1861 – 1893)
23. Sunan Paku Buwono X (1893 – 1939)
(Padmawarsita, 1953)
Prameswari dalem atau garwa padmi Sunan Paku Buwono X ada 2 yaitu:
1. Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwono atau Raden Ajeng Sumarti, putri Mangkunegara IV, Surakarta, nikah hari Kamis Pon 20 Besar Alip 1819 atau 7 Agustus 1890, dalam usia 24 tahun
2. Gusti Kanjeng Ratu Mas atau Gusti Raden Ajeng Mursudarinah yakni putri Sultan Hamengku Buwono VII, Kraton Yogyakarta nikah hari Rabu Wage 17 Besar Jimawal 1845 atau 27 Oktober 1915, mempunyai seorang putri yakni Gusti Kanjeng Ratu Pembayun ( Puspaningrat, 1996: 14).
Selain itu Sunan Paku Buwono X mempunyai garwa ampeyan sebanyak 36 dan putra-putri dalem berjumlah 63. Adapun putra-putri Sunan Paku Buwono X adalah sebagai berikut:
1. GKR Alit
2. GRAy Singasari
3. GRAy Pergiwati
4. GRM Antasena (Sunan Paku Buwono XI)
5. KGPH Kusumayuda
6. GPH Natapura
7. GPH Natabrata
8. GRM Sutandar.
9. GPH Hadisurya
10. GRAy Arya Jayanegara
11. KG Panembahan Hadiwijaya Maharsi Tama
12. GRAy Adipati Paku Alam VII, GRAy Retnapuasa.
13. GRAy Tandanegara, GRAj Kusretna Fatimah.
14. GRAy Pawiradiningrat, GRAj Kuskhatijah
15. GPH Suryabrata, GRM Sumeh.
16. GRAy Sasradipura, GRAj Kusnah
17. GRAy Jayadiningrat, GRAj Kusyah
18. KGPH Kusumabrata, GRM Irawan.
19. GPH Demang Tanpa Nangkil, GRM Nawawi.
20. GRAj Kusmandinah.
21. GRAy Wuryaningrat, GRAj Kustantinah
22. GPH Hadinegara, GRM Rofiatun
23. GPH Purbanegara, GRM Sujana
24. GRAy Cakradiningrat, GRAj Kusindinah
25. GRAy Suryaningrat, GRAj Kusnapsiyah
26. GRAy Purnama Hadiningrat, GRAj Kussalbiyah
27. GPH Hadikusuma, GRM Sanitiyasa
28. GRM Sunata.
29. GRAy Suryanegara, GRAj Kusma’ani
30. GRAy Wiryadiningrat, GRAj Kus’aimah
31. GRAy Adipati Sasradiningrat, GRAj Kus’aisyah
32. GPH Surya Hamijaya, GRM Sudira
33. GRAy Adipati Sasranegara, GRAj Kustarinah
34. GRAy Suripta, GRAj Kusmartinah
35. Mr. KGPH Jaya Hadikusuma, GRM Sutijap
36. Ir. Mr. GPH Natakusuma, GRM Sahid.
37. GRAy Mangkuyuda, GRAj Kuspiyah
38. GRAy Cakrakusuma, GRAj Kussrinah
39. GRM Sangadi
40. GRAy Sartana, GRAj Kusmaknawiyah
41. GRM Ngaliman.
42. GRAy Susetya.
43. GRAy Natadilaga, GRAj Kustrinah
44. GRAj Kustrini.
45. GRAy Bratadiningrat, GRAj Kusdinah
46. Jenderal TNI GPAH Jati Kusuma, GRM Soebandana.
47. GPH Suryakusuma, GRM Suninta
48. GPH Cakraningrat, GRM Kasan
49. GPH Natapraja, GRM Kusen
50. GRM Suyitna
51. GKR Pambayun, GRAy Sekar Kedaton Kustiyah.
52. GRAy Pramukusuma, GRAj Kusduryatinah
53. Mr. GPH Puspakusuma, GRM Suranta
54. GRAy Kusumajati, GRAj Kusprapti
55. GRAy Natanegara, GRAj Kustimah
56. GRAj Kustikah.
57. GPH Mangkukusuma, GRM Suwardi
58. GPH Aryamataram, SH
59. GRAj Kusbandinah.
60. GPH Priyambada, GRM Subandriya
61. GRM Suwanta
62. GRM Sugandi.
63. GPH Nyakrakusuma, GRM Subarja (Bratadiningrat, 1992).
Sunan Paku Buwono X adalah pejuang yang telah memberikan kontribusi nyata terhadap perintisan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai raja sebuah kerajaan berdaulat yang memerintah dua pertiga tanah Jawa, dalam rentang waktu yang sangat panjang, yakni 46 tahun, tentu memainkan peranan yang sangat penting sehubungan dengan interaksi bangsa Jawa terhadap bangsa bangsa asing khususnya Belanda dan Jepang.
Sunan Paku Buwono X telah menyorong masyarakat Jawa memasuki zaman baru.
Masuknya zaman modernisasi yang berhembus dari bumi Eropa, dimanfaatkan oleh Sunan untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan melakukan modernisasi di sebagian tanah Jawa yang dinaunginya, dengan Surakarta sebagai ibukotanya. Dukungannya terhadap gerakan kaum republik juga semakin lama semakin membuahkan hasil. Putra-putri dan para bangsawan kraton disekolahkannya ke berbagai belahan dunia, telah kembali menjadi kader-kader perjuangan yang tangguh.
Banyak sekali bukti yang bisa dilihat, dibaca dan didengar langsung dari para kerabat dan keturunannya, apa saja jasa dan perjuangannya yang telah dilakukan selama rentang waktu 46 tahun kepemimpinannya.
Namun, seiring dengan kemajuan zaman yang disokongnya, ikut berubah pula situasi dan kondisi masyarakat. Ia sadar pula bahwa usianya sudah menjelang senja hari. Di lingkungan istana pun sudah terdengar pula sayub-sayub sanak kerabat membicarakan tentang suksesi di istana.
Awalnya pada tahun 1934, surat kabar Darmakandha berbahasa Melayu menampilkan tulisan berjudul Wahyu Cakraningrat (Darsiti Soeratman, 1989: 162). Dikemukakan bahwa setiap raja dalam memilih calon putra mahkota tidak semudah memilih anggota Regentschaps Raad (Dewan Kabupaten) atau Volksraad (Dewan Rakyat), karena pencalonan putra mahkota itu harus dihubung-lkan dengan wahyu kraton atau wahyu cakraningrat.
Walaupun pemerintahan Paku Buwono X sudah menginjak zaman baru, tetapi pemikiran tentang wahyu cakraningrat dihubungkan dengan calon pengganti raja, masih sangat kuat.
Sehubungan dengan pendapat itu, surat kabar itu menilai, bahwa apa yang dibahas dan diusulkan oleh berbagai pihak mengenai cara-cara penunjukkan putra mahkota yang mulai hangat waktu itu, hanya sampai pada tingkat lahiriahnya, sedang intinya belum tercakup. Hendaknya hal ini diserahkan kepada sunan yang telah memiliki pandangan yang bijaksana, atau Sunan Paku Buwono X sendiri. Diskusi disambut oleh Majalah Narpa Wandawa menyatakan sangat setuju dengan pendapat Darmakandha.
Disebutkan bahwa seorang putra mahkota yang selanjutnya akan diangkat menjadi raja, yang harus memikirkan rakyatnya, harus mendapat wahyu kraton, sebuah wahyu yang akan digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Wahyu di sini hendaknya diberi arti kelebihan.
Narpa Wandawa selanjutnya menambahkan bahwa siapapun di antara putra sunan yang menginginkan kedudukan pangeran adipati anom hendaknya tidak hanya tertarik pada kewibawaan yang akan diperoleh. Namun, segala sesuatu mengenai hal ini, sebaiknya diserahkan kepada sunan yang bijaksana.
Namun rupanya Sunan sudah melihat ke depan tentang nasib Negari Surakarta. Maka sampai ujung usianya, beliau tidak mengusulkan nama calon putra mahkota (Darsiti Soeratman, 1989: 162). Pada bulan Desember 1938, Sunan jatuh sakit, lalu pada 20 Februari 1939, Paku Buwono X wafat (Ricklefs, 1995: 89
Namun kehidupan harus terus berlangsung. Raja baru sebagai penerus harus ditentukan. Sumber-sumber menyebut nama Pangeran Hangabehi sebagai calon putra mahkota. Baru dua bulan kemudian, pada 26 April 1939, disepakati secara bulat, Pangeran Hangabehi dilantik menjadi Paku Buwono XI (Darsiti Soeratman, 1989: 90). Karaton Surakarta Hadiningrat tetap menjadi sumber inspirasi untuk membangun peradaban. Bersama elemen sosial lain, Karaton Surakarta Hadiningrat berjuang dalam bidang budaya. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.
Perjuangan Sinuwun Paku Buwana X diakui Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. Jasa dan perjuangannya menjadi suri teladan.
Pada tanggal 1 Nopember 2011 gelar Pahlawan Nasional resmi disandang. Sinuwun Paku Buwana X.
(LM-01)

