Umbul Kapujangan Pengging Sarana Mesu Budi

Kabagyan hidup berupa wirya arta winasis. Wirya itu status sosial yang terpandang. Arta itu harta kekayaan yang mbayu mili berlimpah ruah. Winasis itu kecerdasan kultural dan intelektual. Raden Pandji Soeroso terbiasa momong momor momot, akomodatif persuasif komunikatif.

Kamulyan telah disandang, kejayaan sudah disanding. Raden Ayu Herniati selaku anggota trah RP Soeroso yang betul betul mengalir buat bumi sakalir. Kehidupan yang ber bandha ber bandhu ber budi. Keselarasan hidup yang dijalani oleh Raden Ayu Herniati merupakan anugerah lahir batin awal akhir.

Puji pinuji mugi sami basuki lestari. Raden Ayu Herniati ginanjar rahayu widada suka gembira. Drajat pangkat semat dihayati oleh RP Soeroso. Wanita berarti wani mranata. Tapa tapak telapak, sungguh surga berada di bawah telapak kaki seorang wanita.

Para sesepuh memberi wejangan. Siji garising pati, loro temuning jodho, telu Tumuruning wahyu, papat mundhaking pangkat, lima tumibane nugraha.

Konsep drajat pangkat semat, kedudukan keluhuran kekayaan berpihak pada Raden Ayu Herniati. Putra wayah mewarisi ajaran guna kaya purun. Gubernur Jawa Tengah pertama sudah memberi contoh keutamaan.

RP Soeroso mendidik keluarga dengan semangat kebangsaan. Dengan budi pekerti luhur, Raden Ayu Herniati berbagi pada sesama, disertai sikap welas asih. Dengan kecerdasan intelektual kultural, Raden Ayu Herniati membuat anggun semesta, disertai sregep sinau. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Tanda adanya usaha dalam meraih prestasi gemilang.

Mendhem jero mikul dhuwur. Dengan mengingat sarasilah keluarga, Raden Ayu Herniati sebagai warga trah RP Soeroso menyumbang buat kejayaan bangsa dan negara.

Kepemimpinan Raden Pandji Soeroso dikenang sepanjang jaman. Adapun para Gubernur Jawa Tengah selalu berjasa pada masyarakat. Secara berurutan telah dicatat dengan tinta emas. Bagi Raden Ayu Herniati ini perlu diperhatikan dengan sungguh sungguh.

1. Raden Pandji Soeroso memimpin sejak tanggal 5 September 1945- 13 Oktober 1945.

2. KRT Mr Wongsonagoro memimpin tanggal 13 Oktober 1945- 4 Agustus 1949.

4. R Boedjono 1949-1954.

5. RMTP Mangun Nagoro 1954-1958.

6. R Soekardji Mangun Kusumo 1958-1960.

7. Mochtar 1960-1966.

8. H Munadi 1966-1974.

9. H Soepardjo Rustam 1974-1983.

10. H Ismail 1983-1993.

11. H Soewardi 1993-1998.

12. H Mardiyanto 1998-2007.

13. H Ali Muhfid 2007-2008.

14. H Bibit Waluyo 2008-2013.

15. H Ganjar Pranowo 2013-2023.

Para Gubernur Jawa Tengah berikutnya punya referensi yang tangguh. Raden Pandji Soeroso, Eyang buyut Raden Ayu Herniati adalah perintis utama. Propinsi Jawa Tengah memiliki kekayaan alam, budaya, tradisi dan sejarah yang panjang. Ki Nartosabdo menciptakan lagu berjudul Identitas Jawa Tengah. Lagu ini bernuansa kebangsaan dan kebudayaan. Lagu Identitas Jawa Tengah, Laras pelog pathet nem.

Identitas Jawa Tengah.

Mungguh sumbere e wawasan Nusantara, dadi paugeran raharjaning bangsa, tri gatra panca gatra, kang ginayuh trus binudi, supaya jejeg Santoso, mujudake tata tentrem karta raharja ing Jawa Tengah, sumbere budaya agung, mrih lestarining bangsa, strategi wawasan Identitas Jawa Tengah.

Majunya peradaban menurut Raden Ayu Herniati harus punya landasan filosofis. Bab panca gatra ideologi Pancasila, nindakake demokrasi Pancasila, ekonomi ngleksanaake pasal telung puluh telu UUD empat puluh lima, sosial budaya tansah angleluri kapribaden bangsa, katentremaning bebrayan rancaking pembangunan, strategi wawasan Identitas Jawa Tengah.

Masyarakat Jawa Tengah bisa berbangga. Lagu ini kerap berkumandang untuk membangkitkan gairah membangun. Irama cepat penuh semangat. Cocok untuk membentuk karakter kapribaden luhur di kalangan generasi muda.

Raden Ayu Herniati selalu berdarma bakti pada nusa bangsa. Bersama dengan sang suami Brigjend Pol Sjamsul Sidiq berusaha untuk mengabdi pada ibu pertiwi. Pasangan ideal ini penuh dengan anugerah berlimpah ruah.

Kumandang syair kidung rumeksa ing wengi menjadi sarana tolak balak. Segala rintangan menyingkir. Semua cobaan hidup berhasil dilalui. Balung janur, janur ingisenan boga. Widadaa lepat saking sambikala.

 

Singgah Singgah kala singgah,

Pan suminggah durga kala sumingkir,

Sing ngaama sing ngawulu,

Sing ngasuku ngasirah,

Sing ngatenggak lawan kala sing ngabuntut,

Padha sira sumingkira,

Muliha mring asalneki.

 

Atas dukungan Raden Ajeng Herniati dilakukan kegiatan kultural. Kidung reriptan para wali di tanah Jawa dibaca untuk memperoleh pencerahan. Dengan diiringi musik gender, suasana makin hikmat. Ditambah air gemericik air serta jangkrik ngerik pada waktu malam hari.

Puji pangastuti yang dilakukan di umbul kapujanggan Pengging memberi energi. Semangat literasi warisan Kyai Pujangga Yasadipura menerangi alam raya. Tanggal 5 Juli 2021 telah dibaca kidung rumeksa ing wengi. Malam Selasa Pon itu hening ening. Agar kehidupan makin aman damai dan ayem tentrem.

Raden Ayu Herniati sebagai priyayi yang melestarikan adat istiadat. Dengan harapan alam dan manusia menyatu. Muncul keselarasan antara jagad alit lan jagad ageng.

Wejangan sesepuh yang ampuh wutuh tangguh direnungkan oleh Raden Ayu Herniati. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.

Kesadaran untuk melakukan ritual di Pengging memang besar. Karena punya kekuatan memori historis filosofis dan sosiologis. Sekalian mahluk sama ayu hayu rahayu.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *