Ketiga pokok pokok dasar fundamental’ di atas itu, mewujudkan suatu bentuk keselarasan terhadap tuntutan perjuangan era baru peri kehidupan Mangkunagaran dalam satu kerangka masyarakat bangsa yang tengah melakukan pembangunan di segala bidang, pada saat pemerintah negara Republik Indonesia menjelang memasuki tahap tahap akhir periode menyelesaikan landasan pembangunan guna mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Titik awal peri kehidupan praja Mangkunagaran, yang jatuh pada tanggal 4 Jumadilakir 1682, maka tanggal 4 Jumadilakir 1920 akan jatuh bertepatan pada tanggal 24 Januari 1988.
Sejarah telah membuktikan bahwa peri kehidupan Mangkunagaran yang bertitik awal bertepatan dengan 4 Jumadil Akir 1682 telah berkembang dan menghasilkan karya karya budaya yang tetap menunjukkan kenyataan relevansinya di akhir abad XX ini, maka kiranya para kerabat besar Mangkunagaran patut menempatkan ‘saat’ tanggal 4 Jumadilakir 1682 tersebut sebagai suatu saat yang disakralkan, sejalan dan searah dengan sikap mental seluruh bangsa Indonesia yang menempatkan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai suatu hari dan tanggal yang teramat sakral.
Sehubungan dengan kenyataan kenyataan sebagai terungkap pada butir-butir uraian di atas, maka sudah pada tempatnyalah apabila saat 4 Jumadilakir 1920 ditetapkan sebagai titik awal era baru peri kehidupan Mangkunagaran.
Dalam era baru yang demikian ini, maka peri kehidupan Mangkunagaran telah terjelma sebagai Puro Mangkunagaran. Sesuai dengan titik tolak pengertian yang demikian itulah kiranya, secara mudah dan sederhana mampu dipahami makna yang multi dimensional deri kata ‘Puro Mangkunagaran’ pada awal amanat ini.
KGPAA Mangkoenagoro ‘sapisan’ segera setelah terwujudnya realitas daripada ketiga pokok-pokok dasar fundamental itu, segera melakukan Upacara Sesaji Mahesa Lawung mengikuti secara naluriah tradisi yang sudah sejak lama melembaag dalam pemerintahn kerajaan di Jawa. Sesaji demikian terutama ditujukan untuk memanjatkan doa ke hadirat Yang Maha Kuasa, untuk memohon dilimpahkannya keselamatan dan kejayaan negara serta raja sebagai kepala negara pada jaman itu, serta anugerah kemurahan rizki bagi seluruh rakyatnya.
Dalam tradisi tersebut rakyat melakukan bersih desa sebagai mewujudkan terciptanya pangkal kesehatan yang menjauhkan dari segala bentuk penyakit serta sebagai melambangkan lenyapnya segala hambatan yang dapat menimbulkan segala malapetaka yang membuat sengsara kehidupan masyarakat luas.
Berkenaan dengan butir-butir tertera dalam pertimbangan pertimbangan telah disebutkan di atas, sudah jelas dan tegas bahwa:
GPH Sudjiwo Kusumo, selaku pengageng Mangkunagaran,
“Menjalankan segala kewajiban dan memikul tanggung jawab atas segala tugas yang berada dalam wewenang almarhum Sri Mangkoenagoro VIII, baik itu menyangkut tata kehidupan dalam lingkungan Puro Mangkunagaran maupun mewakili dan bertindak untuk kepentingan dan atas nama Puro Mangkunagaran.”
Rumusan demikian yang termuat pada kesepakatan bersama para putra-putri almarhum Sri Mangkoenagoro VIII, pada hakekat dasarnya menurut hukum menempatkan kedudukan GPH Sudjiwo Kusumo sebagai: Pemangku Jabatan (Waarnemer) Sri Mangkoenagoro VIII almarhum.
Sehubungan dengan itu, maka kami selaku sesepuh Mangkunagaran, memandang perlu untuk segera melakukan tindak lanjut atas langkah langkah dari para putra-putri almarhum Sri Mangkoenagoro VIII tersebut.
E. Permusyawaratan Agung Pura Mangkunegaran.
Guna keperluan itu, kami selaku sesepuh dan ketua dewan pertimbangan Mangkunagaran memohon kepada para Sesepuh Agung, yang terdiri dari para putra-putri Sri Mangkoenagoro VIII almarhum ditambah dengan KRTH Waloeyo Harjoloekito, seorang kerabat yang telah banyak dan besar jasa jasanya terhadap Mangkunagaran, untuk mengukuhkan putranda GPH Sudjiwo Kusumo sebagai:
Kanjeng Gusti Aryo Mangkunegoro IX
( Sri Mangkunegoro).
Para Sesepuh Agung Puro Mangkunegaran yang terdiri dari:
1. GRAy Partini Hoesein Djajaningrat
2. GRAy Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani Soerjosoejarso
3. KPH Soerjosoejarso
4. KPH Hsmidjojo Soeparto
5. GRAy Partimah Soenarso Purwohadinoto
6. KPH Ir. Soenarno Purwohadinoto
7. KRTH Waloejo Hardjoloekito..
Sebagaimana telah dibacakan, telah menerbitkan suatu Piagam Pengukuhan.
Dengan telah dikukuhkannya berlandaskan Piagam Pengukuhan dari para Sesepuh Agung Mangkunagaran, maka dengan demikian sejak hari ini, Akad Legi, surya kaping 4 Jumadilakir 1920 yang bertepatan dengan hari Minggu, tanggal 24 Januari 1988. Gelar dan sesebutan sebagai:
Pengageng Pura Mangkunegaran telah secara resmi menjadi: KGPAA Mangkoenagoro IX serta dalam sehari hari Sri Mangkoenagoro, sebagai satu perwujudan menggantikan kedudukan pengageng Pura Mangkunagaran, KGPAA Mangkoenagoro VIII yang telah wafat dan dengan demikian telah memantapkan kepemimpinan Pura Mangkunaragan sebagai suatu tindak lanjut kesepatan bersama para putra putri Almarhum Sri Mangkoenagoro VIII tertanggal 5 September 1987.
Dengan telah terselesaikannya secara keseluruhan proses alih kepemimpinan Puro Mangkunagaran sebagai akibat telah mangkatnya Sri Mangkoenagoro VIII sebagaimana tertera di atas itu, maka para sesepuh Mangkunagara telah melaksanakan tugas yang terpikul di pundaknya sebagai mewujudkan suatu tanggung jawab moral yang agung dna mulia terhadap para leluhur Mangkunagaran.
Kemudian daripada itu para sesepuh Mangkunagaran meletakkan tugas dan tanggung jawab sepenuhnya kepada Sri Mangkoenagoro, guna melanjutkan kepemimpinan Puro Mangkunagaran, sebagai mewujudkan era peri kehidupan Mangkunagaran dalam orde baru.
Selanjutnya sejalan dan searah dengan tata pemikiran demikian itu, dan sebagai mengikuti jejak secara naluriah tradisi budaya leluhur yang telah lama melembaga pada peri kehidupan leluhur pendahulu di masa lalu, yang kemudian juga diikuti oleh Eyang KGPAA Mangkoenagoro I, maka menjelang dilangsungkannya pengukuhan itu telah diselenggarakan sesaji Mahesa Lawung.
Adapun maksud dan tujuan sesaji itu, pada tingkat pertama untuk: memanjatkan doa ke hadirat Yang Maha Kuasa dan memohon agar:
1. Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat mendatang memperoleh berkah serta limpahan restunya, sehingga Garis-Garis Besar Haluan Negara yang akan menjadi pedoman melakukan pembangunan tahap akhir landasan dalam mempersiapkan pembangunan masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila, akan terhindar dari segala hambatan.
2. Kepada Bapak Jenderal TNI Purnawirawan Suharto dilimpahkan kesehatan dan kekuatan iman dalam memangku jabatan Presiden/Mandataris MPR.
3. Jenderal TNI Purnawirawan Suharto senbagai presiden/mandataris MPR yang telah selama 20 tahun mempertahankan dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, dianugerahkan jalan yang lapang guna memantapkan diri sebagai figur nasional dan pemimpin bangsa.
Pada tingkat selanjutnya, maka sesaji diarahkan untuk: memanjatkan doa ke hadirat Yang Maha Kuasa dan memohon agar:
Kepada Sri Mangkoenagoro dilimpahkan kesehatan dan kekuatan iman dalam memikul tugas dan tanggung jawab sebagai Pengageng Puro Mangkunagaran, sehingga akan mampu mewujudkan suatu pelestarian budaya Jawa yang diabdikan kepada pembangunan budaya nasional secara nyata.
Kiranya dengan segala hal ikhwal yang telah Pura Mangkunagaran selenggarakan tersebut itu semua, maka telah paripurnalah kewajiban yang terbebankan.
Surakarta, 4 Jumadil Akir 1920
24 Januari 1988
Sesepuh/ketua Dewan Pertimbangan Mangkunagaran
KPH Soerjosoejarso
F. Ketetapan Sesepuh Agung Mangkunegaran.
Keberadaan pendukung yang setia serta terciptanya partisipasi rakyat dalam wilayah medan perjuangannya.
Kesepakatan Sri Susuhunan Paku Buwono III dengan Pangeran Sambernyawa, selayaknya diakui dan dihormati saat itu.
Saat suryo kaping 4 Jumadilakir 1682 menjadi titik awal peri kehidupan Mangkunagaran yang dalam perkembangan kehidupan seterusnya telah melahirkan karya karya budaya Jawa yang tangguh serta memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia, di tengah tengah kehidupan negara Republik Indonesia.
Kenyataan kenyataan demikian ini memberikan bukti nyata bahwa dominasi kekuasaan politik serta monopoli kehidupan ekonomi sama sekali tidak mengurangi pertumbuhan dan perkembangan budaya leluhur Mangkunagaran.
Pada hari ini, Akad Legi surya kaping 4 Jumadilakir 1920 akan menjadi titik awal era baru peri kehidupan Mangkunagaran.
Dalam era baru perjuangan ini, maka Puro Mangkunagaran merupakan pusat pelestarian budaya Jawa, dengan menggali dan mengembangkan budaya leluhur Mangkunagaran guna diabdikan kepada pembangunan budaya nasional secara nyata.
Berkenaan dengan itu, maka para sesepuh agung Mangkunagaran mengemban amanat yang mulia untuk tetap melestarikan identitas budaya Mangkunagaran, dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yang tengah melakukan pembangunan di segala bidang kehidupannya.
Sehubungan dengan wafatnya KGPAA Mangkoenagoro VIII, maka para putra putri beliau melalui suatu kesepakatan bersama tanggal 5 September 1987, telah menetapkan:
GUSTI PANGERAN HARIO SUDJIWO KUSUMO
Menjadi pemangku jabatan almarhum KGPAA Mangkoenagoro VIII.
Sehubungan dengan itu, para sesepuh agung memandang perlu untuk memantapkan kepemimpinan pengageng Puro Mangkunagaran dengan menerbitkan ketetapan serta tertuang dalam:
PIAGAM PENGUKUHAN
Yang tersusun seperti berikut ini:
Demi mewujudkan amanat yang mulia para leluhur yang terbebankan di pundak para sesepuh agung Mangkunagaran, maka:
Pada hari ini, Akad Legi, suryo kaping 4 Jumadilakir 1920, menetapkan:
Mengukuhkan
Gusti Pangeran Hario Sudjiwo Kusumo, Pengageng Puro Mangkunagaran, menjadi
KANJENG GUSTI PANGERAN ARIO MANGKOENAGORO
Ditetapkan di Surakarta,
Surya kaping 4 Jumadilakir 1920
Para Sesepuh Agung Mangkunagaran:
GRAy Partini Hoesein Djajaningrat
GRAy Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani Soerjosoejarso
KPH Soerjosoejarso
KPH Hsmidjojo Soeparto
GRAy Partimah Soenarso Purwohadinoto
KPH Ir. Soenarno Purwohadinoto
KRTH Waloejo Hardjoloekito
G. Piagam Pengukuhan KGPAA Mangkunegoro IX. .
Demi mewujudkan amanat yang mulia para leluhur, yang terbebankan di pundak para sesepuh agung Mangkunagaran, maka:
Pada hari ini, Akad Legi
Surya kaping, 4 Jumadil Akir 1920
Menetapan:
MENGUKUHKAN
GUSTI PANGERAN HARIO SUDJIWO KUSUMO,
PENGAGENG PURO MANGKUNAGARAN
MENJADI
KANJENG GUSTI PANGERAN ARIO MANGKOENAGORO
Piagam pengukuhan ini menjadi bagian mutlak serta merupakan satu kesatuan tidak terpisahkan dengan ketatapan para sesepuh agung Mangkunagaran.
Atas nama para Sesepuh Agung Mangkunagaran
Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani Soerjosoejarso.
Menyatakan menerima piagam ini
KANJENG GUSTI PANGERAN ARIO MANGKOENAGORO
Prasetya
Kami, Kanjeng Gusti Pangeran Ario Mangkoenagoro IX dengan ini menyatakan:
1. Bahwa kami dalam mengemban tugas selaku pengageng Puro Mangkunagaran, mempunyai kewajiban mutlak untuk selalu berjuang mempertahankan tetap tegaknya berdirinya negara Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan undang undang dasar 1945.
2. Bahwa kami sebagai warga negara Republik Indonesia dalam kedudukan selaku pengageng Puro Mangkunagaran, wajib selalu berupaya dengan sesungguh-sungguhnya agar cit-cita mewujudkan Puro Mangkunagaran menjadi salahs atu pusat pelestarian budaya Jawa, dengan menggali dan mengembangkan budaya leluhur Mengkunagaran yang diabdikan kepada pembangunan budaya bangsa secara nyata.
3. Bahwa kami sebagai warga negara Republik Indonesia dan selaku salah seorang warga kerabat besar Mangkunagaran, wajib selalu berupaya agar kerabat besar Mangkunagaran mampu turut serta secara aktif dalam pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945, disertai jiwa dan semangat ajaran Tridharma serta piwulang dan piweling leluhur Mangkunagaran.
4. Bahwa kami dengan sesungguh sungguhnya wajib selalu berupaya untuk membangun terwujudnya persatuan dan kesatuan dalam lingkup kekerabatan Mangkunagaran sebagai bagian mutlak yang tidak terpisahkan dengan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, disertai dengan jiwa dan semangat amanat leluhur Mangkunagaran tersurat dan tersirat dalam nebusauyun.
Semoga Tuhan Yang Maha Agung melimpahkan bimbingan serta kekuatan lahir dan batin kepada kami.
Surakarta, surya kaping 4 Jumadil Akir 1920
Kami, yang menyatakan prasetya
KGPA Mangkoenagoro
Pura kadipaten disebutkan dalam Babad Sala yang dihimpun oleh RM Sajid pada tahun 1984. Karya tulis ini diterbitkan oleh Rekso Pustaka Mangkunegaran. Sebagai bacaan buku ini memberi banyak informasi.
Informasi kehidupan nenek moyang dipelajari oleh Sri Mangkunegoro IX. Inilah Pura Mangkunegaran menghadap ke selatan, dikelilingi jalan. Di sebelah utara, yaitu di belakang Pura terdapat jembatan bernama Jembatan Kali Pepe. Dari jembatan ke arah timur sampai ujung Pura terus ke selatan sampai ujung Pura, belok ke barat sampai plengkung Pamedan, lalu ke arah selatan sampai perempatan Pasarpon. Luas Pura Mangkunegaran kurang lebih 1 km2. Dahulu, di tiap sudut Pura terdapat rumah jaga, dijaga oleh abdidalem Jagapura.
Dalem ageng Mangkunagaran menghadap ke selatan dilanjutkan dengan Paringgitan, lalu teras yang menyatu dengan Pandapa Ageng yang berbentuk joglo, lalu disambung dengan topengan yang disebut Bangsal Tosan. Pandapa ageng bentuknya melingkar, merupakan pendapa paling luas di negara kita karena luasnya 62 x 52 meter, sedangkan tingginya 17 meter.
Keadaan lingkungan Pura Mangkunegaran terawat rapi. Di sebelah timur Pandapa Ageng terdapat rumah rumah menghadap ke selatan, dulu digunakan sebagai kantor Praja Mangkunagaran. Lalu ada pintu ke arah timur.
Di sebelah selatan pintu terdapat los menghadap ke selatan, berbelok ke barat sampai Gapura Pura Ageng.
Dulu juga digunakan sebagai kantor para abdi dalem Narapraja, yaitu ‘Marktwezen’ yang menangani pasar pasar. Di bagian ujung selatan digunakan sebagai Panti pidana. Sedangkan di sebelah barat Pendapa Ageng terdapat rumah los menghadap ke selatan. Yang paling utara adalah gedung Jayengan, di sebelah selatannya adalah gedung Wireng, lalu pintu tembus ke barat. Di sebelah selatan pintu disambung lagi dengan rumah los menghadap ke barat sampai tenggara.
Sri Mangkunegoro IX peduli sejarah masa silam. Di sebelah selatan pintu adalah garasi motor dan kereta, gedung Langenpraja untuk para abdidalem niyaga, sinden, wiraswara dan badut golongan karawitan, serta sebagai tempat menaruh gamelan. Di sampingnya terdapat kantor Mandrapura, yaitu gedung untuk para abdidalem Renggapura yang bertugas membersihkan Pendapa Ageng dan Pringgitan. Kantor tersebut dekat dengan Gapura Pura Ageng.
Warisan nenek moyang dilestarikan oleh Sri Mangkunegoro IX. Di sebelah kanan dan kiri gapura terdapat rumah los menghadap ke selatan, dahulu digunakan sebagai tempat perkakas militer. Sedangkan kantor Mandrapura yang sebelah selatan digunakan sebagai tempat untuk penjaga yang bertugas memukul jam genta sebagai penunjuk waktu. Di sebelah barat disambung dengan los membujur ke barat, tempat tersebut juga digunakan sebagai gudang peralatan militer.
Lalu disambung dengan rumah rumah untuk tempat peralatan militer legiun. Sedangkan di sebelah utara adalah kandang kuda dan tempat kereta. Rumah rumah yang dulu berada di sebelah barat Pamedan sekarang sudah tidak ada lagi, diganti dengan bangunan hotel pada tahun 1972, disebut Mangkunagaran Palace Hotel.
Di sebelah utara hotel tersebut ada pendapa menghadap ke selatan menuju Dalem Daryasugandan. Sedangkan di belakangnya adalah gedung bagi para abdidalem dan jayengan. Di sebelah utara lagi adalah lapangan tenis dan taman Ujung Puri. Di Pura bagian timur terdapat rumah besar menghadap ke selatan menghadap jalan, yaitu dalem Prangwadanan. Sedangkan di timurnya lagi ada Panti Putra. Di sebelah selatan jalan sampai dengan Gapura Wetan adalah Panti Jeksan.
Lingkungan Pura Mangkunegaran memang asri. Di sebelah selatannya lagi sampai Pamedan adalah gedung gedung kavaleri.
Di depan gapura Pamedan ada jalan besar ke arah selatan. Pada jaman dulu jalan Ngarsapura, sekarang Jalan Diponegoro sampai perempatan Pasar pon.
Di sebelah barat jalan dari dulu rumahnya besar besar ada tiga, yaitu rumah para pangeran putra Mangkunagaran. Yang paling utara diubah menjadi sekolah HIS Siswo, setelah Indonesia merdeka menjadi gedung SMP 5. di sebelah timur jalan uga ada rumah para pangeran putra dalem, jumlahnya juga tiga.
Pasar pon dahulu hanyalah berupa rumah los membujur ke timur lalu ke selatan. Di sebelah barat jalan juga demikian. Pasar tersebut hanya ramai jika jatuh pada hari pasarannya, yaitu Pon. Yang pasti ada setiap hari adalah penjual barang barang dari emas seeprti gelang, kalung, tusuk konde dan lain lain. Penjualnya adalah wanita wanita dengan meja kecil pendek, dengan dialasi kain berwarna merah jingga agar dagangannya terlihat berkilauan. Mereka menerima jual beli, tidak jauh berbeda dengan toko emas jaman sekarang.
Suasana Pura Mangkunegaran ini dihayati oleh KGPAA Mangkunegoro IX.
Setelah tahun 1923 Pasarpon bagian timur diperbarui dan dijadikan gedung wayang, sekarang gedung bioskop. Lalu disusul dengan Pasarpon sebelah barat juga dibangun menjadi gedung wayang orang atau ketoprak, bernama ‘Sana Harsana’ yang dibuka secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1933. Pasarpon lalu menjadi ramai karena di kanan kirinya banyak tontonan.
Pada bulan Desember 1948 gedung ini perlu direhap. Setelah itu dibangun kembali dan dijadikan gedung bisokop, yang sebelah timur bernama Dhany, yang sebelah barat bernama Ura Patria, disingkat UP. Pada tahun 1939, sebelah timur Jalan Diponegoro dibangun pasar oleh pemerintah Mangkunagaran dan diberi nama Pasar Tri Windu, sebagai peringatan KGPAA Mangkunagoro VII yang menjadi raja selama genap 24 tahun atau tiga windu.
Kebudayaan Pura Mangkunegaran berlanjut di bawah kepemimpinan Sri Mangkunegoro VIII. Selama hidup berdarma bakti pada nusa bangsa.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro IX surut ing kasedan jati, manjing ing suwarga loka. Rikala dinten Jumah Legi, 4 Sura utawi 13 Agustus 2021. Pura Mangkunegaran nawung dhuhkita. Abdi dalem miwah sentana sami atur puji pangastuti.
Pura Mangkunegaran kaajab tetep basuki lestari. Kanthi mersudi seni edi peni, budaya adi luhung, tumangkar ing saindhenging jagad raya.
Wadana Satriya Pura Mangkunegaran paring warta layu layu. Bilih KGPAA Mangkunegoro IX murud ing kasedan jati. Rikala dinten Jumat Legi, 13 Agustus 2021 wanci jam 02.50 ing dalem Jakarta. Layon badhe kasarekaken ing kagungan dalem Astana Girilayu Matesih Karanganyar. Minggu Pon, 15 Agustus 2021 wanci jam 10.00 WIB.
Wondene putra putri ingkang nandhang dhuhkita :
1. GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara.
2. GRAy Putri Agung Suniwati.
3. GRAy Ancillasura Marina Sudjiwo.
4. GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo
Adapun sedherek dalem :
1. GPH Prabu Kusumo, Erna Santoso.
2. GRAy Retno Satuti Suryohadiningrat, KPH Rahadiyan Yamin.
3. GRAy Retno Rosati Notohadiningrat, Hudhiono Kadarisman.
4. GPH Saktyo Kudumo, MG Suciati.
5. GPH Herwasto Kusumo.
6. GRAy Retno Astrini, KPH Tunku Abu Bakar Dutahadiningrat.
7. GPH Suryohamiseno.
Adapun wayah adalah RM Narendra Brahma Putra.
Berita resmi dari bebadan Wadana Satriya Pura Mangkunegaran merupakan bentuk warta dhuhkita.
Anyaman peradaban agung adalah keluhuran. Pura Mangkunegaran telah memberi kontribusi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia. Guna memperkokoh jatidiri dan kepribadian bangsa.
(LM-01)
