Babad Mangkunegara II

Dua orang Bupati dan empat orang Kliwon dari Kasunanan pun mengikuti ketentuannya Mas Ngabehi Rangga Panambangan. Mereka mendapat penginapan di rumah Mas Ngabehi Sumadiwirya, polisi berpangkat Wedana (Kliwon), yang berkuasa atas wilayah Matesih ke selatan sampai perbatasan Anggabayan. Bawahannya berjumlah 1500 orang. Di situ menginap satu malam.

Pagi harinya semua berangkat termasuk Mas Ngabehi Sumadiwirya, yang membawa seluruh bawahannya para Ngabehi, Demang berangkat ke kota. Setibanya di kota Mas Ngabehi Rangga Panambangan dan seluruh prajurit melapor kepada atasannya masing masing.

Ceritanya beralih, pada hari Saptu tanggal 28, bulan dan tahunnya masih sama dengan surud ing kasidan jatinya Sri Paduka Kanjeng Gusti.

Pelaksana eksekutif lokal berkunjung ke Mangkunagaran bertemu dengan para pangeran dan Raden Tumenggung Mangkureja. Kedatangannya bermaksud memberi tahu tentang pencabutan kekuasaan negeri karena hendak dipegang langsung olehnya, lebih lebih yang menyangkut pemerintahan di wilayah Mangkunagaran.

Segenap pangeran dan Raden Tumenggung Mangkureja menyatakan persetujuannya. Kemudian disediakan tempat buat Eksekutif lokal di gedung Kepolisian. Sesudah dibersihkan lalu dihias dan diberi tempat tidur.

Kemudian Eksekutif lokal pergi menjenguk Kanjeng Pangeran Arya Gandakusuma yang sedang sakit. Setibanya di Gandakusuman lalu duduk bersama dan eksekutif lokal dengan suara lembut bertanya, “Pangeran, kados pundi keadaan Pangeran seka-rang. Sudah sembuhkah, atau masih terasa tidak enak?” Kanjeng Pangeran menjawab, “Baru saja terasa enak.”

Eksekutif lokal berkata lagi, “Ya, Pangeran, saya pujikan semoga cepat sembuh. Yang kedua saya ingin bertanya kepada Pangeran. Sepeninggal ingkang raka Pangeran, siapakah diantara putra sentana yang pantas diangkat menjadi Pangeran Adipati?”

Jawab Pangeran Arya Gandakusuma, “Tuan, tentang masalah itu sebenarnya saya tidak dapat menjawab. Dari para putra atau saudara saya, siapa yang akan dipilih, terserah. Sebenamya pihak Gubermen pasti telah mengetahuinya.”

Pelaksana eksekutif lokal hanya berucap dalam hati, lalu pamit dan sating memberi uluk salam. Ia segera keluar dan kembali ke pesanggrahannya di rumah kepolisian. Letak-nya di depan halaman, di sebelah barat gapura. Ia bertekad untuk tinggal di situ selama lamanya, sekaligus memegang kekuasaan di kantor dan di Mangkunagaran, atau sebagai pengikat demi keutuhan wilayah.

Pada waktu itu Pelaksana eksekutif lokal minta empat orang manggala sebagai wakil atau juru bicara, ialah: Kanjeng Pangeran Natadiningrat, Kanjeng Pangeran Suryamijaya, Raden Tumenggung Mangkureja, dan Kanjeng Pangeran Gandakusuma, yang telah mendapat kepercayaan sejak, lama. Tugasnya ialah mengawasi jalannya pemerintahan, serta diserahi segala masalah yang penting-penting. Kanjeng Pangeran Gandakusuma juga bergelar Senopati Prajurit Legiun.

Kocap kacarita Pada hari Kamis pagi Pelaksana ekse-kutif lokal memanggil seluruh punggawa, Mantri, Ngabehi, Demang serta seluruh prajurit.

Seluruhnya telah berkumpul di halaman depan, dan Pelaksana eksekutif lokal lalu mengundangkan perintahnya, “Nah, inilah perintahku kepada segenap yang hadir, dan kepada seluruh kawula dasih Mangku¬nagaran. Sekarang ini sayalah yang menjadi wakilnya Pangeran Adipati Arya Mangkunagara.

Perintah saya ialah, segenap priyayi maupun kawula dasih baik yang tinggal di kota maupun di desa dalam kukuban wilayah Mangkuna-garan, hendaknya tidak usah merasa cemas, karena saya tidak bermaksud merubah tugas kewajiban kalian, juga kedudukan kalian. Demikian pula kalian hendaknya tidak merubah tugas kewajiban kalian, misalnya mengenai hak yang sudah ditetapkan semula.”

Seluruh hadirin menyatakan kesanggupannya, dan setelah perintah itu selesai, semuanya dipalilah kan kembali ke tempatnya masing masing. Malam harinya, pada pukul delapan para catur manggala serta para putra yang telah bergelar Pangeran menghadap Pelaksana eksekutif lokal. Memang sudah menjadi tradisi, pertemuan malam diadakan pada pukul delapan, sedangkan siang hari pada pukul sepuluh di emper belakang untuk menerima perintah dalam hal melaksanakan pemerintahan.

Kocap kacarita Kanjeng Pangeran Gandakusuma telah sembuh dari sakitnya; akan tetapi belum pulih benar. Oleh karena itu ia jarang datang menghadap, dan hanya jika sangat penting belaka. Namun ialah yang selalu dimintai pertimbangan mengenai hal hal yang sangat penting oleh Pelaksana eksekutif lokal. Sedangkan Kanjeng Pangeran Arya Kusuma-ldiningrat tidak pernah diajak berembug.

Lagi pula ia tak pernah menghadap karena baru saja sembuh dari sakit payah. Sejak Sri Paduka Kanjeng Gusti surud ing kasidan jati, Pelaksana eksekutif lokallah yang selalu mewakilinya sebelum ada yang diangkat menjadi Pangeran Adipati. Dialah yang menjadi pengikat demi kesejahteraan negeri. Ia dijaga oleh para perwira.

Siang malam mendapat kehormatan serta mendapat pelayanan makanan serta ngunjukan. Akan tetapi Pelaksana eksekutif lokal tidak mau menerima segala hidangan kecuali ngunjukan. Pada waktu makan ia kembali ke loji sebentar dua kali sehari. Begitulah selamanya. Kocap kacarita tiga hari setelah surud ing kasidan jatinya Sri Paduka Kanjeng Gusti, ketiga manggala menghadap eksekutif lokal.

Setelah berhadapan dengan eksekutif lokal, Kanjeng Pangeran Arya Natadiningrat melapor bahwa ketiga Sri Paduka Kanjeng Gusti surud ing kasidan jati, putrinya Raden Ayu Adipati Nataningrat hilang meninggalkan datulaya. Pada waktu itu tidak ada yang mengetahui apa yang dikehendakinya.

Akan tetapi sekarang telah diketahui tempat tinggalnya, yakni di desa Harjawinangun. Eksekutif lokal diminta pendapatnya, dan akan dituruti segala sarannya. Jawab eksekutif lokal, “Sendika dhawuh Pangeran, sesung-guhnya yang demikian itu memang kurang pada tempatnya karena akan menimbulkan kecemasan di hati.

Oleh karena itu seyogyanya persilakanlah segera kembali ke kota. Jangan ter-lalu lama berada di luar.” Kanjeng Pangeran menyatakan kesediaannya, dan segera minta diri, lalu bubarlah yang menghadap. Mereka lalu duduk di ruang pringgitan besar.

Kanjeng Pangeran Natadiningrat segera memanggil Wedana Polisi Raden Mas Arya Bratakusuma, ialah kemenakannya. Setelah menghadap Kanjeng Pangeran berkata lembut, “Anakku, pergilah panjenengan ke desa Harjawinangun. Kakakmu Raden Ayu Adipati ada di sana. Ajaklah ia pulang.”

Raden Mas Arya Bratakusuma bersedia, setelah me-nyembah lalu berangkat. Perjalanannya tidak dikisahkan, singkatnya ia telah sampai ke Harjawinangun dan bertemu dengan Raden Ayu Adipati dan berkata,

“Saya diutus oleh ingkang ramapaduka dan Pelaksana eksekutif lokal. Paduka diminta kembali ke kota. Raden Ayu menjawab,

“Sampaikanlah kepada ingkang ramasekalian atau kepada Pelaksana eksekutif lokal bahwa saat ini saya belum ingin kembali. Entah kapan saya pun belum tahu karena sekarang ini rasa hatiku belum kuat. Terserah kepadamu, tetapi itulah jawabanku.”

Setelah menerima jawaban Raden Mas Arya Bratakusuma minta diri, dan sesudah menyembah ia segera kembali ke kota.

Dengan tangan hampa ia tiba kembali ke kota pada pukul empat, langsung menghadap Kanjeng Pangeran sekalian unjuk uninga perjalanannya sebagai utusan sejak awal sampai akhir, bahwa saat ini Raden Ayu Adipati belum bersedia kembali. Ketika mendengar laporan tersebut Kangjeng Pangeran Natadiningrat beserta Raden Tumenggung Mangkureja segera menghadap eksekutif lokal pada pukul delapan malam.

Keduanya diterima dan duduk berdampingan di kursi. Kanjeng Pangeran menjelaskan bahwa yang diutus telah kembali, akan tetapi Raden Ayu Adipati sekarang belum bersedia kembali karena sedang menenteramkan hati.

Pelaksana eksekutif lokal merasa tersinggung, dan kemarahannya terpancar pada pandangan matanya. Seketika itu juga ia memanggil Raden Mas Arya Brajanata. Setelah menghadap lalu diberi tugas pergi ke Harjawinangun menjemput Raden Ayu Adipati, dan kadhawuhan berangkat esok pagi. Supaya dapat pergi dengan cepat kadhawuhan nya berkendaraan kereta.

Bahasan penuh daya tarij. Yang diutus menyatakan kesanggupannya, dan segera mengundurkan diri bersama para penghadap lainnya. Raden Mas Arya Brajanata lalu berembug dengan kakak-kakaknya, membicarakan keberangkatannya esok pagi serta minta kawan. Yang diminta sebagai kawannya ialah Raden Mas Arya Seputra dan Raden Panji Cakradiwirya. Kedua kakaknya mengijinkankan.

Pembicaraan telah matang, dan pagi harinya Raden Mas Arya Brajanata bersama Raden Mas Arya Seputra serta Raden Panji Cakradiwirya berangkat dengan kereta. Bertiga mereka jadi sekereta, yang berjalan dengan cepat. Setibanya dipenyeberangan Sungai Jurug, mereka menyeberang ke timur, singgah sebentar di pesanggrahan.

Mereka bertemu dengan Mas Ngabehi Pancawiraga, ialah lurah pos untuk seluruh wilayah Mangkunagaran, yang kadhawuhan bersiap jika sewaktu waktu ada pekerjaan. Mas Ngabehi Pancawiraga mengiyakan. Keniudian Raden Mas Arya meneruskan perjalanannya.

Kereta dipercepat, tak dikisahkan lagi perja-lanannya, sampailah sudah mereka di Harjawinangun. Ceritanya berganti kepada yang tengah bersedih, Raden Ayu Adipati yang tinggal di desa Harjawinangun. Sudah setengah bulan lamanya ia berusaha menghibur hati.

Segenap putra sentana perempuan telah menyusul Raden Tumenggung Mjngku-rejapun setelah mengetahui dengan jelas di mana Raden Ayu Adipati tinggal lalu menugasi seorang mantri untuk selalu menjaga keselamatannya, demikian pula para demang yang tinggal dekat di sekitarnya.

Bahkan keluarga mereka pun turut datang menghadap membawa berbagai macam makanan tiada putus putusnya siang maupun malam.

Untuk menghibur dukanya setiap malam Raden Ayu Adipati menanggap wayang, kecuali pada malam Jumat para mantri kadhawuhan nya bermain selawatan. Dapat dikisahkan bahwa desa Harjawinangun itu merupakan sebuah desa besar yang cukup asri. Ada pesanggrahannya, sebuah rumah berdinding kayu dengan lantai plester, sekaligus sebagai tempat peristirahatan, dibangun sebagai. cepuri dengan pagar bata rendah.

Pintu depannya sekaligus berupa panggung, kiri kanannya berpagar besi. Di luar pagar dialirkan air sebagai batas. Pasarnya terletak di sebelah timur, yang hanya buka sekali dalam sepekan. Di sebelah barat terdapat mesjid, pesantren dan rumah sekolah. Di depannya terbentang persawahan luas, subur berair berlebihan.

Perlu dibahas juga. Di daerah itu diangkat seorang lurah bergelar rangga, membawahi lurah beserta pembantu pembantunya sebanyak seratus lima puluh orang.

Panjang jika dikisahkan terus. Kocap kacarita pada suatu hari Raden Ayu Adipati duduk di pringgitan dihadap oleh abdi abdinya serta mantri pengawal, yakni Ngabehi Jayapramana beserta para demang dan bawahannya.

Ketika tampak olehnya rombongan yang datang, telah diduganya bahwa yang datang itu ialah utusan. Raden Ayu Adipati lalu berdiri dan masuk ke rumah terus masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Begitu tiba, Raden Mas Arya langsung duduk di pringgitan, lalu bertanya kepada Ngabehi Jaya-pramana dan Raden Ayu Wiryadiningrat, “Hai raka mas mbok, mana Raden Ayu Adipati?”

Yang ditanya menjawab, “Tadi memang duduk di sini sambil menulis. Ketika melihat kedatangan paduka lalu masuk. Saya tidak tahu apa gerangan yang dikehendakinya.”

Heran Raden Mas. Arya ketika mendengar hal itu. Raden Ayu Wiryadiningrat lalu berkata, “Ingkang raka paduka sekarang ti¬dur di kamarnya dan menutup pintunya. Para abdi tak diperkenankan mendekat.”

Raden Mas Arya berkata, “Kalau begitu lebih baik aku bersabar dulu. Hai, ananda Raden Mas Arya Seputra, bersama ibumu Wirya kuberi tugas sebagai pengawas. Sewaktu waktu ayunda bangun atau keluar, beri-tahulah saya segera. Jika tidak juga mau keluar, sampaikanlah bahwa kedatanganku ini diutus, akan tetapi jangan dikemukakan apa keperluannya agar supaya ayunda mau menerimaku, supaya tidak sia-sia sebagai utusan.”

Mangkunegaran hebat betul. Yang mendapat perintah menyatakan kesanggupan-nya, dan selesailah pembicaraan mereka, kemudian para duta istimewa itu enggar enggaring penggalih di rumah kepala yang terletak dekat di sebelah barat pesanggrahan, hanya berantara pagar tembok yang sebelah kanan.

Di situ pun mereka terus berembug. Sejenak kemudian Raden Ayu Wirya dan Raden Mas Seputra dipanggil, dan ditanya, Nah, kados pundi ayunda? Sudah bangunkah ia, dan bolehkah saya menghadap?

Jawabnya: Belum keluar. Menghadapi persoalan ini sekiranya saya dipalilah kan menyusul ayunda paduka ke dalam kamar tentu akan mudah. Akan tetapi sulit jalannya karena pintunya terkunci dari dalam.

Bahkan tadi telah kami kemukakan bahwa paduka diutus oleh ingkang raka paduka sekalian, dan sekarang mohon dapat bertemu. Akan tetapi ayunda paduka tidak menjawab juga. Walaupun demikian saya berpendapat mungkin masih dapat dibujuk oleh putra paduka serta tergerak oleh kata-kata yang manis jika pintunya telah dibuka. Putra paduka Kaki Seputra harus segera masuk.

C. Nulada laku utama

Sinom
1. Nulada laku utama,
Tumrape wong Tanah Jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinesu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amamangun karyenak tyasing sasama.

2. Samangsane pasamuwan,
Mamangun marta martani,
Sinambi ing saben mangsa,
Kala kalaning asepi,
Lelana teka-teki,
Nggayuh geyonganing kayun,
Kayungyun eninging tyas,
Sanityasa pinrihatin,
Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

3. Saben mendra saking wisma,
Lelana lladin sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jala nidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.

4. Wikan mengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih kangjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung
Ngeksiganda.

5. Dahat denira aminta.
Sinupeket pangkat kanthi,
Jroning alam palimunan,
Ing pasaban saben sepi,
Sumanggem anyanggemi,
Ing karsa kang wus tinamtu,
Pamrihe mung aminta,
Supangate teka-teki,
Nora ketang teken janggut suku jaja.

6. Prajanjine abipraya,
Saturun turuning wuri,
Mengkono trahing ngawirya,
Yen amasah mesu budi,
Dumadya glis dumugi,
Iya ing sakarsanipun,
Wong agung Ngeksiganda,
Nugrahane prapteng mangkin,
Trah tumerah dharahe padha wibawa.

7. Ambawani Tanah Jawa,
Kang padha jumeneng aji,
Satriya dibya sumbaga,
Tan lyan trahing Senapati,
Pan iku pantes ugi,
Tinelad labetanipun,
Ing sakuwasanira,
Enake lan jaman mangkin,
Sayektine tan bisa ngepleki kuna.

8. Lowung kalamun tinimbang,
Ngaurip tanpa prihatin,
Nanging ta ing jaman mangkya,
Pra mudha kang den karemi,
Manulad nelad Nabi,
Nayakengrat Gusti Rasul,
Anggung ginawe umbag,
Saben seba mampir masjid,
Ngajab ajab mukjijad tibaning drajad.

9. Anggung anggubel sarengat,
Saringane tan den wruhi,
Dalil dalaning ijemak,
Kiyase nora mikani,
Ketungkul mungkul sami,
Bengkrakan mring mesjid agung,
Kalamun maca kutbah,
Lelagone Dandanggendis,
Swara arum ngumandhang cengkok palaran.

10. Lamun sira paksa nulad,
Tuladhaning Kangjeng Nadi,
O, ngger kadohan panjangkah,
Wateke tan betah kaki,
Rehne ta sira Jawi,
Sathithik bae wus cukup,
Aywa guru aleman,
Nelad kas ngepleki pekih,
Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat.

11. Nanging enak ngupa boga,
Rehne ta tinitah langip,
Apata suwiteng Nata,
Tani tanapi agrami,
Mangkono mungguh mami,
Padune wong dahat cubluk,
Durung wruh cara Arab,
Jawaku bae tan ngenting,
Parandene paripaksa mulang putra.

12. Saking duk maksih taruna,
Sadhela wus anglakoni,
Aberag marang agama,
Maguru anggering kaji,
Sawadine tyas mami,
Banget wedine ing mbesuk,
Pranatan ngakir jaman,
Tan tutug kaselak ngabdi,
Nora kober sembahyang gya tinimbalan.

13. Marang ingkang asung pangan,
Yen kasuwen den dukani,
Abubrah bawur tyas ingwang,
Lir kiyamat saben ari,
Bot Allah apa Gusti,
Tambuh tambuh solahingsun,
Lawas lawas nggraita,
Rehne ta suat priyayi,
Yen mamriha dadi kaum temah nistha.

14. Tuwin ketip suragama,
Pan ingsun nora winaris,
Angur baya ngantepana,
Pranatan wajibing urip,
Lampahan angluluri,
Kuna kumunanira,
Kongsi tumekeng samangkin,
Kikisane tan lyan amung ngupa boga.

1. Bonggan kan tan merlokena,
Mungguh ugering ngaurip,
Uripe lan tri prakara,
Wirya arta tri winasis,
Kalamun kongsi sepi,
Saka wilangan tetelu,
Telas tilasing jati aking,
Temah papa papariman ngulandara.

2. Kang wus waspada ing patrap,
Mangayut ayat winasis,
Wasana wosing jiwangga,
Melok tanpa aling aling,
Kang ngalingi kalingking,
Wenganing rasa tumlawung,
Keksi saliring jaman,
Angelangut tanpa tepi,
Yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.

3. Mangkono janma utama,
Tuman tumanem ing sepi,
Ing saben rikala mangsa,
Masah amemasuh budi,
Laire anetepi,
Ing reh kasatriyanipun,
Susila anor raga,
Wignya met tyasing sesami,
Yeku aran wong barek berag agama.

4. Ing jaman mengko pan ora,
Arahe para taruni,
Yen antuk tuduh kang nyata,
Nora pisan den lakoni,
Banjur njujurkenkapti,
Kakekne arsa winuruk,
Ngandelken gurunira,
Panditane praja sidik,
Tur wus manggon pamucunge mring makripat.

Mangkunegara II membuat kebijakan budaya. Tanah Jawa makin makmur luhur sempulur. Pertanian berkembang, pedagang beruntung. Rakyat Mangkunegaran sejahtera lahir batin.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *