Mas Penghulu dan khatibnya duduk di pendapa. Merekalah yang akan membacakan doa dalam upacara hari kelahiran itu. Gamelan besar slendro dan pelok, Kyai Lipur dan Kyai Tamba honeng masing-masing seperangkat ditem-patkan di serambi timur. Monggang ditempatkan di depan lurus dengan pintu gerbang besar.
Sesudah pukul sembilan Sri Paduka Kanjeng Gusti yang mengenakan busana kebesaran panglima keluar dengan berpayung kuning perada, diiringkan segenap putra sentana yang membawa benda -benda upacara, tempat sirih emas dengan tempat meludah emas dekat di belakangnya. Setibanya di pendapa Sri Paduka Kanjeng Gusti duduk di kursi berdampingan dengan para pangeran, adik adik, kakak, dan ketiga iparnya yang juga telah hadir, yakni Kanjeng Pangeran Jayakusuma, Kanjeng Pangeran Panji Priyambada, dan Kanjeng Pangeran Kusumadilaga.
Ketiga orang pangeran tersebut sejak semula, sewaktu mendiang Sri Paduka Kanjeng Gusti yang ketiga, terbawa oleh istri-istrinya dianggap sebagai saudara sendiri. Sampai selanjutnya pun masih tetap disebutkan dalam pemanggilan. Akan tetapi di dalam percakapan maupun lakunya pakurmatan, Sri Paduka Kanjeng Gusti tidak merubah tatanan ayahandanya. Pada pukul sebelas berbunyilah tengara isyarat. Para prajurit kehormatan segera bersiap-siap. Semua sudah siap-sedia. Sri Paduka Kanjeng Gusti lalu memberi perintah kepada ingkang rayinya, Kanjeng Pangeran Suryadiningrat, yang segera tanggap dan meneruskan perintah kepada Mas Penghulu untuk membacakan doa hajad hari kelahiran Ahad Legi.
Mas Penghulu mengangguk lalu berdoa. Suaranya keras, jelas dan sedap didengar, lagipula kir’at lafalnya tepat.
Doa diucapkan tiga kali bergantian dengan kedua khatibnya. Selesai doa gamelan Monggang kehormatan segera ditabuh. Berbaur dengan suara gendhing, maka para perwira memberi hormat senjata diiringi tabuh tabuhan. Selesai menghormat berdentumlah tembakan salvo dari dua ratus prajurit sebanyak tiga kali, ditingkah suara meriam tujuh belas kali. Selesai seluruh pakurmatan terdengar lagi tengara isyarat. Kemudian segenap perwira merapat ke tempat mayor komandan, yang kemudian membawanya naik ke pendapa, menghadap untuk memberikan laporan. Mereka dipersilakan duduk di kursi, berjajar, diatur menurut pangkatnya.
Demikian pula Raden Tumenggung Mangkureja dan kawankawannya maju seraya menyembah.
Mereka telah dipersilakan duduk di kursi di sebelah kanan. Di sebelah kiri adalah para opsir berhadap-hadapan dengan para punggawa. Suasana tersebut dimeriahkan oleh bunyi gamelan yang laras diiringi suara para suarawati dan wirasuara, terdengar sangat merdunya.
Kemudian keluarlah berbagai macam ngunjukan, dan para tamu dipersilakan memilih sesuka hati.
Jam dua belas si-ang keluarlah santapan aneka warna yang serba lezat. Ucapan selamat yang disertai ngunjukan berlangsung tujuh kali diiringi sorakan bergemuruh berulang-ulang. Gembira hati para perwira, tampak keberaniannya. Berkali-kali mereka ngunjuk memenuhi keinginannya, namun tidak mengakibatkan mereka mabuk.
Selesai bersantap Sri Paduka Kanjeng Gusti berkenan memanggil segenap sersan dan kopral Legiun, yang segera menghadap, berjajar di bawah tangga pendapa. Secara bergiliran mereka diberi ngunjukan jenewer, terus menerus sampai puas. Mereka diberi kebebasan untuk bergembira ria sampai mabuk, sehingga merasa paling gagah bagaikan harimau. Tanpa ragu-ragu mereka berganti sikap, dan dengan senang dijadikan tertawaan. Serempak membuat lelucon bersama teman temannya. Mereka turut menyanyi beramai-ramai, suaranya riuh gemuruh menyenangkan hati para penonton.
Sehari penuh mereka bergembira. Setelah pukul tiga siang mereka diperbolehkan bubar, dan pergilah mereka dari arena tari. Sri Paduka Kanjeng Gusti segera kembali ke tempat kediamannya yang lama diiringkan segenap putra-sentana. Tiba di tempat kediamannya, para pendherek lalu pulang ke rumah masing-masing. Demikian pula para punggawa dan prajurit. Malamnya tidak dikisahkan, sedang pagi harinya akan me¬laksanakan kepindahannya ke gedung kepolisian. Ki Patih di¬panggil, tak lama antaranya datang. Sri Paduka Kanjeng Gusti bertanya, “Raka mas, saya jadi pindah dari rumah saya ini. Bagaimana persiapannya?”
Raden Tumenggung bersembah, “Sudah saya persiapkan.
Jika sewaktu-waktu paduka hendak enggar-enggaring penggalihke sana, saya menyanggupi persiapannya.” Ki Patih lalu menoleh ke arah para mantri, ngabehi, dan para demang semua supaya bersiap memindahkan tempat tidur. Tempat tidur itu dipasang di kamar baratdaya, bekas kamar Pelaksana eksekutif lokal dulu. Kamar itulah yang dihias, berkelambu, berkorden sutra bersulam, bertirai bagaikan mendung bergerak menutup bintang, jika siang hari tampak samar-samar seperti bunga menur yang sedang mekar. Diselingi sulaman dan hiasan bergantungan menyelimuti tempat tidur yang menjadi syahdu karena hiasan-hiasan yang mengelilinginya.
Selesailah sudah pekerjaan menghias kamar tidur itu. Segera sesudah itu Sri Paduka Kanjeng Gusti nitipriksa masuk ke dalam kamar, membawa niat yang kuat untuk selalu bertindak secara utama.
Dan selalu melaksanakan kebaikan, mengusahakan keselamatan dunia. Semua itu akan dipegang teguh sebagai pegangan pelaksanaan tugas, agar laku durjana dapat diberantas, sedangkan falsafah dwiastha, yakni pedoman kepemimpinan yang delapan diringkas menjadi dua dapat selalu menjadi acuan. Sumbernya kemanusiaan ialah mampu mengatur segala galanya. Dikendalikannya apa yang disebut sebagai nafsu seorang pria dengan siraman bahasa penyelamat, deras merata, senantiasa tiada putus-putusnya.
Bagaikan turunnya embun di musim kemarau, dan itulah sebabnya Pelaksana eksekutif lokal mencurahkan segenap rasa cintanya. Dengan cepat terpikat dan merasa seperti saudara seayah-ibu.
Akrab tanpa ragu ragu, nasihat-nasihat-nya selalu mengalir. Halus dan utama untuk diajarkan sebagai tali pengikat persaudaraan. Hal itu dapat disebut sebagai hasil dan terpeliharanya kebajikan yang selalu dikembangkan dengan cara yang adil. Saling bersikap manis sehingga jelas memperteguh persaudaraan, sedangkan halusnya tutur kata benar-benar merupakan makotanya perintah.
Kata-kata yang diucapkan tidak menggunakan sindiran, namun diutarakan secara terbuka. Terkena oleh aturan yang adil diusahakan seperti terangnya cahaya matahari yang bersih. Diharapkan dapat mempengaruhi hati seluruh kawula dasih senegeri, menjadikan baunya harum dan manis serta selalu menunjukkan rasa kasih dalam segala perilakunya. Mahir dalam segala bahasa yang dapat menimbulkan perasaan seia-sekata, sehingga seluruh negeri menjadi susila. Memberantas kejahatan, dinasihati supaya mengikuti jalan yang baik.
Meniadakan pengacau, dan dengan sukarela berbuat yang baik. Deras dan tiada henti-hentinya bau harum semerbak. Bahkan sebagai hiasan dunia wibawa Sri Paduka Kanjeng Gusti yang baru saja winisuda itu. Tak ubahnya dengan cerita Prabu Wibisana dulu, ketika menggantikan tahta di Alengka.
Pribadinya sangat terbuka, hatinya sangat bijaksana. Raja yang melenyapkan kegelapan, ahli dan selalu memuja gerak geriknya selalu berkeseimbangan, menerangi sedunia. Begitu indahnya sehingga bagaikan usaha bagi seluruh jagad, bagaikan air penghidupan jika dengan derasnya dihamburkan oleh angin prahara, menimbulkan ketenangan di seluruh dunia. Menjadi terang dan merata cahaya dunia terkena oleh kehalusannya. Rendah hati serta memperhatikan agama yang mulia, dilengkapi pengutaraan dengan kata-kata yang terpuji.
Tak diperpanjang lagi mengenai kepribadian Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Prabu Prangwadana dalam mengusahakan keselamatan negeri dan kesejahteraan kawula dasihnya. Kini dikisahkan rasa belas kasihan Pelaksana eksekutif lokal kepada Sri Paduka Kanjeng Gusti yang belum mempunyai permaisuri. Hal itu terasa sebagai suatu kekurangan, dan menyebabkan Pelaksana eksekutif lokal sedih dan terharu melihatnya. Oleh karena itu Eksekutif lokal ingin mengawinkan Sri Paduka Kanjeng Gusti. Dan Eksekutif lokal ingin menjodohkannya dengan Ingkang Minulya Gusti Bendara Kusuma kembangnya pura. Apalagi Pelaksana eksekutif lokal memang telah mencalonkannya sejak lama, sehingga segala pembicaraan mengenai hal itu akan dilakukannya sendiri. Menurut pendapatnya tidak perlu diragukan, benar-benar merupakan pasangan utama, lengkap dan seimbang dengan kewibawaannya.
Jika keduanya menurut, pasti akan baik kesudahannya. Pelaksana eksekutif lokal segera pergi menemui Gusti Bandara, yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri.
Waktu itu diberi tahu, bahwa akan dijodohkan dengan orang yang menjadi tonggaknya negeri penerang datulaya. Pelaksana eksekutif lokal membujuknya dengan sungguh-sungguh dan dengan lemah-lembut, “Duhai putraku Gusti Bandara. Kuharap panjenengan menurut, karena wajib dalam hidup ini taat kepada ajaran para leluhur. Yang menjadi teladan hidup ini ialah harus kawin. Apalagi dengan orang yang seimbang kewibawaannya, pantas menjadi pembesar negeri. Yang dinasihati bersedia, dan pada akhirnya kedua orang yang didorong demi kebahagiaannya itu pasrah tanpa syarat.
Pelaksana eksekutif lokal merasa lega karena pembicaraannya telah selesai. Akan tetapi pernikahannya belum dapat dilaksanakan karena terhalang gerahnya Sri Paduka Kanjeng Gusti. Seluruh keluarga merasa sedih, dan berda-tanganlah laki-laki dan perempuan serta punggawa, demikian pula Pelaksana eksekutif lokal pun sangat sudah hatinya. Tiap hari datang utusannya, menjenguk dan menanyakan gerahnya Sri Paduka Kanjeng Gusti.
Kocap kacarita Sang Kusuma hiasan pura Sri Paduka Kanjeng Gusti Bandara, sejak Sri Paduka Kanjeng Gusti gerah, perasaan Ingkang Minulya Gusti Bendara terpengaruh. Ia terserang rasa rindu, sangat pedih, dan keraguan pun bersemi di hatinya. Ada keinginan untuk menjenguknya, akan tetapi terhalang kalau-kalau menjadi cela bagi seorang wanita. Betapa tidak, karena bagaimanapun juga jika terlihat oleh masyarakat, buruklah tampaknya.
Ingkang Minulya Gusti Bendara jadi bingung, dan akhirnya menggunakan perantara. Mengutus seseorang untuk melihat gerahnya Sri Paduka Kanjeng Gusti, parah atau tidaknya. Jika benar-benar parah, tidak urung akan pergi menjenguk. Utusan segera tindak, tak lama antaranya telah kembali. Laporannya: benar memang gerah. Akan tetapi tidak seberapa, sehingga tenanglah hati sang putri.
Dalam pada itu Sri Paduka Kanjeng Gusti yang sedang gerah, setiap pagi dokter yang merawatnya datang dan merawat dengan sungguh sungguh. Sudah tiga hari dirawat namun belum berkurang juga gerahnya, masih terasa sesak dan panasnya hawa rumah di siang hari.
Ketika Pelaksana eksekutif lokal menjenguk telah diutarakan pula bahwa rumah itu terasa panas dan gersang terhadap tubuh. Oleh karena itu Sri Paduka Kanjeng Gusti hendak kembali saja ke kediaman semula, dan gedung kepolisian itu ditinggal dan dikosongkan. Seluruh keluarga turut berjaga seperti ketika baru saja winisuda.
Bahkan sekarang semakin banyak sejak Sri Paduka Kanjeng Gusti menderita gerah karena tersebar luasnya berita itu. Berita itu semakin jauh tersiar sampai terdengar oleh Ingkang Minulya Gusti Bendara sehingga menambah kesedihannya. Perasaannya selalu disembunyikan. Akan tetapi akhirnya tampak juga, karena sinarnya memancarkan kedukaan. Pada waktu itu beliau lalu memanggil ingkang rayinya, Kanjeng Pangeran Suryadiningrat, tak lama antaranya datang menghadap.
Ingkang Minulya Gusti Bendara berkata, “Duhai adikku. Bagaimana seyogyanya aku ini, apakah baik jika aku menjenguk yang sedang gerah.
Ini baru menurut perasaanku sendiri berdasarkan kelumrahan berkeluarga, karena adanya ucapan, bahwa karena adanya perasaan sayang atau kesibukan, atau karena susah dan sakit, menurut kata orang wajib kita menjenguknya. Meskipun demikian saya akan selalu menurut apa yang menjadi saran ingkang rayi. Itulah sebabnya ingkang rayi aku mintai pertimbangan. Jika ingkang rayi tidak setuju, saya pun akan membatalkan niatku untuk menjenguk gerahnya kakandamu.”
Ingkang rayi berdatang sembah, “Kehendak paduka untuk menjenguk gerahnya ingkang raka itu benar
Menurut pendapat saya, siapa yang tahu apa yang akan terjadi kelak. Yang menjadi dasar pemikiran hanyalah melakukannya demi kerukunan bersaudara.
Begitulah pendapat saya.” Ingkang mbakyu berkata lagi, “Sendika dhawuh ingkang rayi. Jika panjenengan telah setuju terhadap apa yang kita kehendak, mari, antarkanlah saya ke kediaman kakandamu. Saya ingin menjenguknya barang sebentar.”
Ingkang rayinya bersedia, pamit pergi sebentar memberi tahu eyangnya Pangeran Suryamijaya. Kemudian memberi perintah kepada abdinya supaya bersiap karena hendak mengantar kepergian sang Putri. Sesudah itu ia kembali ke dalam menghadap ingkang mbakyu, Ingkang Minulya Gusti Bendara menyatakan bahwa semuanya telah siap.
Tak lama antaraya telah keluar dari rumah besar, berjalan berbimbingan tangan dengan ingkang rayinya; Kanjeng Pangeran Suryadiningrat. Eyangnya, Kanjeng Pangeran Suryamijaya berjalan di depan, di belakang mengiringkannya para wanita dalam pura. Para bibindanya serta para abdi perempuan, demikian pula para putra pria turut serta mengiring di belakang.
Setibanya di pura timur mereka lalu masuk. Sudah bertemu dengan Sri Paduka Kanjeng Gusti, yang ketika itu sedang tidur-tiduran di lantai dikelilingi sekesel.
Di tempat itu juga pertemuannya. Sedangkan yang terhitung sebagai adik, ayah, eyang semuanya turut masuk. Tak lama kemudian mereka keluar duduk di pringgitan. Maka berkatalah Sri Paduka Kanjeng Gusti kepada Gusti Bandara, “Duhai Raden Ajeng. Saya beri tahu tentang sakitku ini. Sesungguhnya tidak apa-apa, hanya karena perasaan saja.
Mengapa saya kembali ke pura ini, ialah karena ketika saya menyendiri di sana, rasanya tidak enak karena angin dan panas selalu bertiup. Akibatnya terasa semakin tidak nyaman dan tidak krasan lagi. Ditambah pula saran Pelaksana eksekutif lokal, katanya tak baik orang yang sedang sakit tinggal di tempat yang panas. Menurut pendapatku, yang menyebabkan aku sakit ialah karena pengaruh rumah.”
Sang putri bertanya lembut, “Sekarang ini bagaimana rasanya? Apakah sudah terasa berkurang atau masih tetap saja?” Atas pertanyaan itu Sri Paduka Kanjeng Gusti menjawab,
“Ya, sudah banyak berkurang. Rasa kembung sudah dan semakin terasa enak, bahkan seleraku jika melihat buah-buahan yang enak-enak semakin bertambah. Sekarang ini tinggal rasa lesu saja yang masih ada. Jika ada kemurahan Gusti Allah , kiranya akan segera pulih kembali.”
Kinanthi
1. Mangka kanthining tumuwuh,
Salami mung awas eling,
Eling lukitaning dumadi,
Supadi nir ing sangsaya,
Yeku pangreksaning urip.
2. Marma den taberi kulup,
Angulah lantiping ati,
Rina wengi den anedya,
Pandak panduking pambudi,
Bengkas kahadaning driya,
Supaya dadya utami.
3. Pangasahe sepi samun,
Aywa esah ing salami,
Samangsa wis kawistara,
Lalandhepe mingis mingis,
Pasah wukir reksamuka,
Kekes srabedaning budi.
4. Dene awas tegesipun,
Weruh warananing urip,
Miwah wisesaning tunggal,
Kang atunggil rina wengi,
Kang mukitan ing sarkasa,
Gumelar ngalam sakalir.
5. Aywa sembrana ing kalbu,
Wawasen wuwus sireki,
Ing kono yekti karasa,
Dudu ucape pribadi,
Marma den sembadeng sedya,
Wewesen praptaning uwis.
6. Sirnakna semanging kalbu,
Den waspada ing pangeksi,
Yeku dalaning kasidan,
Sinuda saka sathithik,
Pamothahing nafsu hawa,
Linalantih mamrih titih.
7. Aywa mematuh nalutuh,
Tanpa tuwas tanpa kasil,
Kasalibuk ing srabeda,
Marma dipun ngati-ati,
Urip keh rencananira,
Sambekala den kaliling.
8. Upamane wong lumaku,
Marga gawat den liwati,
Lamun kurang ing pangarah,
Sayekti karendhet ing ri,
Apese kasandhung padhas,
Babak bundhas anemahi.
9. Lumrah bae yen kadyeku,
Atetamba yen wus bucik,
Duweya kawruh sabodhag,
Yen tan nartani ing kapti,
Dadi kawruhe kinarya,
Ngupaya kasil lan melik.
10. Meloke yen arsa muluk,
Muluk ujare lir wali,
Wola wali nora nyata,
Anggepe pandhita luwih,
Kaluwihane tan ana,
Kabeh tandha tandha sepi.
11. Kawruhe mung ana wuwus,
Wuwuse gumaib gaib,
Kasliring thithik tan kena,
Mancereng alise gathik,
Apa pandhita antiga,
Kang mangkono iku kaki.
12. Mangka ta kang aran laku,
Lakune ngelmu sajati,
Tan dahwen pati openan,
Tan panasten nora jail,
Tan njurungi ing kahardan,
Amung eneng mamrih ening.
13. Kaunanging budi luhung,
Bangkit ajur ajer kaki,
Yen mangkono bakal cikal,
Thukul wijining utami,
Nadyan bener kawruhira,
Yen ana kang nyulayani.
14. Tur kang nyulayani iku,
Wus wruh yen kawruhe nempil,
Nanging laire angalah,
Katingala angemori,
Mung ngenaki tyasing liyan,
Aywa esak Aywa serik.
15. Yeku ilapating wahyu,
Yen yuwana ing salami,
Marga wimbuh ing nugraha,
Saking heb Kang Maha Suci,
Cinancang pucuking cipta,
Nora ucul ucul kaki.
16. Mangkono ingkang tinamtu,
Tampa nugrahaning Widhi,
Marma ta kulup den bisa,
Mbusuki ujaring janmi,
Pakoleh lair batinnya,
Iyeku budi premati.
17. Pantes tinulad tinurut,
Laladane mrih utami,
Utama kembanging mulya,
Kamulyaning jiwa dhiri,
Ora ta yen ngeplekana,
Lir leluhur nguni uni.
18. Ananging ta kudu kudu,
Sakadarira pribadi,
Aywa tinggal tutuladan,
Lamun tan mangkono kaki,
Yekti tuna ing tumitah,
Poma kaestokna kaki.
Kebijakan tentang pembinaan nilai kebangsaan memang perlu dikembangkan kepada segenap warga negara. Sri Mangkunegara IV memberi semangat kesetiaan, kebangsaan dan keberhasilan lewat serat Tripama.
Tiga suri teladan yaitu Suwanda, Kumbakarna, dan Adipati Karna adalah tokoh yang mumpuni. Ketiganya patut dijadikan suri teladan. Manajemen loyalitas ini pernah diulas disertasi mengenai kearifan lokal. Orang mengabdi kepada bangsa dan negara harus setia, berbudi luhur, rela berkorban dan memiliki kemampuan. Mereka adalah pahlawan sejati yang pantas diteladani.
Mangkunegara IV pribadi luhur agung anggun. Berhasil menganyam peradaban besar. Berupa drajat pangkat semat, wirya arta winasis, guna kaya purun.
(LM-01)
