Babad Mangkunegara VI
Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp. 087864404347)
A. Sejarah Asal Usul Sri Mangkunegara VI
Masa pemerintahan Sri Mangkunegara VI berlangsung tahun 1896 – 1916. Pura Mangkunegaran tampil gagah megah. Perusahaan Colomadu dan Tasikmadu maju sekali. Perkebunan beruntung berlipat ganda. Kemakmuran merata di seluruh penjuru.
Beliau melakukan pensiun dini. Hidup di kota Surabaya. Makamnya di Astana Utara Nayu Surakarta. Sri Mangkunegara VI aktif dalam pergerakan Budi Utomo.
Pengembangan seni budaya dilakukan Mangkunegara VI sesuai dengan kemajuan jaman. Kerawitan pedalangan tari berkembang sangat indah. Sri Mangkunegara VI memimpin dengan penuh kebijaksanaan. Putra dalem KGPAA Mangkunegara IV. Putra no 4 saking Garwa Padmi. Asma timur B.RM Suyitno. Sareng dados Pangeran asma KPA Handayaningrat. Wiyosan dalem: Jumah Pon 17 Rejeb Wawu 1785 utawi I Maret 1857.
Windu Kuntara. Krama angsal R.Aj. Hartati, putrinipun RMA. Gondowardoyo. Mboten peputra. Sasurudipun raka dalem KGPAA Mangkunegara V KPA Ndayaningrat hanggentosi ngasto pusaraning raka dalem. Jumeneng dalem: Sabtu Legi 15 Jumadil akir Jimakir 1826 Windu Sangara utawi 21 November 1896. Asma Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara VI. Yuswa dalem 40 warsa. Yuswa 60 warsa lajeng sereh, dedalem wonten Surabaya ngantos tahun 1928.
Hanyarengi dinten Selasa Kliwon 5 Mulud Je Windu Kuntara 1846, utawi 11 Januari 1916. Jumenengipun ngantos 19 warsa. Surud dalem Malem Akat Pon Sura Alip Windu Adi 1859 utawi 24 Juni 1928. Dumugi yuswa 74 warsa. Kasarekaken Astana Nayu.
Peputra kalih: KPA Suyono Handayaningrat, B.R.Ay. Suwasti Hatmosurono. Wayah dalem wonten 18.
Petuah leluhurnya yakni Sri Mangkunegara IV, sangat dijunjung tinggi.
Selama memerintah Pura Mangkunegaran, Sri Mangkunegara VI amat hemat, cermat dan bersahaja. Sebagai anak Mangkunegara IV, beliau terlalu peduli pada perusahaan pabrik gula dan perkebunan.
Dhandhanggula Arta Daya
Luwih lara larane kang ati,
nora kaya wong tininggal arta,
kang wus ilang piyandele,
lipure mung yen turu,
lamun tangi sungkawa malih,
yaiku ukumira,
wong nglirwakken tuduh,
angilangken budidaya,
temah papa asor denira dumadi,
tan amor lan sasama.
Kaduwunge saya angranuhi,
sanalika kadi suduk jiwa,
enget mring kaluputane,
yen kena putranipun,
aja kadi kang wus winuni,
dumeh wus darbe sira,
panci pancen cukup,
becik linawan gauta,
kang supaya kaywananing dumadi,
panulak mring sangsara.
Tafsir dan makna ajarannya:
Kerja keras dan hidup sederhana dianjurkan supaya keadaan ekonomi tetap stabil. Seseorang tidak diperkenankan bermalas-malasan. Hidupnya nanti bisa sengsara karena kekurangan ekonomi. Banyak contoh orang yang boros menjadi sengsara.
Hidup bermewah-mewahan menjadikan ekonomi jatuh. Orang lain pun bisa ikut repot. Maka perlu sikap hati-hati. Sri Mangkunegara VI membaca Dhandhanggula Arta Daya itu sebagai renungan kehidupan.
B. Melanjutkan Kejayaan Pura Mangkunegaran
Kejayaan Pura Mangkunegaran dilanjutkan dengan kerja keras, semangat tinggi, tekun dan tak kenal lelah. Sri Mangkunegara VI merupakan tokoh yang sangat idealis. Kerjanya terkenal dengan jiwa disiplin tinggi. Barisan Priyagung manca kembali ke desa Bureng.
Pangeran Adipati Mangkunagara lari masuk keluar hutan, naik turun jurang. Keadaannya, amat menyedihkan hanya diiringi seorang abdi.
Di tengah hutan bertemu dengan Tumenggung Kudanawarsa dan selir Raden Ayu Patahati dengan putrinya Raden Ajeng Sombrong yang masih kecil terus-menerus menangis karena lapar dan hanya diberi makan pisang hutan. Para pengiring makan umbi-umbian. Lama Mangkunagara dengan wadyabalanya berjalan terus mencari hidup, kemudian bertemu dengan pendereknya prajurit berkuda 60 orang. Pangeran Adipati Mangkunagara dengan pengiring serta keluarganya tetap tidak berani keluar dari hutan. Kepada Tumenggung Kudanawarsa dan Tumenggung Surawijaya ia mengatakan, akan beristirahat di pegunungan.
Maka berjalanlah ia dengan wadyabalanya ke desa Lincip Pideksa bertemu sebentar dengan Sultan Dandun Mertengsari. Sultan Dandun Mertengsari dimintanya bersatu dengan Pangeran Adipati Mangkubumi, tetapi menolak. Dari sana wadyabala Mangkunagara berjalan lagi ke hutan Tembara.
Di sana ia mendapat kabar bahwa barisan Sultan Dandun Mertengsari pemberontak Kartasura telah disergap tentara manca di desa Pideksa sehingga kocar kacir. Waktu mendengar berita itu Pangeran Adipati Mangkunagara sedang membuat seruling dari bambu. Bambu dibuangnya yang ternyata kemudian tumbuh hidup menjadi-jadi dengan bam-bunya yang belang hingga dikenal dengan nama hutan Belang-suling bawah Kecamatan Gunung Tirtamaya. Wadyabala Mangkunagara lalu lari ke timur-laut sampai di desa Mlendungan dan meneruskan perjalanan menuju ke Keduwang.
Naik gunung Tulakan, lalu turun sampai di desa Jajar. Sampai di kali dekat Dalepih, terpaksa berhenti karena banjir dan tidak ada jembatan. Sedih, tidak tahu upaya apa pun, mendadak terdengar suara pohon tumbang dan jatuhlah pohon preh melintang di kali.
Itulah pertolongan Tuhan memberi sarana Pangeran Adipati Mangkunagara dan wadyabala menyeberangi kali yang sedang banjir. Dia meneruskan perjalanannya ke desa Kaduwang. Naik ke pegunungan, Mangkunagara dan segenap pengiringnya kebingungan tidak tahu arah jalan.
Hutan itu lalu dinamakan hutan Kemengan tak tahu arah dan Sesudah berhasil keluar tempatnya diberi nama Kelingan. Tempat itu diberinya nama wana Kelingan, kemudian wadyabala meneruskan perjalanannya. Di atas wukir itu pemandangannya indah, hawanya segar, di bawah kelihatan desa Nglaroh, Sembuyan dan Kaduwang. Di sana didirikan rumah yang konon sampai sekarang masih dikeramatkan untuk nyadranan selamatan tahunan.
Letaknya di desa Bubakan, sebelah utara Girimarta. Kabarnya, rumah itu sewaktu daerah itu masih hutan belukar, bila hutannya terbakar, konon rumah itu tidak ikut terbakar. Sesudah beristirahat agak lama dan merasa tenang, Pangeran Adipati Mangkunagara bermaksud akan sowan Ingkang Rama Pangeran Mangkubumi di Sukawati. Para penderek diperintahkan memisahkan diri.
Sang Pangeran berniat menyamar, turun gunung, menelusuri lereng lereng, mencari jalan rata, kemudian berhenti.
Perjalanannya tidak dilanjutkan karena ternyata Priyagung manca masih terus mencarinya. Sang Pangeran bersembunyi di desa Blada yang cukup terasing. Pangeranpun menjalankan prihatin dengan puasa siang dan malam.
Akhirnya mendapat wangsit agar berjalan ke arah timur laut, di sana iap akan bertemu dengan sesuatu yang akan membuat hatinya terang. Pangeran Adipati Mangkunagara meneruskan perjalanannya.
Karena telahl beberapa hari tidak makan minum, ia ingin menyantap kelapa muda. Sesudah airnya diminum, sabutnya ditanam dan diharapkan menjadi pertanda, bila maksudnya tercapai, sabut kelapa itu akan tumbuh. Ternyatalah dari sabut kelapa itu tumbuh pohon kelapa.
Bala tentara manca mengumumkan, siapa dapat menangkap Pangeran Mangkunagara, akan diganjar pangkat mantri dan uang 500 real. Pengumuman itu sudah merata sampai di desa-desa dan pegunungan.
Pada suatu hari sang Pangeran dengan 7 orang pengiringnya berjalan di desa Anggabayan, mendadak terdengar suara kentongan bertubi-tubi. Tidak disadari oleh sang Pangeran, bahwa yang dikentongi itu adalah dirinya. Orang banyak bersenjata keris, pedang, tombak, pentung dll. berteiak-teriak menyebut-nyebut ‘Mangkunagara yang harus mereka tangkap, jangan sampai lolos.
Tentu menerima hadiah dari manca katanya. Manca memang telah mengumumkan, siapa yang dapat menangkap Pangeran Mangkunagara akan diangkat menjadi Mantri dan diberi hadiah uang limaratus real. Sesudah diyakini orang-orang desa mengancam dirinya Pangeran Mangkunagara lalu mengisi pistolnya. Hanya ditembakkan satu kali, orang orang bubar bersebaran.
Wadyabala Mangkunagara meneruskan perjalanannya ke utara sampai di desa Druju Matesih, Eyang dan garwa-puterinya dititipkan di desa itu, sedang sang Pangeran dengan 7 orang abdinya mendambakan belas-kasihan Tuhan dengan cara prihatin.
Sampai di desa Samakaton, Pangeran Adipati Mangkunagara merasa tenteram. Menurut keterangan, bahwa yang bermukim di sana adalah Ajar Adisana dan adiknya Ajar Adisana.
Orang desa mengantarkan sang Pangeran bertemu dua orang Ajar kakak beradik. Kepada Ki Ajar, Pangeran Adipati Mangkunagara menceritakan segala keadaan¬nya dari awal sampai akhir, tidak ketinggalan pengalaman beratnya sowani musuh Priyagung manca Wong Bule. Maka Ki Ajar banyak memberi nasehat dan pedoman hidup yang ringkasnyal sebagai berikut:
“Berbandayuda hingga menderita kekalahan yang amat berat, tidaklah lain disebabkan olehl sifat angkuh dan takabur, mengandalkan ketrampilan dan keberanian. Sikap dan tindakan demikian itu niscaya keliru, lupa bahwa menang kalahnya bandayuda itu milik Tuhan Yang Maha Esa.
Kangjeng Pangeran tidak waspada dan tidak jernih di hati sehingga sampai berani menyalahi ketentuan Tuhan dan cepat-cepat menyatakan diril sebagai Raja dengan sebutan Kangjeng Sultan Adiprakosa.l Langkah itu adalah kesalahan besar yang telah paduka perbuat, sebab wahyu Nurbuah tidak mudah dicapai. Tidak dengan laku nekad. Kangjeng, semua itu tak dapat dicapai dengan keberanian dan sifat seolah-olah serba bisa. Perbuatan demikian termasuk perbuatan rendah”.
Janganlah paduka meniru Ingkang Rama Sultan Dandun Mertengsari, yang cepat-cepat mau menjadi Raja, lalu mengawini wanita hingga 70 orang. Yang demikian itu sangat tidak pantas, akhirnya ditertawai orang. Sebaiknya paduka meniru sifat eyang paduka Panembahan Senapati yang mencapail wahyu kraton dengan prihatin dan laku, akhirnya mam-pu menduduki tahta kerajaan turun-temurun.
Hendaknyalah Kangjeng Pangeran mempertebal penghati-hati dan kesa-baran. Manusia yang akan mendapat derajat luhur, besar sekali cobaan yang dihadapinya. Wejangan yang ringkasnya seperti tersebut diberikan oleh sang Ajar kepada Pangeran Adipati Mangkunagara dua malam berturut-turut.
Menerima wejangan itu sang Pangeran merasa terang dan tenteram dalam hatinya, merasakan wejangan itu sedalam dalamnya. Ki Ajar berkata, agar Pangeran mencamkan wejangan itu dengan didasari hati yang yakin dan mantap, seperti yang dimaksudkan oleh kalimat:
Terlaksananya ilmu karena laku. Sang Pangeran lalu disuruh bertapa di wukir Mangadeg, sebelah timur desa Samakaton. Sampai di bawah wukir Mangadeg, sang Pangeran duduk termenung memandang hutan belukar dengan pepohonannya yang lebat.
Pangeran Adipati Mangkunagara membulatkan tekadnya, rela mati daripada tidak tercapai maksudnya. Akhirnya ia masuk hutan belukar dengan tekad yang bulat. Dua orang abdinya yang setia mengikuti Gustinya.
Sampailah mereka ditempat yang agak datar dan di sanalah sang Pangeran menempa jiwanya, ingin mencapai cita cita luhur. Dia seorang diri, sedang dua orang abdinya, Tumenggung Kudanawarsa dan Tumenggung Surawijaya disuruhnya memisahkan diri. Dari kehendak Tuhan, Sesudah sang Pangeran 7 hari lamanya bertapa di sana, mendadak terdengar suara mengguntur, disusul hujan disertai angin.
Wukir Mangadeg seketika gelap-gulita karena diterjang angin badai. Dua orang abdinya menggigil, lalu pindah ke lain tempat.
Hanya sang Pangeran dapat dikatakan tidak bergeming dari tempat duduknya sampai udara menjadi terang menenteramkan hati. Di sanalah tampak seorang laki-laki tua datang menghampiri sang ‘Pangeran menyerahkan: Bendera (duaja) Kyai Duda dan Kerangka tambur Kyai Slamet. Sesudah dua macam benda itu diterima oleh Pangeran Adipati Mangkunagara, orang tua itu hilang dari pandangan.
Sang Pangeran turun hendak sowan Ki Ajar gurunya, namun baru saja keluar dari pertapaannya, ia telah disambut oleh Ki Ajar seraya berkata: ‘Ya, itulah anugerah Tuhan yang saya harapkan. Kini sudah waktunya Kangjeng Pangeran menyusul Ingkang Rama Kanjeng Gusti Pangeran Mangkubumi di Sukawati. Kelak, paduka akan mendapatkan wahyu kebesaran lantaran Ingkang Rama Kanjeng Gusti Pangeran Mangkubumi.
Pangeran Adipati Mangkunagara berangkat dari Samakaton diiringi oleh 6 orang abdinya akan sowan Ingkang Rama Pangeran Mangkubumi. Di tengah jalan, selagi berhenti, tak disangka-sangka datanglah 7 orang naik kuda dan meminta sang Pangeran agar lekas sowan Ingkang Rama.
Orang-orang itu menyerahkan 7 ekor kudanya untuk kendaraan Mangkunagara dengan pengiringnya. Dalam perjalanannya hendak sowan Kanjeng Pangeran Adipati Mangkubumi, Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara mampir ke desa Glagah untuk menjenguk bibindanya, Kanjeng Ratu Ageng, garwa Kanjeng Pangeran Adipati Mangkubumi sekeluarga. Sesudah menginap tiga hari, sang Pangeran meneruskan perjalanannya.
Seberangkat Pangeran Mangkunagara dari Glagah, Kanjeng Gusti Ratu Ageng berkata: ‘Lelakon si buyung Mangkunagara amat merawankan hati, tetapi karena ia darah ningrat, maka wajahnya malah bertambah bersinar.
Mudah-mudahan Tuhan menjodohkan dia dengan salah seorang puteriku. Dua buah benda itu kemudian menjadi pusaka Mangkunagaran turun-temurun.
Dua orang Pangeran pemberontak itu akhirnya bertemu di desa Ramun, Grobogan. Mangkubumi bermaksud memperluas pengaruhnya sampai di Sembuyan dan memerintahkan Mangkunagara kembali ke daerah itu. Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara diantarkan oleh Adipati Martapura sowan Kanjeng Pangeran Adipati Mangkubumi. Kepada Ingkang Rama Pangeran Mangkunagara menyampaikan lelakonnya dengan segala kesulitannya.
Pangeran Mangkubumi menaruh belas kasihan kepada puteranda dan membangkitkan semangat perjuangannya dengan mempertebal kepercayaan kepada Tuhan Maha Kuasa. Pagi harinya dua orang Pangeran berangkat ke arah Sembuyan dengan barisan kuda sebanyak 1.030 orang. Di desa Bangsri ada 70 orang berkuda yang bergabung, ke-mudian disusul oleh 130 orang berkuda pula. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 6 hari sampai di Sembuyan.
Pagi harinya mereka berpencaran. Pangeran Pamot dan Pangeran Mangkudiningrat ke selatan sampai Sembuyan, Mangkubumi ke utara sampai Jekawal dan Mangkunagara ke Gumantar.
Pangeran Mangkunagara sering sowan Ingkang Rama Mangkubumi di Jekawal melayani hiburan mengadu puyuh sebagai ajaran berbandayuda tak kenal menyerah.
Mangkubumi makin lama makin senang kepada Mangkunagara sehingga akhirnya diambil menantu, dinikahkan dengan puterinya Raden Ajeng Inten Kanjeng Gusti Ratu Ageng. Pernikahan itu terjadi pada tanggal 15 Besar, tahun Be, 1672 Jawa atau 1747 Masehi. Sewaktu di Gumantar, eyang-putri Pangeran Mangkunagara ingin ke Nglaroh menengok sanak keluarganya.
Kaparak, Kalang dan Sarageni di bawah pimpinan Tumenggung Jayawikrama, Tumenggung Surawilaga.
Mula-mula pusaka itu dipukul tidak berbunyi, tetapi kemudian berbunyi pula, tanda akan jaya bandayudanya. Di Gumantar Mangkunagara hanya beristirahat empat malam, kemudian berangkat.
Priyagung manca akan mengejarnya ke Gumantar. Sang Pangeran amat kerepotan karena garwanya gerah, lalu diperintahkan garwanya diungsikan ke Majarata. Dengan kendaraan kuda Kyai Andaru, hanya diiringi oleh lima orang. Kudanya ambruk dan mati diterjang kuda musuh. Mayor Sekeber berteriak: ‘Sekarang aku yang membalas kekejamanmu di Jatisari!’
Karena amat tergesa-gesa, pusakanya mengenai alisnya sehingga mengeluarkan darah. Mayor Sekeber seketika gugup dan melarikan diri diikuti serdadu serdadunya. Mangkunagara naik dari jurang bertemu dengan abdinya Jayaprameya, tak lama kemudian bertemu pula dengan Kudanawarsa beserta 30 orang pengiringnya berkendaraan kuda. Malamnya beristirahat di Matesih. Paginya berangkat ke Ngablak.
Mataram Hadiningrat yang dijaga oleh Tumenggung Jayawitana. Kemudian Mangkunagara dengan Jayawitana dan Suryanagara berangkat ke Mataram Hadiningrat.
Bala tentara tidak henti-hentinya, akhirnya berhenti pada waktu matahari tenggelam. Barisan tentara mundur perlahan lahan, demikian pula prajurit Mangkunagara yang berjumlah 4.000 prajurit berkuda mundur ke Mataram Hadiningrat.
Sultan Dandun Mertengsari yang berada di daerah Kedu, menulis kepada Mangkunagara, minta tanah Mataram Hadiningrat karena tanah itu sudah lebih dulu dikuasainya.
Mangkunagara menolak karena tanah Mataram Hadiningrat sudah di dalam kekuasaan Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi memerintahkan ngrabasen yuda Sultan Dandun yang mengalami kerepotan dan lolos ke Sembuyan. Mangkunagara dan tentaranya kembali ke Mataram Hadiningrat untuk melaporkan tentang Sultan Dandun Mertengsari kepada Pangeran Mangkubumi yang merasa amat puas.
Pangeran Mangkunagara lalu diangkat menjadi Pangeran Adipati dengan sebutan: Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara dan diangkat menjadi patihnya. Orang-orang di Sembuyan semuanya takluk dan bumi Sembuyan diberikan kepada Pangeran Mangkunagara dengan wejangan agar mem-berikan kepada Pangeran Pamot hasil dua buah pasar. Pangeran Mangkudiningrat diangkat menjadi kepala Kerabat.
Mangkunagara markas ke Kedungwaringin yang bagus letaknya. Barisan Mangkunagara bertambah kuat.
Di Kedungwaringin ia menerima laporan, bahwa Bala Tentara Belanda ngrabasen yuda Mataram, tetapi waktu barisan Mangkunagara sampai di Mataram, ternyata Priyagung manca telah mundur. Mangkunagara diminta oleh beberapa orang bupati agar mohon kesediaan Mangkubumi akan diangkat menjadi raja. Pengangkatan terjadi dengan sebutan barunya: Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamangku Buwana Sena¬lpati ing Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama, Kalifatullah.
Penobatan Sultan diikuti dengan pengangkatan beberapa punggawan Ng. Ranawijaya menjadi bupati jaksa dengan nama Tumenggung Sasmitasastra. Mardika di Wedi menjadi pengulu dengan nama Dipaningrat.
C. Tata Cara Meditasi
Gambuh
Samengko ingsun tutur,
Sembah catur supaya lumuntur,
Dhidhin raga, cipta, jiwa rasa, kaki,
Ing kono lamun tinemu,
Tandha nugrahaning Manon.
Sembah raga puniku,
Pakartine asarana saking warih,
Kang wus lumrah limang wektu,
Wantu wataking weweton.
Inguni uni durung,
Sinarawung wulang kang sinerung,
Lagi ini bangsa kas ngetokkan anggit,
Mintokken kawignyanipun,
Sarengate elok elok.
Thithik kaya santri Dul,
Gajeg kaya santri brai kidul,
Saurute Pacitan pinggir pasisir,
Ewon wong kang padha nggugu,
Anggere padha nyalemong.
Kasusu arsa weruh,
Cahyaning Hyang kinira yen karuh,
Ngarep arep urub arsa den kurebi,
Tan wruh kang mangkono iku,
Akale kaliru enggon.
Yen ta janma rumuhun,
Tata titi tumrah tumaruntun,
Bangsa srengat tan winor lan laku batin,
Dadi nora gawe bingung,
Kang padha nembah Hyang Manon.
Mangkunegara VI punya prinsip kuat. Kepribadian kokoh berguna untuk memimpin. Warga Mangkunegaran siap melanjutkan tradisi warisan leluhur.
Tahun 1916 – 1928 Mangkunegara VI tinggal di kota Surabaya. Maka diberi gelar Kanjeng Gusti Adipati Surabaya. Wafat dimakamkan di Astana Nayu. Maka disebut Adipati Nayu.
Selama tinggal di Surabaya Mangkunegara berhubungan erat dengan HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Kartosuwiryo. Usaha Mangkunegaran untuk biaya kegiatan. Teladan utama sepanjang jaman.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan