Liputan KOLOM

Babad Mangkunegara VII

Ditulis oleh Liputan68 pada 27 Agustus 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp. 087864404347)

A. Sejarah Asal Usul Sri Mangkunegara VII

Masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII berlangsung tahun 1916 – 1944. Pernah belajar di Universitas Leiden. Beliau ahli sastra budaya. Gemar menciptakan pakem pedalangan.

Seiring dengan perkembangan jaman, Sri Mangkunegara VII atau Raden Mas Suryosuparto pernah memimpin Budi Utomo. Jasanya dalam bidang pendidikan, kebudayaan dan ekonomi. Besar sekali, layak menjadi panutan dan teladan.

Masa modern hadir pada masa kepemimpinan Sri Mangkunegara VII. Putradalem KGPAA Mangkunegara V. Asmatimur B.RM Suparto, KPH Suryosuparto. Wiyosandalem: Kemis Wage 4 Sapar Dal Windu Kuntoro 1815 utawi 15 Agustus 1885. Krama angsal G.R.Aj. Mursudariyah, putridalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana VII.

Peputra G.R.Aj. Sitinurul Kamaril Ngarasati Kusumowardani, G.R.Ay. Suryosuyarso. Nalika yuswa 40 warsa katetepaken asma KGPAA Mangkunegara VII. Ing dinten Kemis Wage 4 Sapar Dal Windu Sangara 1855 utawi 1 September 1924. Garwa Padmi I. Garwa ampeyan 8.

Para putra:
1. B.R.Ay. Husen Jayadiningrat, B.R.Aj. Partini
2. B.R.Ay. Sukanto, B.R.Aj. Partinah
3. KGPAA Mangkunegara VIII, B.RM Saroso.
4. G.R.Ay. Suyarso, G.R.Aj. Sitinurul
5. KPH Hamijoyo Santoso.

6. B.R.Aj. Partiyah seda timur
7. KPH Sanjoyo Notosuparto
8. G.R.Ay. Purwohadinoto, B.R.Aj. Partimah

Surud dalem: Kemis Pon 29 Rejeb Alip 1875 utawi 19 Juli 1944 jam 11 dalu.

Di antara para adipati di Mangkunegaran itu, KGPAA Mangkunegara VII adalah seorang pujangga yang aktif dalam menelurkan karya sastra pewayangan. KGPAA Mangkunegara VII bertahta antara tahun 1916-1944. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan. Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII.

Pakem Serat Pedhalangan Ringgit Purwa terdiri dari 37 jilid, berisi 177 lakon yang terbagi menjadi 4 bagian yaitu: Cerita dewa-dewa (7 lakon); Cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon); Cerita Ramayana (18 lakon); Cerita Pandawa Korawa sejumlah 147 lakon.

Pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII ini, Kyai Trunodipo dari Baturetno, Solo, membuat Wayang Menak untuk pergelaran cerita-cerita dari Kitab Serat Menak dengan tokoh-tokoh Wong Agung Jayengrana, Umar Maya, Umar Madi, Prabu Nusirwan.

Karya KGPAA Mangkunegara VII di atas menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V. Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mang-kunegara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV.

Pergaulan Sri Mangkunegara VII sangat luas. Beliau bersahabat erat dengan dr. Wahidin Sudiro Husodo. Ketika masih bernama Suryo Suparto, beliau pernah memimpin organisasi Budi Utomo.

B. Membawa Masa Kemakmuran

Sri Mangkunegara VII mengalami masa gemilang dalam bidang pemerintahan, kebudayaan, kesenian, kebahasaan dan kesusastraan. Secara serial Sri Mangkunegara VII menyusun Serat Pedalangan Ringgit Purwa. Pakem pedalangan ini digunakan sebagai rangka cerita pewayangan.

Pangeran Adipati Mangkunagara yang bermarkas di Gunung Kidul ternyatakan niatnya kepada Tumenggung Kudanawarsa, bahwa ia akan memukul Yogyakarta. Kudanawarsa mempersilahkan, katanya ‘Kedua Raja itu sewajarnya mengingat kepada paduka, Para punggawa menyambung:

Karena sudah demikian adanya, untuk apa mesti tunduk?

Sesudah membulatkan tekad, barisan Mangkunagara mulai ngrabasen yuda. Di bawah wukir berbaris prajurit Yogyakarta yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom, Pangeran Angabei dan Pangeran Natakusuma.
Sesudah diberi perintah ngrabasen yuda, terjadilah bandayuda seru.

Lama-kelamaan prajurit Yogyakarta mengalami kekalahan dan mundur ke gunung Gamping. Mengetahui barisannya mundur, Kanjeng Gusti Sultan mengirim wejangan kepada Patih Mangkupraja di Surakarta supaya barisan di perbatasan diperkuat sebab tentara Mangkunagara besar sekali. Kanjeng Gusti Sultan segera berangkat dengan tentaranya dan terjadilah bandayuda hebat. Pangeran Adipati Mangkunegara bergeser ke utara sampai di desa Semanggi, terus dikejar, kemudian dengan anak garwa dan prajuritnya menuju ke utara.

Prajurit Yogyakarta terus mengejarnya. Sultan beristirahat di desa Sampangan, kemudian kembali ke Yogyakarta. Mangkunagara terdesak sampai di desa Kuwu, lalu menanam pengaruh di sana. Usahanya berhasil, orang-orang di sana pada patuh sehingga prajurit Mangkunagara menjadi besar lagi, tatapi terus didesak oleh tentara Surakarta yang dipimpin oleh Patih Mangkupraja dan Jan Hendrik dibantu oleh prajurit Yogyakarta. Mangkunagara sowani tiga kekuatan, yakni:

Surakarta, Tentara Belanda dan Yogyakarta. Lama kelamaan Mangkunagara mengalami kekalahan besar. Prajuritnya tinggal 20 orang karenanya tidak ada kekuatan lagi untuk bertahan, apalagi ngrabasen yuda.

Mangkunagara dengan anak garwa dan sisa-sisa pendereknya lalu beristirahat di desa Lawang, sedang musuh yang ngrabasen yudanya berhenti di Kuwu. Selama di desa Lawang, Pangeran Adipati Mangkunagara amat sedih sekali.

BACA JUGAPohon

Siang malam tidak mau makan dan tidak tidur. Yang di sampingnya menghibur-hibur adalah Tumenggung Kudanawarsa, katanya:

Janganlah Gusti tenggelam dalam kesedih-an. Sekarang sedang apes, lemah. Keadaan ini hendaknyalah diterima dengan hati lapang, menyerah kepada takdir, kalau-kalau kemudian dapat bebas dari kesengsaraan. Sekarang, baiklah menenteramkan hati, janganlah sampai tergesa-gesa, sambil berusaha menghimpun kekuatan lagi.

Berdasarkan nawala Deler Edeleer, warga Dewan Penasehat Priyagung manca di Semarang kepada Gubernur di Betawi, bandayuda makin besar. Mayor Sekeber tewas dalam bandayuda di Kuwu.

Pendapat Dewan Penasehat Priyagung manca, sebaiknya Pangeran Adipati Mangkunagara dibujuk supaya pulang ke Surakarta atau ke Yogyakarta dan ditetapkan haknya dengan penghasilan yang mencukupi. Baik Gubernur maupun anggota-anggota Dewan sudah sarujuk mengambil kebijaksanaan demikian. Dipanggillah para bupati dari barisan di Kuwu barisan Yogyakarta dan Priyagung manca. Yang datang adalah:

Tumenggung Suradiningrat; Tumenggung Mangkuyuda; Tumenggung Arungbinang; Tumenggung Sasradiningrat dan Tumenggung Sujanapura.

Para bupati itu menyetujui agar Pangeran Adipati Mangkunagara dibujuk pulang ke Surakarta. Tumenggung Mangkuyuda sanggup sowan Pangeran Adipati Mangkunagara untuk menjajagi pendapat sang Pangeran.

Di Surakarta Deler Jan Hendrik bersama-sama Tumenggung Mangkupraja dan Mangkuyuda sowan Susuhunan yang menyetujui maksud membujuk Mangkunagara agar pulang ke Surakarta. Hendaknya Susuhunanlah memanggil Mangkunagara pulang. Ini pun disetujui dan Susuhunan bersedia menghubungi Mangkuna¬gara. Di desa Lawang, Tumenggung Mangkuyuda sowan Pangeran Adipati Mangkunagara.

Dengan dalih amat memprihatinkan keadaansang Pangeran yang berat menderita, ia mengemukakan pendapat, apakah tidak lebih baik Kanjeng Gusti Pangeran pulang ke Surakarta ataupun ke Yogyakarta, karena kedua Raja itu mempunyai kewajiban yang sama terhadap Pangeran Adipati Mangkunagara. Pendapat Tumenggung Mangkuyuda mendapat sambutan dan persetujuan Pangeran Adipati Mangkunagara, tetapi sang Pangeran melihat banyak kesulitan karena keluarga dan abdinya yang banyak memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit dan rumah kediaman yang mencukupi.

Sang Pangeran menyatakan pula keinginannya untuk pulang ke Surakarta. Atas pertanyaan apakah sebabnya amemilih ke Surakarta, jawabnya banyak persoalan yang menyebabkan ia tidak dapat mengabdi ke Ingkang Rama Sultan Yogyakarta. Akhirnya Tumenggung Mangkuyuda membuka rahasia, bahwa yang menginginkan pulangnya Kanjeng Gusti Pangeran itu adalah Gubernur dan telah mendapat persetujuan Kanjeng Gusti Sinuhun pula.

Tumenggung Mangkuyuda berwejangan, sewaktu-waktu datang utusan Sinuhun, hendaklah Kangjeng Pangeran mohon tinggal di Kepatihan dengan daerah sekitarnya.

Pangeran Adipati Mangkunagara diseyogyakan pindah ke Gumantar. Sesudah Tumenggung Mangkuyuda memberikan pelaporan kepada Gubernur di Semarang, maka Gubernur lalu menulis dua buah nawala kepada Kanjeng Sultan di Yogyakarta dan Kanjeng Susuhunan di Surakarta, bahwa sudah tidak ada halangannya lagi Pangeran Adipati Mangkunagara diminta pulang ke Surakarta.

Sewaktu Mangkunagara dengan tentaranya berada di Sukawati, datanglah utusan Sinuhun: Nyai Tumenggung Setyawati, Tumenggung rajaniti dan Tumenggung Mangunagara, menyampaikan nawala Kanjeng Sinuhun yang ringkasan isinya sebagai berikut:

“Seterimanya nawala ini, kakangmas saya mohon pulang ke Surakarta agar berkenan mengemong saya dalam melaksanakan kewajiban sebagai Raja, karena saya merasa serba kekurangan, sebab rama Pangeran Mangkubumi sekarang di Yogyakarta.

Maka tidak ada lagi yang seyogyanya mengemong saya kecuali kakangmas. Bilamana kakangmas berkenan bertemu dengan saya, apa yang kakangmas kehendaki, niscaya saya setujui. Apalagi tentang tanah di Mataram dan di desa Sala yangsudah di tangan kakangmas, baiklah saya tetapkan menjadi milik kakangmas”.

Kepada utusan Sinuhun itu Mangkunagara berwejangan, agar janji Susuhunan benar-benar dipenuhi.

Selain itu dari itu semuanya akan termasuk dalam wejangannya yang akan disampaikan oleh Pangeran Mangkudiningrat kepada Ingkang Sinuwun. Pangeran Mangkudiningrat sowan Susuhunan bersama dengan para utusan tersebut. Sampai di hadapan Susuhunan, Pangeran Mangkudiningrat menyampaikan permohonan Pangeran Adipati Mangkunagara sebagai berikut:

(1) Mohon tetap sesebutan gelarnya, Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunagara, seperti almarhum ayahnya;

(2) mohon semua tanah yang sudah diinjaknya agar tetap menjadi miliknya, dan

(3) mohon rumah Kepatihan Sindurejan beserta perkampungannya dan semua pagar temboknya. Semua permintaan tersebut disetujui dan diminta agar Pangeran Adipati Mangkunagara sowan Sinuhun pada hari Kamis Paing tanggal 4 Jumadilakir tahun Jimakir, 1682 jam 5 sore.

Kedatangan Pangeran Adipati Mangkunagara dengan garwa putra dan abdi dijemput Kanjeng Sinuhun disertai oleh Oprup Habrem di desa Tunggon.

Semuanya sampai di kraton jam 5 sore. Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara dengan garwa dan putra-putrinya dan semua abdinya masuk kraton. Para punggawanya langsung ke tempat yang sudah disediakan, yakni di Mangkuyudan. Atas pertanyaan Sinuhun, Pangeran Adipati Mangkunagara menerangkan bahwa waktu meninggalkan kraton beliau berusia 17 tahun dan sekarang sudah berusia 32 tahun. Artinya menjadi orang hutan selama 15 tahun. Diberikan pula keterangan, bahwa dari Kanjeng Ratu Bendara sang Pangeran belum mempunyai putera.

Dari abdi selir semuanya 7 orang, puteri tiga dan putera empat orang. Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara memasuki rumah Mangkuyudan pada malam Jumat Pon, 5 Jumadilakir, tahun Jimakir, Windu Adi tahun 1682 Jawa atau 1756 Masehi.

Sesudah merasa tenteram di Surakarta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara mengatur rumah tangganya dan membuatkan rumah para putra santana dan punggawa. Adipati Kudanawarsa diangkat menjadi bupati di Kaduwang dengan sebutan yang sama.

Kanjeng Susuhunan menerima nawala dari Gubernur untuk datang di Salatiga bersama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara perlu menanda tangani Nawala Perjanjian dan pembagian kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Adapun yang akan menerima kedatangan Kanjeng Sunan dan Kanjeng Sultan adalah Deler Edeleer Hareking dari Semarang. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati diberi tahu dan bersedia mengikuti Kanjeng Susuhunan, namun katanya, kalau kemudian ada perselisihan, sang Pangeran tidak bertanggung jawab.

C. Rumangsa Wajib Hangrungkebi

Para gusti siang-malam berjaga-jaga di datulaya Kanjeng Raden Adipati Sasradiningrat dan kawan-kawannya para wedana, kliwon luar dan dalam serta bawahannya juga berjaga-jaga di datulaya. Ada juga yang berjaga-jaga di tempat tugasnya masing-masing.

Pada hari senin, tanggal 27 Ramadhan, tahun Jimakir 1786 pukul sebelas siang Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan mangkat. Suara tangis terdengar gemuruh dalam datulaya. Gempar seluruh kerajaan.
Kawula dasih besar-kecil sangat dukacita.

Kedua putri Ingkang Minulya seketika pingsan, tak lagi melihat dunia, lalu dirawat oleh para putri yang tua-tua, akan tetapi tidak ditanggapi. Demikian kalutnya perasaan para putri yang terhimpit kesedihan itu sehingga tak tahu apa yang harus dilakukan. Tingkah-lakunya tidak menentu, tanpa kesadaran. Jiwanya seolah-olah lepas atau melayang.

Gemuruh berkeluh-kesah, tak habis-habisnya jika yang sedang berduka itu dikisahkan. Pelaksana eksekutif lokal segera pergi ke datulaya lalu mengatur segala perabot kerajaan. Juga membagi tugas bagi mereka yang akan mengantar ke pamakaman di Astana Imagiri.

Raden Adipati Sasradiningrat pun telah memberi perintah kepada segenap Wedana polisi, Wedana pajak, Wedana-kliwon, Panewu, Mantri dan bawahannya yang akan turut serta mengantar layon. Kanjeng Raden Adipati beserta segenap bawahannya bermukim di alun-alun di tempat mereka menunggu masing-masing.

Layon Ingkang Minulya lalu dimandikan. Sesudah selesai penyan-tunannya lalu diletakkan dalam petimati, lengkap dengan segala perlengkapannya.

Mas Penghulu beserta kawan-kawannya, para khatib dan petugas-petugas agama yang lain menungguinya. Demikian pula para pangeran, bangsawan semua turut menunggui layon. Layon Ingkang Minulya diinapkan semalam. Pada waktu itu yang mengatur segala sesuatu dalam datulaya ialah Pelaksana eksekutif lokal dan para pangeran yang tua-tua serta Raden Adipati Sasradiningrat.

Siang malam telah lalu, tibalah pagi. Layon segera diberangkatkan ke Astana Imagiri, diiringi segenap upacara kerajaan. Segenap pangeran, bangsawan, dan Pelaksana eksekutif lokal juga turut mengantar. Kembalinya dan Imagiri melalui pintu gerbang selatan, lalu masuk ke datulaya. Raden Adipati Sasradiningrat beserta seluruh bawahannya masih tetap bermukim di alun-alun.

Dikisahkan bahwa ketika layon Ingkang Minulya diberangkatkan, putri Ingkang Minulya Sekar Kedaton langsung jatuh pingsan, tak ingatkan diri. Karena kesedihannya yang luar biasa, ia tak dapat melihat dunia. Maka meledak lagi tangis para putri, sehingga gemuruhlah tangis di datulaya. Tak tahu lagi apa yang akan dilakukan, dan semakin banyak yang terasa di hati.

Para pangeran dan putri-putri yang tua-tua berusaha menyadarkan Sang Putri yang sedang pingsan. Setelah beberapa saat lamanya Gusti Sekar Kedaton sadarkan diri, namun tetap tertegun tegun tanpa berkata kata karena sedihnya ditinggalkan ayahandanya.

Sadar akan dirinya yang telah yatim-piatu, perasaannya semakin remuk-rendam, dan cahaya wajahnya hilang, berubah menjadi pucat pasi bagaikan bulan tertimpa sinar matahari. Seluruh tubuhnya tampak layu karena sangat sedihnya.

Pelaksana eksekutif lokal dan para pangeran yang tua-tua terus-menerus berusaha menghibur yang sedang dirundung duka nestapa. Banyak kata-kata dan tamsil diungkapkan untuk menghibur hati Sang Putri. Kita tinggalkan dulu Sekar Kedaton yang sedang menahan duka.

BACA JUGABABAD BLORA

Dikisahkan seminggu setelah mangkatnya Sri Baginda, ialah pada hari, Senin Pon, tanggal 14 Syawal, tahun Jimakir 1786, Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi dinobatkan menjadi raja, menggantikan tahta ingkang rayinya bergelar Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senapati ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama VIII di Surakarta.

Pada hari itu juga Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Arya Prabuwijaya diangkat menjadi Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Seluk beluknya wisudan tidak dikisahkan, dan hanya diungkapkan secara ringkas.

Setelah wisudan raja dan pengangkatan Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom diundangkan, keduanya lalu diarak keliling kota. Dilakukan seperti adat yang telah berlaku dalam hal wisudan raja. Diiringkan oleh seluruh punggawa besar-kecil. Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara beserta seluruh Legiunnya, para pangeran di Mangkunagaran, para punggawa mantri, semua menghadap ke datulaya. Semua memberi pakurmatan kepada yang baru saja winisuda menjadi raja.

Sesudah berkeliling kota dan mengelilingi tembok datulaya Ingkang Minulya lalu kembali ke datulaya. Segenap pendherek, punggawa, putra maupun sentana lalu bubar kembali kepada tugasnya masing-masing.

Tiga hari kemudian Ingkang Minulya mengangkat ketiga orang putrinya. Kesatu, Kanjeng Ratu Bandara diberi gelar Kanjeng Ratu Kedaton; kedua Bandara Raden Ayu Adiwijaya diberi gelar Kanjeng Ratu Bandara; ketiga Bandara Raden Ayu Purbanagara diberi gelar Kanjeng Ratu Angger.

Beberapa bulan kemudian Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan mengangkat dan memberi kedudukan kepada para putra dan sentana sesuai dengan kewajiban mereka, yakni

1. Raden Mas Sukirman,

2. Raden Mas Akadiyat, keduanya adalah cucu mendiang ingkang rayi, Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VII, putra Pangeran Suryaningrat. Yang tua, ialah Raden Mas Sukirman mendapat gelar Kanjeng Pangeran Arya Cakranagara, sedangkan Raden Mas Akadiyat mendapat gelar Kanjeng Pangeran Arya Cakradiningrat.

Cucu Ingkang Minulya sendiri, yakni adik Kanjeng Pangeran Arya Adiwijaya yang bernama Raden Mas Katir mendapat gelar Kanjeng Pangeran Adisurya. Raden Mas Arya Pamot diangkat dengan nama Pangeran Arya Pamot.

Putra mendiang Kanjeng Pangeran Arya Pringgakusuma menggantilkan kedudukan ayahandanya dengan mendapat gelar seperti nama ayahnya, Kanjeng Pangeran Pringgakusuma.

Putra Kanjeng Pangeran Panji Anem menggantikan kedudukan ayahandanya, dan mendapat gelar Kanjeng Pangeran Arya Dipakusuma. Putra Kanjeng Pangeran Rangga juga menggantikan kedudukan ayahandanya, dan mendapat gelar Kanjeng Pangeran Arya Danukusuma. Ingkang Minulya juga berkenan menaikkan kedudukan para wedana, kliwon ke bawah, khususnya bagi mereka yang mempunyai warisan kedudukan. Dan masih banyak lagi para abdidalem yang mendapat anugerah kenaikan pangkat.

Terlalu panjang kalau semuanya dikisahkan. Kembali kepada cerita Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara IV, tetaplah usahanya dalam meningkatkan kesejahteraan negerinya. Keamanannya baik, sehingga tak ada yang dikawatirkan.

BACA JUGADialektika

Pada hari Kamis Legi tanggal 18 Besar, tahun Jimakir 1786 mengawinkan dua orang putra baginda, ialah:

1) Raden Mas Arya Gandasiwaya, dinikahkan dengan Bandara Raden Ajeng Samsikin, putri mendiang Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara III.

2) Bandara Raden Ajeng Suwiyati, menikah dengan putra Kanjeng Pangeran Arya Surya Candranagara dari Demak, bernama Raden Mas Tumenggung Arya Surya Candranagara, bupati Kudus. Ijab dan temunya kedua putra Ingkang Minulya itu diselenggarakan di Mangkunagaran, akan tetapi keramaiannya tidak dikisahkan.

Pada hari Jumat tanggal 26 Besar, tahun Jimakir 1786, bersama-sama dengan Pelaksana eksekutif lokal, Sri Paduka Kanjeng Gusti nitipriksa wilayah desa Anggabayan dan Kaduwang. Dua hari menjelang keberangkatan Sri Paduka Kanjeng Gusti, rombongan Raden Tumenggung Mangkureja mendahului untuk memeriksa semua jalan dan penginapan.

Sehari kemudian berangkatlah para abdi urdenas manca Tuan Barem membawa segala macam peralatan perkebunan kopi. Berangkat pula pada waktu yang sama para abdi Jayengan membawa peralatan ngunjukan, dan tempat tidur buat Sri Paduka Kanjeng Gusti dan para tuan-tuan.

Sri Paduka Kanjeng Gusti berangkat Pada hari Jumat pukul enam pagi, mengenakan busana manca sipil berkendaraan. Para sentana yang turut ialah: Kanjeng Pangeran Mayor Arya Surya Nataningrat, Kanjeng Pangeran Arya Suryadiningrat, Kanjeng Pangeran Arya Suryamataram, Kanjeng Pangeran Arya Gandakusuma, Raden Mas Mayor Arya Jayaningrat, Raden Mas Mayor Arya Brajanata.

Beberapa orang opsir, 25 orang dragunder dipimpin oleh Raden Mas Arya Jayaatmaja.
Para abdi punggawa mantri dan pananjungan yang turut dipimpin oleh Raden Mas Arya Sasradiwirya dan Ngabehi Jayasentika.

Selain yang sudah disebut masih banyak para sentana, abdi, punakawan besar-kecil yang turut, semuanya berbondong bondong di belakang kendaraan Sri Paduka Kanjeng Gusti.

Rombongan langsung menuju ke Sasana Tata Praja. Beberapa saat kemudian Pelaksana eksekutif lokal keluar lalu berangkat bersama Sri Paduka Kanjeng Gusti. Yang mengiringkan Pelaksana eksekutif lokal ialah seorang manca bernama Tuan Likarndi, dan seorang Lurah opas. Perjalanan rombongan tersebut diatur sebagai berikut: Yang berjajar paling depan ialah 4 orang prajurit langsir. Para sentana dan para abdi punggawa, mantri dan sebangsanya berada dekat di belakang Sri Paduka Kanjeng Gusti. Dragunder dan opsir-opsirnya berada di ujung belakang.

Perjalanannya, setelah melewati benteng datulaya sampailah ke Alun-alun Selatan.
Setibanya di Grogol, Raden Mas Arya Jayaningrat, Raden Mas Arya Brajanata, Kanjeng Pangeran Arya Suryadiningrat, dan para opsir yang tidak memimpin barisan semuanya kadhawuhan pulang.

Sri Paduka Kanjeng Gusti dan Pelaksana eksekutif lokal meneruskan perjalanan.

Gambuh

Lir sarengat iku,
Kena uga inganaran laku,
Dhingin ajeg kapindhone ataberi,
Pakolehe putraningsung,
Nyenyeger badan mrih kaot.

Wong seger badanipun,
Otot daging kulit balung sungsum,
Tumrah ing rah memarah antenging ati,
Antenging ati nunungku,
Angruwat ruweding batos.

Mangkono mungguh ingsun,
Ananging ta sarehne asnafun,
Beda beda panduk panduming dumadi,
Sayektine nora jumbuh,
Tekad kang padha linakon.

Nanging ta paksa tutur,
Rehne tuwa tuwa se mung catur,
Bok lumuntur lantaraning reh utami,
Sing sapa temen tinemu,
Nugraha geming kaprabon.

Samengko sembah kalbu,
Yen lumintu uga dadi laku,
Laku agung kang kagungan Narapati,
Patitis tetesing kawruh,
Meruhi marang kan momong.

Sucine tanpa banyu,
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu,
Pambukane tata titi ngati ati,
Atetep telate atul,
Tuladha marang waspaos.

Mring jatining pandulu,
Panduk ing ndon dedalan satuhu,
Lamun lugu legutaning reh maligi,
Lageane tumalawung,
Wenganing alam kinaot.

Yen wus kambah kadyeku,
Sarat sareh saniskareng laku,
Kalakone saka eneng ening eling,
Ilanging rasa tumlawung,
Kono adiling Hyang Manon.

Gagare nggugar kayun,
Tan kayungyun mring ayuning kayun,
Bangsa anggit yen ginigit nora dadi,
Marma den awas den emut,
Mring pamurunging lelakon.

Samengko kang tinutur,
Sembah katri kang sayekti katur,
Mring Hyang Sukma sukmanen saari ari,
Arahen dipun kacakup,
Sembaling jiwa sutengong.

Sayekti luwih perlu,
Inganaran pepuntoning laku,
Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin,
Sucine lan awas emut,
Mring alaming lama maot.

Dalam masa pergerakan nasional Mangkunegara VII amat aktif. Pernah memimpin organisasi Budi Utomo. Saat belajar di Eropa juga aktif dalam kegiatan sosial pendidikan.

Lapangan budaya punya prestasi cemerlang. Mangkunegara VII menciptakan lakon pedalangan ringgit purwa. Serial cerita pewayangan buat panduan para dalang. Beliau ahli pakem pedalangan. Mangkunegaran tampil sebagai komunitas makmur beradab. Patuladan ingkang prayogi.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian