Babad Mangkunegara V

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp. 087864404347)

 

A. Sejarah Asal Usul Sri Mangkunegara V

 

Masa pemerintahan Sri Mangkunegaran V berlangsung tahun 1881 – 1896. Perkebunan milik Mangkunegaran berkembang sesuai dengan harapan. Abdi dalem dan aparat Pura Mangkunegaran hidup makmur. Mereka bekerja dengan bahagia.

 

Asal usul Sri Mangkunegara V sangat memungkinkan untuk mendapatkan legitimasi sosial politik di Pura Mangkunegaran. Punika putra

dalem KGPAA Mangkunegara IV. Miyos saking Garwa Padmi.

 

Asma timur BRM Sunito. Wiyosan dalem ing dinten: Senen Legi 29 Rejeb Dal 1783 Windu Kuntara utawi 1855 Masei. Jumeneng dalem: Senen Kliwon 11 Sawal Jimakir Windu Adi 1810 utawi 5-7-1881. Yuswa 27. Garwa dalem putrinipun KPH Hadiwijoyo III.

 

Mboten peputra, sasedanipun garwa lajeng mboten krama malih. Surud dalem: Malem Jumah Legi 24 Rabingul akir. Jimakir 1826 Windu Sengara, utawi 2-10-1896. Yuswa 43 warsa. Dhawah saking kapal. Sumare Astana Girilayu. Jumeneng dalem 16 warsa.

 

Para Putra dalem:

 

1. B.R.Ay. Sutowijoyo

2. KPA Suryokusumo

3. B.R.Aj. Samekti seda timur

4. B.R.Ay. Kartoprojo

5. B.R.Ay. Kusumodiningrat, garwa G.P.H. Sumodiningrat putradalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX.

 

6. B.R.Aj. Sutinah seda

7. KPA Suryosutanto

8. KGPAA Mangkunegara VII B.RM Suryosuparto

9. KPA Suryosukanto

10. KPA Suryosurarso

 

11. KPA Suryosugianti

12. B.RM Surarto, dewasa seda

13. KPA Subandriyo

14. B.R.Ay. Daryosugondo

15. K.P.Ar. Suryosumarno

 

16. B.R.Ay. Mloyokusumo, garwa G.P.H. Mloyokusumo putra dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX.

17. KPA Suryosuwito

18. B.R.Ay. Warsodiningrat, garwa Bupati Blitar

19. KPA Suryosumanto

20. B.R.Aj. Subastuti, dewasa seda

 

21. KPA Suryosurarjo

22. B.R.Aj. Sugiyanti, seda timur

23. B.RM Sukamto, seda

24. KPA Subandoro

25. KPA Suryosumasto

 

Usaha Pura Mangkunegaran untuk mengembangkan pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu mendapat dukungan dari Sri Susuhunan Paku Buwana IX yang memerintah di Kraton Surakarta tahun 1861-1893.

 

Perusahaan gula ini berhubungan pula dengan usaha jawatan kereta api dan perkebunan tebu. Lapangan pekerjaan terbuka luas sehingga sekalian rakyat bisa turut berpartisipasi. Kemakmuran pun merata di seluruh kawasan Pura Mangkunegaran. Rakyat hidup aman damai.

 

B. Kebijakan Diplomasi Kenegaraan

 

Kebijakan diplomasi kenegaraan yang dilakukan Pura Mangkunegaran meliputi bidang berdagangan, kebudayaan, kebahasaan, kesusastraan dan kesenian. Para pakar budaya Mangkunegaran banyak dikirim ke mancanegara untuk memberi pelatihan. Usaha diplomasi ini berhasil dengan gemilang.

 

Orang-orang Bali dijadikan prajurit, disatukan dengan Prajurit Gulang gulang, Pangeran Adipati, berhenti ditempat tersebut, dengan raja-raja di Tegalsari, gembul bujana andrawina ikan, tidak henti menari-nari, main kartu, melihat tari bedaya dan, menghibur para prajurit. Pangeran Adipati mangkunegara, senopati yang berkeliling serta tangguh kuat, jikalau perang sangat kuatnya, raut mukanya berseri-seri mahir dalam ilmu perang, percaya akan kewiraaanya, tutur katanya indah dan menawan hati, disenangi para prajurit.

 

Beriman dan percaya akan dirinya, kuat hati senang serta senang kepada kemahiran, selaras dengan sikap lakunya, dapat menghubungkan satu dengan lainnya, kuat sentausa, biual gerak, semuanya tercangkup, sangat berfaedah atau serta kata dan karahayon, karena bagaikan harumnya cendana. Bagaikan matahari yang menembus keheningan, mengalir manis bagaikan madu, tambahan lagi sangat mahir dalam melatih Prajurit-prajurit, seiya sekata, yang menimbulkan kekuatan, tahu dan mengerti tata cara mengatur negara sangat siap sedia.

 

Seterusnya Pangeran Adipati bertolak dari Tegalsari, pada hari Senin Wage tanggal 17, bulan Besar dan berjalan kearah barat, tahun Je, suaranya ramai sekali, anak dan garwa dibawanya, ke barat laut, arahnya dan menuju Sukawati, untuk bermalam dan rekreasi. Berada di desa Semampir selama semalam, keesokan hari berangkat dan rekreasi, disebut desa, ketepelan untuk semalam keesokan hari bertolak dan rekreasi lagi, di desa Pakuwon, rekreasi selama dua malam seterusnya datanglah duta, yang diutus oleh Ideller, mereka berjumpa ditengah jalan.

 

Malang Semirang bersama beberapa orang, dan dengan dari Karang Anyar yang datang, membawa banyak sekali oleh-oleh (tandamata, cinderamata), baju, sengkelat warna merah dan ungu, serta ada yang dibuat dari beludru warna hijau serta kuning, baju-baju ala Wong Bule, indah sekali bajunya, dengan baju dari emas, serta memperoleh minyak wangi, yang dikirim/diberikan oleh Ideller. Adapun baju a la Wong Bule, adalah kiriman suana solo, disertai sepucuk nawala, semuanya telah diserahkan, seterusnya Pangeran Adipati memberikan aba-aba, berangkat, sehari penuh berjalan, dan berekreasi di desa Sengor, hanya semalam dan keesokan harinya berangkatlah, dan seterusnya berekreasi di Lencong.

 

Pagi hari bertolaklah dan bermalam, didesa Murong selama 7 hari, seterusnya berangkatalah dengan bala tentaranya, berekreasi di tugu, tanggal 1 bulan Sura, hari Ahad Paing, tahun Dal, seterusnya tibalah seorang duta, dari Henekuda raja, nama Nagayuda. Wirapraya serta teman-teman, ditugaskan untuk mengambil nawala, apa yang diminta, kepada cucunya telah disampaikan, terimalah nawala, yang ditujukan kepada Pangeran Adipati, dan seterusnya duta tersebut, Telah diberi nawala isi jawaban, nawala ditujukan Henekuda, dan berangkatlah duta.

 

Pada hari Rabu Kliwon, tanggal 4 berangkatlah Sorogeni, disertai Prajurit Bugis, kepergiaan dengan Prajurit. Menghadap Pangeran Adipati dan menyerahkan diri, serta menyerahkan keris yang diukir, dihiasi emas serta lain, kuda yang berbulu hitam, seterusnya datanglah seorang duta, dari pemalang, Wiranegara, yang dijadikan duta adalah patihnya, menyampaikan sepucuk nawala kepada kanjeng Pangeran Adipati Harya Mangkunegara.

 

Telah dipahami isi nawala, isi nawala dari Wiranegara, adalah mohon memperoleh daerah, adapun yang dikehendaki, tanah/daerah yang berada di sebelah timur gunung wilis, tanah/daerah keseluruhan Wiranegara lah yang akan menguasainya, waktu itu Pangeran Adipati, telah diterima permohonan Wiranegara, seterusnya duta tersebut.

 

Dipersilahkan pergi dan disertai sepucuk nawala, bersamaam duta Kanjeng Pangeran, bersamaan paring dawuh, mengirim Prajurit ke arah timur, bersama serta negara, ditugaskan mengumpulkan, Prajurit dari Surabaya, yang berada di Kediri waktu itu, bersama anak buah Prajurit suwethi, dibalasa sepucuk nawala dari Ingkang Rama.

 

Pangeran Adipati menjawab nawala kepada Ingkang Rama kanjeng Susuhunan, menyetujui kehendaknya, adapun yang diutus kabayan dari Prajurit Sorogeni, Abang irenglah pesertanya, kabayan merangge, serta kabayan mrangtandang, serta Singamenggala suami garwa, namanya tidak disebutkan.

 

Sekembalinya diberilah nawala, Oleh susunan kepada Anggernya, serta duta, dia menggal, yang dikehendaki Sri Narpati, menyerahkan seorang putra, tidak turut serta, menyerahkan diri, menyerahkan tanah/darerah kepada Pangeran Adipati, demikian kehendak Ingkang Rama.

 

Putranda berangkatlah, serbulah Mataram Hadiningrat, waktu ayahanda turut serta, serta angger menyesuaikan diri, bulan sura tahun dal, kanjeng Pangeran Adipati, yang bersedia, negara Mataram Hadiningrat, kepada Ingkang Rama, serta mengirim duta lagi, serta sepucuk nawala. bersedia menerima tugas mengatur daerah, yang diutus singa menggala, menyampaikan sepucuk nawala, serta penjagaan/pengawalan, Prajurit sorogeni serta lain-lain, Prajurit poleng, Prajurit tamtama, maranggo bugis, kabayan, perjalanan mereka sepuluh hari dan sampailah, di Ingkang Rama Susunan.

 

Sangatlah gembira hati Rama narpati, Ingkang Rama, kanjeng Srinarendra Pangeran Adipati prajurit, mantri serta tumenggung, sangatlah bersenang hati, seterusnya Pangeran Adipati, mengirimkan duta ke selatan, memanggil para garwa, yang berada di desa Kebon telah siap sedia, memenuhi Sumareja.

 

Diiringi para mantri, mantri jajar dari timur seluruhnya, adapun yang memimpin, jabra lima, berangkat pada hari jumat pahing, tanggal 27, hari senen pon, kestabel seorang manca datang, tanggal 28 bulan sura, berangkat dari Solo. Pagi hari Adipati memberi perintah, berangkat dari pesanggrahan tugu, kearah selatan wadya prajuritnya, mereka berada di tugu, Pangeran Adipati, sebulan lamanya, beristrahat di tugu, berangkat ke Somareja, hari senin legi bulan sapar, tanggal satu.

 

Tahun Dal, diberi sengkala, Trus Pandita Ngobahaken Jagad (1679), sewaktu berangkat dari tugu, sorogeni berada didepan, bersama Prajurit abang cemeng poleng, hijau, seta, Prajurit mranggo dengan tombaknya, pasukan Bugis dan tamtama, Prajurit sorogeni berjalan di tepi kali, datang di desa Kasempangan.

 

Mendekat dan siap sawego ing gati dan dihadapi rananggana di Kasempangan, Prajurit Jawa Bugis Bali, yang memimpin Prajurit manca, empat orang yang memimpin, bertempur di sebelah timur Kasempangan, menang perang, Prajurit.

 

Pagi harinya, membubarkan diri, seterusnya bergerak ke arah tenggara, lengkap dengan putra-putra garwa-garwa, bertemu di Delanggu dan juga hendak menyampaikan bahwa bertemu di Tambak Baya, disebelah selatan kali, Seterusnya Pangeran adipati rekreasi, dengan bala tentaranya di Tambak Baya, hanya dua malam keesokan hari terdengar aba-aba yang menggebu, untuk bergerak kearah barat, seterusnya Somorejo, sehari dan datanglah, bermalam di Somorejo, tiba pada hari Jumat Kliwon, Sapar tanggal 5. Seterusnya datanglah seorang duta, duta dari Ingkang Rama Susunan, menyampaikan penari bedaya yang namanya Sampet, diberikan kepada Pangeran Adipati, waktu kanjeng Pangeran, sakit cangkrangen, dan panas dingin kehadiran penari bedaya pada hari Sabtu Legi, datanglah penari tersebut.

 

Dari Sutawirta memperoleh seorang, seterusnya Sunan memberikan sepucuk nawala, seterusnya Pangeran Adipati, menjawab isi nawala, seterusnya kanjeng Pangeran Adipati mengutus adiknya, menyerang, terhadap Surawijaya, yang bersiap sawego ing gati di Kathitang, Pangeran Mangkudiningrat, adalagi yang ditugaskan, bupati Jagaraga, nama Tirtayuda, serta Randipura, serta Kartadirja dan teman-teman, raden Semaningrat, Magetan tempat tinggalnya, semuanya ditugaskan, berangkat ke Dokowati untuk bandayuda, Wirarena yang bertugas.

 

Datanglah Pangeran Mangkudiningrat, kembali ke Somareja telah disampaiakn jalannya perjalanan, Pangeran adipati, menugaskan menyampaikan nawala, kepada Ideller di Semaranag, adapun yang ditugaskan, mantari Jero Jawirna, kebernagkatan, jawirna adalah pada hari kamis, tanggal 25. belenda, berangkat ke Prambanan, Wong Bule bertemu tida orang ada Wong Bule yang menyerahkan diri, berasal dari Prambanan berjumlah seorang, diserahkan kepada Pangeran Adipati, Wong Bule yang takluk, menyerahkan bernama, Carik ki Sastrasemita, dari Kusumareja.

 

Seterusnya kanjeng Pangeran Adipati memerintahkan untuk membuat tempat berteduh, di alun-alun, dipagari bambu, dan seterusnya berada didalamnya, jikalau malam datang dan pukul tujuh, pintu ditutup tidak diperbolehkan orang memasuki dan keluar, jikalau pagi datang dan pukul 6 pintu terbuka oleh kusumareja. Adapun Wong Bule tetap berada, di gunung Gamping daerah Mataram Hadiningrat, dan sawego ing gati di Prambanan, Pangarsanya keber, Prajurit Wong Bule di Prambanan, sering melakukan nawala menyurat, secara teratur, nawalanya baik-baik, adapun kapitren Skeber berada di Prambanan, juga melakukan nawala menyurat.

 

Patinya Pangeran Adipati, yang bernama Kudanawarsa, duta berkali-kali datang nawala menyurat, Oleh kanjeng Pangeran Adipati, yang berada di Kusumareja, seringkali menari tayub, membuat suka cita. Prajurit, makan dan minuman bersama sekalian punggawa dan sekalian keluarga.

 

Di samping itu, berusaha mencari tenaga, untuk dijadikan gulang-gulang Prajurit yang kuat, berjumlah 40 orang, berkain kotak-kotak dan serasi, bendernya juga demikian dan baik, pakai keris berukir, dan semuanya, berpakaian kotang dari renda, berikat kepala kain sutera kuning, sangat banyak makannya. Tiap sore lengkap menghadap gusti, didepan kanjeng Pangeran Adipati, dan diangatnya semuanya dilatih dengan tekun, seterusnya putra adiknya, Pangeran Mangkudiningrat, dikhitankan, pada tanggal 27, dirayakan dalam bulan Rabiul Akhir, tahun Dal.

 

Waktu itu kakeknya datang, di rumah adiknya dan main kartu, diberi sembahan salvo kehormatan, rentetan bunyiannya, sekembali Pangeran Adipati, dari Pakuningratan, menari-nari tayub, bersama prajurit, nama rasa asmara kasih bersama.

 

C. Semangat Berbangsa Bernegara

 

Dhandhanggula

 

Yogyanira kang para prajurit

Lamun bisa sira anulada

Duking uni caritane

Andelira Sang Prabu

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *