Gelar Budaya di Negeri Belanda

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

1. Njajah Desa Milang Kori di Benua Eropa.

Budaya merupakan sarana untuk menjalin persahabatan antar bangsa. Gelar seni budaya di Negeri Belanda bisa mendekatkan tali persaudaraan. Diplomasi kenegaraan berjalan lancar, lumampah anut wirama.

Boleh kiranya menoleh masa silam sejenak. Penjelajahan ke benua Eropa mengingatkan interaksi dengan bangsa Asia selama berabad-abad. Rombongan pentas keliling di berbagai kota: Denhaag, Amsterdam, Enschede, Volendam, Artez, Vrijdag dan Prismare. Di sela-selanya diadakan kunjungan sebentar di negeri Jerman, tepatnya di kota Utrech. Dengan penjadwalan yang cukup ketat dan disiplin di tiap-tiap kunjungan itu diadakan pagelaran seni.

Selama di Belanda Tim akan dipandu oleh Atase Pendidikan Belanda, Bapak Ramon Mohandas Ph.D, juga Prof. Dr. Annie Makkind yang merintis kerjasama seni ini sejak awal. Pada awal tahun 2010 bahkan Prof. Annie pernah memberi briefing wejangan di rumah makan Boyong Kalegan di Kaliurang Yogyakarta. Persiapan yang menakjubkan ditunjukkan oleh Bapak Frank Deiman. Beliau adalah Ketua Jurusan Seni Musik Artez Concervatorium Enschede.

Patut dicatat bahwa Kunjungan Seni budaya kali ini tidak cuma pentas saja. Statusnya berbeda dengan rombongan pengamen atau sekedar PY (payu). Lebih dari itu, tim seni merupakan duta budaya. Di samping menggelar seni, tim Seni Budaya berkewajiban untuk mengajar seni di tiap-tiap kota tersebut dengan dilakukannya workshop dan konser. Tim ini menjadi wakil bangsa Indonesia untuk mengajarkan seni budaya adi luhung kepada bangsa Belanda.

Pagi pun tiba, fajar menyingsing. Indah sekali dipandang dari pesawat. Tampak warna biru, kuning dan ungu menyala. Tak lupa sholat subuh dan dzikir. Subhanallah, nikmat Allah mesti disyukuri. Sarapan nasi gurih (sega uduk) segera hadir dengan minuman teh hangat. Kami sarapan dengan lahap.

Rombongan yang sedang berdarma wisata di kota Amsterdam, Denhaag akan berpendapat bahwa kota itu dibangun karena jasa orang Indonesia. Hasil bumi dan alam Indonesia menjadi modal yang berharga. Perumahan penduduk Nederland sungguh teratur. Jangan lupa bahwa modalnya tetap berasal dari tanah jajahan. Mendhem jero mikul dhuwur, nenek moyang tetap berkontribusi tinggi terhadap kemajuan peradaban bangsa Belanda. Sikap yang tepat perlu dibangun dan dikembangkan sehingga tidak terjadi sikap yang berlebihan. Apalagi silau layaknya budak yang membungkuk. Tidak boleh.

Sebenarnya dalam perspektif psikologi orang Indonesia terjadi jiwa yang terbelah. Terkait dengan Belanda, sejak jaman orde lama, orde baru dan orde reformasi banyak kelirunya. Setelah merdeka para diplomat Indonesia kalah telak menghadapi kemampuan diplomat Belanda. Penyebabnya sederhana, para diplomat kita mengandalkan kemampuan orasi lisan.

Sementara diplomat Belanda selalu melengkapi dengan data, fakta dan analisa. Celaka sekali hasilnya. Hingga saat ini bangsa Belanda hanya mau mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 setelah kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar di Denhaag.

2. Pagelaran Wayang di Kota Denhaag.

Pertunjukan wayang purwa di KBRI Belanda tanggal 26 September 2010. harinya sore kira-kira pukul 17.00 waktu Belanda. Kalau di Indonesia sudah pukul 23.00 WIB. Selisih waktu Indonesia Belanda memang 6 jam. Bagi kami perbedaan waktu memang agak mengejutkan. Kadang-kadang jadwal menjadi agak kacau.

Tepat dengan jadwal yang ditentukan, Pak Dubes pun datang. Acara pentas seni segera dimulai. MC membawakan urutan acara. Dia seorang putri yang berjilbab. Seremonial dilakukan sesuai dengan standar protokoler. Sambutan pertama oleh atase kebudayaan, yaitu Pak Ramon Mohandas. Lalu dilanjutkan Pak dubes. Kebetulan yang menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Belanda adalah Bapak Fanani Habibie. Beliau adalah adik kandung mantan Presiden BJ. Habibie. Terlebih dulu dilakukan dua gendhing soran untuk menyambut kedatangan tamu agung, Ladrang Sigra Mangsah dan Lancaran Kebo Giro.

Suasana sungguh sangat berwibawa, khidmat, tertib, terhormat dan akrab. Penonton yang diundang diantaranya Perkumpulan Pelajar Indonesia, Mahasiswa Pasca Sarjana, Staf Kedubes, Pejabat Deplu dan pariwisata. Penontonnya orang terpilih, sebagian dari mereka adalah para alumni UGM. Lebih dari 15 tahun lamanya tidak berjumpa.

Kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang purwa. Kami mengambil lakon Ramayana. Pertimbangannya adalah cerita ini sangat populer. Semua warga dunia pasti mengenalnya. Harapannya agar mudah diterima dan tidak sulit diikuti. Cerita yang sangat panjang itu kami ringkas, diambil bagian yang penting-penting saja. Tokoh-tokohnya tidak semua dilibatkan. Jejer pertama Rahwana, Kala Manca, Paddhas Gempal, Buto Terong dan Togog. Biar ada sedikit humor, Buto Terong saya beri dialek bahasa Belanda. Namanya saya ganti menjadi Ditya Kala George Bush. Penonton pun tertawa ger-geran.

Antawacana, suluk, lagu, keprak, dhodhogan dan alur cerita memang digarap secara matang. Tujuh bulan lamanya latihan serius. Target yang kami karapkan pun terpenuhi. Semua penonton secara bergilir memberi ucapan selamat. Satu per satu semua pengrawit dan dalang disalami. Saat itu aula memang penuh. Jumlah kursi tidak tersisa, bahkan sebagian rela berdiri. Mungkin mereka haus seni budaya.

Jauh di negeri orang, tentu pikiran kerap melayang, rindu kampung halaman. Terlebih-lebih yang pisah dengan anak dan istri, perasaan kangen selalu menggebu. Barangkali pentas wayang purwa ini merupakan obat rindu yang mujarab. Seolah-olah mereka kembali di negaranya sendiri. Seni ternyata kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi juga. Kita seharusnya merumuskan pemenuhan kebutuhan seni dengan program pentas yang jelas.

Sambutan hangat terus berlanjut sampai usai pertunjukan. Saat makan malam kami berbincang-bincang ngalor-ngidul. Beragam tema yang dibicarakan. Umumnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kekayaan seni budaya, adat istiadat, historis, tanaman, kuliner dan binatang. Indonesia sungguh beruntung memiliki aneka ragam kekayaan. Tinggal mengolah, menjaga dan melestarikan jangan sampai rusak, apalagi punah. Generasi mendatang harus diwarisi dengan sesuatu yang berharga.

Hadirin yang diundang mengajak foto bersama. Kehadiran kami bak artis yang populer. Sana-sini ingin potret bareng. Hati kami jadi tersanjung. Lebih bahagia lagi karena anak muda yang tidak peduli dengan warisan budaya bangsanya tergugah lagi semangat nasionalismenya. Mereka jangan sampai kepaten obor atau tercerabut dari akar budaya bangsanya. Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane. Kesempatan masih terbuka luas.

Sebagian dari penonton itu malah mengajak kami berputar-putar kota Denhaag. Kota ini menjadi tempat tinggal Ratu Belanda. Hawanya sejuk, bersih dan segar. Boleh dibilang kota klasik. Gedung-gedung tua dengan arsitektur kuno tentu memikat siapa pun. Wajar bila bangunan klasik peninggalan pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga sekarang tetap berdiri kokoh, tegak, kuat dan tak pernah lapuk. Kewibawaan bangunan itu tetap saja terpancar.

Kami menginap di Wisma KBRI. Sebelahnya ada asrama mahasiswa Indonesia. Tak jauh dari situ terdapat Sekolah Budaya Indonesia. Kanan kiri terlihat bangunan berjajar indah dan megah. Ternyata kota ini memang tempatnya orang kaya. Rumah-rumah bagus dengan perabot legnkap mesti milik orang berduit. Sifat klasik kota Denhaag mengingatkan kami pada legenda kota Surakarta Hadiningrat, sebuah kota klasik Jawa yang menyimpan beragam keunggulan.

Penonton berkebangsaan Belanda bernama Prof. Dr. Annie Makkind merupakan orang yang simpatik dan hangat. Kami diberi hadiah jaket, satu per satu kami disuruh memilih yang cocok. Dengan menggunakan kendaraan bus, beliau dan rombongan membawa kami berkeliling kota Denhaag dan Amsterdam. Bus itu cukup bagus. Sopirnya orang Belanda yang gagah dan tampan, siap membantu apa saja. Tidak usah diperintah, dia pasti melaksanakan tugas dengan baik. Terkadang ada perasaan malu, ewuh pakewuh. Kenapa dia melayani kebutuhan kami? Padahal kamilah seharusnya yang ikut cancut tali wanda.

Di perjalanan Prof. Annie berlaku sebagai pemandu yang miraga, mirasa dan micara. Kota Denhaag ditelusuri melalui jalan tikus. Kalau lewat jalan tol katanya akan terasa membosankan. Mulai dari gedung-gedung pemerintah, perumahan penduduk, sekolah, naik sepeda, domba, sapi dan kerbau. Satu demi satu dijelaskan. Kadang-kadang diselingi dengan nyanyian. Orang ini sungguh luhur budinya. Kami mesti meniru.

Njajah desa milang kori, keesokan harinya, yaitu hari Senin tanggal 27 September 2010 kira-kira jam 09.00, beliau tiba di penginapan Wisma KBRI menjemput kami untuk diajak rekreasi di kota Amsterdam. Naik bus turun di tengah-tengah kota lantas naik perahu menelusuri kota.

Kanal-kanal di Amsterdam berfungsi sebagai jalan dan tempat wisata. Berputar-putar kota Amsterdam dengan perahu sungguh pengalaman baru. Sungainya bersih, lebar dan terawat. Andaikan kali Ciliwung dipelihara dengan baik, kota Jakarta pun tak kalah dengan kota Amsterdam. Jakarta, Surabaya, Semarang, Kediri, Madiun, Solo, Yogya, Bogor dan Bandung punya sungai, tetapi kondisinya selalu menyedihkan. Faktanya kita kaya, tetapi malas untuk menjaga.

Seandainya sampah-sampah tidak dibuang di sungai, seandainya kotoran tak berserakan, seandainya plastik tidak menggunung, kota-kota di Indonesia akan tampak sangat indah. Bisa mendatangkan rejeki. Merupakan kekayaan yang berlimpah ruah. Perlu ada pelajaran khusus yang menyadarkan fungsi sungai. Mungkin pernyataan ini sudah biasa dan terasa menjemukan. Usulan ini ringan dan mudah.

Modernitas ternyata tak harus ditunjukkan dengan sifat konsumtif. Di kota-kota besar di Eropa ternyata banyak ditemukan orang bersepeda. Jarang orang menggunakan sepeda motor. Penggunaan sepeda onthel juga dilakukan oleh para menteri, gubernur, hakim, jaksa dan anak sekolah. Di sinilah teori dan praktek sosial benar-benar diterapkan. Satunya kata dan perbuatan, ber budi bawa laksana.

Ada gedung yang terkenal di kota Amsterdam, namanya gedung Batavia. Ternyata nama ini lebih terkenal dibanding dengan Indonesia. Kata Batavia tetap dianggap bernilai sejarah oleh bangsa Belanda. Rupa-rupanya banyak warga Nederland yang selalu bermimpi untuk mengunjungi negeri Hindia Belanda yang beribu kota di Batavia. Peristiwa historis tersebut merupakan lambang kejayaan nenek moyangnya.

Selintas kilas kami menjumpai pasar tradisional yang menjual benda-benda bekas. Namanya Pasar Surabaya. Kayaknya banyak orang Jawa Timur yang tinggal di sekitar pasar klithikan ini. Warga Indonesia sebagian telah menjadi warga negara Belanda. Mereka mencari penghidupan di sini. Beranak pinak dan krasan di kota Denhaag. Orang Indonesia berlalu lalang, ketemu sedulur sendiri.

Selama 3 jam mengamati kota Amsterdam, perjalanan kami lanjutkan ke pantai Volendam. Lagi-lagi kami ingat Pantai Genjeran, Popoh, Marina, Banten dan Ancol. Sebenarnya pantai di Belanda indahnya tak seberapa, tapi dirawat dengan baik. Nasib pantai di Indonesia lagi-lagi sama dengan sungai, pasirnya kotor oleh sampah plastik yang tak kunjung diatasi. Semoga saja cepat sadar.

Ketika masuk di studio foto, ada dua pengunjung Indonesia yang dijadikan kebanggan Pantai Volendam. Mereka adalah tokoh besar Indonesia, Gus Dur dan Megawati. Tokoh politik ini cukup populer. Namanya memang mendunia. Kita pantas berbangga. Dua presiden Indonesia menghiasi layar dunia, cukup menyejukkan hati.

Ber bandha ber bandhu, bahwa orang hidup itu mesti banyak sedulur. Dengan kata lain perlu menjalin tali silaturahmi. Sungguh mengharukan lawatan seni kali ini. Tanpa diduga tanpa dinyana, semua berjalan berkat bantuan seorang sahabat baru. Kebetulan beliau berasal dari Indonesia. Beliau membantu kami bersama seluruh anggota keluarganya.

Datang di Bandara Amsterdam disambut oleh keluarga Bu Ningsih. Asalnya dari Ambarawa Semarang, Jawa Tengah. Bermukim di Belanda sejak tahun 1999. Suaminya bernama Robbi, warga negara Belanda. Leluhurnya berasal dari Belgia. Pasangan suami istri ini menunjukkan kemurahan, keramahan dan ketulusan. Anaknya bernama Ferly yang sudah beristri pula, namanya mbak Messy. Pasangan muda ini tidak kalah sibuknya. Ferly dan Messy selalu cerah dan mesra. Kedua insan ini bertemu jodoh saat sama-sama kuliah di Utrich.

3. Artez Conservatorium Di Kota Enschede

Programma Lunchconsert 28 september 2010 12.30 uur Arkezaal Muziekcentrum. Rombongan UNY tiba di kota Enschede diantar oleh Bu Annie, Bu Ning Wonosobo, Bu Diet, Pak Anton dan Pak Frank. Kami menginap di hotel Amadeus. Semalaman istirahat. Wayang dan jaran kepang dititipkan pada petugas gudang. Tenaga harus dihemat. Hawa dingin lagi pula hujan gerimis terus menerus.

Pukul 4 pagi kami bangun, mandi, sholat subuh dan merapikan kamar tidur. Satu per satu barang kami cek dengan teliti. Pukul 09.00 lantas makan pagi, menunya roti dan telur. Sebelumnya telah diberi hidangan kentang serta minuman teh kopi. Kalau boleh diminta sebenarnya kami berharap suguhan nasi.

Artez adalah perguruan tinggi di kota Enschede yang mengkaji soal seni. Di Indonesia seperti Institut Seni Indonesia (ISI) dan STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia). Bersama dengan dosen dan karyawan serta mahasiswa Artez, kami belajar musik modern dan tradisional. Sejak pagi kami main musik bersama, hasilnya cukup menggembirakan. Semua pihak tampak berseri-seri, senang hatinya.

Mahasiswa Artez belajar seni gamelan pada kami. Mereka main: kendang, kempul-gong, kenong kethuk, saron, demung, peking, boning, gender, slenthem. Musik modern dan tradisional ini dimainkan secara kolaboratif. Acara kemudian dilanjutkan dengan menonton konser makan siang pada puukl 12.30. Tempatnya di Arkezaal Muziekcentrum. Penontonnya penuh sesak. Tidak ada kursi tersisa dalam gedung tersebut. Suasana hening dan khidmat. Musiknya bernada klasik. Kalau kami amati musik seperti ini pantasnya untuk suguhan para bangsawan. Adapun informasi dan komposisi lengkapnya: Davy de Wit 7 snarige bas, piano, ppy Noya, percussie, Sebastian Altekemp piano mmv Ruth van der Kloor, zang.

Saat menonton ini saya duduk bersebelahan dengan bu Endang Hendrawati. Beliau adalah pejabat dari Depdiknas, sekarang Kementerian Pendidikan Nasional. Sejak berangkat sampai di Belanda, beliau mengarahkan dan membimbing kami. Bagi kami, beliau adalah pelita harapan.

Kesan kami, konser musik ini terlalu serius. Tak ada suara yang berbunyi selain alunan tenang musik. Herannya, para penonton tetap setia menyaksikan. Tidak ditemukan suara berisik yang mengganggu. Mereka yang tak kebagian kursi, dengan rela duduk lesehan di lantai. Wajah mereka terlampau menikmati. Bagi kami penampilan musiknya cuma begitu-begitu saja. Pemuda-pemudi Indonesia pasti bisa melakukannya. Tinggal dibangun tradisi dan suasananya saja.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *