Pesanggrahan Pandhan Wilis Tempat Pengajaran Ilmu Kejawen

Maca owah gingsire jaman. Alun alun termasuk sarana umum yang menjadi kebanggaan bersama. Pagi, sore, siang dan malam selalu ramai untuk ngenggar-enggar penggalih, sambil jajan aneka panganan dan minuman, cenil, samplok, nagasari, gethuk, ketan, gandhos, mendut dan utri. Para bakul amat cekatan dan ramah melayani pembeli.

 

Ketika malam mulai larut, bakul sego pecel telaten jagongan bersama pelanggannya. Krupuk, rempeyek, tempe dan tahu berbaur dengan kuluban kembang turi, capar dan godhong tela. Begitulah rutinitas kota Nganjuk sehari hari.

 

Desa mawa cara, negara mawa tata. Berbeda dengan wilayah perkotaan, suasana pedesaan memang agak tenang dan sepi. Sawah dan tanduran merupakan hiasan utama.

 

Kadang kadang tampak ternak sapi dan kambing. Di tengah-tengah pemukiman biasa dijumpai ayam yang berkeliaran. Dari segi sosial ekonomi, kehidupan orang desa Nganjuk boleh dikatakan masih perlu perhatian.

 

Lapangan kerja yang monoton membuat para muda mudinya pergi merantau untuk mengadu nasib. Rupa rupanya mereka kurang tertarik untuk berkarir di desanya. Kemungkinan besar ketrampilan mereka tidak bisa diterapkan di kampung halamannya. Mereka perlu wadah baru, supaya keinginannya bisa di kampung. Kayaknya hanya kota besar yang cocok buat kehidupan mereka. Tata lahir amakarti, jroning batin angesthi Gusti.

 

Tata praja

 

Tata praja diatur sesuai dengan paugeran kang utama. Perjalanan sejarah keberadaan Kabupaten Berbek sebagai cikal bakal Kabupaten Nganjuk sekarang ini. Dikatakan cikal bakal oleh karena ternyata kemudian bahwa alur sejarah keberadaan Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan Kabupaten Berbek di bawah kepemimpinan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I.

 

Pada masa pemerintahan beliau telah dapat diselesaikan sebuah bangunan Masjid kuno yang bercorak Hinduistis disebut Masjid Yoni Al Mubarok. Agama ageming aji.

 

Setelah Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I meninggal dunia pada tahun 1760, sebagai penggantinya adalah Raden Tumenggung Sosrodirdjo tahun 1811. Kemudian Bupati Berbek dijabat Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo II. Kanjeng Adipati menggunakan etika kekuasaan sesuai dengan tuntunan sastra piwulang. Beliau punya hubungan yang erat dengan Raden Ajeng Sukaptinah, garwa prameswari Sri Susuhunan Paku Buwana IV.

 

Penggantinya adalah Raden Tumenggung Pringgodikdo. Untuk itu segala kewibawaan adegan wayang diawali dengan suluk pathet nem Ageng. Setelah beliau mangkat digantikan oleh Raden Tumenggung Soemowilojo.

 

Lantas diteruskan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo III. Putranya laki laki tertua: Raden Mas Sosrohadikoesoemo menggantikan menduduki jabatan sebagai Bupati Berbek. Pada masa jabatan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrohadikoesoemo mulai digunakannya itulah bang pengalum aluming praja.

 

E. Kepemimpinan Kota Angin

 

Para Bupati Nganjuk selalu berdarma bakti untuk kemajuan negeri. Alam semesta yang berlipat lipat guna kesejahteraan rakyat. Udhu bahu suku lan panemu digerakkan berdasarkan ilmu laku.

 

1. KRT Sosrokoesoemo I (1719 – 1760)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I di kraton Kartasura. Patihnya dijabat oleh KRA Sindurejo I.

 

2. KRT Sosrodirdjo, (1760-1811)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Mangkupraja I.

 

3. KRT Sosronagoro II (1811-1830)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Cakranegara.

 

4. KRT Sosrokoesoemo II (1830-1852)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat II.

 

5. KRT Pringgodikdo (1852 – 1866)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat III.

 

6. KRT Soemowilojo (1866 – 1878)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosronagara I.

 

7. KRT Sosrokoesoemo III (1878 – 1890)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Mangunkusuma.

 

8. KRT Sosrohadikoesoemo (1890 – 1936)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.

 

9. KRT Prawiro Widjojo (1936 – 1942)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.

 

10. KRT Mochtar Praboe Mangkoenagoro (1943 – 1947)

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.

 

11. Mr. R. Iskandar Gondowardojo (1947 – 1949)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.

 

12. R.M. Djojokoesoemo (1949 – 1951)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.

 

13. K.I. Soeroso Atmohadiredjo (1951 – 1955)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.

 

14. M. Abdoel Sjoekoer Djojodiprodjo (1955 – 1958)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.

 

15. M. Poegoeh Tjokrosoemarto (1958 – 1960)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

 

16. Soendoro Hardjoamidjojo, SH (1960 – 1968)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

 

17. Soeprapto, BA (1968 – 1978)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

 

18. Drs. Soemari (1978 – 1983)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Wakil Presiden dijabat oleh Adam Malik.

 

19. Drs. Ibnu Salam (1983 – 1993)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Wakil Presiden dijabat oleh Umar Wirahadikusuma.

 

20. Dr. Soetrisno R. M.Si (1993 – 2003)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati. Wakil Presiden dijabat oleh Tri Sutrisno, Habibie, Megawati dan Hamzah Has. Pada masa kepemimpinan Soetrisno ini memang sedang mengalami suksesi kepemimpinan nasional berkali kali.

 

21. Ir. Siti Nurhayati, MM (2003 – 2008)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono. Wakil Presiden dijabat oleh Hamzah Has dan Jusuf Kalla.

 

22. Drs. H.M. Taufiqurrohman (2008 – 2018)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Joko Widodo. Wakil Presiden dijabat oleh Boediono dan Jusuf Kalla.

 

23. Novi Rahman Hidayat, S.Sos. M.M, (2018 – 2021 )

 

24. Dr Drs H Marhaen Djumadi SE, SH, MM, MBA (2021 – 2023)

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Wakil Presiden dijabat oleh Jusuf Kalla dan Ma’ruf Amin.

 

Pendapa Kabupaten yang megah, alun alun yang luas, pasar Wage, Masjid Agung sebenarnya bantuan dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Hampir semua pendapa agung di seluruh tanah Jawa merupakan warisan Kraton Surakarta. Sudah sewajarnya bila orang Nganjuk mengucapkan terima kasih, karena telah berhutang budi.

 

Masyarakat Kabupaten Nganjuk menyebar ke seluruh kawasan nusantara. Njajah desa milang kori, njalak paningal mlaya bumi. Artinya mencari daya penghidupan, demi kejayaan masa depan. Warga Nganjuk akan menjadi wong sugih, kajen keringan, ayem tentrem lahir batin.

 

Lagu Kapribaden

 

Kabudayan kesenian pancen nyata.

Iku dadi pikukuh kapribadening bangsa.

Kerawitan pedalangan beksa olahraga.

Candi Ngetos wis nyata peninggalan kuna.

Pembangunan kuncara liyan praja.

Rerenggane kutha wis sarwa tumata.

Ja lali ja keri kutha Nganjuk nggon seni.

 

Nguri uri budaya bangsa dilakukan warga Nganjuk di mana saja. Misalnya trah Nganjuk yang merantau di Jl Kakap Raya 36 Yogyakarta. Adityo Jatmiko, Aryo Bimo Setianto, Anindito Wisnu Prasetyo bertugas dengan sepenuh hati.

 

Dibimbing oleh Sari Indah Setiani selaku pembina Sanggar Seni Pustaka Laras. Adat istiadat seni edi peni, budaya adi luhung leluhur tetap dilestarikan. Seminggu dua kali nabuh gamelan.

 

Kiprah ini tentu membawa suka cita. Jika Mbah Yatinem tahu, tentu gembira sekali. Tapi Allah telah nimbali Mbah Yatinem hari Kamis Pahing, 1 Januari 2004. Lalu Mbah Rijan dan Mbah Dini meneruskan momong putra wayah. Tanggal 17 Agustus 2021 Mbah Rijan surut ing tepet suci, manjing ing suwarga jati. Putra wayah wajib melanjutkan roda sejarah agung.

 

Pelajaran sejarah Kabupaten Nganjuk menyertakan perjalanan Kraton Medang, Kahuripan, Daha, Jenggala, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram dan Surakarta. Teladan utama layak untuk direnungkan. Tepa palupi kang migunani kanggo ngrenggani Jagad raya.

F. KRT Joyonegoro Putra Raja Surakarta

 

Ngungak jaman kang wus kawuri. KRT Joyonegoro sayekti trahing kusuma rembesing madu, wijiling amaratapa, tedhaking andana warih. Pangeran pinilih saka Karaton Surakarta Hadiningrat iki sejarahe perlu den uningani.

 

Rikala dina Kamis, 23 Desember 2021, Paguyuban Kawula Karaton Surakarta utawa Pakasa pang Nganjuk ngadani tata cara. Dipandhegani KRT Sukoco Madunagoro. Makarya bebarengan karo Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA cabang Nganjuk. Kanthi pangajab sejarah kang wus lumaku bisa ditlesih, kinarya kaca benggala.

 

Pangarsa Lokantara Cabang Kabupaten Nganjuk dipandhegani dening Ida Srimurtini. Lampahing pakaryan kanthi sigrak gumyak. Tata tata wiwit esuk. Nganthi sanak kadang pawong mitra. Dina samengko bakal sowan ing Pasareyan Luhur Manyung Wilangan. Ing kono bakal napak tilas lakoning sejarah kuna.

 

Pasareyan luhur mapan ing dhusun Manyung Wilangan Nganjuk. Ingkang sumare KRT Joyonegoro , putra dalem Sinuwun Paku Buwana II. KRT Joyonegoro palakrama kalian RAy Salamah utawi RAy Yatima, putri Kyai Kasan Besari. Dwija ulama saking tlatah Gebang Tinatar Ponorogo ingkang kawentar kebak ngelmu sipating kawruh.

 

Katrangan mau miturut dhawuh pangandika GKR Wandansari, Pangageng Sasana Wilapa lan ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat. Gamblang lan cetha menawa tlatah Nganjuk iku wewengkon Mataram Surakarta. Pratelan iki prayoga den gatekake.

 

Sri Susuhunan Paku Buwana II, narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Jumeneng nata tahun 1726 – 1749. Hadeging Karaton Surakarta Hadiningrat iku pindhahan saka Karaton Kartasura. Mesanggrah ing wilayah Ponorogo tahun 1738 – 1745. Ngasta peprentahan ingembanan Patih Pringgalaya.

 

KRT Joyonegoro diutus supaya mranata tlatah bang wetan. Mligi ing daerah Nganjuk. Suwene makuwon ing daerah Nganjuk, KRT Jayanagara disengkuyung dening para kawula dasih. Klakon daerah Nganjuk dadi laladan kang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

 

Nganjuk sangsaya tumangkar. Papan dadi reja. Among tani sengkut gumregut. Among dagang sengkah gumregah. Among karya sengket gumreget. Kabeh padha nindakake jejibahan. Nganjuk mekar arum kuncara ngejayeng jagad raya.

 

Tetimbangan mau njalari warga Pakasa nuli makarya. KRT Joyonegoro bisa kanggo tepa palupi. Labuh labet kang gedhe bisa ditulat minangka wulangan wejangan wedharan. Mligi tumraping para mudha, pancen perlu ngerti sejarah leluhur. Ing kono bakal nuwuhake watak wantu kang wicaksana.

 

Nlesih sejarah iki diiringi tim saka Yogyakarta. Kepareng ndherek Sari Indah Setiani, Partini, Izul, Anindito Wisnu Prasetyo, Rudy. Ana kang kajibah nyatheti prastawa dalan, sesawangan lan alam. Andum gawe murih gancar lancar.

 

Dene tim Pakasa lan Lokantara Nganjuk siaga ing gati, sawega ing dhiri. Kumpul ing desa Mojorembun Rejoso Nganjuk. Kawiwitan jam 12. Uba rampe jangkep genep genah. Ing pangangkah asil panaliten bisa murakabi.

 

Rombongan tim Pakasa lan Lokantara Nganjuk manggon ing Sanggrahan Kedondong Bagor Nganjuk. Wus kulina ngadani maneka warna acara adat.

 

Pakasa Nganjuk mersudi tata cara kanthi permati. Wus sumadya uba rampe pisowanan ing Pesareyan Luhur Manyung Wilangan. Sekar kenanga, mlathi, mawar, kanthil aganda arum. Sinebaran lisah wangi amrik sumerbak.

 

Nyi Behi Sunarmi Sekar Rukmi lan Nyi Behi Indarti Puspodiprojo kapatah nyamaptakake uba rampe nyekar. Loro lorone busana warna biru. Gita gita nawung gati. Amrih tata cara nyekar lumaku nut wirama. Padha dene rancangan sekawit.

 

Kamis, 23 Desember 2021 jam 14.30 budhal saka Sanggrahan Kedondong Bagor. Kantor Pakasa pang Nganjuk iki dadi papan mencaring Kabudayan. Wanci jam 14.50 tekan Pasareyan KRT Joyonegoro.

 

Papan Pasareyan KRT Joyonegoro kena diarani kopen kajen. Cerak ing perenging gunung Pandhan. Sisih kidul wetan. Lore mili banyu wadhuk kali Bening lan dam Glathik. Kayu jati pating trucuk ngupengi laladan Pasareyan.

 

KMT Ida Madusari kang ngusuhi Lokantara cabang Kabupaten Nganjuk bebusana kuning. Katon sumringah. Tumuli padha nenuwun, manungku puja. Puji pinuji mugi sami basuki lestari.

 

Angin sumilir atis anyep. Seger neng salira. Udan grimis, nanging sinar srengenge isih katon padhang jingglang. Pratandha panuwunan kabul. Swarane gludhug sarwa wirama. Kaya kumandhange gamelan lokananta ing Kahyangan Junggring Salaka.

 

Kiwa tengene Pasareyan ditanduri kembang. Prasasat taman argosoka. Ijo royo royo, ijem riyem riyem. KRT Sukoco Madunagoro mimpin tata cara kanthi tumemen. Nganti jam 15 tetep jenak penak lelenggahan ing Pasareyan.

 

Bawa rasa warga Pakasa lan Lokantara ngrembug sejarah Pajang Mataram Kartasura nganti Surakarta. Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Giring lan Juru Martani. Dumadine Kraton Mataram dadi rembugan sing nggayeng lan regeng. Carita iki dadi sarana ndhundhah piwulang kang becik.

 

Pratelan mau pancen gawe mongkok gembirane warga Nganjuk. Sejarah jaman dhisik sanyata wigati. Nganjuk mesthi nduwe sumbang sih kang prayoga. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.

Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat utawa Pakasa pang Nganjuk udhu bahu suku lan panemu. Nguri uri seni edi peni, budaya adi luhung.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *