Ilmu Kasampurnan Syekh Siti Jenar

Dyan awiwit nutup banyu urip,
kang tri warna bareng pinepetan,
pandulu lan pamyarsane,
katelune pangambu,
awit iku purbaning budi,
budaya panca driya,
wus kerut karacut,
kukut mring telenging nala,
duk wus golong gumeleng dadya sawiji,
jumeneng Suksma Mulya.

Patitise rasakna pribadi,
lamun sira kabeh nora tampa,
wali mentah tanpa gawe,
yen sira yun sumurup,
kawasane kang banyu urip,
yeku jantuning angga,
marmanta ragamu,
adarbe rasa pangrasa,
lan maninge daging mentah nora bacin,
wit saking maul khayat.

Ngaweruhi jatine yen apti,
mepet ponang kang tirta nirmala,
andadak mangsa arane,
gampang angel puniku,
gampangira lamun wus uning,
patrap traping pangangkah,
angracut myang ngukut,
kumpuling kang sangkan paran,
iya aran lakuning tanajul tarki,
kenaning kene kana.

B. Ajaran Syekh Siti Jenar

Sunan Kalijaga bersabda manis,
heh Sitibang aku singkat saja,
banyak berselisih tidak ada guna,
hanya dua hal kata-kata dariku,
pilihlah salah satu,
hidup atau mati,
jangan bimbang hatimu,
mengertilah Pangeran Sitibang,
sia-sia saya tidak mau disuruh mati,
hanya memunculkan duka cita.

Saya pilih hidup yang tidak mati,
jadi abadi tidak mau ini dan itu,
tetapi menurut keinginan saya sendiri,
tidak perlu menjadi wali atau raja,
yang memberi kehidupan,
seperti bukan pemimpin,
harus mencari pertolongan,
kepada sesama manusia,
jika Sitibang tidak lama mencari hidup,
lihatlah saat ini.

Saya kembali sendiri ke alam hidup,
Sunan Bonang menjawab,
Jenar bagaimana caranya,
kamu hendak mulai hidup,
kisahkan caranya,
tersenyum Sitijenar,
apakah engkau tidak tahu,
wajar engkau senang di dunia,
kalau Sitibang tidak sukar kembali ke alam nyata,
setiap hari saya berlatih.

Dengarkanlah hai para wali,
saya kisahkan cara memulai hidup,
asalnya dari maul khayat, air penghidupan,
yaitu air kamandanu,
atau air penghidupan,
hakekatnya hanya satu,
kemudian dibagi tiga,
tiga kemudian dibagi sembilan,
tetapi yang terpenting harus mengetahui hakekat hidup,
kedua tahu kodrat kehidupan.

Sehingga harus menutup air penghidupan,
yang tiga warna harus ditutup bersamaan,
penglihatan dan pendengaran,
ketiga penciuman,
karena itulah hakekat budi,
budaya panca indria,
telah ikut terpikat terbebaskan,
terbawa sampai ke pusat hati,
sewaktu terkumpul membulat jadi satu,
jadilah Suksma mulia.

Tepatnya rasakan sendiri,
kalau semua tidak kau ketahui,
wali mentah tanpa arti,
kalau engkau hendak mengetahui,
kekuasaan air penghidupan,
yaitu kelengkapan badan,
terhadap badanmu,
karena itu punya rasa perasaan,
dan lagi daging mentah tidak busuk,
karena maul khayat.

Jika ingin tahu hakekat kenyataan
tutuplah air bening tersebut,
tidak terlalu sulit,
mudah dan sulit itu,
mudah jika sudah tahu,
pentrapan tujuan,
membongkar dan mengumpulkan,
bersatunya asal dan tujuan
yang bernama turun naiknya kehidupan, tanajul tarki, cokro manggilingan hidup manusia,
yang dapat diterapkan di segala tempat.

Hari Sabtu Kliwon tgl 29 Januari 2022 menjadi sejarah peradaban. Joglo Hadipuran Sukodono Tahunan Jepara tempat pelestarian ilmu kasampurnan. Sesuai dengan falsafah ilmu iku kelakone kanthi laku.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *