B. Pagelaran Ritual Wayang.
Lakon ruwatan di Ndalem Kayonan dilakukan dengan tata cara khusus. Jumlah rombongan ritual wayang sebanyak 9 jiwa. Dalang, waranggana, wiyaga dandan busana kejawen.
Nyi Roro Rumiyati Ajang Mas Kenyo Wursito mengenakan baju kebayak. Sanggul tusuk konde tampak anggun agung. Nyamping agak longgar, agar dapat leluasa mancal keprak. Memang keprakan sang dalang begitu jelas tegas tuntas lugas.
Pentas wayang diawali dengan adegan di Samudra Hindi. Sang Hyang Guru nganglang jagad bareng Dewi Parwati atau Bathari Uma. Terjadilah hubungan asmara yang melahirkan Kamasalah atau Bathara Kala.
Jejer Kahyangan Junggring Salaka menampilkan Sang Hyang Jagad Pratingkah beserta Bathara Narada, Bayu, Indra, Brama. Untuk menjaga keselarasan jagad raya Sang Hyang Nilakantha ndhawuhi para Dewa, agar siram jamas glegena, tanpa batas awer awer. Siram jamas di telaga Madirda.
Tersebutlah saat Dewi Gagar Mayang, Irim Irim, Wilutama, Tunjung Biru, Supraba, Ratih. Bayu dan Brama melakukan kesalahan. Terkutuk menjadi raksasa. Hukuman ini harus ditebus. Untuk bisa berwujud dewa lagi, perlu menjalankan lelaku.
Bathara Kala membawahi kalajengking, kalabang, kalasundep. Juga segala makhluk halus. Meliputi jim setan peri perayangan, medhon gendruwo dhemit, ilu ilu banaspati, kemamang sundel bolong. Agak lucu karena cerita dihubungkan dengan wabah corona. Bathara Kala mengeluh atas sulitnya keadaan. Maka selaku penguasa jagad lelembut, Bathara Kala pun turut cancut taliwanda.
Gamelan Kyai Lung Ayu berkumandang, mengalun begitu merdu. Lakon ruwatan murwa kala di Ndalem Kayonan didengar Bathara Kala. Namun wibawa dalang lebih perkasa.
Tiap adegan berlangsung khusuk dan penghayatan mendalam. Misalnya Bu Sri Windari Rahayu mengamati pagelaran wayang dengan sepenuh hati. Sebagai orang Jawa yang menghayati kebudayaan, tentu laku spiritual ini dianggap terlalu penting. Wiyati yang diberlakukan dengan hati hati permati.
Suara dalang nyaring merdu. Nyi Rum Ajang Mas membaca mantra sakti. Aksara Dewa Nagari yang menempel di dahi Bathara Kala dibaca oleh dalang ruwat. Iringan gamelan dengan iringan vokal Sinden begitu merasuk dalam hati sanubari. Telenging kalbu turut pula berdoa untuk menyongsong datangnya bulan Ruwah.
Sampak manyura dengan instrumen kendang, gender, kethuk, kenong, kempul, gong, slenthem, saron, demung. Kelir terpampang. Simpingan kanan kiri serasi indah. Disusul dengan pathet sanga.
Sangsaya dalu araras,
abyor kang lintang kumedhap,
titis sonya tengah wengi,
lumrang gandane puspita,
bremara reh mbrengengeng,
lir swaraning madu brangta, manungsum sarining kembang.
Tanda doa terkabul. Jumbuh ingkang ginayuh, sembada ingkang sinedya. Ruwatan selanjutnya untuk Dewi Durga, penguasa Alas Krendha Wahana atau Kahyangan Dhandhang Mangore. Lebih populer dengan Kahyangan Nusa Kambana.
Cerita ini kerap disebut dengan istilah Durga Ruwat. Disebutkan dalam kitab Sudamala. Candi Sukuh di pereng Gunung Lawu menggambarkan jelas cerita Sudamala. Sadewa berhasil meruwat Bathari Durga. Jasa besar ini bukti bahwa wuragil Pandawa ini pinter seger bleger kober bener.
Karaton Surakarta Hadiningrat pada tanggal 3 Maret 2022 sudah menjalankan tugas tradisi adat istiadat. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya. Bathari Sri lambang kesuburan. Bathara Sadana lambang kemakmuran.
