Untung Hingga 420 Triliun dari Naiknya Harga Komoditas, Durian Runtuh Bagi APBN

Penulis : Dr. Noviardi Ferzi

Liputan68.com | Selalu ada hal yang diluar ekspetasi dalam ekonomi. Meski asumsi APBN disusun dengan cermat, tetap saja ada hal yang tak diproyeksi terjadi. Kali ini Perubahan amat mengembirakan, berupa kenaikan harga komoditas yang menjadi unggulan dalam negeri di pasar global.

Pemerintah Indonesia mendulang untung besar dari kenaikan harga komoditas. Kenaikan ini menambah kas negara dalam APBN 2022 berjalan, jumlahnya tak tanggung – tanggung bisa mencapai Rp 420 triliun.

Sebagai informasi, dengan potensi Rp 420 triliun ini maka sepanjang 2022 penerimaan negara dalam APBN bisa menjadi Rp 2.266,2 triliun dari sebelumnya Rp 1.846,1 triliun. Sekali lagi ini bukan sebatas asumsi, tapi sedang mengalir di semua pos penerimaan negara.

Keuntungan itu masuk ke kantong negara melalui berbagai sumber mulai dari penerimaan pajak migas dan non migas, bea cukai hingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di setiap bulannya. Karena pergerakan penerimaan ini Menteri Keuangan terpaksa harus melakukan penjelasan kondisi APBN setiap bulan ke publik maupun DPR.

Lalu, apa musababnya hingga Indonesia mendapatkan durian runtuh tersebut ? Tak lain dampak dari konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Perang di Eropa ini memicu kenaikan di semua sektor komoditas secara global.

Indonesia yang merupakan penghasil komoditas yang komplit, dengan kuantitas yang besar mau tak mau merasakan dampak tersebut. Meski kita juga patut prihatin akan perang Rusia – Ukraina tersebut.

Harga komoditas yang melonjak bagai suplemen APBN untuk Indonesia. Sebab, komoditas unggulan negeri yakni batu bara, CPO, ICP, tembaga hingga nikel harganya ikut melambung tinggi.

Pada bulan Maret 2022 (yoy) penerimaan negara yang tumbuh tinggi 32,1% atau sudah terkumpul Rp 501 triliun.

Jika dilihat dari sektornya, penerimaan pajak dari industri pertambangan melonjak sebesar 109,7% di Maret 2022 atau secara kumulatif Januari-Maret 154,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor pertambangan memang memberikan kontribusi besar karena ada komoditas boom. Pertambangan tumbuh tinggi berturut-turut di Januari, Februari dan Maret 2022 di atas 100%.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *