Di lain sisi, Fateh Kimouche adalah pendiri situs web Al Kanz, sebuah platform untuk konsumen muslim Prancis.
“Anda tahu, ini seperti ketika Anda mencintai seorang wanita tetapi Anda tidak bisa hidup dengannya lagi,” kata Kimouche, mengacu pada semakin banyak sesama muslim yang meninggalkan Prancis.
“Ini adalah eksodus diam-diam. Orang-orang ini mengatakan hal yang sama: Saya mencintai Prancis tetapi saya akan pergi. Motivasi utama mereka adalah melarikan diri dari iklim islamofobia. Hidup di Prancis penuh tekanan,” katanya.
Pada tahun 2021, Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 171 serangan pada muslim karena Islamofobia. Serangan tersebut meningkat 32% hanya dalam satu tahun.
Karena pengumpulan data etnis tetap dilarang di Prancis, tidak mungkin untuk mengukur dengan tingkat akurasi berapa pun jumlah muslim yang meninggalkan negara itu.
Tetapi Michel Pham, founder Muslim Expat, sebuah situs web yang mendukung muslim berbahasa Prancis yang tinggal di luar negeri, melihat tren yang jelas muncul.
“Saat ini, website kami mendapatkan sekitar 7.000 pengunjung per bulan,”
Di papan diskusi situs web, pertanyaan paling umum yang diajukan menyangkut kondisi kehidupan di negara-negara seperti Inggris, Kanada, Turki, dan Uni Emirat Arab.(SS)
