Sementara Semarang, wilayah ini sebenarnya berada di dataran tinggi dengan rata-rata ketinggian wilayahnya mencapai 544 cm di atas permukaan laut. Banyak pihak memprediksi, kota ini terancam tenggelam di tahun 2050 jika tidak segera menerapkan mitigasi terbaiknya.
Surabaya
Ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya mengalami penurunan muka tanah sebesar 0,3 – 4,3 cm di tahun 2015 sampai 2020. Bahkan, Surabaya merupakan kota terendah di Jawa Timur dan terancam tenggelam di tahun 2050.
BRIN melalui keterangan resminya pada 5 Oktober 2021 menyebut adanya penurunan tanah di beberapa kota besar, termasuk Surabaya disebabkan karena pemanasan global yang berimbas pada kenaikan air laut. Dalam beberapa tahun mendatang, kota ini dikhawatirkan akan tenggelam.
Bandung
Menurut data yang dimiliki oleh LAPAN, Kota Bandung mengalami penurunan muka tanah sebesar 0,1 sampai 4,3 cm per tahun. Data tersebut diambil pada tahun 2015 sampai 2020. Penurunan muka tanah di Bandung semakin masif terjadi, beriringan dengan padatnya pemukiman penduduk dan aktivitas penunjang masyarakat lain di Kota Kembang itu.
Dikutip liputan68.com dari Sindonews, Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM Andiani menyatakan bahwa perlu adanya penelitian yang lebih mendalam lagi terkait dengan penurunan muka tanah di Bandung.
Dengan dilakukannya penelitian tersebut, maka penyebab utama penurunan muka tanah tersebut semakin lebih akurat dan jelas. Sehingga, pemerintah Kota Bandung dapat lebih mumpuni dalam melakukan langkah mitigasi. Badan geologi sendiri sudah melakukan beberapa penyelidikan di wilayah cekungan Bandung.
Adapun kegiatan penyelidikan yang dilakukan adalah pemetaan geologi teknik, geologi kuarter, geologi lingkungan, gempa, dan tektonik.
Denpasar
Kota favorit di Indonesia yang menjadi tujuan wisatawan lokal dan asing, Bali, juga tak luput dari fenomena penurunan muka tanah. Kota ini diperkirakan akan kehilangan 490 km wilayahnya di tahun 2050 akibat tergerus air laut.
Sementara itu, karena banyaknya lokasi wisata yang ada di Bali, maka kota ini mengalami krisis air bersih. Sebab, banyak pengelola wisata menggerus air tanah bersih hingga menyebabkan kelangkaan. Di tahun 2015 misalnya, ada sebanyak 30% masyarakat pelanggan PDAM yang tidak terlayani dan mendapatkan air bersih.(SS)

