Daftar Lengkap Marga Batak Toba dan Tradisinya, Mulai dari Perkenalan Hingga Acara Pernikahan

Medan – Liputan68.com – Suku Batak merupakan suku yang memiliki bahasa, budaya, dan adat kebiasaan yang Khas di wilayah Sumatera Utara.

Suku Batak terdiri dari Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, dan Mandailing yang terdiri dari beberapa marga sebagai identitas dan pertanda eksistensi dalam adat istiadat masyarakat Batak.

Marga Batak yang menempati wilayah Toba (Kabupaten Toba Samosir) terdiri dari marga Aruan, Batubara, Butarbutar, Baringbing, Doloksaribu, Dabukke, Banjarnahor Damanik, Gultom, Galingging, Hutagaol, Hutahaean, Hutajulu, Hutapea, Hasibuan, dan Hutasoit.

Selanjutnya ada marga Manurung, Marpaung, Manik, Manullang Manihuruk, Nadapdap, Napitupulu, Naipospos, Nainggolan, Nadeak, Napitu Nababan, dan Naiborhu.

Selain itu ada marga Purba, Pangaribuan, Panjaitan, Pardede, Pardosi, Pohan, Pasaribu, Panggabean, Rumapea, dan Rumahorbo.

Tak hanya itu, terdapat marga Sitohang, Situmorang, Sarumpaet, Siagian, Sialagan, Sianipar, Sibarani, Sibueam Silitonga, Silaen, Simangunsong, Simanjuntak, Sinurat, Sitorus, Sipahutar, dan Simbolon.

Dan ada marga Simarmata, Sijabat, Sidauruk, Sitanggang, Sitinjak, Samosir, Sihotang, Sinaga, Silaban, Siregar dan Situmeang, Tambun, Tambunan, Tampubolon Tarihoran, dan Tamba.

Dalam tradisi pernikahan Batak Toba melakukan berbagai prosesi pernikahan yang di gelar menurut adat suatu daerah yang selalu dapat menarik perhatian sebagai mempertahankan kebudayaan daerah.

Berikut tradisi Batak Toba mulai dari perkenalan hingga merayakan pernikahan adat Toba :

Mangaririt

Tradisi mangaririt merupakan tahap persiapan pernikahan yang meliputi gadis yang akan dijadikan istri berdasarkan kriteria pria atau keluarganya.

Biasanya mangaririt dilakukan apabila pria tersebut merantau dan tidak bisa memilih pasangan sendiri.

Mangalehon Tanda

Tradisi mangalehon tanda merupakan tahapan seorang pria yang menemukan wanita sebagai calon istrinya.

Kemudian keduanya saling memberi tanda dengan pihak pria memberikan sejumlah uang kepada wanita dan pihak wanita akan menyerahkan kain sarung kepada laki-laki.

Marhusip

Tradisi marhusip atau melamar pihak wanita yang akan menjadi bagian keluarga, yang dihadiri oleh keluarga saja dan utusan dari dongan tubu, boru, dongan sahuta.

Lalu pihak laki-laki akan ke rumah pihak wanita dengan membawa makanan seperti kue, buah-buahan dan lainnya.

Saat tradisi ini berlangsung akan dibicarakan mengenai rencana perkawinan terutama mengenai sinamot atau emas kawin, pihak yang menyelenggarakan (Suhut bolahan amak), tanggal pamasu-masuon, dan tempat yang bersifat tertutup.

Marhata Sinamot

Tradisi marhata sinamot merupakan kegiatan yang membicarakan beberapa jumlah sinamot dari pihak pria.

Dan membahas mengenai jumlah ulos, ternak yang disembelih, jumlah undangan, dan tempat upacara pernikahan.

Nah, tradisi marhata sinamot ini menjadi waktu untukpihak wanita dan pria melakukan perkenalan antar dua keluarga secara resmi.

Pundun Saut

Tradisi pundun saut merupakan prosesi pada keluarga pria untuk mengantarkan ternak yang disembelih untuk pihak parboru.

Selanjutkan akan melakukan makan bersama dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, dan diakhiri dengan kedua belah pihak untuk sepakat menentukan waktu martumpol (pertunangan) dan pamasu-masuon (pemberkatan).

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *