Medan Liputan68.com – Dua sosok ini jadi perbincangan hangat di masyarakat puluhan tahun silam. Pasalnya, keduanya merupakan kembar siam pertama di Indonesia yang berhasil dipisahkan.
Ya, sosok itu bernama Yuliana dan Yuliani.
Puluhan tahun berlalu, Yuliana dan Yuliani menjalani hidup normal bahkan berhasil meraih mimpi. Yuliana berhasil meraih gelar doktor, sementara Yuliani menjadi seorang dokter. Kesuksesan Yuliana dan Yuliani tak lepas dari peran seorang Dokter Padmosantjojo.
Dokter Padmosantjojo merupakan sosok yang berjasa dalam hidup mereka.
Baru-baru ini, kisah kembar siam Yuliana dan Yuliani kembali viral di media sosial. Beredar foto Yuliana dan Yuliani, serta Dokter Padmosantjojo dan istrinya. Foto itu viral disertai dengan kisah inspiratif mereka.
Tampak foto tersebut diupload Anggota Fraksi PKB DPR RI asal Sulsel Andi Muawiyah Ramli.
“Masih ingat dengan bayi dempet kepala, Yuliana dan Yuliani ?
Kiri berdiri Yuliani sudah jadi dokter, yang kanan Yuliana barusan lulus doktor peternakan IPB.
Mereka berdua terlahir sebagai bayi kembar siam dempet kepala.
Dioperasi/dipisahkan oleh Prof. Padmo Santjoko kemudian keduanya diambil anak oleh Prof. Padmo.
Kisah perjalanan hidup orang-orang yg luar biasa. Orang tua asli Yuliana & Yuliani adalah kuli bangunan.
Tapi dengan kasih sayang orang tua angkat, anak-anak ini bisa menjadi doktor dan dokter.
Luar biasa, gelar professor yang sadar akan besar tanggung jawab terhadap sesama, dengan kasih tulus memberkati orang lain maka Thuan berkenan atas dirinya dan dengan kuasa serta kasih Allah yang bekerja dalam hidupnya mewujudkan rasa bahagia sejati, damai sejahtera yang penuh sukacita,” demikian narasi yang dikirimkan Andi Muawiyah Ramli di grup WA tersebut.
Berikut kisah Yuliana dan Yuliani selengkapnya !
Kisah mereka bermula tahun 1987 silam, saat Yuliana dan Yuliani, anak pasangan Tularji dan Hartini dari Tanjung Pinang ini terlahir kembar siam dempet di kepala secara vertikal (kraniopagus).
Kraniopagus adalah kembar siam yang dempet di bagian belakang, atas atau samping kepala, tetapi tidak pada wajah.
Melansir Mayo Clinic, kembar kraniopagusberbagi sebagian dari tengkorak, tetapi otak mereka biasanya terpisah, meskipun mereka mungkin berbagi beberapa jaringan otak.
Kisah Yuliana-Yuliani ini cukup mendebarkan secara nasional, khususnya bagi dunia kedokteran Indonesia. Pada usia 2 bulan 21 hari, tepatnya pada 21 Oktober 1987, Yuliana dan Yuliani mencetak sejarah menjadi kembar siam pertama di Indonesia yang berhasil dipisahkan di Indonesia oleh dokter Indonesia. Berkat upaya keras yang dilakukan tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Yuliana dan Yuliani bisa dipisahkan serta hidup normal.
Adalah Dokter Padmosantjojo, ahli bedah saraf RSCM, yang berperan banyak pada operasi pemisahan si kembar siam. Dengan ketelitiannya, pria kelahiran Kediri, 26 Februari 1937 ini memisahkan selaput otak (duramater) yang berlekatan dengan pisau bedah biasa dan mata telanjang. Operasi pada 21 Oktober 1987 tersebut jadi tonggak sejarah bidang kedokteran di Indonesia, khususnya bedah saraf.
Bagi Padmosantjojo, operasi Yuliana Yuliani menjadi karya adiluhung (masterpiece) dalam kariernya sebagai dokter.
“Aku tak ingin karyaku rusak, mati karena mencret misalnya. Maka harus aku openi (rawat),” ujarnya di rumahnya kala itu.
